Showing posts with label 26. Brahmana Vagga. Show all posts
Showing posts with label 26. Brahmana Vagga. Show all posts

Thursday, 8 April 2010

Kisah Brahmana Yang Memiliki Keyakinan Kuat (Dhammapada 26 : 383)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(383) O, brahmana, berusahalah dengan tekun memotong arus keinginan
dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria.
Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi,
O, brahmana, engkau akan merealisasi Nibbana, yang tak terkondisi.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, di Savatthi, hidup seorang brahmana yang sangat setia kepada Sang Buddha dan ajaran-Nya. Setelah mendengar khotbah yang diberikan Sang Buddha, setiap hari, ia mengundang para bhikkhu datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Ketika para bhikkhu telah sampai di rumahnya, ia memanggil mereka sebagai ‘arahat’ dan dengan hormat mempersilahkan mereka untuk memasuki rumahnya. Mendapat perlakuan demikian, bhikkhu-bhikkhu yang masih belum mencapai tingkat kesucian (puthujjana) maupun bhikkhu-bhikkhu arahat merasa enggan hati dan memutuskan untuk tidak pergi ke rumah brahmana tersebut keesokan harinya.

Ketika brahmana tersebut mengetahui bahwa para bhikkhu tidak lagi datang ke rumahnya, ia merasa tidak bahagia. Ia pergi menemui Sang Buddha dan memberitahu Beliau tentang para bhikkhu yang tidak lagi datang ke rumahnya. Sang Buddha memanggil para bhikkhu tersebut dan meminta penjelasan. Para bhikkhu mengatakan kepada Sang Buddha bahwa brahmana tersebut memperlakukan mereka semua seperti arahat.

Sang Buddha kemudian bertanya kepada mereka, apakah mereka merasa bangga dan senang ketika mereka diperlakukan seperti itu. Para bhikkhu menjawab tidak. Kepada mereka Sang Buddha berkata, "O, bhikkhu, ini hanya pernyataan kegembiraan yang dirasakan oleh brahmana itu; dan tidak ada salahnya dengan pernyataan bhakti/kegembiraan. Sesungguhnya kecintaan Brahmana itu kepada para arahat tak terbatas. Karenanya, sebaiknya kalian pun memotong arus nafsu keinginan dan hanya puas dengan pencapaian yang tidak lebih rendah dari kearahatan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Chinda sotaṃ parakkamma, kāme panuda brāhmaṇa,
saṃkhārānaṃ khayaṃ ñatvā akataññu si brāhmaṇa."

O, brahmana, berusalah dengan tekun memotong arus keinginan
dan singkirkanlah nafsu-nafsu indria.
Setelah mengetahui penghancuran segala sesuatu yang berkondisi,
O brahmana, engkau akan merealisasi Nibbana, yang tidak berkondisi.
 

Wednesday, 7 April 2010

Kisah Tiga puluh Bhikkhu (Dhammapada 26 : 384)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(384) Ketika seorang Brahmana telah mencapai akhir dari dua dhamma
 (pelaksanaan meditasi Samatha dan Vipassana Bhavana),
maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya.
Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada satu kesempatan, tiga puluh bhikkhu datang memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Y.A.Sariputta, yang mengetahui bahwa waktu itu adalah saat yang matang dan sesuai bagi para bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat, mendekati Sang Buddha dan bertanya, semata-mata hanya untuk kepentingan para bhikkhu tersebut. Pertanyaannya berbunyi demikian : "Apakah yang dimaksud dengan dua Dhamma ?"

Terhadap pertanyaan demikian, Sang Buddha menjawab, "Sariputta! `Meditasi Ketenangan dan Meditasi Pandangan Terang` adalah dua Dhamma tersebut."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yadā dvayesu dhammesu pāragū hoti brāhmaṇo
ath'assa sabbe saṃyogā atthaṃ gacchanti jānato."

Ketika seorang brahmana telah mencapai akhir dari dua dhamma (pelaksanaan Meditasi Samatha dan Vipassana Bhavana),
Maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya
Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.

Tiga puluh bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Tuesday, 6 April 2010

Kisah Mara (Dhammapada 26 : 385)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(385) Seseorang yang tidak lagi memiliki pantai sini (enam landasan indria dalam)
 atau pantai sana (enam objek indria luar),
ataupun kedua-duanya (pantai sini dan sana),
 tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan, maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Pada satu kesempatan, Mara datang menemui Sang Buddha, menampakkan diri berujud manusia dan bertanya kepada Beliau, "Bhante! Anda sering mengucapkan kata `param`. Apakah arti dari kata tersebut ?"

Sang Buddha yang mengetahui bahwa Mara-lah yang bertanya tersebut, lalu menegurnya, "O, Mara yang jahat! Kata `param` dan `aparam` tidak berarti apapun bagimu. `Param` berarti `pantai seberang` yang hanya dapat dicapai oleh para arahat yang telah terbebas dari kekotoran batin."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yassa pāraṃ apāraṃ vā
pārāpāraṃ na vijjati
vītaddaraṃ visamyuttam
tamaham brumi brahmanam."

Seseorang yang tidak lagi memiliki
pantai sini (enam landasan indria dalam)
atau pantai sana (enam objek indria luar),
ataupun kedua-duanya (pantai sini dan pantai sana),
tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
---------

Notes :

6 landasan (ayatana) internal : yaitu melalui :
Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran.

6 landasan (ayatana) external : bentuk/forms, suara/bunyi, bau, rasa, sentuhan, dan ide-ide.

Monday, 5 April 2010

Kisah Seorang Brahmana (Dhammapada 26 : 386)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(386) Seseorang yang tekun bersemadi, bebas dari noda, tenang,
telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan,
bebas dari kekotoran batin dan telah mencapai tujuan akhir (nibbana),
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari, seorang brahmana berpikir sendiri, "Buddha Gotama menyebut para pengikutnya dengan `brahmana`. Saya adalah seorang brahmana jika dilihat dari kasta saya. Tidakkah saya juga disebut seorang brahmana ?" Setelah berpikir, ia pergi menemui Sang Buddha dan mengutarakan pendapat tersebut.

Kepadanya, Sang Buddha menjawab, "Aku tidak menyebut seseorang sebagai brahmana karena kastanya. Aku hanya menyebut seseorang sebagai brahmana jika ia telah mencapai tingkat kesucian arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Jhāyiṃ virajam āsīnaṃ
katakiccaṃ anāsavaṃ
uttamatthaṃ anuppattaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang tekun bersamadi, bebas dari noda, tenang,
telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan,
bebas dari kekotoran batin dan telah mencapai tujuan akhir (nibbana),
maka ia Kusebut seorang brahmana.

Brahmana itu mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
----------
 

Notes :

Brahmana adalah sebutan bagi orang-orang yang terlahir di kasta Brahmana, dan dianggap layak untuk penghormatan yang tinggi. Biasanya mereka ini paling terpelajar, karena kitab-kitab Veda hanya boleh dipelajari oleh kasta ini. Mereka berkuasa dalam menjalankan upacara ritual, belajar/mengajar kitab Veda.

Dalam Buddhisme, istilah brahmana digunakan untuk merujuk kepada mereka yang telah mencapai ‘tujuan’, untuk menunjukkan bahwa penghormatan tidak dicapai karena kelahiran, suku, atau kasta, tetapi karena pencapaian spiritual. Istilah Brahmana juga digunakan untuk merujuk kepada orang yang menjalani kehidupan suci, bahkan sering digunakan untuk merujuk kepada arahat.

Sunday, 4 April 2010

Kisah Ananda Thera (Dhammapada 26 : 387)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(387) Matahari bersinar di waktu siang.
Bulan bercahaya di waktu malam.
Ksatria gemerlapan dengan seragam perangnya.
Brahmana bersinar terang dalam semadi.
Tetapi, Sang Buddha (Ia yang telah mencapai Penerangan Sempurna)
bersinar dengan penuh kemuliaan sepanjang siang dan malam.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Saat itu adalah hari purnama sidhi di bulan ketujuh (Assayuja), ketika Raja Pasenadi dari kerajaan Kosala datang menemui Sang Buddha. Raja tampak gemerlapan dengan pakaian dan tanda-tanda kebesaran kerajaannya. Pada waktu itu Kaludayi Thera juga sedang barada pada ruangan yang sama dan duduk di pinggir kerumunan. Beliau sedang dalam keadaan pencerapan kesadaran yang dalam (jhana). Tubuhnya bersinar terang, dan berwarna keemasan. Di langit, Y.A. Ananda memperhatikan bahwa matahari sedang tenggelam dan bulan baru saja muncul, baik matahari maupun bulan memancarkan cahayanya.

Y.A. Ananda memandang gemerlapnya kemegahan sang raja, sang thera, dan cahaya matahari dan bulan. Akhirnya, Y.A. Ananda melihat Sang Buddha, dan menyadari bahwa cahaya yang bersinar dari Sang Buddha jauh melampaui cahaya dari yang lainnya. Karena melihat Sang Buddha bersinar dalam keagungan dan kemegahan Beliau, Y.A.Ananda segera menghampiri Sang Buddha, dan berkata, "O, Bhante! Cahaya dari tubuh-Mu yang mulia jauh melampaui cahaya dari raja, cahaya dari sang thera, cahaya dari matahari dan cahaya dari bulan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Divā tapati ādicco, rattiṃ ābhāti candimā,
sannaddho khattiyo tapati, jhāyī tapati brāhmaṇo
atha sabbam ahorattiṃ Buddho tapati tejasā."

Matahari bersinar di waktu siang, bulan bercahaya di waktu malam.
Ksatria gemerlapan dengan seragam perangnya, brahmana (arahat) bersinar terang dalam semadi.
Tetapi, Sang Buddha (ia yang telah mencapai Penerangan Sempurna) bersinar
dengan penuh kemulian sepanjang siang dan malam.

Saturday, 3 April 2010

Kisah Seorang Pertapa Brahmana (Dhammapada 26 : 388)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(388) Karena telah membuang kejahatan, maka ia Kusebut seorang `brahmana`;
 karena tingkah lakunya tenang, maka ia Kusebut seorang `pertapa` (samana);
dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin,
maka ia Kusebut seorang `pabbajjita` (orang yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga). 
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika hiduplah seorang brahmana petapa di Savatthi. Suatu hari, terpikir olehnya bahwa Sang Buddha menyebut murid-muridnya ‘pabbajita’ (yang artinya telah pergi meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk menjadi petapa), dan karena ia juga seorang petapa, maka ia seharusnya juga disebut seorang pabbajita. Jadi ia pergi menemui Sang Buddha dan bertanya mengapa ia tidak disebut seorang pabbajita.

Sang Buddha berkata, "Hanya karena seseorang adalah petapa, seseorang tidak dengan sendirinya dapat disebut sebagai seorang pabbajita; tetapi karena nafsu keinginan dan kekotoran batin telah pergi darinya, maka seseorang disebut orang ‘yang telah pergi’, seorang pabbajita.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Bāhitapāpo ti brāhmaṇo
samacariyā samaṇo ti vuccati
pabbājayam attano malaṃ
tasmā pabbajito ti vuccati."

Karena telah membuang kejahatan, maka ia Kusebut seorang `brahmana` ;
karena tingkah lakunya tenang, maka ia Kusebut seorang `petapa`(samana);
dan karena ia telah melenyapkan noda-noda batin,
maka ia Kusebut seorang `pabbajita` (orang yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga).

Petapa tadi mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
 

Friday, 2 April 2010

Kisah Sariputta Thera (Dhammapada 26 : 389-390)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(389) Janganlah seseorang memukul brahmana,
 juga janganlah brahmana yang dipukul itu menjadi marah kepadanya.
Sungguh memalukan perbuatan orang yang memukul brahmana,
tetapi lebih memalukan lagi adalah brahmana yang menjadi marah kepada orang yang telah memukulnya. 

(390) Tak ada yang lebih baik bagi seorang `brahmana` 
selain menarik pikirannya dari hal-hal yang menyenangkan.
Lebih cepat ia dapat menyingkirkan niat jahatnya,
maka lebih cepat pula penderitaannya akan berakhir.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Y.A. Sariputta sering dipuji oleh banyak orang karena kesabaran dan pengendalian dirinya. Murid-muridnya biasa membicarakannya demikian: "Guru kita adalah orang yang memiliki kesabaran yang tinggi dan ketabahan yang luar biasa. Jika beliau diperlakukan kasar atau bahkan dipukul oleh orang lain, beliau tidak menjadi marah tetapi tetap tenang dan sabar."
Karena ini sering dikatakan mengenai Y.A. Sariputta, seorang brahmana yang mempunyai pandangan salah mengatakan bahwa itu karena tidak ada yang mengganggu Sariputta Thera, lalu ia mengumumkan kepada para pengagum Sariputta bahwa ia akan memancing kemarahan Y.A. Sariputta.

Pada saat itu, Y.A. Sariputta yang sedang berpindapatta, lewat disana. Brahmana tersebut menghampiri beliau dari belakang dan memukul punggung beliau keras-keras dengan tangannya. “Apa itu?”, kata Sang Thera, dan tanpa menoleh untuk melihat siapa yang telah menyerangnya, ia meneruskan berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Melihat keluhuran dan ketabahan dari sang Thera yang mulia tersebut, brahmana itu menjadi sangat terkejut dan menyesal. “Oh, betapa luhurnya kualitas Sang Thera!”, kata brahmana itu. Ia berlutut di kaki Y.A. Sariputta, dan berkata, “Maafkan saya, Bhante.”
“Apa yang engkau maksudkan?” tanya Sang Thera.
“Karena ingin menguji kesabaranmu, aku telah memukulmu,” jawab brahmana itu.
“Baiklah, aku memaafkanmu” kata Sang Thera.
“Jika Bhante memaafkanku, sudilah datang dan menerima dana makanan di rumahku.” Kemudian brahmana itu mengambil patta (mangkuk) Sang Thera, yang diberikan oleh Sang Thera dengan senang hati, mengajak Sang Thera ke rumahnya, dan memberikan dana makanan untuk Sang Thera.

Orang-orang yang melihat pemukulan itu, sangat marah. “Orang itu,” kata mereka, “memukul Thera kita yang mulia, sungguh tak boleh dibiarkan! Kita akan membunuhnya disini sekarang juga.” Sambil membawa gumpalan tanah, tongkat dan batu-batu di tangan mereka, mereka menunggu di depan rumah brahmana itu.

Ketika Sariputta Thera bangkit dari tempat duduknya, beliau meletakkan pattanya di tangan brahmana itu*. Orang-orang yang melihat brahmana itu keluar bersama Sang Thera, berkata, “Bhante, suruhlah brahmana yang memegang pattamu untuk kembali.”
“Apa yang engkau maksudkan, oh perumah tangga?” tanya Sang Thera.
“Brahmana itu telah memukulmu, dan kami akan memberi ganjaran kepadanya”, jawab mereka.
“Apa yang engkau maksudkan? Apakah dia memukulmu, atau memukulku?”, tanya Sang Thera.
“Memukulmu, bhante” jawab mereka.
“Jika ia memukulku, ia telah meminta maaf kepadaku; kalian pulanglah.” Demikian jawab Sang Thera membubarkan kerumunan itu, dan setelah mempersilakan brahmana itu kembali ke rumahnya, Sang Thera kembali menuju ke vihara.

Sore harinya para bhikkhu lain memberitahu Sang Buddha bahwa Y.A. Sariputta telah pergi untuk menerima dana makanan ke rumah seorang brahmana yang telah memukulnya. Lebih lanjut, mereka menduga bahwa brahmana tersebut makin berani dan akan melakukan hal yang sama terhadap para bhikkhu yang lain.

Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, seorang brahmana sejati tidak akan memukul brahmana sejati lainnya; hanya orang biasa maupun brahmana biasa yang akan memukul seorang arahat dengan kemarahan dan itikad jahat. Itikad jahat ini akan dilenyapkan oleh seseorang yang telah mencapai tingkat kesucian ketiga, Anagami."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

Na brāhmaṇassa pahareyya
nāssa muñcetha brāhmaṇo,
dhī brāhmaṇassa hantāraṃ,
tato dhī y’assa muñcati.

Na brāhmaṇas’ etad akiñci seyyo
yadā nisedho manaso piyehi,
yato yato hiṃsamano nivattati
tato tato sammati-m-eva dukkhaṃ.

Janganlah seseorang memukul brahmana,
juga janganlah brahmana yang dipukul itu menjadi marah kepadanya.
Sungguh memalukan perbuatan orang yang memukul brahmana,
tetapi lebih memalukan lagi adalah brahmana yang
menjadi marah kepada orang yang telah memukulnya.

Tak ada yang lebih baik bagi seorang `brahmana`
selain menarik pikirannya dari hal-hal yang menyenangkan.
Lebih cepat ia dapat menyingkirkan itikad jahat,
maka lebih cepat pula penderitaannya akan berakhir.
---------

Notes:

 
* Kebiasaan waktu itu, jika seseorang diberikan patta untuk dibawakan, maka orang itu harus mengikuti atau mengantarkan bhikkhu pemilik patta sambil membawakan patta itu. Dia boleh pergi atau kembali ke rumahnya setelah patta diambil kembali oleh bhikkhu pemilik patta tersebut.
Dalam hal ini, Sariputta Thera memberikan patta itu kepada si brahmana dengan maksud supaya si brahmana itu mengikutinya keluar, dan selama brahmana itu memegang patta Sariputta Thera, tentunya kerumunan orang itu tidak akan mengganggu brahmana tersebut karena rasa hormat kepada Sariputta Thera. Mereka meminta Sariputta Thera untuk menyuruh brahmana itu kembali, maksudnya supaya Sariputta Thera mengambil pattanya dari brahmana itu, yang berarti mempersilakan brahmana kembali pulang ke rumahnya.
Setelah masalah diselesaikan, barulah Sariputta Thera mengambil pattanya dan membiarkan si brahmana kembali ke rumahnya.

Thursday, 1 April 2010

Kisah Mahapajapati Gotami Theri (Dhammapada 26 : 391)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(391) Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat melalui badan,
ucapan, dan pikiran,
serta dapat mengendalikan diri dalam tiga saluran perbuatan ini,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Mahapajapati Gotami adalah ibu tiri dari Buddha Gotama. Pada saat kematian Ratu Maha Maya, tujuh hari setelah kelahiran Pangeran Siddhattha, Mahapajapati Gotami menjadi permaisuri dari Raja Suddhodana. Pada waktu itu, putra kandungnya sendiri, Nanda, baru berusia lima hari. Ia rela anak kandungnya sendiri diberi makan oleh pembantu, dan dirinya sendiri memberi makan Pangeran Siddattha, calon Buddha. Demikianlah Mahapajapati Gotami telah melakukan pengorbanan besar bagi Pangeran Siddhattha.

Ketika Pangeran Siddhattha berkunjung ke Kapilavatthu setelah mencapai Ke-Buddha-an, Mahapajapati Gotami datang menemui Sang Buddha dan mohon agar kaum wanita juga diijinkan untuk memasuki pasamuan bhikkhuni. Tetapi Sang Buddha menolak memberi ijin. Kemudian, Raja Suddhodana meninggal dunia setelah mencapai tingkat kesucian arahat. Ketika Sang Buddha sedang berjalan di hutan Mahavana dekat Vesali, Mahapajapati, disertai oleh lima ratus wanita, berjalan dari Kapilavatthu menuju Vesali. Mereka telah mencukur rambut mereka dan telah menggunakan jubah yang sudah dicelup. Di sana, untuk kedua kalinya, Mahapajapati memohon kepada Sang Buddha untuk menerima kaum wanita ke dalam pasamuan bhikkhuni. Y.A. Ananda juga mendukung permintaan para wanita tersebut.

Akhirnya Sang Buddha memenuhi kehendak itu dengan syarat bahwa Mahapajapati hendaknya mematuhi delapan syarat khusus (garudhamma). Mahapajapati bersedia mematuhi garudhamma tersebut seperti yang diharapkan Sang Buddha. Kemudian beliau menerima kaum wanita ke dalam pasamuan bhikkhuni.

Mahapajapati adalah wanita yang pertama kali diterima dalam pasamuan bhikkhuni. Wanita yang lain diterima ke dalam pasamuan setelah Mahapajapati oleh para bhikkhu sesuai peraturan yang telah diajarkan Sang Buddha.

Setelah berlangsungnya waktu, terpikir oleh beberapa bhikkhuni bahwa Mahapajapati Gotami telah tidak sah diterima sebagai seorang bhikkhuni karena tidak mempunyai seorang pembimbing. Oleh karena itu Mahapajapati bukanlah seorang bhikkhuni yang sesungguhnya. Berdasarkan pemikiran yang demikian, mereka berhenti melakukan upacara uposatha dan upacara vassa (pavarana) bersama Mahapajapati Gotami.

Mereka pergi menemui Sang Buddha, dan mengajukan permasalahan bahwa Mahapajapati Gotami telah tidak dengan sah diterima dalam pasamuan bhikkhuni karena ia tidak mempunyai pembimbing.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Mengapa kalian berkata demikian? Saya sendiri memberikan delapan kewajiban khusus (garudhamma) kepada Mahapajapati, dan ia telah memahami serta melakukan garudhamma seperti yang Kuharapkan. Saya sendiri pembimbingnya dan adalah salah jika kalian mengatakan bahwa ia tidak mempunyai seorang pembimbing. Kalian hendaknya tidak memelihara keraguan apapun mengenai seorang arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yassa kāyena vācāya manasā n’atthi dukkataṃ
saṃvutaṃ tīhi thānehi tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang tidak lagi berbuat jahat
melalui badan, ucapan, dan pikiran,
serta dapat mengendalikan diri dalam tiga saluran perbuatan ini,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
----------
 

Notes :

Dari kisah diatas, kita dapat melihat contoh pentingnya ‘garis silsilah’ atau lineage dalam kebhikkhuan. Karena ada keraguan apakah Mahapajapati Gotami ditahbiskan secara sah, maka sebagian bhikkhuni yang meragukan itu tidak mau melakukan upacara bersama Mahapajapati Gotami. Untungnya dalam hal tsb ternyata tidak perlu meragukan keabsahan penahbisan Mahapajapati Gotami yang ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha.

Pada awalnya Sang Buddhalah yang menahbiskan langsung para bhikkhu. Ketika permintaan untuk ditahbiskan bertambah banyak dan lokasi yang berjauhan, Sang Buddha kemudian mengijinkan bhikkhu-bhikkhu Arahat untuk menahbiskan. Sekarang ini, hanya bhikkhu-bhikkhu tertentu yang memiliki hak untuk menjadi upajjhaya, yaitu bhikkhu yang memiliki wewenang untuk menahbiskan bhikkhu baru. Tidak sembarang bhikkhu boleh menahbiskan. Jika tidak memiliki wewenang untuk menahbiskan biasanya bhikkhu ybs akan mengirim muridnya untuk ditahbiskan oleh upajjhaya yang berwenang.

Untuk menjadi seorang bhikkhu, seseorang harus memiliki guru dan ditahbiskan oleh upajjhaya. Kalau diibaratkan, misalnya untuk menjadi dokter, guru adalah dosen di kampus yang sehari-hari lebih dekat dengan mahasiswa untuk mengajarinya. Dan upacara wisuda dan pemberian ijasah kira-kira bisa diibaratkan saat penahbisan. Hanya rektor dll pejabat universitas yang resmi yang berhak memberikan gelar. Dan setelah itu, si dokter baru masih harus praktek lapangan beberapa tahun dll sebelum dapat membuka praktek sendiri.
Demikian pula bhikkhu, harus memiliki guru, dan upajjhaya. Seperti seorang dokter yang tidak bisa mengangkat dirinya sendiri menjadi dokter, seorang bhikkhu juga tidak dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi bhikkhu.

Tidak semua dokter pasti pintar dan hebat, tetapi adalah lebih sangat berbahaya kalau kita minta diobati oleh dokter palsu yang tidak kuliah dan tidak lulus/diwisuda.
Kalau dokternya palsu, andaipun tidak sampai mati atau keracunan, penyakit bisa tidak sembuh-sembuh karena ketidakbecusannya.

Demikian pula, kita harus berhati-hati memilih guru bhikkhu jika ingin mendapat ajaran yang benar. Banyak orang yang mengaku sebagai bhikkhu tetapi tidak memiliki silsilah yang jelas, bahkan beberapa orang mengarang sendiri silsilahnya.
 

Wednesday, 31 March 2010

Kisah Sariputta Thera (Dhammapada 26 : 392)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(392) Apabila melalui orang lain seseorang dapat mengenal Dhamma
sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha
maka hendaklah ia menghormati orang tersebut,
seperti seorang brahmana menghormati api sucinya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Yang Ariya Sariputta lahir dari orangtua brahmana dari desa Upatissa; sehingga ia diberi nama Upatissa. Ibunya bernama Sari. Teman dekatnya adalah Kolita, seorang brahmana muda, anak dari Moggali. Kedua anak muda ini sedang mencari ajaran yang benar, yang akan mengantar mereka menuju kebebasan dari lingkaran kelahiran kembali. Keduanya mempunyai keinginan yang kuat untuk memasuki kelompok religius.

Pertama-tama, mereka pergi kepada Sanjaya, tetapi mereka tidak puas dengan ajarannya. Kemudian mereka mengembara ke seluruh Jambudipa mencari seorang guru yang dapat menunjukkan mereka jalan menuju ke keadaan yang tanpa kematian. Tetapi pencarian mereka tidak membuahkan hasil. Setelah beberapa waktu, mereka berpisah dengan kesepakatan bahwa siapa yang menemukan dhamma sejati terlebih dahulu akan memberitahu yang lain.

Pada suatu saat Sang Buddha tiba di Rajagaha, dengan rombongan para bhikkhu, termasuk Assaji Thera, salah satu dari lima bhikkhu pertama (Pancavaggi). Ketika Assaji Thera sedang berjalan menerima dana makanan, Upatissa melihat sang thera, ia sangat terkesan dengan wajah dan penampilan thera yang mulia. Sehingga Upatissa dengan penuh hormat mendekati sang thera dan bertanya siapakah gurunya, ajaran apakah yang diajarkannya, dan juga mohon secara singkat mengajarkan ajarannya kepada dirinya.

Assaji Thera menjawab Upatissa tentang kedatangan Sang Buddha dan persinggahaNya di Vihara Veluvana dekat Rajagaha. Sang thera juga mengutip satu bait yang terdapat dalam 'Empat Kebenaran Mulia'.

Syair itu demikian :

Ye dhammā hetuppabhavā
tesaṃ hetuṃ tathāgato āha,
tesañca yo nirodho
evaṃ vādī mahāsamaṇo

Yang berarti :

Sang Tathagata telah menjelaskan sebab dan juga terhentinya semua fenomena yang muncul dari suatu sebab. Ini adalah ajaran yang telah disampaikan oleh Pertapa Agung.

Ketika saat pertengahan syair ini diucapkan, Upatissa mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Seperti telah dijanjikan bersama, Upatissa pergi menemui temannya Kolita untuk memberitahukan bahwa ia telah menemukan Dhamma sejati. Kemudian dua sahabat tersebut, disertai dengan dua ratus lima puluh pengikutnya, pergi menemui Sang Buddha yang waktu itu berada di Rajagaha. Ketika mereka tiba di Vihara Veluvana, mereka mohon izin untuk memasuki pasamuan bhikkhu, dan keduanya, Upatissa dan Kolita, beserta dua ratus lima puluh pengikutnya, diterima sebagai bhikkhu. Upatissa, anak dari Sari, dan Kolita, anak dari Moggali, kemudian dikenal sebagai Sariputta dan Moggallana.

Segera setelah penerimaan mereka dalam pasamuan bhikkhu, Sang Buddha menjelaskan Dhamma secara terperinci kepada mereka. Moggallana dan Sariputta mencapai tingkat kesucian Arahat masing-masing pada akhir hari ke tujuh dan hari ke limabelas.

Y.A. Sariputta selalu mengingat bahwa ia telah dapat bertemu dengan Sang Buddha, dan mencapai keadaan tanpa kematian melalui Y.A. Assaji. Jadi, ia selalu menghormat dengan cara membungkukkan badan ke arah di mana gurunya berada dan selalu tidur dengan kepala menghadap ke arah yang sama.

Bhikkhu-bhikkhu lain yang tinggal bersamanya di Vihara Jetavana salah mengartikan tindakannya dan berkata kepada Sang Buddha, "Bhante! Y.A. Sariputta masih menyembah ke bermacam-macam arah, Timur, Selatan, Barat, Utara, Atas, dan Bawah, seperti yang dilakukannya dulu sewaktu masih menjadi brahmana muda. Nampaknya ia belum meninggalkan kepercayaan lamanya."

Sang Buddha memanggil Yang Ariya Sariputta dan, Sariputta menjelaskan pada Sang Buddha bahwa ia hanya menghormat dengan membungkukkan badan kepada gurunya, Y.A. Assaji, dan ia tidak menyembah ke bermacam-macam arah. Sang Buddha puas dengan penjelasan yang diberikan oleh Y.A. Sariputta dan berkata kepada bhikkhu-bhikkhu yang lain, "Para bhikkhu ! Sariputta tidak menyembah ke bermacam-macam arah. Ia hanya menghormat dengan membungkukkan badan kepada gurunya, karena melalui dialah ia dapat mencapai 'Keadaan Tanpa Kematian'. Adalah hal yang benar dan tepat baginya untuk menghormat kepada guru seperti itu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

“Yamhā dhammaṃ vijāneyya
sammāsambuddhadesitaṃ
sakkaccaṃ taṃ namasseyya
aggihuttaṃ va brāhmaṇo."

Apabila melalui orang lain seseorang dapat mengenal Dhamma sebagaimana yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha maka hendaklah ia menghormati orang tersebut, seperti seorang brahmana menghormati api sucinya.
-----------
 

Notes :

* Kalimat Ye dhamma hetupabbhava (pali) atau Ye dharma hetuprabhava (sanskrit) ini sering ditemukan terukir di benda-benda/patung/pillar/stupa Buddhist peninggalan jaman dahulu. Biasanya kalimat ini yang menjadi petunjuk bagi para arkeolog bahwa itu adalah peninggalan buddhist .

Tuesday, 30 March 2010

Kisah Jatila, Seorang Brahmana (Dhammapada 26 : 393)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(393) Bukan karena rambut dijalin, keturunan, ataupun kelahiran,
seseorang menjadi brahmana.
Tetapi orang yang memiliki kejujuran dan kebajikan
 yang pantas menjadi seorang `brahmana`, orang suci.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika seorang pertapa brahmana berpikir sendiri bahwa Sang Buddha menyebut pengikutnya `brahmana` dan bahwa dirinya adalah brahmana karena kelahirannya, seharusnya juga disebut seorang `brahmana`. Karena berpikir demikian, ia pergi menemui Sang Buddha dan mengemukakan pandangannya. Tetapi Sang Buddha menolak pandangannya dan berkata, "O brahmana, Aku tidak menyebut seseorang brahmana karena ia membiarkan rambutnya terjalin atau hanya karena kelahirannya. Aku menyebut seseorang brahmana; hanya jika ia secara penuh memahami `Empat Kebenaran Mulia` ."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Na jaṭāhi na gottena
na jaccā hoti brāhmaṇo
yamhi saccañ ca dhammo ca
so sukhī so ca brāhmaṇo."

Bukan karena rambut di jalin, keturunan, ataupun kelahiran,
seseorang menjadi brahmana.
Tetapi orang yang memiliki kejujuran dan kebajikan
yang pantas menjadi seorang `brahmana`, orang yang suci.

Monday, 29 March 2010

Kisah Seorang Brahmana Penipu (Dhammapada 26 : 394)

XXVI. Brahmana Vagga - Brahmana

(394) O, orang bodoh, apa gunanya engkau menjalin rambutmu 
serta mengenakan pakaian kulit menjangan? 
Engkau hanya membersihkan bagian luarmu, 
tetapi hatimu masih penuh dengan kekotoran
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, seorang brahmana penipu memanjat sebatang pohon dekat batas kota Vesali dan membiarkan dirinya tergantung terbalik seperti seekor kelelawar pada salah satu cabang/ranting pohon tersebut. Dari posisi yang sangat aneh ini, ia terus berkomat-kamit, "O, manusia! Bawakan aku seratus kepala sapi, banyak keping perak dan sejumlah budak. Jika kamu tidak membawakannya untukku, dan jika aku jatuh dari pohon ini dan meninggal dunia, maka kotamu ini pasti akan hancur." Orang-orang kota tersebut berpikir, “Orang itu telah bergelantungan di pohon sejak pagi tadi;” dan karena takut bahwa kotanya akan hancur jika brahmana tersebut jatuh dan meninggal dunia, membawakan semua yang dimintanya dan memohon dengan sangat padanya untuk turun.

Para bhikkhu yang mendengar kejadian ini memberitahu Sang Buddha, dan Sang Buddha menjawab bahwa seorang penipu hanya dapat memperdayai orang-orang bodoh tetapi bukan orang-orang yang bijaksana. “Bhikkhu, ini bukan yang pertama kalinya Brahmana itu menipu orang, ia juga menjadi penipu dalam kehidupan sebelumnya juga. Kali ini ia menipu orang yang pikirannya sederhana, tapi dalam kehidupan sebelumnya ia gagal memperdaya yang bijaksana.”

Meluluskan permintaan para bhikkhu untuk menceritakan kisah masa lalu tersebut, Sang Buddha menceritakan tentang petapa palsu dan raja kadal.

Dahulu kala seorang petapa tinggal di dekat satu desa petani, dan petapa ini adalah seorang munafik. Waktu itu ada satu keluarga yang selalu melayani kebutuhan petapa itu: siang hari baik makanan keras maupun lunak, mereka selalu memberi satu porsi untuk petapa itu seperti mereka memberikannya juga kepada anak mereka sendiri; dan malam hari mereka akan menyisihkan satu porsi makan malam mereka untuk diberikan kepada petapa itu di pagi hari berikutnya.

Suatu hari menjelang malam, mereka memperoleh daging kadal, dan setelah memasaknya dengan baik, menyisihkan satu porsi dan memberikannya kepada petapa itu keesokan harinya.

Petapa itu mencium harumnya bau daging itu, dan secepat ia menghirup bau itu iapun terikat dengan nafsu terhadap rasanya. “Daging apa itu?”, dia bertanya. “Daging kadal,” jawab mereka. Setelah selesai mengumpulkan dana makanan, ia pun kembali ke gubuknya yang terbuat dari daun-daun dan rerumputan.

Tidak jauh dari gubuk daunnya, ada gundukan tanah dekat sarang semut, tinggallah seekor raja kadal. Merupakan kebiasaan bagi raja kadal itu untuk mengunjungi petapa itu dari waktu ke waktu untuk memberi hormat. Tetapi hari itu, petapa itu berpikir, “Akan kubunuh kadal itu,” dan menyembunyikan tongkat dalam lipatan jubahnya, ia berbaring dekat gundukan tanah itu dan pura-pura tidur. Ketika si raja kadal keluar dari gundukannya, dan mendekati petapa itu, memperhatikan keanehan kelakuan petapa yg berbaring disana, ia berkata pada dirinya sendiri, “Aku tak suka cara guruku bertingkah laku hari ini,“ maka berbaliklah ia, kembali ke gundukannya. Petapa itu mengetahui si kadal berbalik arah, melemparkan tongkatnya ke kadal itu, bermaksud membunuhnya, tetapi tongkat itu meleset jauh dari sasaran.

Raja kadal itu masuk kembali ke dalam liangnya, dan melongokkan kepalanya keluar berkata pada petapa itu, “Selama ini dengan sia-sia aku menganggapmu sebagai seorang petapa, ketika baru saja kau melempar tongkat itu padaku, berniat membunuhku, pada saat itu kau tidak lagi menjadi petapa. Apalah gunanya rambut dijalin untuk orang seperti kamu, yang sungguh kurang kebijaksanaannya. Apalah gunanya kulit menjangan yg dihiasi dengan cakar. Ada hutan (kekotoran batin) dalam dirimu; hanya bagian luar yang kau bersihkan dan poles.”

Setelah menceritakan kisah jataka tersebut, Sang Buddha berkata, “Waktu itu, brahmana penipu ini adalah si petapa, dan raja kadal itu adalah aku sendiri.” Mengukuhkan pernyataan kadal yang bijaksana itu, Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Kin te jaṭāhi dummedha, kin te ajinasāṭiyā
abbhantaran te gahanaṃ, bāhiraṃ parimajjasi."

O, orang bodoh, apa gunanya engkau menjalin rambutmu serta
mengenakan pakaian kulit menjangan?
Engkau hanya membersihkan bagian luarmu,
tetapi hatimu masih penuh dengan kotoran.

-------------------

Notes :

Kisah Jataka adalah kisah-kisah dimana Sang Bodhisatta (calon Buddha) sewaktu masih melatih diri menyempurnakan Paramita.

Sunday, 28 March 2010

Kisah Kisagotami (Dhammapada 26 :395)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(395) Ia mengenakan jubah kain bekas (pamsukula),
kurus, hingga pembuluh darahnya menonjol,
bersemadi seorang diri dalam hutan,
Ia Ku-sebut seorang `brahmana`.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu kesempatan, Sakka, raja dewa, datang bersama dengan para pengikutnya untuk menghormat Sang Buddha. Pada saat yang bersamaan, Kisagotami Theri, dengan kemampuan batin luar biasa (kesaktian) yang dimilikinya datang melalui angkasa untuk menghormat Sang Buddha. Tetapi ketika ia melihat Sakka dan rombongannya sedang menghormat Sang Buddha, ia mengundurkan diri.

Sakka, yang melihat wanita tersebut, bertanya kepada Sang Buddha siapakah wanita tersebut, dan Sang Buddha menjawab, "O, Sakka! Ia adalah muridKu, Kisagotami. Suatu ketika, ia datang kepadaKu dengan dukacita dan penderitaan karena kehilangan anak laki-lakinya dan Aku membuatnya melihat kenyataan alamiah tentang ketidak-kekalan, ketidak-puasan dan ketanpa-intian dari segala sesuatu yang berkondisi. Sebagai hasilnya ia mencapai tingkat kesucian sotapatti. Setelah masuk dalam pasamuan bhikkhuni, ia menjadi seorang arahat. Ia adalah salah satu dari pengikut wanita utama-Ku, dan tidak ada bandingnya dalam hasil latihan pertapaan, yang mengenakan jubah yang terbuat dari potongan-potongan kain tak terpakai."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Paṃsukūladharaṃ jantuṃ
kisaṃ dhamanisanthataṃ
ekaṃ vanasmiṃ jhāyantaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Ia mengenakan jubah kain bekas (pamsukula),
kurus, hingga pembuluh darahnya menonjol,
bersemadi seorang diri dalam hutan,
Ia Ku-sebut seorang `brahmana`.



Saturday, 27 March 2010

Kisah Seorang Brahmana (Dhammapada 26 : 396)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(396) Aku tidak menyebutnya seorang `brahmana`
hanya karena ia berasal dari keluarga brahmana
atau karena ia lahir dari kandungan ibu seorang brahmana.
Apabila dirinya masih penuh dengan noda,
maka ia hanyalah seorang brahmana karena keturunan.
Tetapi orang yang tanpa noda dan telah bebas dari semua ikatan,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
-------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, seorang brahmana dari Savatthi berpikir bahwa karena Sang Buddha menyebut para pengikutnya `brahmana`, ia seharusnya juga disebut seorang `brahmana` karena ia lahir dari orang tua brahmana. Ketika ia menceritakan hal ini kepada Sang Buddha, Sang Buddha memberi jawaban padanya, "O, brahmana! Aku tidak menyebut seseorang sebagai seorang brahmana hanya karena ia dilahirkan oleh orang tua brahmana. Aku menyebutnya seorang brahmana hanya jika ia terbebas dari kekotoran batin dan telah memotong semua keterikatan pada kehidupan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Na cāhaṃ brāhmaṇaṃ brūmi
yonijaṃ mattisambhavaṃ
bhovādi nāma so hoti
sa ve hoti sakiñcano,
akiñcanaṃ anādānaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Aku tidak menyebutnya seorang `brahmana` hanya karena ia berasal dari keluarga brahmana
atau karena ia lahir dari kandungan seorang ibu brahmana.
Apabila dirinya masih penuh dengan noda,
maka ia hanyalah seorang brahmana karena keturunan.
Tetapi orang yang tanpa noda dan telah bebas dari semua ikatan,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

Friday, 26 March 2010

Kisah Uggasena, Anak dari Seorang Hartawan (Dhammapada 26 : 397)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(397) Ia telah memotong semua belenggu, 
tidak lagi gemetar, 
yang bebas dan telah mematahkan semua ikatan, 
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
--------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah menikah dengan seorang penari dari suatu rombongan sirkus, Uggasena dilatih oleh ayah mertuanya yang merupakan seorang pemain akrobat, sehingga ia menjadi sangat ahli di bidang akrobatik. Suatu hari ketika ia sedang datang mendemonstrasikan keahliannya, Sang Buddha datang ke tempat itu. Setelah mendengar khotbah Sang Buddha, Uggasena mencapai tingkat kesucian arahat, ketika ia sedang melakukan atraksi yang hebat sekali di puncak dari sebatang galah yang panjang.

Setelah itu, ia turun dari galah dan memohon dengan sangat kepada Sang Buddha untuk menerimanya sebagai seorang bhikkhu dan kemudian ia diterima dalam pasamuan bhikkhu.

Suatu hari, ketika para bhikkhu yang lain menanyakan padanya apakah ia tidak mempunyai segala macam perasaan takut ketika sedang turun dari tempat yang amat tinggi (sekitar sembilan puluh kaki), ia mengatakan tidak. Para bhikkhu tersebut menanggapi dan mengartikan hal itu sebagai cara Uggasena untuk menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian arahat. Oleh karena itu, mereka pergi menemui Sang Buddha dan berkata, "Bhante! Uggasena menyatakan diri sebagai seorang arahat; dia pasti mengatakan suatu kebohongan." Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, seseorang yang telah memotong semua belenggu, seperti murid-Ku Uggasena, tidak lagi memiliki ketakutan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Sabbasaṃyojanaṃ chetvā
yo ve na paritassati
saṅgātigaṃ visaṃyuttaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ." 

---------

Notes :

Lihat juga kisah Uggasena di nomor 348.

Thursday, 25 March 2010

Kisah Dua Brahmana (Dhammapada 26 : 398)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(398) Ia yang telah memotong sabuk kebencian,
tali kulit nafsu keinginan dan tali rami pandangan keliru
serta semua kekotoran batin laten (anusaya);
ia yang telah menyingkirkan kayu penghalang (kebodohan)
dan menyadari kebenaran, maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
-------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu ketika tinggallah di Savatthi dua orang brahmana, yang masing-masing mempunyai seekor sapi jantan. Masing-masing menyatakan bahwa sapi jantan miliknyalah yang lebih baik dan lebih kuat. Akhirnya, mereka setuju untuk membawa hewan milik mereka ke dalam suatu uji coba.

Mereka pergi ke tepi sungai Aciravati dan mengisi sebuah gerobak dengan pasir. Satu demi satu sapi-sapi tersebut menarik gerobak tersebut, tetapi sia-sia, karena gerobak tersebut tidaklah bergerak dan hanya talinya yang putus.

Para bhikkhu yang melihat hal tersebut memberitahukannya kepada Sang Buddha, dan Sang Buddha berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Adalah sangat mudah untuk memutuskan tali pengikat yang dapat engkau lihat dengan matamu; siapapun dapat memutuskannya atau memotongnya. Tetapi murid-Ku, seorang bhikkhu, seharusnya memotong ikatan itikad jahat, dan tali kulit dari nafsu keinginan yang ada di dalam dirimu dan yang mengikatmu."


Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Chetvā nandhiṃ varattañ ca
sandānaṃ sahanukkamaṃ
ukkhittapaḷighaṃ buddhaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Ia yang telah memotong sabuk kebencian,
tali kulit nafsu keinginan dan tali rami pandangan keliru
serta semua kekotoran batin laten (anusaya);
ia yang telah menyingkirkan kayu penghalang (kebodohan)
dan menyadari kebenaran,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.



Wednesday, 24 March 2010

Kisah Brahmana Bersaudara Yang Kasar (Dhammapada 26 : 399)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(399) Seseorang yang tidak marah,
yang dapat menahan hinaan, penganiayaan, dan hukuman,
yang memiliki senjata kesabaran,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika ada seorang brahmana bernama Bharadvaja, isterinya bernama Dhananjani. Dhananjani telah mencapai tingkat kesucian sotapatti. Setiap kali ia bersin, batuk atau tersandung, ia akan berkata "Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa". (Artinya: Hormat padaNya / terpujilah, Sang Bhagava, Yang Maha Suci Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna).

Suatu hari, brahmana itu mengundang brahaman teman-temannya untuk makan dan tiba-tiba istri brahmana mengucapkan Namo Tassa dst dengan suara keras. Kata-kata pemuliaan bagi Sang Buddha ini sangat tidak disukai oleh suaminya, yang seorang brahmana. Brahmana itu marah dan berkata, “Aku akan pergi mendebat dan mengalahkan gurumu”. Istrinya menjawab, “Tentu saja, silakan kau pergi kesana, Brahmana; aku tak pernah melihat ada yang dapat mengalahkan Sang Buddha dalam berdebat. Walaupun demikian, pergilah dan tanyalah Sang Buddha.”

Brahmana itu pergi kepada Sang Buddha, dan bahkan tanpa memberi salam atau hormat, berdiri di samping dan bertanya,

“Apa yang harus kita bunuh untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai?

Apa yang harus dihancurkan agar tak lagi bersedih?

Dan apa yang kau setujui untuk dibunuh, Gotama?“

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, "O, brahmana untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai, seseorang harus dapat membunuh kebencian (dosa). Membunuh kebencian seseorang adalah yang disenangi dan dipuji oleh para Buddha dan para arahat."

Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha, brahmana tersebut menjadi sangat terkesan dan puas dengan jawaban tersebut, sehingga ia mohon untuk diijinkan masuk dalam pasamuan bhikkhu. Ia diterima masuk dalam pasamuan bhikkhu dan menjadi seorang arahat setelahnya.

Brahmana ini mempunyai seorang saudara laki-laki yang sangat terkenal karena kata-kata kasarnya dan dikenal sebagai Akkosaka Bharadvaja, Bharadvaja yang suka menghina/berkata kasar. Ketika Akkosaka Bharadvaja mendengar bahwa saudara laki-lakinya telah masuk dalam pasamuan bhikkhu, ia menjadi sangat marah. Ia langsung pergi ke vihara dan berkata kasar kepada Sang Buddha.

Sang Buddha pada gilirannya bertanya, "O,brahmana, kita misalkan, engkau menawarkan beberapa makanan kepada beberapa tamu dan mereka meninggalkan rumah tanpa mengambil makanan tersebut. Karena tamu tersebut tidak menerima makananmu itu, kemudian makanan itu menjadi milik siapa?"

Brahmana tersebut menjawab, bahwa makanan itu menjadi miliknya.

Setelah menerima jawaban tersebut Sang Buddha berkata, "Dengan cara yang sama, O brahmana, karena Aku tidak menerima hinaan/kata-kata kasarmu, maka hinaan tersebut akan kembali kepadamu."

Akkosaka Bharadvaja dengan segera menyadari kebijaksanaan dari kata-kata tersebut dan ia menaruh rasa hormat kepada Sang Buddha. Ia juga memasuki pasamuan bhikkhu, kemudian ia menjadi seorang Arahat.

Setelah Akkosaka Bharadvaja memasuki Sangha, dua saudara laki-laki ini juga datang menemui Sang Buddha dengan tujuan yang sama yaitu menghina/berkata kasar kepada Sang Buddha. Mereka juga dibuat melihat cahaya Kebenaran oleh Sang Buddha dan mereka juga, pada gilirannya memasuki pasamuan bhikkhu. Akhirnya, mereka berdua juga menjadi arahat.

Suatu sore pada saat berkumpulnya para bhikkhu, para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha, "O betapa indahnya dan betapa agungnya kebajikan Sang Buddha ! Empat brahmana bersaudara datang kemari untuk menghina Sang Buddha; alih-alih berdebat dengan mereka; Beliau membuat mereka melihat cahaya, dan sebagai hasilnya, Sang Buddha telah menjadi pelindung bagi mereka."

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! karena Aku sabar dan menahan diri dan tidak melakukan kesalahan kepada mereka yang melakukan kesalahan kepadaKu, Aku menjadi pelindung bagi banyak orang."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Akkosaṃ vadhabandhañ ca aduṭṭho yo titikkhati
khantībalaṃ balānīkaṃ tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang tidak marah, yang dapat menahan hinaan,
penganiayaan, dan hukuman
yang memiliki senjata kesabaran,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

Tuesday, 23 March 2010

Kisah Sariputta Thera (Dhammapada 26 : 400)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(400) Seseorang yang telah bebas dari kemarahan,
menjalankan sila, bajik, bebas dari nafsu keinginan,
dan yang memiliki tubuh ini sebagai tubuh-akhir,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika Sang Buddha sedang menetap di Vihara Veluvana, Y.A. Sariputta disertai dengan lima ratus bhikkhu, memasuki desa Nalaka dan berdiri di muka pintu rumah ibunya sendiri untuk berpindapatta. Ibunya mengundang mereka masuk ke dalam rumah.

Ketika ia sedang memberikan makanan kepada anaknya, ia berkata, "O, kau pemakan makanan sisaan! Gagal mendapat bubur nasi asam sisa, kamu pergi dari rumah ke rumah orang tak dikenal, menjilati sisa bubur di punggung sendok! Dan demi hal ini kau meninggalkan delapan puluh crore harta kekayaan untuk menjadi seorang bhikkhu! Kamu telah menghancurkanku! Nih makan!"

Kemudian ia memberikan makanan kepada para bhikkhu yang lain, dan berkata kepada mereka dengan kasar, "Jadi kalian ini rupanya yang membuat anakku jadi pembantu kalian! Nih makan!"

Y.A. Sariputta tidak berkata apapun, ia mengambil mangkuk pattanya dan pulang kembali ke vihara.

Setelah tiba di vihara, para bhikkhu memberitahu Sang Buddha bagaimana Y.A. Sariputta telah dengan sabar menerima kata-kata hinaan dari ibunya. Kepada mereka, Sang Buddha mengatakan bahwa para arahat tidak pernah marah, mereka tidak pernah kehilangan kesabarannya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Akkodhanaṃ vatavantaṃ sīlavantaṃ anussutaṃ
dantaṃ antimasārīraṃ tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang telah bebas dari kemarahan, menjalankan sila, bajik,
bebas dari nafsu keinginan, terkendali
dan yang memiliki tubuh ini sebagai tubuh terakhirnya,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

Monday, 22 March 2010

Kisah Uppalavanna Theri (Dhammapada 26 : 401)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(401) Seseorang yang tidak lagi melekat pada kesenangan-kesenangan indria,
seperti air di atas daun teratai
atau seperti biji sesawi di ujung jarum,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu beberapa bhikkhu sedang membicarakan tentang Arahat Uppalavanna Theri yang diperkosa pemuda Nanda, yang kemudian ditelan bumi. Dalam kaitan ini, mereka bertanya kepada Sang Buddha apakah arahat tidak menikmati kesenangan hawa nafsu karena mereka mempunyai susunan tubuh yang sama seperti layaknya orang lain.

Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! Para arahat tidak menikmati kesenangan hawa nafsu; mereka tidak menuruti kehendak dalam kesenangan hawa nafsu, karena mereka tidak lagi melekat pada objek indria dan pada kesenangan hawa nafsu, seperti air yang tidak melekat pada daun teratai atau biji sesawi yang berada pada ujung jarum."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Vāri pokkharapatte va āragge-r-iva sāsapo
yo na lippati kāmesu tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang tidak lagi melekat pada kesenangan-kesenangan indria,
seperti air di atas daun teratai atau
seperti biji sesawi diujung jarum,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`
---------

Notes :

Kisah lebih lengkap mengenai Uppalavana Theri lihat di kisah nomor 69.


Sunday, 21 March 2010

Kisah Seorang Brahmana Tertentu (Dhammapada 26 : 402)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(402) Dalam dunia ini,
seseorang yang telah menyadari penderitaannya sendiri,
yang telah meletakkan beban dan tak terikat,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang budak muda milik seorang brahmana. Suatu hari, setelah melarikan diri dari rumah tuannya, ia memasuki pasamuan bhikkhu, dan pada saatnya ia mencapai tingkat kesucian arahat. Pada satu kesempatan, ketika ia sedang pergi untuk berpindapatta dengan Sang Buddha, bekas tuannya dahulu, seorang brahmana, melihatnya dan mencengkeram jubahnya dengan kuat. Ketika Sang Buddha menanyakan apa permasalahannya, brahmana tersebut menjelaskan bahwa bhikkhu muda tersebut pernah menjadi budaknya.

Kepadanya Sang Buddha berkata, "Bhikkhu ini telah meletakkan beban (dari khandha-khandha/ kelompok-kelompok kehidupan)." Brahmana itu mencerna hal tersebut dan mengartikan bahwa budaknya telah menjadi seorang arahat. Untuk lebih meyakinkan dirinya ia bertanya kepada Sang Buddha apakah benar bahwa bhikkhu tersebut telah menjadi seorang arahat, dan Sang Buddha menegaskan pernyataan-Nya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yo dukkhassa pajānāti
Idh’ eva khayam attano
pannabhāraṃ visaññuttaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Dalam dunia ini,
seseorang yang telah menyadari akhir penderitaannya sendiri
yang telah meletakkan beban dan tak terikat,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.

Brahmana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Saturday, 20 March 2010

Kisah Khema Theri (Dhammapada 26 : 403)

BAB XXVI. Brahmana Vagga – Brahmana

(403) Seseorang yang pengetahuannya dalam,
pandai dan terlatih dalam membedakan jalan yang benar dan salah,
yang telah mencapai tujuan tertinggi,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Suatu malam, Sakka, Raja Dewa, datang dengan para pengikutnya untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Ketika mereka sedang bersama Sang Buddha, Khema Theri, dengan kemampuan batin luar biasanya juga datang melalui angkasa untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Tetapi karena Sakka dan rombongannya berada di sana bersama Sang Buddha, ia hanya menyembah dengan membungkukkan badan kepada Sang Buddha, dan segera meninggalkan beliau. Sakka bertanya kepada Sang Buddha siapakah bhikkhuni tadi dan Sang Buddha menjawab, "Ia adalah salah satu muridKu yang paling terkenal; ia dikenal sebagai Khema Theri. Ia tidak ada bandingnya di antara para bhikkhuni dalam hal kebijaksanaan, dan ia mengetahui bagaimana membedakan jalan yang benar dari jalan yang salah."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Gambhīrapaññaṃ medhāviṃ
maggāmaggassa kovidaṃ
uttamatthaṃ anuppattaṃ
tam ahaṃ brūmi brāhmaṇaṃ."

Seseorang yang pengetahuannya dalam, pandai, dan terlatih
dalam membedakan jalan yang benar dan salah,
yang telah mencapai tujuan tertinggi,
maka ia Kusebut seorang `brahmana`.
-----------------

Notes :

Kisah Khema lebih lengkap di nomer 347.