Showing posts with label 14. Buddha Vagga. Show all posts
Showing posts with label 14. Buddha Vagga. Show all posts

Thursday, 5 August 2010

Kisah Tiga Putri Mara (Dhammapada 14 : 179-180)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(179) Beliau yang kemenangannya tak dapat dikalahkan lagi,
yang nafsunya telah diatasi dan tidak mengikutinya lagi,
Sang Buddha yang tiada bandingnya, yang tanpa jejak nafsu,
dengan cara apa akan kaugoda Beliau?

(180) Beliau yang tak terjerat
dan terlibat nafsu keinginan yang menyebabkan kelahiran,
Sang Buddha yang tiada bandingnya, yang tanpa jejak nafsu,
dengan cara apa akan kaugoda Beliau?
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Brahmana Magandiya dan istrinya tinggal di kerajaan Kuru bersama dengan Magandiya, putri mereka yang amat cantik. Begitu cantiknya putrinya itu sehingga ayahnya dengan keras menolak semua pelamarnya. Suatu hari, pagi-pagi sekali ketika Sang Buddha meninjau sekeliling dunia, Beliau mengetahui bahwa sudah saatnya bagi brahmana Magandiya dan istrinya untuk mencapai tingkat kesucian anagami. Sambil membawa mangkuk dan jubah-Nya, Sang Buddha berangkat ke tempat di mana sang brahmana biasanya melakukan pengorbanan dengan api.

Begitu melihat Sang Buddha, sang brahmana dengan seketika memutuskan bahwa Sang Buddha adalah orang yang layak menjadi suami putrinya. Ia meminta Sang Buddha untuk menunggu di sana dan dengan terburu-buru ia pergi menjemput istri dan putrinya.

Sang Buddha meninggalkan jejak kaki-Nya dan pergi ke tempat lain, yang berada di dekat sana. Ketika Sang brahmana dan keluarganya tiba, mereka hanya menemukan jejak kaki Sang Buddha, istri brahmana berkata bahwa itu adalah jejak kaki dari seorang yang telah terbebas dari keinginan-keinginan hawa nafsu. Kemudian, sang brahmana melihat Sang Buddha dan menawarkan putrinya untuk dinikahi oleh Sang Buddha.

Sang Buddha tidak menerima ataupun tidak menolak penawaran itu, tetapi pertama Beliau menceritakan kepada sang brahmana bagaimana putri-putri Mara menggoda-Nya pada saat Beliau baru saja mencapai Ke-buddha-an. Kepada putri-putri Mara yang cantik, Tanha, Arati dan Raga, Sang Buddha berkata, "Tidak ada gunanya menggoda seseorang yang telah terbebas dari keinginan, kemelekatan dan nafsu, karena ia tidak lagi dapat terpikat oleh godaan apapun juga."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Yassa jitaṃ nāvajīyati
jitaṃ assa no yāti koci loke
tam buddham anantagocaraṃ
apadaṃ kena padena nessatha.

Yassa jālinī visattikā
taṇhā n’ atthi kuhiñci netave
tam buddham anantagocaraṃ
apadaṃ kena padena nessatha."

Beliau yang kemenangannya tak dapat dikalahkan lagi,
yang nafsunya telah diatasi dan tidak mengikutinya lagi,
Sang Buddha yang tiada bandingnya, yang tanpa jejak nafsu,
dengan cara apa akan kaugoda Beliau?

Beliau yang tak terjerat dan
terlibat nafsu keinginan yang menyebabkan kelahiran,
Sang Buddha yang tiada bandingnya, yang tanpa jejak nafsu,
dengan cara apa akan kaugoda Beliau?

Kemudian, Sang Buddha melanjutkan, "Brahmana Magandiya, walaupun saya melihat putri-putri Mara yang tiada bandingnya, saya tidak merasakan hawa nafsu dalam diri saya. Lagipula, apakah tubuh putrimu ini? Hanya penuh dengan air kencing dan kotoran; Saya tidak ingin menyentuhnya walaupun dengan kaki saya." Begitu mendengar kata-kata Sang Buddha tersebut, mereka berdua, sang brahmana dan istrinya, mencapai tingkat kesucian anagami. Kemudian, mereka bergabung menjadi anggota Sangha dan akhirnya mereka berdua mencapai tingkat kesucian arahat.

Wednesday, 4 August 2010

Kisah Kembalinya Sang Buddha dari Tavatimsa (Dhammapada 14 : 181)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(181) Orang bijaksana yang tekun bersamadhi,
yang bergembira dalam kedamaian pelepasan,
yang memiliki kesadaran sejati dan telah mencapai Penerangan Sempurna,
akan dicintai oleh para dewa.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu saat, ketika berada di Savatthi, Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ganda dalam menjawab tantangan para pertapa dari berbagai sekte. Setelah itu, Sang Buddha pergi ke surga Tavatimsa; ibu-Nya yang telah lahir di surga Tusita sebagai dewa yang dikenal dengan nama Santusita juga datang ke surga Tavatimsa. Di sana Sang Buddha menjelaskan tentang Abhidhamma kepada para dewa dan brahmana selama tiga bulan masa vassa. Hasilnya, dewa Santusita mencapai tingkat kesucian sotapatti; begitu pula dengan banyak dewa dan brahma.

Selama masa itu Sariputta Thera menghabiskan vassa di Sankassanagara, tiga puluh yojana dari Savatthi. Selama ia tinggal disana, setiap hari Sang Buddha juga menyampaikan ringkasan Abhidhamma kepadanya, dan selanjutnya ia mengajarkan Abhidhamma kepada lima ratus orang bhikkhu yang tinggal bersamanya dan menutup keseluruhan ceramah pada saat berakhirnya masa vassa.

Menjelang akhir masa vassa, Maha Moggallana Thera pergi ke surga Tavatimsa untuk menjenguk Sang Buddha. Kemudian, ia diberitahu bahwa Sang Buddha akan kembali ke dunia manusia pada saat bulan purnama di akhir masa vassa di tempat Sariputta Thera melaksanakan masa vassa.

Seperti yang telah dijanjikan, Sang Buddha datang dengan sinar enam warna yang terus menerus bersinar dari tubuh-Nya ke gerbang kota Sankassanagara, pada malam hari di bulan purnama di bulan Assayuja ketika bulan bersinar dengan terangnya. Beliau diiringi oleh sekumpulan besar dewa di satu sisi dan sekumpulan besar brahma di sisi yang lainnya.

Sekumpulan besar orang yang dipimpin oleh Sariputta Thera menyambut kedatangan Sang Buddha ke dunia ini; dan seluruh kota diterangi cahaya. Sariputta Thera terpesona oleh keagungan dan kemuliaan dari seluruh pemandangan kembalinya Sang Buddha.

Ia dengan hormat mendatangi Sang Buddha dan berkata, "Bhante! kami tidak pernah melihat ataupun mendengar kemuliaan yang begitu indah dan gemerlapan. Sungguh, Bhante dicintai, dihormati, dan dipuja oleh para dewa, brahma dan manusia!"

Kepadanya Sang Buddha berkata, "Anakku Sariputta, seorang Buddha yang memiliki sifat-sifat unik sesungguhnya dicintai oleh manusia dan para dewa."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Ye jhānapasutā dhīrā nekkhammūpasame ratā
devāpi tesaṃ pihayanti sambuddhānaṃ satīmataṃ."

Orang bijaksana yang tekun bersamadhi,
yang bergembira dalam kedamaian pelepasan,
yang memiliki kesadaran sejati
dan telah mencapai Penerangan Sempurna,
akan dicintai oleh para dewa.

Kelima ratus orang bhikkhu yang merupakan murid-murid dari Sariputta Thera mencapai tingkat kesucian arahat, dan banyak sekali dari kumpulan orang yang hadir di sana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
---------

Notes :

Selama tiga bulan masa vassa tsb, Sang Buddha berdiam di surga Tavatimsa untuk mengajarkan Abhidhamma. Setiap hari, untuk memenuhi kebutuhan badan kasarnya, Sang Buddha turun ke dunia dan berpindapata di Uttarakuru, kemudian menuju danau Anotatta dimana Sariputta Thera sudah menunggunya. Setelah memberi penjelasan singkat mengenai apa yang dibabarkan di Tavatimsa, Sang Buddha kemudian kembali ke Tavatimsa.

Selama Beliau turun ke dunia, Beliau menciptakan kembaran diriNya untuk menggantikan Beliau mengajar Abhidhamma kepada para dewa..

Tuesday, 3 August 2010

Kisah Raja Naga Erakapatta (Dhammapada 14 : 182)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(182) Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupannya yang lampau sewaktu masa Buddha Kassapa ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena kegelisahan (kukkucca) terhadap pelanggaran kecil* yang telah diperbuatnya, ia terlahir sebagai seekor naga. Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta memiliki seorang putri yang cantik, dan melalui putrinya itu ia bertujuan menemukan Sang Buddha. Ia mengumumkan bahwa siapapun yang dapat menjawab pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan, Ekarapatta menyuruh putrinya menari di tempat terbuka dan menyanyikan pertanyaan-pertanyaannya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan berharap memilikinya, tetapi tak seorangpun dapat memberikan jawaban yang benar.

Suatu hari, melalui kekuatan mata-batinNya, Sang Buddha nampak seorang pemuda yang bernama Uttara. Beliau juga mengetahui bahwa si pemuda akan mencapai tingkat kesucian sotapatti, sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh putri Ekarapatta, sang naga. Waktu itu si pemuda telah berangkat dalam perjalanannya untuk bertemu dengan putri Ekarapatta. Sang Buddha menghentikannya dan mengajarinya bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ketika sedang diberi pelajaran, Uttara mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sekarang di saat ia telah mencapai tingkat kesucian sotapatti, ia tidak lagi memiliki keinginan terhadap putri Erakapatta. Bagaimanapun Uttara tetap pergi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk kebaikan pagi para makhluk.

Keempat pertanyaan pertama adalah sebagai berikut :
  1. Siapakah penguasa ?
  2. Apakah seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran batin dapat disebut sebagai seorang penguasa?
  3. Penguasa apakah yang bebas dari kekotoran batin?
  4. Orang yang seperti apakah yang disebut bodoh?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah sebagai berikut :
  1. Ia yang mengontrol keenam indra adalah seorang penguasa.
  2. Seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran batin tidak dapat disebut seorang penguasa; ia yang bebas dari kemelekatan disebut seorang penguasa.
  3. Penguasa yang bebas dari kemelekatan adalah yang bebas dari kekotoran moral.
  4. Seseorang yang menginginkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu adalah yang disebut bodoh.

Mendapat jawaban yang benar seperti di atas, putri naga kemudian menyanyikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan arus hawa nafsu, kehidupan berulang-ulang, pandangan-pandangan salah, dan ketidaktahuan, dan bagaimana dapat menanggulanginya. Uttara menjawab pertanyaan-pertanyaan ini seperti yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.

Ketika Erapatta mendengar jawaban-jawaban ini, ia tahu bahwa seorang Buddha telah muncul di dunia ini. Sehingga ia meminta kepada Uttara untuk mengantarkannya menghadap Sang Buddha. Saat melihat Sang Buddha, Erakapatta menceritakan kepada Sang Buddha bagaimana ia telah menjadi seorang bhikkhu selama masa Buddha Kassapa, bagaimana ia tidak sengaja menyebabkan sebilah rumput patah ketika ia sedang melakukan perjalanan di atas perahu, dan bagaimana ia sangat khawatir karena ia tidak melakukan pengakuan atas kesalahan kecil tersebut sebagaimana mestinya, dan akhirnya bagaimana ia terlahir sebagai seekor naga.

Setelah mendengarnya, Sang Buddha mengatakan kepada sang naga, betapa sulit untuk dilahirkan di alam manusia, dan untuk dilahirkan pada saat munculnya para Buddha atau selama para Buddha mengajar.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Kiccho manussapaṭilābho,
kicchaṃ maccāna jīvitaṃ
kicchaṃ saddhammassavanaṃ,
kiccho Buddhānam uppādo."

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.

Khotbah di atas bermanfaat bagi banyak makhluk. Erakapatta sebagai seekor hewan tidak dapat mencapai tingkat kesucian sotapatti.
---------

Notes :

*
Erakapatta sewaktu menjadi bhikkhu di kehidupan lalunya, sedang naik perahu di sungai Gangga, lalu memegang daun/tumbuhan yang tumbuh di tepi sungai, tetapi ia tidak segera melepasnya sehingga bersamaan dengan melajunya perahu, daun/rumput/tanaman itu menjadi robek/rusak. Merusak tanaman adalah termasuk pelanggaran kecil Vinaya kebhikkhuan (pelanggaran Pacittiya), dimana seharusnya ia melakukan pengakuan atas kesalahan itu. Bhikkhu Erakapatta tidak melakukan pengakuan dan ketika ia menjelang ajalnya, timbullah dalam dirinya rasa kegelisahan yang teramat besar karena dia tidak mengakui pelanggaran tsb. Akibat pikiran yang kacau ini pada saat menjelang ajal, maka ia terlahir kembali menjadi naga.

Pada saat meninggal, keadaan pikiran kita sangat penting dalam menentukan kelahiran berikutnya. Jika pikiran gelisah, tidak tenang, ataupun melekat terhadap harta benda, situasi, sanak keluarga dll, otomatis kelahiran berikutnya akan terpengaruh.

Karenanya, adalah sangat penting menjaga ketenangan batin dan pikiran orang yang meninggal, jika kita sungguh-sungguh mencintai orang yang meninggal tersebut, seyogyanya kita tidak memperkeruh suasana atau menyebabkan timbulnya perasaan-perasaan negatif dalam orang yang meninggal tersebut. Sebaliknya, timbulkanlah perasaan-perasaan positif.

Adalah sangat baik jika kita membacakan paritta, sutta, ataupun mantra dll, lebih bagus lagi jika paritta, sutta, mantra tersebut adalah yang berhubungan dengan pelepasan, penguatan keyakinan kepada Sang Tiratana (Buddha, Dhamma, Sangha), dll.

Untuk umat awam yang berbakti dan menjaga sila dengan baik, dapat dibacakan Sotapattisamyutta.

Untuk yang Mahayana; Sutra tentang Amitabha (Ah Mi Tuo Cing), Wang Sen Cou, adalah baik untuk menunjang kelahiran di Sukhavati.

Untuk para praktisi tantra bisa juga dibacakan instruksi mengenai Bardo untuk mengingatkannya langkah-langkah apa yang harus diambil dalam proses kematian/kelahiran kembali itu.

Sebagian orang yang beragama lain berpikir saat orang tuanya menjelang ajal, ini adalah kesempatan baik untuk membaptis orangtuanya, mereka berpikir ini adalah hal yang baik supaya orang tuanya dapat diterima di surga (menurut kepercayaan mereka), karena selama masa hidupnya ortu tidak mau pindah agama. Nah sekarang menjelang ajal, sudah tak bisa protes lagi, mereka berpikir ini kesempatan baik untuk membaptis ortunya supaya masuk surga. Tetapi, walaupun tidak bisa protes secara ucapan, jika batinnya tidak setuju, ragu-ragu, dan bahkan marah atau kesal, justru ini malah membawa kelahiran yang tidak baik bagi orang tuanya tersebut. Saya sungguh merasa kasihan kepada orang-orang tua yang anak-anaknya telah berpindah agama, lalu pada waktu ajalnya dibaptis pindah ke agama lain. Maksudnya mungkin baik, tapi akibatnya bisa fatal.

Ohya, naga bisa bersalin rupa mengambil wujud sebagai manusia, kalau tidak tentu tak ada yang mau menikahi si putri naga :).

Naga-naga ini berada di bawah komando Virupakkha, salah satu dari Empat Raja Dewa di Catummaharajika.

Monday, 2 August 2010

Kisah Pertanyaan Yang Diajukan Oleh Ananda Thera (Dhammapada 14 : 183-185)

XIV. Buddha Vagga - Buddha
 
(183) Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.

(184) Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.
"Nibbana adalah tertinggi" begitulah sabda Para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya bukanlah seorang petapa (samana).

(185) Tidak menghina, tidak menyakiti,
dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan batin nan luhur;
inilah Ajaran Para Buddha.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu saat, Ananda Thera bertanya kepada Sang Buddha, apakah ajaran dasar yang diberikan kepada para bhikkhu oleh para Buddha terdahulu adalah sama seperti yang diajarkan Sang Buddha sendiri sekarang. Kepadanya Sang Buddha menjawab bahwa ajaran  yang dibabarkan oleh seluruh Buddha adalah seperti yang diberikan pada syair berikut ini :

"Sabbapāpassa akaraṇaṃ kusalassa upasampadā
sacittapariyodapanaṃ etaṃ Buddhāna sāsanaṃ

Khantī paramaṃ tapo titikkhā,
nibbānaṃ paramaṃ vadanti Buddhā,
na hi pabbajito parūpaghātī
samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto

Anupavādo anupaghāto pātimokkhe ca saṃvaro
mattaññutā ca bhattasmiṃ pantañ ca sayanāsanaṃ
adhicitte ca āyogo etaṃ Buddhāna sāsanaṃ."

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.
"Nibbana adalah tertinggi", begitulah sabda Para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti,
dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

Sunday, 1 August 2010

Kisah Seorang Bhikkhu Muda Yang Tidak Puas (Dhammapada 14 : 186-187)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(186) Bukan dalam hujan emas
dapat ditemukan kepuasan nafsu indria.
Nafsu indria hanya merupakan kesenangan sekejap
yang membuahkan penderitaan.

(187) Bagi orang bijaksana yang dapat memahami,
hal itu tidak membuatnya bergembira bila mendapat kesenangan surgawi sekalipun.
Siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna
bergembira dalam penghancuran nafsu-nafsu keinginan.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat, ada seorang bhikkhu muda di Vihara Jetavana. Suatu hari gurunya mengirim bhikkhu itu ke vihara lain untuk belajar. Ketika ia sedang pergi, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia tanpa diketahui bhikkhu muda itu. Tetapi ayahnya meninggalkan uang seratus kahapana kepada saudara lelakinya, paman bhikkhu muda itu. Pada saat bhikkhu muda kembali, pamannya menceritakan tentang kematian ayahnya dan tentang uang seratus kahapana yang ditinggalkan untuknya. Mulanya, ia berkata bahwa ia tidak memerlukan uang tersebut. Kemudian ia berpikir bahwa mungkin lebih baik kembali pada kehidupan berumahtangga, dan akibatnya ia menjadi tidak puas dengan kehidupan seorang bhikkhu. Pelan-pelan ia mulai kehilangan ketertarikan pada hidupnya dan juga kehilangan berat badannya. Ketika para bhikkhu yang lain tahu tentang hal ini, mereka membawanya menghadap Sang Buddha.

Sang Buddha bertanya kepadanya bahwa apakah benar ia merasa tidak bahagia dengan kehidupannya sebagai seorang bhikkhu dan apakah ia memiliki modal untuk memulai kehidupan sebagai seorang berumahtangga.

Ia menjawab benar dan ia memiliki uang seratus kahapana untuk memulai kehidupannya. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepadanya bahwa ia akan membutuhkan makanan, pakaian, perabot rumah tangga, dua ekor lembu jantan, bajak-bajak, pangkur-pangkur, pisau-pisau, dan lain sebagainya, sehingga uang tunai seratus itu akan sangat sulit menutupi biaya-biaya tersebut.

Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya bahwa bagi kehidupan manusia tidak akan pernah cukup, tidak terkecuali bagi kehidupan raja dunia yang dapat mendatangkan hujan uang atau mutiara, sejumlah kekayaan lainnya dan harta karun pada setiap saat.

Lebih lanjut, Sang Buddha menceritakan sebuah cerita tentang Mandatu, raja dunia, yang menikmati kebahagiaan hidup surgawi di alam surga Catumaharajika dan Tavatimsa secara bersamaan untuk waktu yang lama. Setelah menghabiskan waktu yang lama di surga Tavatimsa, suatu hari Mandatu berkeinginan untuk menjadi satu-satunya penguasa surga Tavatimsa, daripada membagi kekuasaan dengan Sakka. Tapi pada saat itu, keinginannya tidak dapat dipenuhi dan serta merta ia menjadi tua dan lemah, ia kembali ke alam manusia dan tidak lama kemudian ia meninggal dunia.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Na kahāpaṇavassena titti kāmesu vijjati,
‘appassādā dukhā kāmā’ iti viññāya paṇḍito.

Api dibbesu kāmesu ratiṃ so nādhigacchati,
taṇhakkhayarato hoti sammāsambuddhasāvako."

Bukan dalam hujan emas
dapat ditemukan kepuasan nafsu indria.
Nafsu indria hanya merupakan kesenangan sekejap
yang membuahkan penderitaan.

Bagi orang bijaksana yang dapat memahami,
hal itu tidak membuatnya bergembira
bila mendapat kesenangan surgawi sekalipun.
Siswa Sang Buddha Yang Maha Sempurna bergembira
dalam penghancuran nafsu-nafsu keinginan.

Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Saturday, 31 July 2010

Kisah Aggidatta (Dhammapada 14 : 188-192)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(188) Karena rasa takut,
banyak orang pergi mencari perlindungan ke gunung-gunung,
ke hutan-hutan, ke pohon-pohon
dan ke tempat-tempat pemujaan yang dianggap keramat.

(189) Tetapi itu bukanlah perlindungan yang aman,
bukanlah perlindungan yang utama.
Dengan mencari perlindungan seperti itu,
orang tidak akan bebas dari penderitaan.

(190) Ia yang telah berlindung
kepada Buddha, Dhamma dan Sangha,
dengan bijaksana dapat melihat
Empat Kebenaran Mulia, yaitu:

(191) Dukkha,
sebab dari dukkha,
akhir dari dukkha,
serta Jalan Mulia Berfaktor Delapan yang menuju pada akhir dukkha.

(192) Sesungguhnya itulah perlindungan yang utama.
Dengan pergi mencari perlindungan seperti itu,
orang akan bebas dari segala penderitaan.
--------------------------------------------------------------------------------------------

Aggidatta adalah seorang kepala pendeta selama pemerintahan Raja Mahakosala, ayah dari raja Pasenadi. Setelah kematian Raja Mahakosala, Aggidatta mendanakan kekayaannya, dan meninggalkan rumah menjadi seorang pertapa non-Buddhis. Ia tinggal bersama dengan sepuluh ribu orang pengikutnya di sebuah tempat dekat perbatasan antara tiga kerajaan Anga, Magadha dan Kuru, tidak jauh dari sebuah bukit pasir, dimana tinggal seekor naga yang buas. Kepada pengikut-pengikutnya dan orang-orang di ketiga kerajaan ini, Aggidatta menasehati, "Sembahlah hutan-hutan, gunung-gunung, kebun-kebun dan taman-taman, serta pohon-pohon; dengan melakukan ini, kamu terbebas dari segala penyakit di dunia ini."

Suatu hari, melalui mata batinnya, Sang Buddha melihat Aggidatta dan para pengikutnya dan mengetahui bahwa sudah tiba saatnya bagi mereka untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha mengutus Maha Moggallana Thera menemui Aggidatta dan para pengikutnya serta mengatakan kepadanya bahwa Sang Buddha sendiri akan segera datang menyusul kesana.

Maha Moggallana Thera pergi ke tempat Aggidatta dan para pengikutnya serta meminta mereka untuk memberikannya tempat menginap semalam. Mulanya mereka menolak permintaannya, tetapi akhirnya mereka setuju untuk membiarkannya bermalam di bukit pasir, rumah sang naga. Sang naga sangat tidak menyukai Maha Moggallana Thera, dan kemudian yang terjadi adalah adu kekuatan antara naga dan thera; kedua belah pihak bertarung mengadu kesaktian, mengeluarkan pancaran asap dan lidah api. Bagaimanapun juga, akhirnya sang naga dapat ditaklukkan. Ia menggulung dirinya mengitari bukit pasir tersebut, dan menegakkan kepalanya serta melebarkannya seperti sebuah payung di atas Maha Moggallana Thera, menunjukkan rasa hormat kepadanya.

Pagi-pagi sekali, Aggidatta dan para pertapa lainnya datang ke bukit pasir untuk mengetahui apakah Maha Moggallana Thera masih hidup, mereka berharap melihatnya sudah meninggal dunia. Ketika mereka mengetahui sang naga telah jinak, dan tanpa perlawanan membiarkan kepalanya seperti sebuah payung di atas tubuh Maha Moggallana Thera mereka amat sangat terkejut.

Sesaat kemudian, Sang Buddha tiba dan Maha Moggallana Thera berdiri dari tempat duduknya di bukit pasir dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Kemudian Maha Moggallana Thera mengumumkan kepada para pertapa, "Inilah Guru saya, Sang Buddha Yang Maha Suci, dan saya adalah murid yang rendah dari Guru Agung ini!"

Mendengarnya, para pertapa yang sangat terkesan oleh kesaktian Maha Moggallana Thera terpesona oleh kesaktian Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Aggidatta apa yang telah diajarkan kepada pengikut-pengikutnya dan para penduduk yang saling bertetangga.

Aggidatta menjawab bahwa ia telah mengajarkan kepada mereka untuk memberi hormat kepada gunung-gunung, hutan-hutan, kebun-kebun dan taman-taman, serta pohon-pohon, dan dengan melakukan hal tersebut, mereka akan terbebas dari segala penyakit di dunia ini.

Jawaban Sang Buddha kepada Aggidatta adalah, "Aggidatta, orang-orang pergi ke gunung-gunung, hutan-hutan, taman-taman dan kebun-kebun, serta pohon-pohon untuk perlindungan ketika mereka terancam bahaya, tetapi benda-benda ini tidak dapat memberikan perlindungan. Hanya mereka yang berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha akan terbebas dari proses lingkaran kehidupan (samsara)."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Bahuṃ ve saraṇaṃ yanti pabbatāni vanāni ca
ārāmarukkhacetyāni manussā bhayatajjitā.


N’ etaṃ kho saraṇaṃ khemaṃ
n’ etaṃ saraṇaṃ uttamaṃ,

n’ etaṃ saraṇaṃ āgamma,
sabbadukkhā pamuccati.


Yo ca Buddhañ ca Dhammañ ca
Saṃghañ ca saraṇaṃ gato

cattāri ariyasaccāni
sammappaññāya passati:


Dukkhaṃ dukkhasamuppādaṃ
dukkhassa ca atikkamaṃ

ariyañ c’ aṭṭhaṅgikaṃ maggaṃ
dukkhūpasamagāminaṃ.

Etaṃ kho saraṇaṃ khemaṃ etaṃ saraṇaṃ uttamaṃ
etaṃ saraṇaṃ āgamma sabbadukkhā pamuccati”

Karena rasa takut, banyak orang pergi mencari perlindungan ke gunung-gunung,
ke hutan hutan ke pohon-pohon dan ke tempat-tempat pemujaan yang dianggap keramat.

Tetapi itu bukanlah perlindungan yang aman, bukanlah perlindungan yang utama.
Dengan mencari perlindungan seperti itu, orang tidak akan bebas dari penderitaan.

Ia yang telah berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha,
dengan bijaksana dapat melihat Empat Kebenaran Mulia, yaitu:

Dukkha, sebab dari dukkha, akhir dari dukkha,
serta Jalan Mulia Berfaktor Delapan yang menuju pada akhir dukkha.

Sesungguhnya itulah perlindungan yang utama.
Dengan pergi mencari perlindungan seperti itu, orang akan bebas dari segala penderitaan.

Pada akhir khotbah Dhamma itu, Aggidatta dan seluruh pengikutnya mencapai tingkat kesucian arahat.

Mereka semua menjadi bhikkhu. Pada hari itu, ketika para murid Aggidatta dari Anga, Magadha dan Kuru datang untuk memberi penghormatan kepadanya, mereka melihat gurunya dan para pengikutnya berpakaian bhikkhu, mereka menjadi bingung dan heran, "Siapa yang lebih sakti? Guru kami atau Samana Gotama? Guru kami pasti lebih sakti karena Samana Gotama telah datang kepada guru kami."

Sang Buddha tahu apa yang sedang mereka pikirkan, Aggidatta juga merasa bahwa ia harus menenangkan pikiran mereka, maka ia menghormati Sang Buddha dihadapan murid-muridnya, dan berkata, "Bhante, Andalah guru saya! saya hanyalah seorang murid-Mu." Seluruh muridnya yang hadir menyadari kemuliaan Sang Buddha.

Friday, 30 July 2010

Kisah Pertanyaan Yang Diajukan Oleh Ananda Thera (Dhammapada 14 : 193)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(193) Sukar untuk berjumpa dgn manusia yg mempunyai kebijaksanaan Agung.
Orang seperti itu tidak akan dilahirkan di sembarang tempat.
Tetapi dimanapun orang seperti itu dilahirkan,
maka keluarganya akan hidup bahagia.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari, Ananda Thera merenung demikian, "Guru kami mengatakan kepada kami, bahwa keturunan terbaik gajah-gajah hanya terlahir di antara jenis gajah Chaddanta dan Uposatha; keturunan terbaik kuda-kuda hanya terlahir di antara jenis kuda Sindh; keturunan terbaik lembu-lembu hanya terlahir di antara jenis lembu Usabha. Demikianlah Beliau telah mengatakan kepada kami hanya tentang keturunan terbaik gajah, kuda, dan lembu tetapi tidak tentang purisajanno” ( = manusia sempurna, dalam hal ini yang dimaksud adalah seorang Buddha)."

Setelah merenung demikian, Ananda Thera pergi menghadap Sang Buddha, dan menanyakan tentang purisajanno. Kepadanya Sang Buddha menjawab, "Ananda, purisajanno tidak akan terlahir di semua tempat, ia hanya akan terlahir di antara Khattiyamahasala dan Brahmanamahasala, kaum hartawan dari Khattiya dan Brahmana."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Dullabho purisājañño na so sabbattha jāyati,
yattha so jāyatī dhīro taṃ kulaṃ sukham edhati."

Sukar untuk berjumpa dengan manusia yang mempunyai kebijaksanaan Agung.
Orang seperti itu tidak akan dilahirkan di sembarang tempat.
Tetapi dimanapun orang seperti itu dilahirkan,
maka keluarganya akan hidup bahagia.
----------

Notes:

Seorang Buddha tidak akan dilahirkan di keluarga dengan status rendah. Ketika mempersiapkan kelahirannya ke dunia, sesuai tradisi para Bodhisatta (calon Buddha) terdahulu, Beliau akan melakukan lima penyelidikan sebagai berikut
1. Waktu yang tepat bagi munculnya seorang Buddha,
2. Benua yang cocok bagi munculnya seorang Buddha,
3. Negeri yang tepat bagi munculnya seorang Buddha,
4. Keluarga di mana Bodhisatta (dalam kelahiran terakhirnya) akan dilahirkan, dan
5. Umur kehidupan dari bakal ibu Bodhisatta.

Mengenai keluarga:

Beliau mengetahui bahwa Bodhisatta sebelumnya tidak pernah terlahir di keluarga kasta rendah. Mereka selalu terlahir di keluarga raja atau brahmana, yang paling dihormati pada masa itu. Sewaktu masyarakat memberikan penghormatan tertinggi pada keluarga kerajaan, Bodhisatta akan terlahir di keluarga kerajaan. Dan ketika masyarakat lebih menghormati golongan brahmana, Bodhisatta akan terlahir di keluarga brahmana. Saat itu di India, keluarga bangsawan/raja lebih dihormati daripada brahmana; maka beliau memilih lahir di keluarga raja.

Thursday, 29 July 2010

Kisah Banyak Bhikkhu (Dhammapada 14 : 194)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(194) Munculnya para Buddha adalah kebahagiaan
pembabaran Dhamma sejati adalah kebahagiaan
kerukunan dalam Sangha adalah kebahagiaan,
melaksanakan praktek spiritual dalam kerukunan tsb adalah kebahagiaan.
--------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat lima ratus bhikkhu sedang mendiskusikan pertanyaan, "Apakah yang merupakan kebahagiaan?" Bhikkhu-bhikkhu ini menyadari bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda bagi setiap orang. Mereka berkata, "Bagi sebagian orang, memiliki kekayaan dan kemuliaan seperti raja adalah kebahagiaan; bagi sebagian orang, pemuasan terhadap nafsu indria adalah kebahagiaan, tetapi bagi sebagian orang lainnya, menikmati nasi dengan daging adalah kebahagiaan."

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, Sang Buddha menghampirinya. Setelah mengetahui masalah yang sedang mereka perbincangkan, Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, segala kesenangan yang telah kalian sebutkan tidak akan membuatmu keluar dari proses lingkaran kehidupan. Dalam dunia ini, hal-hal yang merupakan kebahagiaan adalah munculnya seorang Buddha, kesempatan untuk mendengarkan Ajaran Kebenaran Mulia, dan keharmonisan di antara para bhikkhu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Sukho Buddhānam uppādo sukhā saddhammadesanā
sukhā saṃghassa sāmaggī samaggānaṃ tapo sukho."

Munculnya para Buddha adalah kebahagiaan
pembabaran Dhamma sejati adalah kebahagiaan
kerukunan dalam Sangha adalah kebahagiaan,
melaksanakan praktek spiritual dalam kerukunan tsb adalah kebahagiaan.

Lima ratus bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat setelah mendengar khotbah Dhamma itu berakhir. 

Wednesday, 28 July 2010

Kisah Stupa Emas Buddha Kassapa (Dhammapada 14 : 195-196)

XIV. Buddha Vagga - Buddha

(195) Ia yang menghormati mereka yang patut dihormati,
yakni Para Buddha atau siswa-siswa-Nya,
yang telah dapat mengatasi rintangan-rintangan,
akan bebas dari kesedihan dan ratap tangis.

(196) Ia yang menghormati orang-orang suci
yang telah menemukan kedamaian
dan telah bebas dari ketakutan;
maka jasa perbuatannya tak dapat diukur dengan ukuran apapun.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat, ketika Sang Buddha dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan ke Baranasi mereka tiba di sebuah tanah lapang di mana terdapat sebuah tempat pemujaan. Tidak jauh dari kuil tersebut, seorang brahmana sedang membajak ladang, melihat sang brahmana, Sang Buddha memanggilnya.

Ketika ia tiba, sang brahmana memberi penghormatan kepada tempat pemujaan tersebut tetapi bukan kepada Sang Buddha.

Kepadanya Sang Buddha berkata, "Brahmana, dengan memberikan penghormatan kepada tempat pemujaan itu engkau telah melakukan sebuah perbuatan yang terpuji." Hal itu membuat sang brahmana gembira. Setelah membuat keadaan batinnya tenang, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, memunculkan stupa emas Buddha Kassapa dan membuatnya tetap tampak di langit. Kemudian Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana dan para bhikkhu yang hadir bahwa terdapat empat golongan orang yang patut dibuatkan stupa. Mereka adalah: Para Buddha (Tathagata) yang patut dihormati dan telah mencapai Penerangan Sempurna dengan usahanya sendiri; para Paccekabuddha; para murid-murid Ariya, dan Raja Dunia.

Beliau juga mengatakan kepada mereka tentang tiga macam stupa yang patut dibangun untuk menghormati empat golongan orang itu. Stupa-stupa tempat di mana relik sisa-sisa jasmani disimpan, dikenal dengan nama Saridhatu-cetiya; stupa-stupa dan bentuk-bentuk yang dibuat menyerupai orang-orang tersebut di atas, dikenal dengan nama Uddissa-cetiya; dan stupa-stupa tempat menyimpan barang-barang seperti jubah, mangkuk, dan lain sebagainya dikenal dengan nama Paribhoga-cetiya. Sang Buddha menekankan pentingnya memberi penghormatan kepada mereka yang patut dihormati.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Pūjārahe pūjayato Buddhe yadi va sāvake
Papañcasamatikkante tiṇṇasokapariddave,

Te tādise pūjayato nibbute akutobhaye
na sakkā puññaṃ saṃkhātuṃ im’ ettam api kenaci."

Ia yang menghormati
mereka yang patut dihormati,
yakni Para Buddha atau siswa-siswa-Nya,
yang telah dapat mengatasi rintangan-rintangan,
akan bebas dari kesedihan dan ratap tangis.

Ia yang menghormati orang-orang suci
yang telah menemukan kedamaian
dan telah bebas dari ketakutan;
maka jasa perbuatannya
tak dapat diukur dengan ukuran apapun.

Sang brahmana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Stupa Buddha Kassapa masih dengan jelas tertampak lebih dari tujuh hari, dan masyarakat tetap berdatangan ke stupa tersebut untuk memberikan penghormatan dan bersujud. Pada akhir hari ke tujuh, seperti yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, stupa tersebut menghilang, dan di tempat di mana stupa tersebut tertampak dengan kekuatan batin, muncul keajaiban berupa stupa batu yang besar.