XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(235) Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu.
Para utusan raja kematian (Yama) telah menantimu.
Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan,
namun tidak kaumiliki bekal untuk perjalanan nanti.
(236) Buatlah pulau bagi dirimu sendiri.
Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.
Setelah membersihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan,
maka engkau akan mencapai alam kedamaian para Ariya.
(237) Sekarang kehidupanmu telah mendekati akhir,
dan engkau telah mulai berjalan ke hadapan raja kematian (Yama).
Tidak ada tempat bagimu berhenti di perjalanan,
sedangkan engkau belum memiliki bekal untuk perjalananmu.
(238) Buatlah pulau bagi dirimu sendiri.
Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.
Setelah membersihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan,
maka kelahiran dan kematian tidak akan datang lagi padamu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika di Savatthi, ada seorang pria yang menjadi penjagal ternak selama lima puluh lima tahun. Selama itu ia menyembelih ternak dan menjual dagingnya, dan setiap hari ia makan nasi dengan kari daging. Suatu hari ia memberikan sedikit daging kepada istrinya agar dimasak untuk keluarga mereka, kemudian ia pergi mandi ke tepi sungai.
Saat penjagal itu pergi, seorang teman membujuk istrinya untuk menjual sekerat daging tadi kepadanya. Akibatnya tidak ada kari daging untuk si penjagal pada hari itu. Karena ia tidak pernah makan tanpa kari daging, maka si penjagal bergegas pergi ke belakang rumah, dimana terdapat seekor sapi jantan. Ia memotong lidah sapi jantan tersebut dan memanggangnya di atas api. Ketika makan si penjagal menggigit lidah sapi jantan tersebut, tetapi bersamaan dengan itu lidahnya sendiri tergigit putus dan jatuh ke atas piring nasi. Jadi sapi jantan dan si penjagal mengalami penderitaan yang sama, sama-sama terpotong lidahnya.
Si penjagal mengalami kesakitan dan penderitaan yang teramat sangat, dan ia merangkak ke sana ke mari, dengan banyak darah bercucuran dari mulutnya. Kemudian penjagal tersebut meninggal dan terlahir kembali di alam neraka Avici (Niraya Avici).
Waktu itu putra penjagal berdiri di dekat sana dan melihat kejadian itu. Ibunya berkata kepadanya, “Nak, lihatlah penjagal ini merangkak-rangkak kesana-kemari dengan kedua tangan dan kakinya, berteriak-teriak seperti seekor sapi. Hukuman ini sangat mungkin akan menimpa dirimu pula. Jangan pedulikan aku, tapi carilah selamat dan pergilah ke tempat lain.” Putranya, takut akan kematian seperti itu, mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya dan pergi ke Taxila.
Di Taxila, putra si penjagal mempelajari seni dari seorang pandai emas. Kemudian, ia menikahi putri gurunya dan mempunyai beberapa orang anak. Ketika anak-anak mereka sudah dewasa, ia kembali ke Savatthi. Anak-anaknya menganut ajaran Sang Buddha dan sangat religius. Mereka mengkhawatirkan ayah mereka, yang telah menjadi tua tanpa pernah memikirkan Dhamma maupun kehidupannya yang akan datang.
Maka pada suatu hari, mereka mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu ke rumah mereka untuk menerima dana makanan. Setelah bersantap, mereka berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, kami melakukan persembahan kepada-Mu hari ini atas nama ayah kami. Berikanlah khotbah secara khusus padanya."
Sang Buddha berkata, "Murid-Ku! Engkau telah menjadi tua, tapi engkau belum membuat persiapan kebajikan untuk perjalananmu pada kelahiran berikutnya, sekarang engkau sebaiknya mencari penolong bagi dirimu sendiri."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Paṇḍupalāso va dāni si
yamapurisā pi ca tam upaṭṭhitā
uyyogamukhe ca tiṭṭhasi
pātheyyam pi ca te na vijjati.
So karohi dīpam attano
khippaṃ vāyama paṇḍito bhava
niddhantamalo anaṅgaṇo
dibbaṃ ariyabhūmim ehisi.
Upanītavayo va dāni si
sampayāto si yamassa santike
vāso pi ca te n’atthi antarā
pātheyyampi ca te na vijjati.
So karohi dīpam attano
khippaṃ vāyama paṇḍito bhava
niddhantamalo anaṅgaṇo
na punaṃ jātijaraṃ upehisi."
Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu.
Para utusan raja kematian (Yama) telah menantimu.
Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan,
namun tidak kaumiliki bekal untuk perjalanan nanti.
Buatlah pulau bagi dirimu sendiri
Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.
Setelah membersihkan noda-noda
dan bebas dari nafsu keinginan,
maka engkau akan mencapai alam kedamaian para Ariya.
Sekarang kehidupanmu telah mendekati akhir,
dan engkau telah mulai berjalan ke hadapan raja kematian (Yama).
Tidak ada tempat bagimu berhenti di perjalanan,
sedangkan engkau belum memiliki bekal untuk perjalananmu.
Buatlah pulau bagi dirimu sendiri.
Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.
Setelah membersihkan noda-noda dan bebas dari nafsu keinginan,
maka kelahiran dan kematian tidak akan datang lagi padamu.
Ayah pemberi dana makanan (yaitu putra si penjagal) mencapai tingkat kesucian anagami setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.
Showing posts with label 18. Mala Vagga. Show all posts
Showing posts with label 18. Mala Vagga. Show all posts
Friday, 2 July 2010
Thursday, 1 July 2010
Kisah Seorang Brahmana (Dhammapada 18 : 239)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(239) Dengan latihan bertahap, sedikit demi sedikit,
dari waktu ke waktu
hendaklah orang bijaksana membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya,
bagaikan seorang pandai perak membersihkan perak yang berkarat.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu saat, seorang brahmana melihat sekelompok bhikkhu sedang membenahi jubah, ketika mereka mempersiapkan diri memasuki kota untuk menerima dana makanan. Sementara menyaksikan, ia melihat bahwa jubah beberapa bhikkhu tersebut menyentuh tanah dan menjadi basah oleh embun yang terdapat di rerumputan. Maka ia membersihkan bidang tanah itu.
Hari berikutnya, ia melihat bahwa jubah para bhikkhu menyentuh tanah lumpur, jubah tersebut menjadi kotor. Maka ia menutupi tanah tersebut dengan pasir. Kemudian pula, ia memperhatikan bahwa para bhikkhu akan berkeringat saat matahari bersinar dan menjadi basah saat hujan turun. Akhirnya, ia membangun sebuah rumah peristirahatan untuk para bhikkhu di tempat mereka biasa berkumpul sebelum memasuki kota untuk menerima dana makanan.
Ketika bangunan tersebut telah selesai, ia mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Brahmana tersebut menjelaskan kepada Sang Buddha bagaimana ia telah melaksanakan perbuatan baik tersebut selangkah demi selangkah.
Kepadanya Sang Buddha berkata, "O Brahmana! Para bijaksana melaksanakan perbuatan baik mereka sedikit demi sedikit, dan secara bertahap serta terus menerus mereka menanggalkan noda-noda kekotoran batin,"
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Anupubbena medhāvī thokathokaṃ khaṇe khaṇe
kammāro rajatasseva niddhame malam attano."
Dengan latihan bertahap, sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu
hendaklah orang bijaksana membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya,
bagaikan seorang pandai perak
membersihkan perak yang berkarat.
Brahmana itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.
(239) Dengan latihan bertahap, sedikit demi sedikit,
dari waktu ke waktu
hendaklah orang bijaksana membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya,
bagaikan seorang pandai perak membersihkan perak yang berkarat.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu saat, seorang brahmana melihat sekelompok bhikkhu sedang membenahi jubah, ketika mereka mempersiapkan diri memasuki kota untuk menerima dana makanan. Sementara menyaksikan, ia melihat bahwa jubah beberapa bhikkhu tersebut menyentuh tanah dan menjadi basah oleh embun yang terdapat di rerumputan. Maka ia membersihkan bidang tanah itu.
Hari berikutnya, ia melihat bahwa jubah para bhikkhu menyentuh tanah lumpur, jubah tersebut menjadi kotor. Maka ia menutupi tanah tersebut dengan pasir. Kemudian pula, ia memperhatikan bahwa para bhikkhu akan berkeringat saat matahari bersinar dan menjadi basah saat hujan turun. Akhirnya, ia membangun sebuah rumah peristirahatan untuk para bhikkhu di tempat mereka biasa berkumpul sebelum memasuki kota untuk menerima dana makanan.
Ketika bangunan tersebut telah selesai, ia mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu untuk menerima dana makanan. Brahmana tersebut menjelaskan kepada Sang Buddha bagaimana ia telah melaksanakan perbuatan baik tersebut selangkah demi selangkah.
Kepadanya Sang Buddha berkata, "O Brahmana! Para bijaksana melaksanakan perbuatan baik mereka sedikit demi sedikit, dan secara bertahap serta terus menerus mereka menanggalkan noda-noda kekotoran batin,"
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Anupubbena medhāvī thokathokaṃ khaṇe khaṇe
kammāro rajatasseva niddhame malam attano."
Dengan latihan bertahap, sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu
hendaklah orang bijaksana membersihkan noda-noda yang ada dalam dirinya,
bagaikan seorang pandai perak
membersihkan perak yang berkarat.
Brahmana itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.
Labels:
18. Mala Vagga
Wednesday, 30 June 2010
Kisah Tissa Thera (Dhammapada 18 : 240)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(240) Bagaikan karat yang timbul dari besi,
bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,
begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk
akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatti. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.
Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.
Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, "Mereka sedang merusak jubahku!" Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan para bhikkhu, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.
Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu, mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera. Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu merasa sangat menderita dan berlarian kesana kemari dalam lipatan jubah. Jika kalian jadi mengambil jubah itu pada saat itu, Tissa si kutu, akan merasa amat kesal dan membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya) karenanya. Tetapi sekarang, Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan karenanya Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.
"Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak memanjakan diri dalam penggunaan empat kebutuhan pokok* ataupun terlalu melekat kepadanya."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Ayasā va malaṃ samuṭṭhitaṃ
taduṭṭhāya tam eva khādati
evaṃ atidhonacārinaṃ
sakakammāni nayanti duggatiṃ."
Bagaikan karat yang timbul dari besi,
bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,
begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk
akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.
------------
Notes :
* empat kebutuhan pokok bhikkhu : pakaian (jubah), makanan, tempat tinggal dan obat-obatan.
(240) Bagaikan karat yang timbul dari besi,
bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,
begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk
akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatti. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.
Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah. Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.
Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, "Mereka sedang merusak jubahku!" Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan para bhikkhu, dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.
Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu, mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera. Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal, dan karenanya ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut. Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu merasa sangat menderita dan berlarian kesana kemari dalam lipatan jubah. Jika kalian jadi mengambil jubah itu pada saat itu, Tissa si kutu, akan merasa amat kesal dan membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya) karenanya. Tetapi sekarang, Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan karenanya Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.
"Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak memanjakan diri dalam penggunaan empat kebutuhan pokok* ataupun terlalu melekat kepadanya."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Ayasā va malaṃ samuṭṭhitaṃ
taduṭṭhāya tam eva khādati
evaṃ atidhonacārinaṃ
sakakammāni nayanti duggatiṃ."
Bagaikan karat yang timbul dari besi,
bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri,
begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk
akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan.
------------
Notes :
* empat kebutuhan pokok bhikkhu : pakaian (jubah), makanan, tempat tinggal dan obat-obatan.
Labels:
18. Mala Vagga
Tuesday, 29 June 2010
Kisah Laludayi (Dhammapada : 18 : 241)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(241) Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra,
tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan berumah tangga.
Kemalasan adalah noda bagi kecantikan,
dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Di Savatti, banyak orang memberikan pujian setelah mendengar khotbah-khotbah dari dua Murid Utama, Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera.
Suatu ketika, Laludayi, setelah mendengar pujian mereka. Ia berkata kepada orang-orang tersebut bahwa mereka akan mengatakan hal yang sama tentang dirinya setelah mendengar khotbah-khotbahnya. Mendengar hal itu, Laludayi diminta untuk menyampaikan suatu khotbah. Ia naik ke panggung khotbah tetapi ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Maka ia meminta para pendengar untuk mempersilahkan bhikkhu yang lain terlebih dahulu dan ia akan mengambil giliran berikutnya. Dengan cara yang sama, ia menunda sampai tiga kali.
Para pendengar kehilangan kesabaran dan berteriak, "Engkau orang bodoh! Ketika kami memuji kedua Murid Utama engkau membual bahwa engkau bisa berkhotbah seperti mereka. Mengapa engkau tidak berkhotbah sekarang?"
Laludayi melarikan diri dan kerumunan orang tersebut mengejarnya. Karena sangat takut dan tidak memperhatikan kemana ia melangkah, Laludayi terjatuh ke dalam sebuah lobang kotoran.
Ketika Sang Buddha mendengar kejadian tersebut, Beliau berkata, "Laludayi sangat sedikit mempelajari Dhamma; dia tidak mengulang-ulang pengetahuan Dhamma secara teratur; dia tidak mengingat apapun. Apapun yang telah sedikit ia pelajari menjadi berkarat karena tidak diulang."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Asajjhāyamalā mantā, anuṭṭhānamalā gharā,
malaṃ vaṇṇassa kosajjaṃ, pamādo rakkhato malaṃ."
Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra,
tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan berumah tangga.
Kemalasan adalah noda bagi kecantikan,
dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.
(241) Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra,
tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan berumah tangga.
Kemalasan adalah noda bagi kecantikan,
dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Di Savatti, banyak orang memberikan pujian setelah mendengar khotbah-khotbah dari dua Murid Utama, Sariputta Thera dan Maha Moggallana Thera.
Suatu ketika, Laludayi, setelah mendengar pujian mereka. Ia berkata kepada orang-orang tersebut bahwa mereka akan mengatakan hal yang sama tentang dirinya setelah mendengar khotbah-khotbahnya. Mendengar hal itu, Laludayi diminta untuk menyampaikan suatu khotbah. Ia naik ke panggung khotbah tetapi ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Maka ia meminta para pendengar untuk mempersilahkan bhikkhu yang lain terlebih dahulu dan ia akan mengambil giliran berikutnya. Dengan cara yang sama, ia menunda sampai tiga kali.
Para pendengar kehilangan kesabaran dan berteriak, "Engkau orang bodoh! Ketika kami memuji kedua Murid Utama engkau membual bahwa engkau bisa berkhotbah seperti mereka. Mengapa engkau tidak berkhotbah sekarang?"
Laludayi melarikan diri dan kerumunan orang tersebut mengejarnya. Karena sangat takut dan tidak memperhatikan kemana ia melangkah, Laludayi terjatuh ke dalam sebuah lobang kotoran.
Ketika Sang Buddha mendengar kejadian tersebut, Beliau berkata, "Laludayi sangat sedikit mempelajari Dhamma; dia tidak mengulang-ulang pengetahuan Dhamma secara teratur; dia tidak mengingat apapun. Apapun yang telah sedikit ia pelajari menjadi berkarat karena tidak diulang."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Asajjhāyamalā mantā, anuṭṭhānamalā gharā,
malaṃ vaṇṇassa kosajjaṃ, pamādo rakkhato malaṃ."
Tidak membaca ulang adalah noda bagi mantra,
tidak berusaha adalah noda bagi kehidupan berumah tangga.
Kemalasan adalah noda bagi kecantikan,
dan kelengahan adalah noda bagi seorang penjaga.
Labels:
18. Mala Vagga
Monday, 28 June 2010
Kisah Seorang Pria Yang Istrinya Menyeleweng (Dhammapada 18 : 242-243)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(242) Kelakuan buruk adalah noda bagi seorang wanita,
kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan.
Sesungguhnya, segala bentuk kejahatan merupakan noda,
baik dalam dunia ini maupun dalam dunia selanjutnya.
(243) Yang lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan.
Kebodohan merupakan noda paling buruk.
O, para bhikkhu,
singkirkanlah noda ini dan hiduplah tanpa noda.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, ada seorang istri yang menyeleweng. Suaminya begitu malu atas kelakuan istrinya sehingga ia tidak berani menemui orang lain; ia juga menghindari Sang Buddha. Setelah beberapa waktu, ia pergi menjumpai Sang Buddha dan Beliau bertanya mengapa laki-laki itu tidak kelihatan selama ini dan iapun menjelaskan semuanya.
Setelah mendengarkan alasan ketidakhadiran laki-laki itu, Sang Buddha berkata, "Murid-Ku, wanita itu seperti sebuah sungai, atau jalan, atau kedai tempat minum, atau rumah peristirahatan, atau kendi air di pinggir jalan, mereka berurusan dengan semua jenis orang. Sesungguhnya, hubungan intim yang salah merupakan penyebab kehancuran seorang wanita."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair dan berikut ini :
"Mal’ itthiyā duccaritaṃ, maccheraṃ dadato malaṃ,
malā ve pāpakā dhammā asmiṃ loke paramhi ca.
Tato malā malataraṃ avijjā paramaṃ malaṃ,
etaṃ malaṃ pahatvāna nimmalā hotha bhikkhavo."
Kelakuan buruk adalah noda bagi seorang wanita,
kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan.
Sesungguhnya, segala bentuk kejahatan merupakan noda,
baik dalam dunia ini maupun dalam dunia selanjutnya.
Yang lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan.
Kebodohan merupakan noda paling buruk.
O, para bhikkhu, singkirkanlah noda ini
dan hiduplah tanpa noda.
Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
----------------
Notes :
Pertama kali aku membaca kisah diatas, timbul pikiran, mengapa wanita disamakan seperti ini dan itu, berurusan dengan berbagai macam orang. Tetapi setelah merenungkan lebih dalam, memang betul, di masa dahulu, dalam mengurus rumah tangga, para wanita mungkin lebih banyak berurusan dengan berbagai pihak dan berurusan dengan lebih banyak orang dibanding suami mereka yang mungkin hanya pergi ke ladang tempat bekerja. Orang-orang asing, atau yang sedang dalam perjalanan, atau pedagang dll dapat dengan leluasa mengetuk rumah-rumah orang untuk meminta air, meminta tempat untuk berteduh dan sebagainya. Karena hal-hal tersebut tentunya kesempatan untuk memiliki affair lebih besar. Kalau di masa sekarang mungkin sudah agak berbeda, istri yang di rumah lebih sedikit bertemu orang dibandingkan dengan suaminya yang bekerja di luar.
Tidak bisa kita pungkiri, selain wanita baik-baik, ada banyak wanita yang sangat genit dan penuh nafsu. Dan tentu saja, yang dibahas disini adalah wanita yang berkelakuan buruk yang penuh nafsu, karena memang dalam konteks pembahasan mengenai laporan suami yang isterinya menyeleweng.
(242) Kelakuan buruk adalah noda bagi seorang wanita,
kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan.
Sesungguhnya, segala bentuk kejahatan merupakan noda,
baik dalam dunia ini maupun dalam dunia selanjutnya.
(243) Yang lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan.
Kebodohan merupakan noda paling buruk.
O, para bhikkhu,
singkirkanlah noda ini dan hiduplah tanpa noda.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, ada seorang istri yang menyeleweng. Suaminya begitu malu atas kelakuan istrinya sehingga ia tidak berani menemui orang lain; ia juga menghindari Sang Buddha. Setelah beberapa waktu, ia pergi menjumpai Sang Buddha dan Beliau bertanya mengapa laki-laki itu tidak kelihatan selama ini dan iapun menjelaskan semuanya.
Setelah mendengarkan alasan ketidakhadiran laki-laki itu, Sang Buddha berkata, "Murid-Ku, wanita itu seperti sebuah sungai, atau jalan, atau kedai tempat minum, atau rumah peristirahatan, atau kendi air di pinggir jalan, mereka berurusan dengan semua jenis orang. Sesungguhnya, hubungan intim yang salah merupakan penyebab kehancuran seorang wanita."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair dan berikut ini :
"Mal’ itthiyā duccaritaṃ, maccheraṃ dadato malaṃ,
malā ve pāpakā dhammā asmiṃ loke paramhi ca.
Tato malā malataraṃ avijjā paramaṃ malaṃ,
etaṃ malaṃ pahatvāna nimmalā hotha bhikkhavo."
Kelakuan buruk adalah noda bagi seorang wanita,
kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan.
Sesungguhnya, segala bentuk kejahatan merupakan noda,
baik dalam dunia ini maupun dalam dunia selanjutnya.
Yang lebih buruk dari semua noda adalah kebodohan.
Kebodohan merupakan noda paling buruk.
O, para bhikkhu, singkirkanlah noda ini
dan hiduplah tanpa noda.
Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
----------------
Notes :
Pertama kali aku membaca kisah diatas, timbul pikiran, mengapa wanita disamakan seperti ini dan itu, berurusan dengan berbagai macam orang. Tetapi setelah merenungkan lebih dalam, memang betul, di masa dahulu, dalam mengurus rumah tangga, para wanita mungkin lebih banyak berurusan dengan berbagai pihak dan berurusan dengan lebih banyak orang dibanding suami mereka yang mungkin hanya pergi ke ladang tempat bekerja. Orang-orang asing, atau yang sedang dalam perjalanan, atau pedagang dll dapat dengan leluasa mengetuk rumah-rumah orang untuk meminta air, meminta tempat untuk berteduh dan sebagainya. Karena hal-hal tersebut tentunya kesempatan untuk memiliki affair lebih besar. Kalau di masa sekarang mungkin sudah agak berbeda, istri yang di rumah lebih sedikit bertemu orang dibandingkan dengan suaminya yang bekerja di luar.
Tidak bisa kita pungkiri, selain wanita baik-baik, ada banyak wanita yang sangat genit dan penuh nafsu. Dan tentu saja, yang dibahas disini adalah wanita yang berkelakuan buruk yang penuh nafsu, karena memang dalam konteks pembahasan mengenai laporan suami yang isterinya menyeleweng.
Labels:
18. Mala Vagga
Sunday, 27 June 2010
Kisah Culasari (Dhammapada 18 : 244-245)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(244) Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.
(245) Hidup ini sukar bagi orang yang tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan,
rendah hati, menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari, Culasari berjalan pulang dari mengunjungi seorang pasien. Dalam perjalanan, ia berjumpa Sariputta Thera dan bercerita, bagaimana ia merawat seorang pasien serta mendapatkan makanan enak untuk pelayanannya. Ia juga meminta Sariputta Thera untuk menerima darinya sebagian dari makanan tersebut. Sariputta Thera tidak mengatakan apapun kepadanya melainkan terus melanjutkan perjalanannya. Sariputta Thera menolak menerima makanan dari bhikkhu itu karena bhikkhu tersebut telah melanggar peraturan yang melarang para bhikkhu membuka praktek pengobatan*.
Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Seorang bhikkhu yang tidak tahu malu itu buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia sombong seperti seekor gagak, ia menghidupi diri dengan cara yang melanggar peraturan dan hidup dalam kenikmatan. Di sisi lain, kehidupan bagi seorang bhikkhu yang memiliki malu tidaklah mudah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Sujīvaṃ ahirīkena kākasūrena dhaṃsinā
pakkhandinā pagabbhena saṃkiliṭṭhena jīvitaṃ.
Hirīmatā ca dujjīvaṃ niccaṃ sucigavesinā
alīnen’ appagabbhena suddhājīvena passatā."
Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.
Hidup ini sukar bagi orang yang tidak tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan, rendah hati,
menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.
Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
------------
Notes:
*Dalam peraturan kebhikkhuan (Vinaya), para bhikkhu tidak diperbolehkan melakukan praktek pengobatan, yang dimaksud disini adalah melakukan praktek pengobatan dengan mengharapkan balasan seperti dokter/sinshe, misalnya dalam kasus diatas imbalan dana makanan.
(244) Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.
(245) Hidup ini sukar bagi orang yang tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan,
rendah hati, menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari, Culasari berjalan pulang dari mengunjungi seorang pasien. Dalam perjalanan, ia berjumpa Sariputta Thera dan bercerita, bagaimana ia merawat seorang pasien serta mendapatkan makanan enak untuk pelayanannya. Ia juga meminta Sariputta Thera untuk menerima darinya sebagian dari makanan tersebut. Sariputta Thera tidak mengatakan apapun kepadanya melainkan terus melanjutkan perjalanannya. Sariputta Thera menolak menerima makanan dari bhikkhu itu karena bhikkhu tersebut telah melanggar peraturan yang melarang para bhikkhu membuka praktek pengobatan*.
Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Seorang bhikkhu yang tidak tahu malu itu buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia sombong seperti seekor gagak, ia menghidupi diri dengan cara yang melanggar peraturan dan hidup dalam kenikmatan. Di sisi lain, kehidupan bagi seorang bhikkhu yang memiliki malu tidaklah mudah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Sujīvaṃ ahirīkena kākasūrena dhaṃsinā
pakkhandinā pagabbhena saṃkiliṭṭhena jīvitaṃ.
Hirīmatā ca dujjīvaṃ niccaṃ sucigavesinā
alīnen’ appagabbhena suddhājīvena passatā."
Hidup ini mudah bagi orang yang tidak tahu malu,
yang suka menonjolkan diri seperti seekor burung gagak,
suka menfitnah, tidak tahu sopan santun, pongah,
dan menjalankan hidup kotor.
Hidup ini sukar bagi orang yang tidak tahu malu,
yang senantiasa mengejar kesucian,
yang bebas dari kemelekatan, rendah hati,
menjalankan hidup bersih dan penuh perhatian.
Banyak orang pada saat itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.
------------
Notes:
*Dalam peraturan kebhikkhuan (Vinaya), para bhikkhu tidak diperbolehkan melakukan praktek pengobatan, yang dimaksud disini adalah melakukan praktek pengobatan dengan mengharapkan balasan seperti dokter/sinshe, misalnya dalam kasus diatas imbalan dana makanan.
Labels:
18. Mala Vagga
Saturday, 26 June 2010
Kisah Lima Murid Awam (Dhammapada 18 : 246-248)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(246) Barang siapa membunuh makhluk hidup,
suka berbicara tidak benar,
mengambil apa yang tidak diberikan,
merusak kesetiaan istri orang lain,
(247) Atau menyerah pada minuman yang memabukkan;
maka di dunia ini
orang seperti itu
bagaikan menggali kubur bagi dirinya sendiri.
(248) Orang baik,
ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat.
Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan
menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, lima murid awam melaksanakan hari puasa (Uposatha) di Vihara Jetavana. Sebagian besar dari mereka hanya menjalankan satu atau dua peraturan moral (sila) saja dari `Lima Peraturan Moral` (Pancasila). Masing-masing dari mereka yang menjalankan salah satu sila tertentu tersebut menyatakan bahwa sila yang dijalankannya merupakan sila yang paling sulit dan kemudian terjadi perdebatan. Akhirnya, mereka menghadap Sang Buddha dengan membawa masalah ini.
Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Engkau tidak boleh menganggap suatu sila itu mudah atau tidak penting. Setiap sila harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Jangan menganggap ringan sila yang manapun; tidak ada sila yang mudah dijalankan."
Kemudian Sang Buddha membabarkan berikut ini :
"Yo pāṇaṃ atimāpeti musāvādañ ca bhāsati
loke adinnaṃ ādiyati paradārañ ca gacchati,
Surāmerayapānañ ca yo naro anuyuñjati
Idh’ eva-m-eso lokasmiṃ mūlaṃ khanati attano.
Evaṃ bho purisa jānāhi:
pāpadhammā asaññatā,
mā taṃ lobho adhammo ca
ciraṃ dukkhāya randhayuṃ."
Mereka yang membunuh makhluk hidup, suka berbicara tidak benar,
mengambil apa yang tidak diberikan, merusak kesetiaan istri orang lain,
Atau menyerah pada minuman yang memabukkan; maka di dunia ini orang seperti itu
bagaikan menggali kubur bagi dirinya sendiri.
Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat.
Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
Lima murid awam mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
(246) Barang siapa membunuh makhluk hidup,
suka berbicara tidak benar,
mengambil apa yang tidak diberikan,
merusak kesetiaan istri orang lain,
(247) Atau menyerah pada minuman yang memabukkan;
maka di dunia ini
orang seperti itu
bagaikan menggali kubur bagi dirinya sendiri.
(248) Orang baik,
ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat.
Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan
menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, lima murid awam melaksanakan hari puasa (Uposatha) di Vihara Jetavana. Sebagian besar dari mereka hanya menjalankan satu atau dua peraturan moral (sila) saja dari `Lima Peraturan Moral` (Pancasila). Masing-masing dari mereka yang menjalankan salah satu sila tertentu tersebut menyatakan bahwa sila yang dijalankannya merupakan sila yang paling sulit dan kemudian terjadi perdebatan. Akhirnya, mereka menghadap Sang Buddha dengan membawa masalah ini.
Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Engkau tidak boleh menganggap suatu sila itu mudah atau tidak penting. Setiap sila harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Jangan menganggap ringan sila yang manapun; tidak ada sila yang mudah dijalankan."
Kemudian Sang Buddha membabarkan berikut ini :
"Yo pāṇaṃ atimāpeti musāvādañ ca bhāsati
loke adinnaṃ ādiyati paradārañ ca gacchati,
Surāmerayapānañ ca yo naro anuyuñjati
Idh’ eva-m-eso lokasmiṃ mūlaṃ khanati attano.
Evaṃ bho purisa jānāhi:
pāpadhammā asaññatā,
mā taṃ lobho adhammo ca
ciraṃ dukkhāya randhayuṃ."
Mereka yang membunuh makhluk hidup, suka berbicara tidak benar,
mengambil apa yang tidak diberikan, merusak kesetiaan istri orang lain,
Atau menyerah pada minuman yang memabukkan; maka di dunia ini orang seperti itu
bagaikan menggali kubur bagi dirinya sendiri.
Orang baik, ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak mudah mengendalikan hal-hal yang jahat.
Jangan biarkan keserakahan dan kejahatan menyeretmu ke dalam penderitaan yang tak berkesudahan.
Lima murid awam mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
Labels:
18. Mala Vagga
Friday, 25 June 2010
Kisah Tissa (Dhammapada 18 : 249-250)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(249) Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan
dan menurut kesenangan hati mereka.
Karena itu barang siapa yang merasa iri atas makanan dan minuman orang lain,
ia tidak akan memperoleh kedamaian batin, baik siang ataupun malam.
(250) Orang yang telah memotong perasaan iri hati ini seluruhnya,
mencabut akar-akarnya serta menghancurkannya,
akan memperoleh kedamaian batin,
baik siang ataupun malam.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Tissa, seorang bhikkhu muda, mempunyai kebiasaan yang sangat buruk yaitu melecehkan kemurahan hati dan perbuatan baik orang lain. Ia bahkan mencela dana yang diberikan oleh Anathapindika dan Visakha. Di samping itu, ia membual bahwa sanak keluarganya sangatlah kaya dan bagaikan sumur dimana semua orang bisa datang untuk mendapatkan air.
Mendengar ia membual demikian, para bhikkhu yang lain tidak percaya; maka mereka memutuskan untuk menemukan kebenarannya. Beberapa bhikkhu muda pergi ke desa asal Tissa dan mencari keterangan tentang hal ini. Mereka menemukan kenyataan bahwa semua sanak keluarga Tissa miskin, dan selama ini Tissa hanya membual saja.
Ketika Sang Buddha mendengar hal ini, Beliau berkata, "Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tidak senang orang lain menerima pemberian dan persembahan, ia tidak akan pernah mencapai `Jalan dan Hasil Kesucian` (magga dan phala)."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Dadanti ve yathāsaddhaṃ yathāpasādanaṃ jano,
tattha yo ca maṅku bhavati paresaṃ pānabhojane
na so divā vā rattiṃ vā samādhiṃ adhigacchati.
Yassa c’ etaṃ samucchinnaṃ
mūlaghaccaṃ samūhataṃ
sa ve divā vā rattiṃ vā
samādhiṃ adhigacchati.”
Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut kesenangan hati mereka.
Karena itu barang siapa yang merasa iri atas makanan dan minuman orang lain,
ia tidak akan memperoleh kedamaian batin, baik siang ataupun malam.
Orang yang telah memotong perasaan iri hati ini seluruhnya,
mencabut akar-akarnya serta menghancurkannya,
akan memperoleh kedamaian batin,
baik siang ataupun malam.
(249) Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan
dan menurut kesenangan hati mereka.
Karena itu barang siapa yang merasa iri atas makanan dan minuman orang lain,
ia tidak akan memperoleh kedamaian batin, baik siang ataupun malam.
(250) Orang yang telah memotong perasaan iri hati ini seluruhnya,
mencabut akar-akarnya serta menghancurkannya,
akan memperoleh kedamaian batin,
baik siang ataupun malam.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Tissa, seorang bhikkhu muda, mempunyai kebiasaan yang sangat buruk yaitu melecehkan kemurahan hati dan perbuatan baik orang lain. Ia bahkan mencela dana yang diberikan oleh Anathapindika dan Visakha. Di samping itu, ia membual bahwa sanak keluarganya sangatlah kaya dan bagaikan sumur dimana semua orang bisa datang untuk mendapatkan air.
Mendengar ia membual demikian, para bhikkhu yang lain tidak percaya; maka mereka memutuskan untuk menemukan kebenarannya. Beberapa bhikkhu muda pergi ke desa asal Tissa dan mencari keterangan tentang hal ini. Mereka menemukan kenyataan bahwa semua sanak keluarga Tissa miskin, dan selama ini Tissa hanya membual saja.
Ketika Sang Buddha mendengar hal ini, Beliau berkata, "Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang tidak senang orang lain menerima pemberian dan persembahan, ia tidak akan pernah mencapai `Jalan dan Hasil Kesucian` (magga dan phala)."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Dadanti ve yathāsaddhaṃ yathāpasādanaṃ jano,
tattha yo ca maṅku bhavati paresaṃ pānabhojane
na so divā vā rattiṃ vā samādhiṃ adhigacchati.
Yassa c’ etaṃ samucchinnaṃ
mūlaghaccaṃ samūhataṃ
sa ve divā vā rattiṃ vā
samādhiṃ adhigacchati.”
Orang-orang memberi sesuai dengan keyakinan dan menurut kesenangan hati mereka.
Karena itu barang siapa yang merasa iri atas makanan dan minuman orang lain,
ia tidak akan memperoleh kedamaian batin, baik siang ataupun malam.
Orang yang telah memotong perasaan iri hati ini seluruhnya,
mencabut akar-akarnya serta menghancurkannya,
akan memperoleh kedamaian batin,
baik siang ataupun malam.
Labels:
18. Mala Vagga
Thursday, 24 June 2010
Kisah Lima Murid Awam (Dhammapada 18 : 251)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(251) Tiada api yang menyamai nafsu,
tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian,
tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan,
dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada suatu ketika, lima murid awam hadir pada saat Sang Buddha sedang berkhotbah Dhamma di Vihara Jetavana. Seorang dari mereka duduk tertidur, orang kedua menggambar garis-garis di tanah dengan jarinya, orang ketiga mencoba mengguncang sebatang pohon, dan orang keempat memandangi langit. Orang kelima merupakan satu-satunya murid yang mendengarkan Sang Buddha dengan hormat dan penuh perhatian.
Ananda Thera, yang berada di dekat Sang Buddha sambil mengipasi Beliau melihat tingkah laku lima murid awam yang berbeda tersebut. Ia berkata kepada Sang Buddha, "Bhante! Sementara Bhante menguraikan Dhamma seperti tetesan air hujan jatuh dari langit, hanya satu dari lima orang itu yang mendengarkan dengan penuh perhatian." Kemudian Ananda Thera menyampaikan tingkah laku yang berbeda dari empat orang itu terhadap Sang Buddha dan bertanya mengapa mereka bertingkah laku demikian.
Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda Thera, "Ananda, orang-orang ini tidak dapat menyingkirkan kebiasaan lama mereka. Dalam kehidupan mereka yang lampau, orang pertama adalah seekor ular. Seekor ular biasa melingkarkan dirinya dan tertidur, demikian pula, orang ini tertidur ketika mendengarkan Dhamma.
Orang yang mengais tanah dengan jari tangannya adalah seekor cacing tanah, yang mengguncang pohon adalah seekor kera, yang menatap langit adalah seorang ahli ilmu bintang, dan orang yang mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian adalah seorang peramal terpelajar.
"Dalam kaitan ini, Ananda, engkau harus ingat bahwa seseorang haruslah penuh perhatian untuk dapat memahami Dhamma dan bahwa banyak sekali orang yang tidak dapat menjalankan hal ini."
Kemudian Ananda Thera bertanya kepada Sang Buddha, "Bhante! hal-hal apa yang menghalangi orang untuk dapat mengerti Dhamma?"
Sang Buddha menjawab, "Ananda, nafsu (raga), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan (moha) adalah tiga hal yang menghalangi orang mengerti Dhamma. Nafsu membakar seseorang; tidak ada api sepanas nafsu. Dunia mungkin saja terbakar ketika tujuh matahari muncul di angkasa, tetapi itu jarang sekali terjadi. Namun nafsu selalu membakar tanpa henti."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"N’ atthi rāgasamo aggi n’ atthi dosasamo gaho
n' atthi mohasamaṃ jālaṃ n’ atthi taṇhāsamā nadī."
Tiada api yang menyamai nafsu,
tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian,
tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan,
dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan.
Murid yang mendengarkan dengan penuh perhatian mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
(251) Tiada api yang menyamai nafsu,
tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian,
tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan,
dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada suatu ketika, lima murid awam hadir pada saat Sang Buddha sedang berkhotbah Dhamma di Vihara Jetavana. Seorang dari mereka duduk tertidur, orang kedua menggambar garis-garis di tanah dengan jarinya, orang ketiga mencoba mengguncang sebatang pohon, dan orang keempat memandangi langit. Orang kelima merupakan satu-satunya murid yang mendengarkan Sang Buddha dengan hormat dan penuh perhatian.
Ananda Thera, yang berada di dekat Sang Buddha sambil mengipasi Beliau melihat tingkah laku lima murid awam yang berbeda tersebut. Ia berkata kepada Sang Buddha, "Bhante! Sementara Bhante menguraikan Dhamma seperti tetesan air hujan jatuh dari langit, hanya satu dari lima orang itu yang mendengarkan dengan penuh perhatian." Kemudian Ananda Thera menyampaikan tingkah laku yang berbeda dari empat orang itu terhadap Sang Buddha dan bertanya mengapa mereka bertingkah laku demikian.
Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda Thera, "Ananda, orang-orang ini tidak dapat menyingkirkan kebiasaan lama mereka. Dalam kehidupan mereka yang lampau, orang pertama adalah seekor ular. Seekor ular biasa melingkarkan dirinya dan tertidur, demikian pula, orang ini tertidur ketika mendengarkan Dhamma.
Orang yang mengais tanah dengan jari tangannya adalah seekor cacing tanah, yang mengguncang pohon adalah seekor kera, yang menatap langit adalah seorang ahli ilmu bintang, dan orang yang mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian adalah seorang peramal terpelajar.
"Dalam kaitan ini, Ananda, engkau harus ingat bahwa seseorang haruslah penuh perhatian untuk dapat memahami Dhamma dan bahwa banyak sekali orang yang tidak dapat menjalankan hal ini."
Kemudian Ananda Thera bertanya kepada Sang Buddha, "Bhante! hal-hal apa yang menghalangi orang untuk dapat mengerti Dhamma?"
Sang Buddha menjawab, "Ananda, nafsu (raga), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan (moha) adalah tiga hal yang menghalangi orang mengerti Dhamma. Nafsu membakar seseorang; tidak ada api sepanas nafsu. Dunia mungkin saja terbakar ketika tujuh matahari muncul di angkasa, tetapi itu jarang sekali terjadi. Namun nafsu selalu membakar tanpa henti."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"N’ atthi rāgasamo aggi n’ atthi dosasamo gaho
n' atthi mohasamaṃ jālaṃ n’ atthi taṇhāsamā nadī."
Tiada api yang menyamai nafsu,
tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian,
tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan,
dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan.
Murid yang mendengarkan dengan penuh perhatian mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
Labels:
18. Mala Vagga
Wednesday, 23 June 2010
Kisah Mendaka Si Orang Kaya (Dhammapada 18 : 252)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(252) Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain,
tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri.
Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain
seperti menampi dedak,
tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri
seperti penjudi licik menyembunyikan dadu yang berangka buruk.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, dalam perjalanan Beliau ke wilayah Anga dan Uttara, Sang Buddha mengetahui dari penglihatan luar biasa Beliau bahwa telah tiba saatnya bagi Mendaka, istrinya, putranya, menantunya, cucu perempuannya, dan pelayannya untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Mengingat kesempatan enam orang tersebut untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti, Sang Buddha pergi ke kota Baddiya.
Mendaka adalah seorang pria yang teramat kaya raya. Menurut kabar, ia telah menemukan sejumlah besar patung kambing dari emas dalam ukuran yang sebenarnya di halaman belakang rumahnya. Karena alasan tersebut, ia dikenal sebagai Mendaka (kambing) si orang kaya.
Dikatakan pula, pada masa Buddha Vipassi, ia telah berdana berupa sebuah vihara untuk Buddha Vipassi dan sebuah gedung pertemuan lengkap dengan podium untuk berkhotbah. Selama pembangunan gedung tersebut, ia memberikan persembahan dana makanan kepada Buddha Vipassi dan para bhikkhu selama empat bulan.
Kemudian, pada masa lain dalam kehidupannya yang lampau, ketika ia menjadi seorang kaya di Baranasi, terjadi bencana kelaparan di seluruh daerah tersebut. Suatu hari, mereka memasak makanan yang hanya cukup untuk anggota keluarga saja.
Saat itu, lewatlah seorang Pacceka Buddha yang sedang berpindapatta. Ia mempersembahkan seluruh makanan tersebut. Tetapi karena saddha (kepercayaan) dan kemurahan hatinya yang luhur, tempat nasinya kemudian ditemukan terisi lagi secara ajaib, demikian pula lumbungnya.
Mendaka dan keluarganya, mendengar bahwa Sang Buddha datang ke Baddiya, pergi untuk memberi hormat kepada Beliau. Setelah mendengarkan khotbah yang diberikan Sang Buddha, istrinya Candapaduma, anaknya Danancaya, menantunya Sumanadevi, cucu perempuannya Visakha, dan pelayannya Punna mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Kemudian Mendaka menceritakan kepada Sang Buddha bahwa dalam perjalanannya tadi beberapa pertapa telah mengatakan hal-hal yang buruk tentang Sang Buddha dan mencegahnya untuk datang mengunjungi Beliau.
Sang Buddha kemudian berkata, "Murid-Ku, sudah biasa bahwa orang tidak melihat kesalahannya sendiri, dan membesar-besarkan kesalahan dan keburukan orang lain."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Sudassaṃ vajjam aññesaṃ attano pana duddasaṃ,
paresaṃ hi so vajjāni opunāti yathā bhusaṃ,
attano pana chādeti kaliṃ va kitavā saṭho."
Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain,
tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri.
Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain seperti menampi dedak,
tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri seperti penjudi licik
menyembunyikan dadu yang berangka buruk.
-------------
Notes :
Mendaka adalah kakek dari Visakha (lihat kisah 53).
(252) Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain,
tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri.
Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain
seperti menampi dedak,
tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri
seperti penjudi licik menyembunyikan dadu yang berangka buruk.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, dalam perjalanan Beliau ke wilayah Anga dan Uttara, Sang Buddha mengetahui dari penglihatan luar biasa Beliau bahwa telah tiba saatnya bagi Mendaka, istrinya, putranya, menantunya, cucu perempuannya, dan pelayannya untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Mengingat kesempatan enam orang tersebut untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti, Sang Buddha pergi ke kota Baddiya.
Mendaka adalah seorang pria yang teramat kaya raya. Menurut kabar, ia telah menemukan sejumlah besar patung kambing dari emas dalam ukuran yang sebenarnya di halaman belakang rumahnya. Karena alasan tersebut, ia dikenal sebagai Mendaka (kambing) si orang kaya.
Dikatakan pula, pada masa Buddha Vipassi, ia telah berdana berupa sebuah vihara untuk Buddha Vipassi dan sebuah gedung pertemuan lengkap dengan podium untuk berkhotbah. Selama pembangunan gedung tersebut, ia memberikan persembahan dana makanan kepada Buddha Vipassi dan para bhikkhu selama empat bulan.
Kemudian, pada masa lain dalam kehidupannya yang lampau, ketika ia menjadi seorang kaya di Baranasi, terjadi bencana kelaparan di seluruh daerah tersebut. Suatu hari, mereka memasak makanan yang hanya cukup untuk anggota keluarga saja.
Saat itu, lewatlah seorang Pacceka Buddha yang sedang berpindapatta. Ia mempersembahkan seluruh makanan tersebut. Tetapi karena saddha (kepercayaan) dan kemurahan hatinya yang luhur, tempat nasinya kemudian ditemukan terisi lagi secara ajaib, demikian pula lumbungnya.
Mendaka dan keluarganya, mendengar bahwa Sang Buddha datang ke Baddiya, pergi untuk memberi hormat kepada Beliau. Setelah mendengarkan khotbah yang diberikan Sang Buddha, istrinya Candapaduma, anaknya Danancaya, menantunya Sumanadevi, cucu perempuannya Visakha, dan pelayannya Punna mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Kemudian Mendaka menceritakan kepada Sang Buddha bahwa dalam perjalanannya tadi beberapa pertapa telah mengatakan hal-hal yang buruk tentang Sang Buddha dan mencegahnya untuk datang mengunjungi Beliau.
Sang Buddha kemudian berkata, "Murid-Ku, sudah biasa bahwa orang tidak melihat kesalahannya sendiri, dan membesar-besarkan kesalahan dan keburukan orang lain."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Sudassaṃ vajjam aññesaṃ attano pana duddasaṃ,
paresaṃ hi so vajjāni opunāti yathā bhusaṃ,
attano pana chādeti kaliṃ va kitavā saṭho."
Amat mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain,
tetapi sangat sulit untuk melihat kesalahan-kesalahan sendiri.
Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain seperti menampi dedak,
tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri seperti penjudi licik
menyembunyikan dadu yang berangka buruk.
-------------
Notes :
Mendaka adalah kakek dari Visakha (lihat kisah 53).
Labels:
18. Mala Vagga
Tuesday, 22 June 2010
Kisah Ujjhanasanni Thera (Dhammapada 18 : 253)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(253) Barang siapa yang selalu memperhatikan
dan mencari-cari kesalahan orang lain,
maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah
dan ia semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Ujjhanasanni Thera selalu mencari kesalahan dan membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain. Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha.
Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, jika seseorang menemukan kesalahan orang lain kemudian memberitahukan hal-hal yang benar, maka itu bukanlah perbuatan jahat, dan tidak dapat disalahkan. Tetapi, jika seseorang selalu mencari kesalahan orang lain dan membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain hanya karena dengki dan iri hati, ia tidak akan mencapai konsentrasi dan pencerapan mental (jhana). Ia tidak akan bisa memahami Dhamma dan kekotoran batinnya (asava) akan bertambah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Paravajjānupassissa niccaṃ ujjhānasaññino
āsavā tassa vaḍḍhanti ārā so āsavakkhayā."
Barang siapa yang selalu memperhatikan dan mencari-cari kesalahan orang lain,
maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah dan ia semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin.
(253) Barang siapa yang selalu memperhatikan
dan mencari-cari kesalahan orang lain,
maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah
dan ia semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Ujjhanasanni Thera selalu mencari kesalahan dan membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain. Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha.
Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, jika seseorang menemukan kesalahan orang lain kemudian memberitahukan hal-hal yang benar, maka itu bukanlah perbuatan jahat, dan tidak dapat disalahkan. Tetapi, jika seseorang selalu mencari kesalahan orang lain dan membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain hanya karena dengki dan iri hati, ia tidak akan mencapai konsentrasi dan pencerapan mental (jhana). Ia tidak akan bisa memahami Dhamma dan kekotoran batinnya (asava) akan bertambah."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Paravajjānupassissa niccaṃ ujjhānasaññino
āsavā tassa vaḍḍhanti ārā so āsavakkhayā."
Barang siapa yang selalu memperhatikan dan mencari-cari kesalahan orang lain,
maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah dan ia semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin.
Labels:
18. Mala Vagga
Monday, 21 June 2010
Kisah Subhadda si Pertapa Pengembara (Dhammapada 18 : 254-255)
XVIII. Mala Vagga – Noda-noda
(254) Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Umat manusia bergembira di dalam belenggu,
tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.
(255) Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi.
Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Subhadda si pertapa pengembara sedang menetap di Kusinara ketika ia mendengar bahwa Buddha Gotama akan mangkat, mencapai parinibbana pada waktu jaga terakhir malam itu. Subhadda mempunyai tiga pertanyaan yang telah lama membingungkannya. Ia telah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru-guru agama yang lain, misalnya Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambala, Pakudha Kaccayana, Sancaya Belatthaputta, dan Nigantha Nataputta, tetapi jawaban mereka tidak memuaskan baginya. Ia belum bertanya kepada Buddha Gotama, dan ia merasa bahwa hanya Sang Buddha-lah yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Maka, ia bergegas pergi ke hutan pohon Sala, tetapi Y.A. Ananda tidak mengizinkannya bertemu dengan Sang Buddha, karena saat itu kondisi kesehatan Sang Buddha sangat lemah. Sang Buddha mendengar percakapan mereka dan Beliau berkenan untuk menemui Subhadda. Subhadda menanyakan tiga pertanyaan, yaitu : (1) Apakah ada jalan di langit ?, (2) Apakah ada bhikkhu-bhikkhu suci (samana) di luar ajaran Sang Buddha ?, dan (3) Apakah ada suatu hal berkondisi (sankhara) yang abadi ? Jawaban Sang Buddha terhadap semua pertanyaan tersebut adalah ''tidak ada''.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"ākāse ca padaṃ n’ atthi samaṇo n’atthi bāhiro,
papañcābhiratā pajā nippapañcā tathāgatā.
ākāse ca padaṃ n’atthi samaṇo n’atthi bāhiro
saṃkhārā sassatā n’atthi n’atthi buddhānam iñjitaṃ."
Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Umat manusia bergembira di dalam belenggu,
tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.
Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi.
Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Subhadda mencapai tingkat kesucian anagami, dan atas permohonannya, Sang Buddha menerima Subhadda sebagai anggota Pasamuan Bhikkhu (Sangha).
Subhadda adalah orang terakhir yang menjadi bhikkhu pada masa kehidupan Sang Buddha Gotama. Akhirnya, Subhadda mencapai tingkat kesucian arahat.
---------
Notes :
Orang suci adalah orang yang telah mencapai tingkat kesucian dengan mematahkan 10 belenggu (dasa samyojana) sebagai berikut :
1. Pandangan salah tentang aku (Sakkāya-diṭṭhi)
2. Keragu-raguan terhadap Buddha, Dharma, Sangha (Vicikicchā)
3. Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual (Sīlabbata-parāmāsa)
4. Nafsu indria (Kāma-rāga)
5. Benci, dendam atau dengki (Vyāpāda)
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (Ruparãga)
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (Aruparãga)
8. Ketinggian hati yang halus, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (Mãna)
9. Batin yang belum seimbang benar, kegelisahan (Uddhacca)
10. Kegelapan batin (Avijjã)
Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapanna (pemasuk arus) :
hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah.
Mereka disebut pemasuk arus / pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana. Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa. Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.
2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.
3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.
4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga).
Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.
Bhikkhu Subhadda dalam kisah diatas, berbeda dengan bhikkhu Subhadda yang tidak benar. Ketika Sang Buddha parinibbana dan para bhikkhu lain yang masih belum mencapai kesucian menangisi kepergianNya, Subhadda (yang tidak benar) mengatakan jangan sedih, baguslah Buddha kini sudah tidak ada, sekarang kita bebas mau melakukan apa saja. Maha Kassapa Thera yang mendengar kata-kata ini, kuatir akan banyak bhikkhu seperti Subhadda yang akan berlaku sesukanya dan menafsirkan Dhamma & Vinaya sesuka hatinya, akhirnya memutuskan untuk mengadakan sidang Sangha yang pertama. Sidang Sangha ini diadakan 3 bulan setelah Sang Buddha parinibbana, dan dihadiri oleh 500 bhikkhu yang kesemuanya Arahat. Di antaranya adalah Upali Thera yang paling piawai dalam Vinaya, dan Ananda Thera yang memiliki ingatan teramat sangat hebat atas Dhamma Sang Buddha. Mereka menghabiskan waktu 7 bulan untuk melafalkan Dhamma dan Vinaya.
(254) Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Umat manusia bergembira di dalam belenggu,
tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.
(255) Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi.
Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Subhadda si pertapa pengembara sedang menetap di Kusinara ketika ia mendengar bahwa Buddha Gotama akan mangkat, mencapai parinibbana pada waktu jaga terakhir malam itu. Subhadda mempunyai tiga pertanyaan yang telah lama membingungkannya. Ia telah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru-guru agama yang lain, misalnya Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambala, Pakudha Kaccayana, Sancaya Belatthaputta, dan Nigantha Nataputta, tetapi jawaban mereka tidak memuaskan baginya. Ia belum bertanya kepada Buddha Gotama, dan ia merasa bahwa hanya Sang Buddha-lah yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Maka, ia bergegas pergi ke hutan pohon Sala, tetapi Y.A. Ananda tidak mengizinkannya bertemu dengan Sang Buddha, karena saat itu kondisi kesehatan Sang Buddha sangat lemah. Sang Buddha mendengar percakapan mereka dan Beliau berkenan untuk menemui Subhadda. Subhadda menanyakan tiga pertanyaan, yaitu : (1) Apakah ada jalan di langit ?, (2) Apakah ada bhikkhu-bhikkhu suci (samana) di luar ajaran Sang Buddha ?, dan (3) Apakah ada suatu hal berkondisi (sankhara) yang abadi ? Jawaban Sang Buddha terhadap semua pertanyaan tersebut adalah ''tidak ada''.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"ākāse ca padaṃ n’ atthi samaṇo n’atthi bāhiro,
papañcābhiratā pajā nippapañcā tathāgatā.
ākāse ca padaṃ n’atthi samaṇo n’atthi bāhiro
saṃkhārā sassatā n’atthi n’atthi buddhānam iñjitaṃ."
Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Umat manusia bergembira di dalam belenggu,
tetapi Para Tathagata telah bebas dari semua itu.
Tidak ada jejak di angkasa,
tidak ada orang suci di luar Dhamma.
Tidak ada hal-hal berkondisi yang abadi.
Tidak ada lagi keragu-raguan bagi Para Buddha.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Subhadda mencapai tingkat kesucian anagami, dan atas permohonannya, Sang Buddha menerima Subhadda sebagai anggota Pasamuan Bhikkhu (Sangha).
Subhadda adalah orang terakhir yang menjadi bhikkhu pada masa kehidupan Sang Buddha Gotama. Akhirnya, Subhadda mencapai tingkat kesucian arahat.
---------
Notes :
Orang suci adalah orang yang telah mencapai tingkat kesucian dengan mematahkan 10 belenggu (dasa samyojana) sebagai berikut :
1. Pandangan salah tentang aku (Sakkāya-diṭṭhi)
2. Keragu-raguan terhadap Buddha, Dharma, Sangha (Vicikicchā)
3. Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual (Sīlabbata-parāmāsa)
4. Nafsu indria (Kāma-rāga)
5. Benci, dendam atau dengki (Vyāpāda)
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (Ruparãga)
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (Aruparãga)
8. Ketinggian hati yang halus, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (Mãna)
9. Batin yang belum seimbang benar, kegelisahan (Uddhacca)
10. Kegelapan batin (Avijjã)
Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapanna (pemasuk arus) :
hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah.
Mereka disebut pemasuk arus / pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana. Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa. Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.
2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.
3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.
4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga).
Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.
Bhikkhu Subhadda dalam kisah diatas, berbeda dengan bhikkhu Subhadda yang tidak benar. Ketika Sang Buddha parinibbana dan para bhikkhu lain yang masih belum mencapai kesucian menangisi kepergianNya, Subhadda (yang tidak benar) mengatakan jangan sedih, baguslah Buddha kini sudah tidak ada, sekarang kita bebas mau melakukan apa saja. Maha Kassapa Thera yang mendengar kata-kata ini, kuatir akan banyak bhikkhu seperti Subhadda yang akan berlaku sesukanya dan menafsirkan Dhamma & Vinaya sesuka hatinya, akhirnya memutuskan untuk mengadakan sidang Sangha yang pertama. Sidang Sangha ini diadakan 3 bulan setelah Sang Buddha parinibbana, dan dihadiri oleh 500 bhikkhu yang kesemuanya Arahat. Di antaranya adalah Upali Thera yang paling piawai dalam Vinaya, dan Ananda Thera yang memiliki ingatan teramat sangat hebat atas Dhamma Sang Buddha. Mereka menghabiskan waktu 7 bulan untuk melafalkan Dhamma dan Vinaya.
Labels:
18. Mala Vagga
Subscribe to:
Posts (Atom)