Showing posts with label 16. Piya Vagga. Show all posts
Showing posts with label 16. Piya Vagga. Show all posts

Monday, 19 July 2010

Kisah Tiga Pertapa (Dhammapada 16 : 209-211)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(209) Orang yang memperjuangkan apa yang seharusnya dihindari,
dan tidak memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan (sila, samadhi, dan panna)
serta melekat pada kesenangan duniawi
akan merasa iri terhadap hasil yang diperoleh orang yang tekun dalam latihan.

(210) Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai. Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan mereka yang tidak dicintai, keduanya merupakan penderitaan.

(211) Oleh sebab itu, janganlah mencintai apapun, karena berpisah dengan apa yang dicintai adalah menyedihkan. Tiada lagi ikatan bagi mereka yang telah bebas dari mencintai dan tidak mencintai.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika terjadi di Savatthi, di suatu rumah tangga di Savatthi, ada seorang putra satu-satunya, yang merupakan kesayangan dan kebahagiaan ayah ibunya. Suatu hari beberapa orang bhikkhu diundang untuk menerima dana makanan di rumah itu, dan setelah mereka selesai makan, mereka membacakan melantunkan kata-kata Dhamma. Ketika pemuda itu mendengarkan kata-kata Dhamma tersebut, tiba-tiba ia berkeinginan menjadi bhikkhu, dan langsung meminta ijin kepada ayah dan ibunya. Mereka menolak keinginannya tersebut. Kemudian timbullah pikiran dalam dirinya, “Ketika ibu dan ayah tidak melihat, aku akan meninggalkan rumah dan menjadi bhikkhu”.

Tiap kali sang ayah pergi keluar rumah, ia menitipkan putranya itu kepada sang ibu sambil berkata, “Tolong jaga putra kita baik-baik”. Dan tiap kali sang ibu pergi keluar rumah, ia juga menitipkan putranya itu kepada sang ayah.

Suatu hari, setelah sang ayah pergi, sang ibu berkata kepada dirinya sendiri, “Aku akan menjaga putraku baik-baik.”. Kemudian ia duduk di lantai di tengah-tengah pintu dengan kedua kaki menjulur ke kiri dan kanan menutupi sisinya, dan mulai memintal benang. Pemuda tersebut berpikir, “Aku akan mengakalinya dan melarikan diri”. Lalu ia berkata kepada ibunya, “Ibu sayang, coba geser kakimu sedikit, aku mau ke belakang buang air.” Ibunya menarik kakinya, dan pergilah si pemuda itu keluar. Ia pergi ke vihara secepat mungkin dan kemudian meminta para bhikkhu untuk menerimanya dalam pasamuan bhikkhu. Para bhikkhu menyetujui permintaannya dan menerimanya ke dalam Sangha.

Ketika sang ayah pulang ke rumah, ia bertanya kepada sang ibu, “Dimanakah putraku?”. “Suamiku, tadi dia ada disini.” “Dimanakah kemungkinannya putraku berada?”, pikir sang ayah sambil mencari-cari. Tidak menemukannya, ia berkesimpulan, “Ia pasti telah pergi ke vihara.” Maka sang ayah pergi ke vihara dan ketika melihat putranya telah mengenakan jubah bhikkhu, ia menangis dan meratap sambil berkata, “Oh anakku, mengapa kau hancurkan diriku?” Tetapi sejenak kemudian, ia berpikir, “Sekarang putraku telah menjadi bhikkhu, untuk apa aku hidup berumah tangga lagi?” Maka iapun meminta kepada para bhikkhu untuk menerimanya ke dalam Sangha, dan saat itu pula ia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi bhikkhu.

Sang ibu yang menunggu di rumah berpikir, “Mengapa putra dan suamiku lama sekali?” Tiba-tiba terpikir olehnya, “Pasti mereka telah pergi ke vihara dan menjadi bhikkhu.” Maka ia pun pergi ke vihara, dan melihat putra dan suaminya telah memakai jubah bhikkhu, ia berpikir, “Putra dan suamiku keduanya telah menjadi bhikkhu, lalu apa gunanya aku tetap tinggal di rumah?” Dan dengan keinginan sendiri, ia pun memasuki Sangha Bhikkhuni dan meninggalkan keduniawian.

Tetapi walaupun ibu, ayah dan anak tadi telah meninggalkan keduniawian, mereka tidak bisa berpisah satu sama lain; baik dalam lingkup vihara, ataupun dalam lingkungan bhikkhuni, mereka selalu duduk bersama dan menghabiskan waktu dengan mengobrol di antara mereka.

Para bhikkhu melaporkan hal tsb kepada Sang Buddha. Sang Buddha memanggil mereka dan bertanya, “Apakah benar, kalian melakukan ini dan itu?”. Mereka mengiyakan.

Sang Buddha kemudian berkata, “Mengapa kalian melakukannya? Itu bukanlah hal yang pantas dilakukan bagi bhikkhu dan bhikkhuni.”

“Tetapi sangat tidak mungkin bagi kami untuk hidup berpisah”, jawab mereka.

“Sejak meninggalkan kehidupan duniawi, berlaku demikian sungguh tidak pantas; memang sangat menyakitkan untuk tidak melihat orang yang kita sayangi, dan juga menyakitkan jika kita terpaksa harus melihat orang yang tidak kita sayangi; karenanya, baik terhadap orang maupun benda-benda, seseorang seharusnya tidak membeda-bedakan mana yang disayang ataupun tidak disayang.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"ayoge yuñjaṃ attānaṃ yogasmiñ ca ayojayaṃ
atthaṃ hitvā piyaggāhī pihet’ attānuyoginaṃ

mā piyehi samāgañchi
appiyehi kudācanaṃ,
piyānaṃ adassanaṃ dukkhaṃ
appiyānañ ca dassanaṃ.

tasmā piyaṃ na kayirātha piyāpāyo hi pāpako,
ganthā tesaṃ na vijjanti yesaṃ n’ atthi piyāppiyam."

Orang yang memperjuangkan apa yang seharusnya dihindari,
dan tidak memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan (sila, samadhi, dan panna)
serta melekat pada kesenangan duniawi
akan merasa iri terhadap hasil yang diperoleh orang yang tekun dalam latihan.

Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai.
Tidak bertemu dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan mereka yang tidak dicintai,
keduanya merupakan penderitaan.

Oleh karena itu, seseorang hendaknya tidak menyenangi apapun;
berpisah dengan apa yang dicintai adalah menyedihkan
tiada lagi ikatan bagi mereka yang telah bebas
dari mencintai dan tidak mencintai.
-------------

Notes :

Syair diatas bukanlah berarti kita menjadi orang yang dingin dan kejam tanpa cinta kasih.
Tetapi yang harus dilepas adalah cinta/sayang yang didasari oleh kemelekatan. Kita mencintai orangtua/anak kita karena kita berpikir, ini orangtuaKU, ini anakKU, ini darah dagingKU.

Perhatikan syair diatas banyak sekali kata ‘piya’, dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai affection, dear one, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai cinta/sayang/suka.
Tetapi dalam hal ini, cinta/sayang/suka hanya tertuju kepada hal-hal/benda-benda/orang-orang tertentu.

Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengembangkan Metta dan Karuna. Dalam bahasa Inggris, metta diterjemahkan menjadi loving-kindness, Karuna = compassion. Dalam bahasa Indonesia, metta diterjemahkan menjadi cinta-kasih dan karuna = belas kasih / welas asih.

Dua kata yang berbeda, piya dan metta, tetapi sayangnya dalam bahasa Indonesia, sama-sama diterjemahkan menjadi cinta karena keterbatasan kosakata. Akibatnya orang sering bingung dan mengira, kalau menjadi buddhist, kita harus cuek, menjadi dingin dan tidak perduli, tidak cinta. Padahal, sebenarnya yang harus kita lepas adalah piya, dan yang harus kita kembangkan adalah metta. Metta adalah rasa cinta kasih kepada semua makhluk dan ingin membuat semua berbahagia.

Melepaskan ‘piya’ bukan berarti kita menjadi dingin dan kosong, tetapi justru memperluas lingkupan metta.
Hasilnya adalah manusia yang bukan hanya sayang kepada orang tua/anaknya, tetapi manusia yang mencintai semua makhluk, yang memperlakukan semua orang dan semua makhluk dengan ramah, hangat dan penuh kasih. Dan sayang kepada keluarganya pun bukanlah sayang yang didasari kemelekatan.

Sunday, 18 July 2010

Kisah Seorang Perumah Tangga Kaya (Dhammapada 16 : 212)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(212) Dari yang disayangi timbul kesedihan,
dari yang disayangi timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari yang disayangi,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat, seorang perumah tangga merasa sangat sedih atas kematian putranya. Dia sering ke makam dan menangis di sana. Suatu pagi, Sang Buddha melihat perumah tangga kaya tersebut dalam penglihatan Beliau. Oleh karena itu, Sang Buddha bersama seorang bhikkhu pergi menuju ke rumah perumah tangga kaya tersebut.

Di sana, Sang Buddha bertanya kepada lelaki tersebut mengapa dia merasa sangat tidak bahagia. Lelaki tersebut menjelaskan kepada Sang Buddha tentang kematian putranya, dan tentang kesedihan serta duka cita penderitaannya. Kepadanya, Sang Buddha berkata, "Murid-Ku, kematian tidak hanya terjadi di satu tempat. Semua mahluk yang dilahirkan pasti akan mengalami kematian pada suatu hari, sesungguhnya kehidupan berakhir dengan kematian. Kamu harus menyadari kenyataan bahwa kehidupan berakhir dengan kematian. Janganlah kau anggap hanya putra tersayangmu saja yang mengalami kematian. Jangan terlalu sedih ataupun terlalu goncang. Duka cita dan ketakutan timbul dari kesayangan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Piyato jāyatī soko piyato jāyatī bhayaṃ,
piyato vippamuttassa n’ atthi soko kuto bhayaṃ."

Dari yang disayangi timbul kesedihan,
dari yang disayangi timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari yang disayangi,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.

Perumah tangga kaya mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Saturday, 17 July 2010

Kisah Visakha (Dhammapada 16 : 213)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(213) Dari cinta timbul kesedihan,
dari cinta timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari, seorang cucu Visakha yang bernama Sudatta meninggal dunia, dan Visakha merasa sangat kehilangan dan bersedih atas kematian cucu tersebut. Maka dia pergi menghadap Sang Buddha.

Ketika Sang Buddha melihatnya, Beliau berkata, "Visakha, tidakkah kamu menyadari bahwa banyak orang meninggal dunia di Savatthi setiap hari? Jika kamu memperhatikan mereka semua seperti kamu memperhatikan cucumu, kamu pasti akan menangis dan berkabung tidak henti-hentinya. Jangan biarkan kematian seorang anak mempengaruhi kamu berlebih-lebihan. Kesedihan dan ketakutan timbul dari kecintaan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Pemato jāyatī soko pemato jāyatī bhayaṃ,
pemato vippamuttassa n’ atthi soko kuto bhayaṃ."

Dari cinta timbul kesedihan,
dari cinta timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari rasa cinta,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.

Friday, 16 July 2010

Kisah Pangeran-Pangeran Licchavi (Dhammapada 16 : 214)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(214) Dari kemelekatan timbul kesedihan,
dari kemelekatan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
------------------------------------------------------------------------------------------------ 

Pada suatu hari festival, Sang Buddha memasuki kota Vesali ditemani oleh serombongan bhikkhu. Di perjalanan, mereka bertemu beberapa Pangeran Licchavi yang mengenakan pakaian bagus. Sang Buddha melihat mereka penuh dengan tanda-tanda kebesaran, berkata kepada para bhikkhu, "Para bhikkhu, siapa saja yang belum pernah ke alam Dewa Tavatimsa seharusnya melihat pangeran-pangeran Licchavi ini."

Pangeran-pangeran itu menuju ke taman yang indah. Di sana mereka bertengkar perihal seorang pelacur dan pertengkaran itu menjadi perkelahian. Sebagai hasilnya beberapa dari mereka berdarah dan dibawa pulang. Ketika Sang Buddha bersama para bhikkhu berjalan pulang setelah bersantap di kota, mereka melihat pangeran yang luka-luka dibawa pulang ke rumahnya.

Berkaitan dengan kejadian tersebut para bhikkhu berkata, "Demi seorang wanita, pangeran-pangeran Licchavi ini bertengkar." Kepada mereka, Sang Buddha menjelaskan, "Para bhikkhu, penderitaan dan ketakutan timbul dari kesenangan duniawi dan kemelekatan terhadapnya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Ratiyā jāyatī soko ratiyā jāyatī bhayaṃ,
ratiyā vippamuttassa n’ atthi soko kuto bhayaṃ"

Dari kemelekatan timbul kesedihan,
dari kemelekatan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.

Thursday, 15 July 2010

Kisah Anitthigandha Kumara (Dhammapada 16 : 215)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(215) Dari nafsu timbul kesedihan,
dari nafsu timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari nafsu,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
-----------------------------------------------------------------------------------------

Anitthigandha tinggal di Savatthi. Dia akan menikah dengan seorang wanita muda cantik dari kota Sagala, dari negara Maddas. Pengantin wanita datang dari kotanya ke Savatthi, dia jatuh sakit dan meninggal dunia dalam perjalanan. Ketika pengantin pria mendengar kabar tentang kematian pengantin wanitanya, dia menjadi putus asa.

Dalam keadaan ini, Sang Buddha mengetahui bahwa waktunya sudah matang bagi pemuda itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sang Buddha menuju ke rumah pemuda tersebut. Orang tua pemuda itu memberi dana makanan kepada Sang Buddha. Setelah bersantap, Sang Buddha meminta orang tua pemuda itu untuk membawa anaknya menghadap Sang Buddha.

Ketika pemuda itu tiba, Sang Buddha bertanya mengapa dia sedih dan putus asa. Pemuda itu menjelaskan seluruh kejadian tragis kematian pengantin wanitanya. Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya, "O Anittthigandha! Dari nafsu timbul kesedihan; karena nafsu terhadap barang-barang dan kesenangan duniawi, kesedihan serta ketakutan muncul."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"kāmato jāyatī soko kāmato jāyatī bhayaṃ,
kāmato vippamuttassa n’ atthi soko kuto bhayaṃ."

Dari nafsu timbul kesedihan,
dari nafsu timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari nafsu,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.

Anitthigandha mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Wednesday, 14 July 2010

Kisah Seorang Brahmana (Dhammapada 16 : 216)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(216) Dari keinginan timbul kesedihan,
dari keinginan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari keinginan,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang brahmana tinggal di Savatthi, ia menganut pandangan salah. Sang Buddha mengetahui bahwa brahmana itu sudah siap untuk menerima ajaranNya, maka Sang Buddha pun pergi menemuinya. Brahmana tsb, walaupun melihat Sang Buddha datang, tidak memberi penghormatan dan diam saja. Sang Buddha kemudian menyapanya, “Brahmana, apa yang sedang kamu lakukan?” “Membersihkan sawahku, bhante”. Sang Buddha tidak berkata apa-apa lagi dan terus berjalan.

Hari berikutnya, brahmana itu pergi membajak sawahnya. Sang Buddha datang dan bertanya, “Brahmana, apa yang sedang kamu lakukan”?” “Membajak sawahku, bhante”. Mendapat jawaban itu, Sang Buddha kemudian meneruskan berjalan.

Hari-hari berikutnya, Sang Buddha menemui Brahmana itu, dan menanyakan pertanyaan yang sama. Dan dijawab, sedang menanam, sedang menyiangi, dan menjaga sawahnya. Dan seperti biasa, Sang Buddha kemudian terus berlalu.

Suatu hari, Brahmana itu berkata kepada Sang Buddha, “Bhante, engkau telah datang kemari sejak aku membersihkan sawahku. Jika panenku berhasil, aku akan membaginya denganmu. Aku tidak akan memakannya tanpa memberikannya kepadamu. Dari sekarang dan selanjutnya, engkau akan menjadi partnerku”.

Seiring berjalannya waktu, panennya mulai siap dan ia akan menuai panen keesokan harinya dan menyiapkan alat-alatnya. Tetapi malam itu turun hujan yang amat deras menyapu bersih semua panennya. Sang Buddha mengetahui sejak awal, bahwa panenannya tidak akan berhasil.

Keesokan paginya ketika brahmana itu melihat sawahny, ia sangat sedih, “Pertapa Gotama telah datang mengunjungiku sejak pertama aku membersihkan sawah, dan aku telah berkata kepadanya akan memberikan sebagian hasil panenanku. Tetapi sekarang, keinginan hatiku tidaklah dapat dipenuhi.” Kemudian ia tidak mau makan dan pergi tidur.

Tak lama, Sang Buddha sampai di depan rumahnya. Ketika brahmana mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba, ia berkata kepada pelayannya, “Persilakan partnerku masuk dan siapkan tempat duduk untukNya. Setelah duduk, Sang Buddha bertanya, “Brahmana, ada apa?”

“Bhante, engkau telah mengunjungiku sejak hari pertama aku membersihkan sawah, dan aku telah mengatakan kepadaMu jika panenan berhasil, aku akan membaginya denganMu. Tetapi keinginan hatiku ini tidak bisa dipenuhi. Karenanya, aku menjadi sedih dan tidak lagi memiliki nafsu makan.”

Sang Buddha berkata, “Tetapi, Brahmana, apakah engkau tahu apa yang menyebabkan kesedihan yang kau rasakan ini?”
“Tidak, bhante, aku tidak tahu. Tetapi kamu tahu.”
Sang Buddha menjawab, “Ya, Brahmana. Apakah itu kesedihan ataupun ketakutan, hal itu muncul dari keinginan.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Taṇhāya jāyatī soko taṇhāya jāyatī bhayaṃ,
taṇhāya vippamuttassa n’ atthi soko kuto bhayaṃ."

Dari keinginan timbul kesedihan,
dari keinginan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari keinginan,
tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.

Brahmana itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Tuesday, 13 July 2010

Kisah Lima Ratus Anak Muda (Dhammapada 16 : 217)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(217) Barang siapa sempurna dalam sila
dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam Dhamma,
selalu berbicara benar dan memenuhi segala kewajibannya,
maka semua orang akan mencintainya.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu hari festival, Sang Buddha memasuki kota Rajagaha untuk berpindapatta dengan ditemani oleh sejumlah bhikkhu. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan lima ratus anak laki-laki yang sedang berjalan menuju ke suatu taman yang indah. Anak-anak itu membawa beberapa keranjang kue pancake tetapi mereka tidak memberikan satupun kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu, "Para bhikkhu, kamu akan memakan pancake itu hari ini; pemiliknya sedang berjalan di belakang kita. Kita akan melanjutkan perjalanan setelah makan." Setelah mengatakan hal itu, Sang Buddha dan para bhikkhu berteduh di bawah pohon. Pada saat bersamaan, Kassapa Thera datang ke sana. Anak-anak itu melihatnya dan kemudian menghormati Kassapa Thera, serta mendanakan pancake mereka kepada Sang Thera.

Kassapa Thera kemudian berkata kepada anak-anak itu, "Guruku Sang Bhagava Yang Agung, beristirahat di sana, di bawah pohon ditemani oleh beberapa bhikkhu. Pergi dan danakan pancake kalian kepada-Nya dan beberapa bhikkhu." Anak-anak itu melakukan apa yang dikatakan Kassapa Thera. Sang Buddha menerima dana pancake itu.
Kemudian, para bhikkhu mengatakan bahwa anak-anak itu sangat menyukai Kassapa Thera.

Sang Buddha berkata kepada mereka, "Para bhikkhu, semua bhikkhu yang seperti anakKu Kassapa disukai oleh para dewa dan manusia. Bhikkhu-bhikkhu seperti itu selalu menerima pemberian berlimpah untuk empat kebutuhan pokoknya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Sīladassanasampannaṃ dhammaṭṭhaṃ saccavādinaṃ
attano kamma kubbānaṃ taṃ jano kurute piyaṃ."

Barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang,
teguh dalam Dhamma, selalu berbicara benar
dan memenuhi segala kewajibannya,
maka semua orang akan mencintainya.

Lima ratus anak laki-laki mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Monday, 12 July 2010

Kisah Seorang Thera Anagami (Dhammapada 16 : 218)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(218) Ia yang telah mengembangkan keinginan menuju ‘yang tak dapat dinyatakan’ (Nibbana)
yang batinnya telah berkembang (dengan tiga hasil kesucian),
dan tidak lagi terikat oleh kesenangan indria,
orang seperti itu disebut ‘penentang arus kehidupan’.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat murid-murid dari seorang thera bertanya kepadanya, apakah dia telah mencapai tingkat `Jalan Kesucian` (magga); tetapi sang thera tidak berkata apa-apa meskipun dia telah mencapai `Jalan Kesucian Anagami` (anagami magga), magga ketiga. Dia berdiam diri karena dia memutuskan untuk tidak membicarakan tentang pencapaiannya hingga dia mencapai tingkat kesucian arahat. Tetapi sang thera meninggal dunia sebelum mencapai tingkat kesucian arahat, dan juga tidak berkata sesuatupun tentang pencapaian anagami magganya.

Murid-muridnya berpikir guru mereka meninggal dunia tanpa mencapai tingkat magga dan mereka merasa menyesalinya. Mereka pergi menghadap Sang Buddha dan bertanya di mana guru mereka dilahirkan kembali. Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu! Gurumu telah mencapai anagami magga sebelum meninggal dunia, sekarang dia lahir kembali di alam brahma (Suddhavassa Brahmaloka). Dia tidak menyatakan pencapaian anagami magganya karena merasa malu bahwa dia hanya mencapai itu, dan dia berusaha keras mencapai tingkat kesucian arahat. Gurumu sekarang telah bebas dari kemelekatan kesenangan duniawi (kamaloka) dan pasti akan meningkat pada keadaan yang lebih tinggi."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Chandajāto anakkhāte manasā ca phuṭo siyā
kāmesu ca appaṭibaddhacitto uddhaṃsoto ti vuccati."

Ia yang telah mengembangkan keinginan menuju ‘yang tak dapat dinyatakan’ (Nibbana)
yang batinnya berkembang (dengan tiga hasil kesucian),
dan tidak lagi terikat oleh kesenangan indria,
orang seperti itu disebut ‘penentang arus kehidupan’.

Para bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
----------

Notes :

Ada 10 belenggu (dasa samyojana) :
1. Pandangan salah tentang aku (Sakkāya-diṭṭhi)
2. Keragu-raguan terhadap Buddha, Dharma, Sangha (Vicikicchā)
3. Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual (Sīlabbata-parāmāsa)
4. Nafsu indria (Kāma-rāga)
5. Benci, dendam atau dengki (Vyāpāda)
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (Ruparāga)
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (Aruparāga)
8. Ketinggian hati yang halus, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (Māna)
9. Batin yang belum seimbang benar, kegelisahan (Uddhacca)
10. Kegelapan batin (Avijjā)

Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapanna (pemasuk arus) :
hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah.
Mereka disebut pemasuk arus/pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana.
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa.
Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.

2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.

3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.

4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga).
Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.

Sunday, 11 July 2010

Kisah Nandiya (Dhammapada 16 : 219-220)

XVI. Piya Vagga – Kecintaan

(219) Setelah lama seseorang pergi jauh
dan kemudian pulang ke rumah dengan selamat,
maka keluarga, kerabat dan sahabat
akan menyambutnya dengan senang hati.

(220) Begitu juga, perbuatan-perbuatan baik
yang telah dilakukan akan menyambut pelakunya
yang telah pergi dari dunia ini ke dunia selanjutnya,
seperti keluarga yang menyambut pulangnya orang tercinta.
------------------------------------------------------------------------------------------

Nandiya adalah seorang kaya berasal dari Baranasi. Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha tentang manfaat membangun vihara-vihara untuk para bhikkhu, Nandiya membangun Vihara Mahavihara di Isipatana. Bangunan tersebut tinggi dan lengkap dengan perabotan. Segera setelah vihara tersebut dipersembahkan kepada Sang Buddha, sebuah rumah besar muncul untuk Nandiya di alam surga Tavatimsa. Suatu hari ketika Maha Moggallana Thera mengunjungi alam surga Tavatimsa, dia melihat sebuah rumah besar diperuntukkan bagi pendana Vihara Mahavihara di Isipatana. Setelah kembali dari alam surga Tavatimsa, Maha Moggallana Thera bertanya kepada Sang Buddha, "Bhante! Untuk mereka yang melakukan perbuatan baik, apakah mereka akan mempunyai rumah besar dan kekayaan lain tersedia di alam surga, meskipun mereka masih hidup di dunia ini ?"

Kepadanya Sang Buddha berkata, "Anak-Ku, mengapa kamu bertanya hal itu? Apakah kamu tidak melihat rumah besar dan kekayaan menunggu untuk Nandiya di alam surga Tavatimsa ? Para dewa menunggu kedatangan dari orang yang berbuat baik dan dermawan, seperti sebuah keluarga menunggu kembalinya seseorang yang telah lama bepergian. Ketika orang baik meninggal dunia, mereka disambut dengan gembira untuk tinggal di alam surga."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair dan berikut :

"Cirappavāsiṃ purisaṃ dūrato sotthim āgataṃ
ñātimittā suhajjā ca abhinandanti āgataṃ.

Tath’ eva katapuññam pi asmā lokā paraṃ gataṃ
puññāni paṭigaṇhanti piyaṃ ñātīva āgataṃ."

Setelah lama seseorang pergi jauh
dan kemudian pulang ke rumah dengan selamat,
maka keluarga, kerabat dan sahabat
akan menyambutnya dengan senang hati.

Begitu juga, perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan
akan menyambut pelakunya yang telah pergi dari dunia ini
ke dunia selanjutnya,
seperti keluarga yang menyambut pulangnya orang tercinta.