Showing posts with label 09. Papa Vagga. Show all posts
Showing posts with label 09. Papa Vagga. Show all posts

Tuesday, 28 September 2010

Kisah Culekasataka (Dhammapada 9 : 116)

IX. Papa Vagga - Kejahatan

(116) Bergegaslah berbuat kebajikan,
dan kendalikan pikiran dari kejahatan;
pikiran yang lamban melakukan kebajikan,
akan menyenangi kejahatan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di Savatthi berdiam sepasang suami istri brahmana. Mereka hanya mempunyai sebuah pakaian luar yang digunakan oleh mereka berdua. Karena itu mereka dikenal dengan nama Ekasataka. Karena mereka hanya mempunyai sebuah pakaian luar, mereka tidak dapat keluar berdua pada saat bersamaan. Jadi, si istri pergi mendengarkan khotbah Sang Buddha pada siang hari, dan si suami pergi pada malam hari.

Pada suatu malam, ketika brahmana mendengarkan khotbah Sang Buddha, seluruh badannya diliputi keriangan yang sangat menyenangkan dan timbul keinginan yang kuat untuk memberikan pakaian luar yang dikenakannya kepada Sang Buddha. Tetapi dia menyadari jika dia memberikan pakaian luar yang satu-satunya dia miliki berarti tidak ada lagi pakaian luar yang tertinggal buat dia dan istrinya. Dia ragu-ragu dan bimbang.

Malam jaga pertama dan malam jaga kedua pun berlalu, pada malam jaga ketiga, brahmana berkata pada dirinya sendiri, "Jika saya bimbang dan ragu-ragu, saya tidak akan dapat menghindar terlahir ke empat alam rendah (Apaya), saya akan memberikan pakaian luar saya kepada Sang Buddha."

Setelah berkata begitu, dia meletakkan pakaian luarnya ke kaki Sang Buddha dan dia berteriak, "Saya menang! Saya menang! Saya menang!"

Waktu itu Raja Pasenadi dari Kosala juga berada di antara para pendengar khotbah. mendengar teriakan tersebut ia menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki. Mengetahui perihal pemberian brahmana kepada Sang Buddha, raja berkomentar bahwa brahmana tersebut telah berbuat sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan dan karenanya harus diberi penghargaan.

Raja memerintahkan pengawalnya untuk memberikan sepotong pakaian kepada brahmana itu sebagai hadiah atas keyakinan dan kedermawanannya. Brahmana itu menerimanya lalu memberikan lagi pakaian tersebut kepada Sang Buddha. Dia mendapat hadiah lagi dari Raja berupa dua potong pakaian. Brahmana memberikan lagi kedua potong pakaian kepada Sang Buddha, dan dia memperoleh hadiah empat potong lagi.

Jadi dia memberikan kepada sang Buddha apa saja yang diberikan raja kepadanya, dan tiap kali raja melipat-duakan hadiahnya.

Akhirnya hadiah meningkat menjadi tiga puluh dua potong pakaian, brahmana itu mengambil satu potong untuknya dan satu potong untuk istrinya, dan selebihnya diberikan kepada Sang Buddha.

Kemudian raja berkomentar lagi bahwa brahmana benar-benar melakukan suatu perbuatan yang sulit dan juga harus diberi hadiah yang pantas. Raja mengirim seorang utusan untuk membawa dua potong pakaian beludru yang berharga mahal, dan memberikannya kepada brahmana.

Brahmana membuat kedua pakaian tersebut menjadi dua penutup tempat tidur dan meletakkan satu di kamar harum tempat Sang Buddha tidur, dan satunya lagi diletakkan di tempat para bhikkhu menerima dana makanan di rumah brahmana.

Ketika raja pergi berkunjung ke Vihara Jetavana untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha, raja melihat tutup tempat tidur beludru dan mengenalinya bahwa barang itu adalah pemberiannya kepada brahmana, dia merasa sangat senang. Kali ini, raja memberikan hadiah tujuh macam yang masing-masing berjumlah empat buah (sabbacatukka) yaitu empat ekor gajah, empat ekor kuda, empat orang pelayan wanita, empat orang pelayan laki-laki, empat orang pesuruh laki-laki, empat desa, dan empat ribu uang tunai.

Ketika para bhikkhu mendengar hal tersebut, mereka bertanya kepada sang Buddha, "Bagaimana hal ini bisa terjadi, dalam kasus brahmana ini, perbuatan baik yang dilakukan saat ini menghasilkan pahala yang sangat cepat?"

Sang Buddha menjawab, "Jika Brahmana itu memberikan baju luarnya pada malam jaga pertama dia akan diberi hadiah enam belas buah untuk tiap macam barang, jika dia memberi pada malam jaga kedua dia akan diberi delapan buah untuk tiap macam barang. Ketika dia memberikan pada malam jaga terakhir dia diberi hadiah empat buah untuk tiap macam barang.

Jadi, jika seseorang ingin berdana, lakukanlah secepatnya, jika seseorang menunda-nunda pahalanya datang perlahan dan hanya sebagian. Juga, jika seseorang terlalu lambat dalam melakukan perbuatan baik, mungkin dia tidak akan sanggup untuk melakukannya secara keseluruhan, karena pikiran cenderung senang dengan melakukan perbuatan yang tidak baik."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Abhittharetha kalyāṇe pāpā cittaṃ nivāraye,
dandhaṃ hi karoto puññaṃ pāpasmiṃ ramatī mano."

Bergegaslah berbuat kebajikan,
dan kendalikan pikiran dari kejahatan;
pikiran yang lamban melakukan kebajikan,
akan menyenangi kejahatan.
-----------

Notes :
Orang yang tidak punya (miskin), jika ia memberikan sebagian dari harta bendanya, bisa jadi sudah 50% atau bahkan 100% dari seluruh hartanya.
Hal ini luar biasa, dan butuh pengorbanan yang tulus dan perjuangan berat untuk melepas keakuan dan keserakahannya (atas kepemilikan benda itu), seperti kisah diatas.

Kebanyakan orang, makin ia merasa miskin, makin kuat kemelekatannya terhadap harta  benda miliknya, karena ia selalu berpikir bahwa sangat sulit memperoleh harta benda tsb. Makin keras genggamannya, makin sulit melepas, makin terjerumus dalam kemiskinan.

Sebagian orang berpikir, nanti, aku akan dana kalau uang sudah berlebih, sekarang saja masih kurang kok. Percayalah, konsep kurang atau lebih, ini semua ada dalam pikiran kita, dan bukan alasan yang tepat. Semakin besar penghasilan kita dan semakin umur bertambah; semakin besar pula pengeluaran kita, karena gaya hidup berubah, karena berkeluarga, karena keinginan kita jadi bertambah, karena tuntutan sosial dan lingkungan berubah, akibatnya, kita akan tetap terus merasa kurang uang.

Dari sisi pandang lain, justru lebih mudah untuk memberi ketika kita miskin, karena tidak begitu beda jauh, keadaan sebelum dan sesudah memberi. Misalnya hanya punya uang 10 ribu rupiah, lalu didanakan semuanya 10 ribu rupiah, atau uangnya hilang. Tidak beda jauh, sebelumnya lapar, setelah dana juga tetap lapar. Tidak begitu ada perbedaan besar, tidak akan bisa bikin orang itu jadi gila.

Bayangkan orang yang kaya raya misalnya uangnya 10 milyar, terbiasa dengan fasilitas dan hidup mewah, lalu didanakan 10 milyar, apakah ia sanggup melepas semuanya?? Atau misalkan bangkrut, wah, mungkin bisa gila :)

Dari 10 Kesempurnaan (Dasa Paramita) yang harus kita tumbuhkan untuk menuju kebebasan, hal yang paling mendasar dan dijadikan urutan pertama adalah Dana (kemurahan hati). Diikuti oleh Sila, Melepaskan keduniawian (nekhamma), Kebijaksanaan (panna), Usaha (viriya), Kesabaran (khanti), Kejujuran (sacca), Tekad (adhitthana), Cinta Kasih (metta), dan Keseimbangan batin (upekkha).

Sang Buddha berkata, jika orang-orang tahu, seperti apa yang Beliau tahu, apa akibat dari memberi dan berbagi,  mereka tidak akan menikmati harta benda tanpa membaginya dengan orang lain.

Monday, 27 September 2010

Kisah Seyyasaka Thera (Dhammapada 9 : 117)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(117) Apabila seseorang berbuat jahat,
hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu,
dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu,
sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika itu ada seorang Thera yang bernama Seyyasaka yang mempunyai kebiasaan masturbasi. Ketika mendengar hal tersebut, Sang Buddha menegurnya, karena melakukan sesuatu yang mengakibatkan seseorang jauh dari memperoleh magga dan phala. Pada saat itu juga, Sang Buddha menetapkan peraturan larangan menikmati kesenangan seksual bagi para bhikkhu, peraturan sanghadisesa. Pelanggaran (apatti) peraturan itu menyebabkan hukuman dan diskors oleh Sangha. Kemudian Sang Buddha menambahkan, "Jenis pelanggaran ini dapat mengakibatkan hasil perbuatan jahat di dunia ini maupun di masa mendatang."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Pāpañ ce puriso kayirā
na taṃ kayirā punappunaṃ,
na tamhi chandaṃ kayirātha
dukkho pāpassa uccayo."

Apabila seseorang berbuat jahat,
hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu,
dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu,
sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat.
 -----------

Notes :
Perlu dipahami bahwa peraturan Sanghadisesa ini diperuntukkan bagi anggota Sangha, bukan umat awam, jadi bagi umat awam, jangan kuatir dulu… hehehe.. . (Walaupun adalah hal yang baik jika ada umat awam yang hendak menjalankannya juga : ).

Para bhikkhu, dengan keinginan sendiri tanpa paksaan hendak menjadi anggota sangha, yaitu untuk  meninggalkan kehidupan duniawi, melatih diri untuk melenyapkan hawa nafsu, kebencian dan kebodohan batin (raga, dosa, moha) demi mencapai Nibbana. Jadi tentu saja peraturan tsb sangat wajar untuk berlatih melenyapkan hawa nafsu.

Jika nafsu seks dituruti, tidak akan pernah terpuaskan. Seperti orang yang haus dan lapar, sekarang ia makan dan minum, selang beberapa waktu akan lapar dan haus lagi, begitu terus tak ada habisnya.

Bedanya hanya, manusia membutuhkan makan dan minum supaya tetap hidup, kalau tidak makan dan minum manusia akan mati, tetapi, tidak pernah ada kejadian mati karena nafsu seks tidak terpuaskan.

Berbeda dengan pelanggaran Parajika, pelanggaran Sanghadisesa ini masih dapat dimaafkan, yaitu dengan proses pengakuan kesalahan di sidang Sangha, lalu ia harus menjalani Parivasa (masa percobaan) yang lamanya tergantung dari seberapa lama ia menutupi kesalahan itu. Kemudian ia harus menjalani tambahan masa percobaan (Manatta) selama 6 hari. Kemudian barulah ia dapat kembali menjadi bhikkhu setelah menjalani Abbhana-kamma pada sidang Sangha yang dihadiri minimum 20 anggota Sangha. (apa ada yang mengaku ya ? hehehe..)

Masturbasi termasuk Sanghadisesa, tetapi mimpi basah tidak termasuk.

Mereka yang menjaga sila, melatih diri dengan baik dan rajin bermeditasi, akan lebih mudah mengatasi godaan nafsu seksual.

Tingkat kesucian sotapatti masih belum mematahkan belenggu nafsu-nafsu indriya, dalam sakadagami, nafsu indria sudah melemah, dan dalam anagami & arahat, benar-benar sudah padam. Maka tidak heran kan, masturbasi dilarang untuk anggota Sangha? Jika diumbar terus, kapan padamnya??

Dan jangan berpikir kalau hidup tanpa seks itu menyedihkan dan membosankan, para Arahat justru adalah orang yang paling berbahagia. Kebahagian mereka jauh diatas kesenangan seksual yang hanya sementara.


Sunday, 26 September 2010

Kisah Lajadevadhita (Dhammapada 9 : 118)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(118) Apabila seseorang berbuat bajik,
hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu dan
bersuka cita dengan perbuatannya itu,
sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika Mahakassapa Thera sedang berdiam di gua Pippali dan berada dalam suasana batin khusuk bermeditasi mencapai konsentrasi tercerap (samapatti) selama tujuh hari. Segera setelah beliau bangun dari samapatti, beliau berkeinginan memberi kesempatan pada seseorang untuk mendanakan sesuatu kepada orang yang baru bangkit dari samapatti.

Beliau melihat keluar dan menemukan seorang pelayan muda sedang menabur jagung di halaman rumah. Maka Thera berdiri di depan pintu rumahnya untuk menerima dana makanan. Wanita itu meletakkan seluruh jagungnya ke mangkuk Thera. Ketika wanita itu pulang setelah mendanakan jagung kepada thera, dia dipatuk oleh seekor ular berbisa dan meninggal dunia. Dia terlahir kembali di alam surga Tavatimsa dan dikenal sebagai Lajadevadhita. "Laja" berarti jagung.

Laja menyadari bahwa dia terlahir kembali di alam surga Tavatimsa karena dia telah berdana jagung kepada Mahakassapa Thera, maka ia sangat menghormati Mahakassapa Thera. Kemudian Laja memutuskan, dia harus melakukan jasa baik kepada Thera agar kebahagiaannya dapat bertahan. Jadi setiap pagi wanita itu pergi ke vihara tempat Thera berdiam, menyapu halaman vihara, mengisi tempat air, dan melakukan jasa-jasa lainnya.

Pada mulanya thera berpikir samanera-samanera yang melakukan pekerjaan tersebut. Tetapi pada suatu hari thera mengetahui yang melakukan pekerjaan tersebut adalah seorang dewi. Kemudian thera memberi tahu dewi tersebut untuk tidak datang ke vihara itu lagi. Orang-orang akan membicarakan hal-hal yang tidak baik jika dia tetap datang ke vihara.

Mendengar hal itu, Lajadevadhita sangat sedih, menangis dan memohon kepada Thera, "Tolong jangan hancurkan kekayaan dan harta benda saya."

Sang Buddha mendengar tangisannya dan kemudian mengirim cahaya dari kamar harum Beliau dan berkata kepada dewi tersebut, "Devadhita, itu adalah tugas murid-Ku Kassapa untuk melarangmu ke vihara, melakukan perbuatan baik adalah tugas seseorang yang berniat besar memperoleh buah perbuatan baik. Tetapi, sebagai seorang gadis, tidak patut untuk datang sendirian dan melakukan berbagai pekerjaan di vihara."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Puññañ ce puriso kayirā
Kayirāth’ enaṃ punappunaṃ
tamhi chandaṃ kayirātha
sukho puññassa uccayo."

Apabila seseorang berbuat bajik,
hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu
dan bersuka cita dengan perbuatannya itu,
sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik.

Lajadevadhita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
----------

Notes :

Ada dua konteks disini.

Konteks pertama adalah mengenai ketidakpantasan seorang gadis (dewi) yang setiap pagi-pagi buta datang sendirian ke tempat Mahakassapa Thera. Hal ini kemungkinan besar akan mendatangkan kritik dan pergunjingan orang-orang. Sang Buddha membenarkan tindakan Mahakassapa yang melarang Laja datang sendirian, karena dapat menyebabkan pembicaraan yg tidak baik.

Konteks yang kedua, Sang Buddha menyetujui bahwa perbuatan yang baik hendaknya diulang kembali. Dalam hal ini Laja seharusnya dapat memikirkan cara lain untuk berbuat kebajikan tanpa mengkompromikan norma-norma sosial yang berlaku saat itu.

Mengenai Mahakasssapa sendiri, Beliau memprioritaskan memberi kesempatan berdana kepada orang miskin, ketimbang para dewa. Contohnya dalam kisah ke 56, juga Udana 3:7, beliau menolak 500 dewata yang hendak memberinya dana makanan, tetapi Sakka, raja para dewa, menyamar menjadi penenun tua dan miskin, sehingga berhasil memberinya dana. Selain itu juga, karena Mahakassapa memilih menjalankan jenis pertapaan keras, tentu ia menghindari menerima dana dari para dewa karena apa yang diberikan oleh para dewa ini kualitasnya sangat bagus dan halus.

Saturday, 25 September 2010

Kisah Anathapindika (Dhammapada 9 : 119-120)

IX. Papa Vagga - Kejahatan

(119) Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik,
selama buah perbuatan jahatnya belum masak, 
tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak,
ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.

(120) Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk,
selama buah perbuatan bajiknya belum masak,
tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, 
ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anathapindika adalah pendana Vihara Jetavana yang didirikan dengan biaya lima puluh empat crore. Ia tidak hanya dermawan tetapi juga benar-benar berbakti kepada Sang Buddha.

Dia pergi ke Vihara Jetavana dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha tiga kali sehari. Pada pagi hari dia membawa bubur nasi, siang hari dia membawa beberapa macam makanan yang pantas atau obat-obatan, dan pada malam hari dia membawa bunga dan dupa.

Setelah beberapa lama Anathapindika menjadi miskin, tetapi sebagai orang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapatti, batinnya tidak terguncang dengan kemiskinannya, dan dia terus melakukan perbuatan rutinnya setiap hari yaitu berdana.

Suatu malam, satu makhluk halus penjaga pintu rumah Anathapindika menampakkan diri dalam ujud manusia menemui Anathapindika, dan berkata: "Saya adalah penjaga pintu rumahmu, kamu telah memberikan kekayaanmu kepada Samana Gotama tanpa memikirkan masa depanmu. Hal itulah yang menyebabkan kamu miskin sekarang. Oleh karena itu kamu seharusnya tidak memberikan dana lagi kepada Samana Gotama dan kamu seharusnya memperhatikan urusanmu sendiri sehingga menjadi kaya kembali."

Anathapindika menghalau penjaga pintu tersebut keluar dari rumahnya. Karena Anathapindika sudah mencapai tingkat kesucian sotapatti, makhluk halus penjaga pintu tersebut tidak dapat untuk tidak mematuhinya. Dia pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Dia tidak mempunyai tempat tujuan pergi dan ingin kembali ke rumah Anathapindika, tetapi dia takut pada Anathapindika. Jadi dia mendekati Raja Sakka, raja para dewa.

Sakka memberi saran kepadanya, pertama dia harus berbuat baik kepada Anathapindika dan setelah itu meminta maaf kepadanya. Kemudian Sakka melanjutkan, "Ada kira-kira delapan belas crore yang dipinjam oleh beberapa pedagang yang belum dikembalikan kepada Anathapindika, delapan belas crore lainnya disembunyikan oleh leluhur (nenek moyang) Anathapindika, dan telah hanyut ke dalam laut. Dan delapan belas crore lainnya yang bukan milik siapa-siapa yang dikuburkan di tempat tertentu. Pergi dan kumpulkanlah semua kekayaan ini dengan kemampuan batin luar biasamu, penuhilah ruangan-ruangan Anathapindika. Setelah melakukan itu, kamu bisa meminta maaf padanya."

Makhluk halus penjaga pintu tersebut melakukan petunjuk Sakka, dan Anathapindika kembali menjadi kaya.

Ketika makhluk halus penjaga pintu memberi tahu Anathapindika mengenai keterangan dan petunjuk yang diberikan oleh Sakka, perihal pengumpulan kekayaannya dari dalam bumi, dari dasar samudra, dan dari peminjam-peminjamnya. Anathapindika terkesan dengan perasaan kagum. Kemudian Anathapindika membawa makhluk halus penjaga pintu tersebut menghadap Sang Buddha

Kepada mereka berdua, Sang Buddha berkata, "Seseorang tidak akan menikmati keuntungan dari perbuatan baiknya atau menderita akibat dari perbuatan jahat, untuk waktu yang lama, tetapi akan tibalah waktunya kapan perbuatan baik atau buruknya berbuah dan menjadi matang."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Pāpo pi passatī bhadraṃ
yāva pāpaṃ na paccati,
yadā ca paccatī pāpaṃ
atha pāpo pāpāni passati.

Bhadro pi passatī pāpaṃ
yāva bhadraṃ na paccati
yadā ca paccatī bhadraṃ
atha bhadro bhadrāni passati."

Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik,
selama buah perbuatan jahatnya belum masak,
tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak,
ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.

Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk,
selama buah perbuatan bajiknya belum masak,
tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak,
ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik.

Makhluk halus penjaga pintu rumah itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.
----------

Notes :
Anathapindika artinya penyantun (pinda) orang yang tak berdaya/tak dilindungi (a-natha). Nama aslinya adalah Sudatta, tetapi ia lebih terkenal sebagai Anathapindika karena kedermawanannya.

Kadang kita melihat orang yang jahat tetapi hidupnya bahagia dan baik-baik saja, sementara ada orang yang baik tetapi sering dirundung musibah dan kesulitan.

Hal ini dikarenakan, karma buruk orang jahat itu belumlah berbuat, saat ini ia masih menikmati buah dari karma baik yang pernah dilakukannya di masa/kehidupan lalu.

Demikian pula sebaliknya, orang yang baik yang sedang dirundung malang, ini terjadi karena karma baiknya belum berbuah, yang sedang berbuah adalah karma buruk yang pernah dilakukan di masa/kehidupan lalu.

Friday, 24 September 2010

Kisah Bhikkhu Yang Ceroboh (Dhammapada 9 : 121)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(121) Jangan meremehkan kejahatan walaupun kecil, dengan berpikir:
"Perbuatan jahat tidak akan membawa akibat".
Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air
yang jatuh setetes demi setetes,
demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya
dengan kejahatan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang bhikkhu, setelah menggunakan barang-barang perabotan, seperti dipan, kursi panjang, dan peralatan milik vihara, meninggalkannya begitu saja barang-barang itu di halaman, tidak mengembalikannya ke tempat semula, sehingga terkena hujan dan matahari, dan menjadi sarang semut-semut putih. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain menegurnya karena kebiasaannya yang tidak bertanggung jawab, dia akan menjawab dengan ketus :

"Saya tidak mempunyai maksud untuk menghancurkan barang-barang tersebut, lagipula barang-barang itu hanya mengalami kerusakan kecil", dan lain-lain. Selanjutnya dia meneruskan kebiasaan yang sama.

Ketika Sang Buddha akhirnya mengetahui hal tersebut, Beliau memanggil bhikkhu tersebut dan berkata kepadanya :

"Kamu seharusnya tidak meremehkan perbuatan buruk, walau sekecil apapun, karena itu akan menjadi besar jika kamu melakukannya sebagai kebiasaan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Māppamaññetha pāpassa “na man taṃ āgamissati”
udabindunipātena udakumbho pi pūrati,
bālo pūrati pāpassa thokathokam pi ācinaṃ."

Jangan meremehkan kejahatan walaupun kecil, dengan berpikir:
"Perbuatan jahat tidak akan membawa akibat".
Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air
yang jatuh setetes demi setetes,
demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya
dengan kejahatan.

Thursday, 23 September 2010

Kisah Bilalapadaka (Dhammapada 9 : 122)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(122) Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil dengan berpikir:
"Perbuatan bajik tidak akan membawa akibat."
Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air
yang dijatuhkan setetes demi setetes,
demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit
memenuhi dirinya dengan kebajikan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu, seseorang yang berasal dari Savatthi, setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Sang Buddha, sangat terkesan dan memutuskan untuk menerapkan apa yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.

Isi khotbah itu adalah memberi dana tidak hanya dilakukan oleh diri sendiri tetapi hendaknya juga menghimbau orang lain untuk melakukannya. Dengan melakukan hal tersebut, seseorang akan memperoleh banyak pahala dan memperoleh banyak pengikut pada kehidupan yang akan datang.

Oleh karena itu orang tersebut mengundang Sang Buddha beserta seluruh bhikkhu yang berdiam di Vihara Jetavana untuk menerima dana makanan keesokan harinya.

Kemudian orang itu pergi ke rumah-rumah tetangganya, dan memberitahu bahwa dana makanan (pindapatta) akan dilakukan keesokan hari kepada Sang Buddha beserta para bhikkhu, dan mereka dapat berperan-serta sesuai kehendak masing-masing.

Seorang kaya yang bernama Bilalapadaka melihat laki-laki tersebut pergi berkeliling dari rumah ke rumah. Ia tidak setuju atas kelakuannya itu dan juga merasa tidak senang. Ia menggerutu, "O, orang malang! Kenapa dia tidak mengundang beberapa bhikkhu saja sebanyak kesanggupannya sendiri memberi dana, daripada pergi berkeliling membujuk orang lain?"

Lalu dia meminta laki-laki itu untuk membawa mangkoknya dan dia memasukkan ke dalam mangkok tersebut sedikit nasi, hanya sedikit mentega, sedikit tebu. Barang tersebut dibawa secara terpisah dan tidak dicampur dengan yang diberikan orang-orang lain.

Orang kaya tersebut tidak mengerti kenapa barang-barangnya diperlakukan secara terpisah. Ia mengira laki-laki tersebut akan memberitahu orang lain bahwa orang kaya seperti dirinya memberi sumbangan hanya sedikit dan membuatnya malu. Oleh karena itu, orang kaya Bilalapadaka mengutus pelayannya untuk menyelidiki.

Penganjur berdana itu meletakkan makanan yang sedikit pemberian orang kaya tersebut ke dalam mangkuk-mangkuk nasi, kari, dan daging manis, agar orang kaya tersebut mendapat banyak pahala. Pelayan orang kaya melaporkan apa yang telah dilihatnya. Tetapi majikannya, Bilalapadaka, tidak mengerti artinya dan tidak yakin maksud penganjur tersebut. Walau demikian, keesokan harinya dia pergi ke tempat di mana dana makanan dilakukan. Pada saat yang sama, dia membawa sebilah pisau yang akan dipergunakan untuk membunuh penganjur, apabila penganjur berdana itu mengumumkan di depan umum betapa sedikit yang diberikan oleh orang kaya seperti dirinya.

Tetapi penganjur berdana ini berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, dana makanan ini merupakan gabungan dari semua, walaupun ada yang memberi banyak atau pun sedikit tidaklah dihitung. Tiap orang dari kami memberi dengan keyakinan dan kerendahan hati. Jadi semoga kami semua memperoleh pahala yang sama."

Ketika mendengar kalimat tersebut, Bilalapadaka menyadari bahwa dia telah berpikiran keliru terhadap laki-laki itu. Ia merenungkan jika ia tidak mengakui kekeliruannya itu dan memohon penganjur berdana itu untuk memaafkannya, maka dia bisa terlahir di salah satu dari empat alam kehidupan rendah (apaya).

Lalu dia berkata, "Temanku, saya telah melakukan kesalahan besar terhadapmu dengan berpikir keliru tentang kamu, maafkanlah saya."

Sang Buddha mendengar orang kaya tersebut meminta maaf, dan setelah bertanya, Beliau mengetahui alasannya. Lalu Sang Buddha berkata, "Muridku, kamu seharusnya tidak meremehkan perbuatan baik walau sekecil apapun; perbuatan baik yang kecil akan menjadi besar, jika kamu melakukannya sebagai kebiasaan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Māppamaññetha puññassa “na man taṃ āgamissati”
Udabindunipātena udakumbho pi pūrati,
dhīro pūrati puññassa thokathokam pi ācinaṃ."

Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil dengan berpikir:
"Perbuatan bajik tidak akan membawa akibat."
Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes,
demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.

Setelah khotbah itu berakhir, Bilalapadaka mencapai tingkat kesucian sotapatti.
---------

Notes :
Ada 10 belenggu (dasa samyojana) :
1. Pandangan salah tentang aku (Sakkāya-diṭṭhi)
2. Keragu-raguan terhadap Buddha, Dharma, Sangha (Vicikicchā)
3. Kemelekatan terhadap peraturan dan ritual (Sīlabbata-parāmāsa)
4. Nafsu indria (Kāma-rāga)
5. Benci, dendam atau dengki (Vyāpāda)
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (Ruparãga)
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (Aruparãga)
8. Ketinggian hati yang halus, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain (Mãna)
9. Batin yang belum seimbang benar, kegelisahan (Uddhacca)
10. Kegelapan batin (Avijjã)

Ada 4 macam tingkat kesucian :
1. sotapanna (pemasuk arus) :
hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah.
Mereka disebut pemasuk arus / pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana.
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa.
Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.

2. sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia),
Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.

3. anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa), dan
Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.

4. arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga).
Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.

Wednesday, 22 September 2010

Kisah Mahadhana (Dhammapada 9 : 123)

IX. Papa Vagga - Kejahatan

(123) Bagaikan seorang saudagar yang dengan sedikit pengawal
membawa banyak harta, menghindari jalan yang berbahaya,
demikian pula orang yang mencintai hidup,
hendaknya menghindari racun dan hal-hal yang jahat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mahadhana adalah seorang pedagang kaya dari Savatthi. Pada suatu kesempatan, lima ratus perampok telah merencanakan untuk merampoknya, tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk merampoknya.

Pada saat lain para perampok itu mendengar bahwa pedagang Mahadhana akan segera bepergian dengan lima ratus kereta penuh dengan barang-barang berharga. Pedagang Mahadhana juga mengajak bhikkhu-bhikhu yang akan bepergian pada tujuan yang sama untuk pergi bersama dengannya. Dan dia berjanji untuk memperhatikan kebutuhan bhikkhu-bhikkhu selama dalam perjalanan. Lalu ke lima ratus bhikkhu pergi bersama dengannya.

Perampok-perampok memperoleh berita perjalanan mereka dan pergi mendahului di depan untuk menunggu rombongan pedagang. Tetapi pedagang itu berhenti di pinggir hutan tempat perampok-perampok itu sedang menunggu. Rombongan akan melanjutkan perjalanannya setelah bermalam beberapa hari.

Perampok-perampok memperoleh berita keberangkatan mendatang, dan membuat persiapan untuk merampok rombongan tersebut. Pedagang juga mendengar kabar gerakan penjahat-penjahat tersebut dan memutuskan untuk kembali ke rumah.

Penjahat-penjahat sekarang mendengar bahwa pedagang akan pulang ke rumah, lalu mereka menunggu di jalan yang menuju rumah. Beberapa orang desa mengirim berita kepada pedagang mengenai gerakan para penjahat, dan akhirnya pedagang memutuskan untuk tinggal di desa beberapa waktu.

Ketika pedagang memberitahu keputusannya kepada para bhikkhu, bhikkhu-bhikkhu itu sendiri pulang kembali ke Savatthi. Sesampai di Vihara Jetavana, para bhikkhu menemui Sang Buddha dan memberitahu Beliau perihal tertunda-nya perjalanan mereka. Kepada mereka, Sang Buddha berkata: "Para bhikkhu, Mahadhana menghindar dari perjalanan yang dikepung oleh para penjahat. Seseorang yang tidak ingin meninggal dunia menghindar dari racun. Para bhikkhu bijaksana, yang menyadari bahwa tiga tingkat kehidupan* serupa dengan perjalanan yang dikepung dengan bahaya, hendaknya berusaha keras menghindar dari berbuat jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Vāṇijo va bhayaṃ maggaṃ appasattho mahaddhano
visaṃ jīvitukāmo va pāpāni parivajjaye."

Bagaikan seorang saudagar yang dengan sedikit pengawal
membawa banyak harta, menghindari jalan yang berbahaya,
demikian pula orang yang mencintai hidup,
hendaknya menghindari racun dan hal-hal yang jahat.

Lima ratus bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
 ---------

Notes :
 Tiga tingkat alam kehidupan dalam hal ini secara garis besarnya adalah :
  1. Kamabhava – keberadaan/kehidupan dalam alam penuh nafsu indera; yaitu 11 alam indera
  2. Rupabhava – keberadaan/kehidupan dalam alam berbentuk; yaitu 16 alam brahma
  3. Arupabhava – keberadaan/kehidupan dalam alam tanpa bentuk; yaitu 4 alam arupa.

Tuesday, 21 September 2010

Kisah Kukkutamitta (Dhammapada 9 : 124)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(124) Apabila seseorang tidak mempunyai luka di tangan,
maka ia dapat menggenggam racun.
Racun tidak akan mencelakakan orang yang tidak luka.
Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di Rajagaha terdapat seorang putri orang kaya yang telah mencapai tingkat kesucian sotapatti pada usia yang masih muda. Suatu hari, Kukkutamitta, seorang pemburu datang ke kota dengan kereta untuk menjual daging rusa. Melihat Kukkutamitta, si pemburu itu, wanita kaya yang masih muda ini jatuh hati seketika.

Dia mengikuti Kukkutamitta, menikah dengannya dan berumah tangga di sebuah desa kecil. Dari hasil perkawinannya, lahirlah tujuh orang anak laki-laki, dan setelah tiba waktunya semua anak mereka menikah.

Suatu hari, Sang Buddha meninjau sekeliling alam kehidupan pada dini hari dengan kemampuan batin luar biasa-Nya. Beliau menemukan bahwa si pemburu, ketujuh putranya dan istri-istri mereka sudah memiliki kesiapan batin untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Paginya, Sang Buddha pergi ke tempat di mana pemburu telah menyusun perangkap buruannya di dalam hutan. Sang Buddha meletakkan jejak kaki Beliau di dekat perangkap, lalu duduk di bawah semak-semak yang rindang, tidak jauh dari perangkap tersebut.

Ketika pemburu datang, dia melihat tidak ada binatang di dalam perangkap. Sebaliknya, dia melihat jejak kaki dan menduga bahwa seseorang telah datang sebelumnya dan melepaskan binatang tersebut.

Ketika dia melihat Sang Buddha duduk di bawah semak-semak yang rindang, dia mengira Beliaulah orang yang telah melepaskan binatang dari dalam perangkap. Dengan marah pemburu itu mengeluarkan busur dan anak panahnya untuk memanah Sang Buddha.

Tetapi sewaktu dia menarik anak panahnya, dia menjadi tidak bisa bergerak dan tetap berdiam pada posisi seperti patung.

Anak-anak pemburu itu menyusul dan menemukan ayah mereka. Mereka juga melihat Sang Buddha pada jarak tertentu dan mengira Beliau pastilah musuh ayah mereka. Mereka semua mengambil busur-busur dan anak-anak panah, dan mereka membidik Sang Buddha. Tetapi mereka juga tidak bisa bergerak dan menjadi seperti patung.

Ketika pemburu dan putra-putranya tidak kembali, istri pemburu menyusul mereka ke dalam hutan bersama dengan ketujuh menantunya. Melihat suami dan semua anaknya dengan anak panah mereka membidik Sang Buddha, dia mengangkat kedua tangannya dan berteriak, "Jangan membunuh ayahku."

Ketika sang suami mendengar kata-kata istrinya, dia berpikir "Ini pastilah ayah mertua saya", dan anak-anaknya berpikir "Ini pastilah kakek kami", dan kemudian cinta kasih timbul pada mereka.

Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, "Singkirkan busur dan anak-anak panah kalian, dan beri penghormatan kepada ayah saya."

Sang Buddha menyadari bahwa pada waktu itu, pikiran pemburu dan ketujuh anaknya melembut dan membiarkan mereka menyingkirkan busur-busur dan anak-anak panah mereka. Setelah menyingkirkan busur-busur dan anak-anak panah mereka, mereka memberi penghormatan kepada Sang Buddha dan Sang Buddha menjelaskan ajaran Dhamma kepada mereka.

Akhirnya pemburu, ketujuh putranya, dan ketujuh menantunya, semua berjumlah lima belas, mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Sang Buddha pulang kembali ke vihara, dan memberi tahu kepada Ananda Thera dan bhikkhu-bhikkhu lain perihal Kukkutamita dan keluarganya yang telah mencapai tingkat sotapatti pada dini hari.

Para bhikkhu kemudian bertanya kepada Sang Buddha, "Bhante, apakah istri pemburu yang telah mencapai sotapanna, tidak bersalah melakukan pembunuhan; jika dia mengembalikan barang-barang seperti jaring, busur-busur, dan anak panah untuk keperluan suaminya pada saat hendak berburu?"

Terhadap pertanyaan itu, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, para sotapanna tidak membunuh, mereka tidak mengharapkan yang lain terbunuh. Istri pemburu itu hanya menuruti kemauan suaminya mengambilkan barang-barang untuknya. Seperti halnya tangan yang tidak luka, tangan itu tidak dapat dimasuki racun. Demikian pula, karena dia tidak mempunyai niat melakukan kejahatan, maka dia tidak melakukan kejahatan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Pāṇimhi ce vaṇo nāssa hareyya pāṇinā visaṃ,
nābbaṇaṃ visam anveti, n’atthi pāpaṃ akubbato."

Apabila seseorang tidak mempunyai luka di tangan,
maka ia dapat menggenggam racun.
Racun tidak akan mencelakakan orang yang tidak luka.
Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat.
-----------

 Notes:

Seorang sotapanna telah mematahkan 3 belenggu (lihat notes di kisah 122),

Saddha/keyakinannya dalam Buddha Dhamma dan Sangha, sungguh-sungguh kuat, dan silanya juga kukuh, dalam situasi apapun juga ia tidak akan melanggar Pancasila.

Karena ia menjalankan Pancasila, ia tidak berbuat karma buruk baru yang dapat menyeretnya terlahir alam rendah.

Seandainya ada karma buruk yang dapat menyebabkan kelahiran di alam rendah, yang dilakukan sebelum ia menjadi sotapanna, ini akan menjadi ahosi kamma (karma yang tidak berbuah).  

Dalam hal ini, karena sang isteri adalah seorang sotapanna, ia sudah tidak memiliki niat untuk membunuh.

Monday, 20 September 2010

Kisah Koka Si Pemburu (Dhammapada 9 : 125)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(125) Barangsiapa berbuat jahat terhadap orang baik,
orang suci, dan orang yang tidak bersalah,
maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu,
bagaikan debu yang dilempar melawan angin.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu pagi, saat Koka pergi berburu dengan anjing-anjing pemburunya, dia melihat seorang bhikkhu memasuki kota untuk berpindapatta. Pemburu menganggap hal itu sebagai pertanda buruk dan menggerutu pada dirinya sendiri: "Gara-gara saya melihat si celaka ini, saya pikir saya tidak akan mendapatkan hasil buruan apapun hari ini", dan dia melanjutkan perjalanannya. Sesuai pikirannya, dia tidak memperoleh apapun.

Pada perjalanan pulang, dia melihat kembali bhikkhu yang sama sedang berjalan pulang ke vihara setelah menerima dana makanan di kota. Pemburu itu menjadi sangat marah. Ia melepaskan anjing-anjing pemburunya ke bhikkhu tersebut. Dengan cepat bhikkhu itu memanjat pohon yang tidak dapat dijangkau oleh anjing pemburu. Kemudian si pemburu menuju ke bawah pohon itu dan menusuk tumit kaki bhikkhu tersebut dengan ujung anak panahnya.

Bhikkhu itu sangat kesakitan dan tidak mampu lagi memegang jubahnya. Jubahnya terlepas dan jatuh menutupi si pemburu yang berada di bawah pohon.

Anjing-anjing melihat jubah kuning terjatuh mengira bahwa bhikkhu tersebut telah jatuh dari pohon. Segera anjing-anjing tersebut menyambar jubah kuning dan tubuh yang terbalut di dalamnya, menggigit dan mencabik-cabik dengan beringas.

Bhikkhu itu, dari persembunyiannya di atas pohon mematahkan sebuah ranting pohon yang kering untuk menghalau anjing-anjing itu. Akhirnya anjing-anjing itu mengetahui bahwa mereka telah menyerang tuan mereka sendiri, bukan bhikkhu, dan mereka berlarian ke dalam hutan.

Bhikkhu tersebut turun dari atas pohon, dan menemukan si pemburu telah meninggal dunia. Ia merasa menyesal atasnya. Bhikkhu itu juga bertanya dalam hatinya apakah dirinya bertanggung jawab atas kematian si pemburu karena tertutup oleh jubah kuningnya?

Kemudian bhikkhu itu menghadap Sang Buddha untuk menjernihkan keragu-raguannya. Sang Buddha berkata: "Anak-Ku, yakinlah dan jangan ragu; kamu tidak bertanggung jawab atas kematian pemburu itu. Pelaksanaan moral (sila) kamu juga tidak tercemari oleh kematian itu. Lagipula, pemburu itu mempunyai perbuatan keliru terhadap orang yang tidak berbuat salah, sehingga ia memperoleh keadaan akhir yang menyedihkan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yo appaduṭṭhassa narassa dussati
suddhassa posassa anaṅgaṇassa
tam eva bālaṃ pacceti pāpaṃ
sukhumo rajo paṭivātaṃ va khitto."

Barangsiapa berbuat jahat terhadap orang baik, 
orang suci, dan orang yang tidak bersalah,
maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu,
bagaikan debu yang dilempar melawan angin.

Bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Sunday, 19 September 2010

Kisah Tissa Thera (Dhammapada 9 : 126)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(126) Sebagian orang terlahir melalui kandungan;
pelaku kejahatan terlahir di alam neraka;
orang yang berkelakuan baik pergi ke surga;
dan orang yang bebas dari kekotoran batin mencapai nibbana.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang penggosok permata dan istrinya tinggal di Savatthi. Di sana juga berdiam seorang Thera yang telah mencapai tingkat kesucian arahat. Setiap hari pasangan ini memberi dana makanan kepada thera itu.

Suatu hari ketika penggosok permata itu sedang memegang daging, utusan Raja Pasenadi dari Kosala tiba dengan membawa sebutir ruby, yang meminta untuk dipotong, dan diasah sampai mengkilap. Si penggosok permata tersebut mengambil ruby dengan tangannya yang telah terkena darah, dan meletakkannya di atas meja serta pergi ke dalam rumah untuk mencuci tangannya.

Burung peliharaan keluarga ini melihat darah melumuri ruby dan mengira barang itu adalah sepotong daging, lalu mematuk serta menelannya di hadapan sang thera.

Ketika penggosok permata selesai mencuci tangannya, dia menemukan bahwa ruby tersebut telah hilang. Dia bertanya kepada istri dan anaknya, dan mereka menjawab bahwa mereka tidak mengambilnya. Kemudian dia bertanya kepada sang thera dan mendapat jawaban bahwa sang thera tidak mengambilnya, tetapi dia merasa tidak puas. Karena tidak ada orang lain kecuali sang thera di dalam rumah. Penggosok permata berkesimpulan pastilah sang thera yang telah mengambil ruby yang berharga tersebut. Lalu dia memberi tahu istrinya bahwa dia harus menyiksa sang thera agar mengakui sebagai pencurinya.

Tetapi istrinya menjawab: "Thera ini telah menjadi pembimbing dan guru kita selama dua belas tahun, dan kita tidak pernah melihat thera itu melakukan perbuatan jahat apa pun, janganlah menuduh thera itu. Lebih baik kita menerima hukuman raja daripada menuduh orang suci."

Tetapi si suami tidak mendengarkan kata-kata istrinya. Dia mengambil tali dan mengikat thera itu serta memukulnya berkali-kali dengan sebuah tongkat, sehingga sangat banyak darah mengalir dari kepala, telinga, dan hidung. Darah itu berceceran jatuh ke lantai.

Burung penggosok permata melihat darah, lalu berharap untuk mematuknya, burung itu datang mendekat sang thera. Si penggosok permata yang pada saat itu sangat marah, menyepak burung dengan seluruh kekuatannya, sehingga burung itu mati seketika.

Kemudian thera itu berkata, "Lihatlah, apakah burung itu mati atau tidak?"

Penggosok permata menjawab: "Kamu juga seharusnya mati seperti burung itu."

Ketika sang thera yakin bahwa burung itu telah mati, dia menjawab dengan pelan: "Muridku, burung itulah yang menelan ruby tersebut."

Mendengar itu, penggosok permata membelah badan burung tersebut, dan menemukan ruby di dalam perutnya. Kemudian penggosok permata menyadari bahwa dia telah bersalah dan menggigil ketakutan. Dia memohon kepada sang thera untuk mengampuninya dan terus menerima dana makanan di muka pintu rumahnya.

Thera itu menjawab, "Muridku, ini bukanlah kesalahanmu dan juga bukan kesalahanku. Ini terjadi disebabkan oleh apa yang telah kita perbuat dalam kehidupan lampau. Hanyalah hutang kita dalam proses kehidupan (samsara). Saya tidak sakit hati terhadapmu, fakta ini terjadi karena saya memasuki rumah. Mulai hari ini, saya tidak akan memasuki rumah manapun, saya hanya akan berdiri di muka pintu."

Segera setelah mengatakan hal ini, sang thera meninggal dunia akibat luka-lukanya.

Mendengar kejadian itu, bhikkhu-bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha dimana pelaku kisah di atas akan terlahir kembali?

Sang Buddha menjawab, "Burung itu terlahir kembali sebagai putra penggosok permata; penggosok permata terlahir kembali di alam neraka (Niraya); istri penggosok permata terlahir kembali di salah satu alam dewa; dan sang thera, yang telah mencapai tingkat kesucian arahat pada kehidupannya saat ini, merealisasi "Kebebasan Akhir" (parinibbana)."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Gabbham eke uppajjanti nirayaṃ pāpakammino,
saggaṃ sugatino yanti parinibbanti anāsavā."

Sebagian orang terlahir melalui kandungan;
pelaku kejahatan terlahir di alam neraka;
orang yang berkelakuan baik pergi ke surga;
dan orang yang bebas dari kekotoran batin mencapai nibbana.
---------

Notes :

Orang yang bebas dari kekotoran batin = Arahat. Arahat tidak dilahirkan kembali di alam manapun juga, baik di alam surga maupun di alam brahma.

Kelahiran di alam surga dan alam brahma, masih berada dalam roda samsara, walaupun kelihatannya enak dan menyenangkan lahir di alam surga dan alam brahma (dibanding alam lain yang lebih rendah), tetapi kelahiran disana tidaklah abadi. Rentang kehidupan di alam surga memang panjang sekali, sehingga orang menjadi salah paham dan mengira surga itu abadi, padahal tidak. Ketika karma baik penyebab kelahiran di sana telah habis, maka yang bersangkutan akan mati dan terlahir lagi di tempat lain sesuai karmanya. Tidak sedikit yang jatuh ke alam rendah seperti alam asura, alam peta dan alam binatang dimana hari-hari mereka diisi dengan kebencian, keserakahan dan ketakutan yang tiada habisnya.

Karenanya orang yang bijaksana, tidak hanya sampai bertujuan untuk lahir di surga, tetapi untuk membebaskan diri dari lingkaran Samsara / Sangsara ( = lingkaran tumimbal lahir yang tiada putusnya), dengan merealisasikan Nibbana.

Samsara (Pali), bahasa Sanskritnya adalah Sangsara, yang rupanya dalam bahasa Indonesia diturunkan menjadi sengsara. Sengsara artinya penderitaan. Walaupun sudah bergeser dari arti aslinya, tetapi masih benar juga, karena memang lingkaran tumimbal lahir yang tiada putusnya ini adalah penderitaan, karena kita terjebak didalamnya, terseret arus tanpa daya. Lahir, tua, sakit, mati, lahir tua sakit mati, lahir lagi tua lagi sakit lagi mati lagi. Belum lagi kalau lahirnya di alam yang tidak enak, atau di tempat yang tidak enak; kita tidak punya kontrol kemana karma kita akan membawa kita.

Nibbana / Nirvana adalah suatu keadaan, bukan nama suatu tempat ataupun surga. Perlu dicamkan, Nibbana tidak dapat dimengerti melalui penjelasan dan kata-kata. Seseorang hanya dapat mengerti Nibbana melalui kesadaran langsung.

Secara harafiah, Nibbana artinya padamnya api, yaitu api lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (ketidaktahuan), juga kebebasan, Sang Buddha menjelaskan bahwa Nibbana adalah berhentinya penderitaan, kelahiran, usia tua dan kematian; ketenangan sempurna, kedamaian, kebahagiaan tertinggi.  

Ini adalah suatu hal yang sulit dijelaskan, karena orang yang telah mencapai Nibbana pun tidak bisa menjelaskannya secara tepat dengan kata-kata kepada orang yang belum mencapai Nibbana. Ibarat kita hendak menjelaskan apa rasa cabai kepada orang yang belum pernah makan cabai.

Ketika kita menjelaskan sesuatu keadaan kepada orang lain dengan menggunakan kata-kata, yang terjadi adalah, orang itu akan berusaha mencocokkan kata-kata kita dengan apa yang pernah dialami dan dirasakannya, dengan konsep yang dimilikinya, dan tentu saja hal ini tidak berhasil :)

Sebagian orang salah mengerti dan mengira bahwa Nibbana merupakan annihilation / pemusnahan. Ini terjadi karena salah pengertian, persis seperti yang saya katakan di paragraf di atas.

Satu hal yang bisa kita pertimbangkan ketika ingin mengetahui Nibbana itu seperti apa, perhatikanlah, seperti apakah sikap dan tingkah laku Buddha dan para arahat? Mereka telah merealisasi Nibbana. Bagaimana keadaan mereka? Bukankah mereka selalu tenang, penuh damai, bahagia, dan begitu agung? Tiada rasa marah, benci, kuatir, takut, serakah, dengki, atau apapun yang negatif.

Saturday, 18 September 2010

Kisah Tiga Kelompok Orang (Dhammapada 9 : 127)

IX. Papa Vagga - Kejahatan 

(127) Tidak di langit, di tengah samudra,
di celah-celah gunung atau di manapun juga,
dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang
untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kelompok pertama: Sekelompok bhikkhu dalam perjalanan untuk menghadap Sang Buddha dan mereka berhenti di sebuah desa. Beberapa orang memasak makanan untuk didanakan kepada para bhikkhu. Salah satu rumah terbakar dan lingkaran api berkobar di udara. Pada saat itu, seekor burung gagak sedang terbang dan terjebak dalam kobaran api, lalu jatuh mati di tengah-tengah desa. Para bhikkhu melihat burung gagak yang telah mati berpendapat bahwa hanya Sang Buddha-lah yang dapat menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan burung gagak sehingga ia mati dengan cara itu.

Setelah menerima dana makanan, mereka melanjutkan perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha, dan juga untuk bertanya mengenai burung gagak yang malang.

Kelompok kedua: Kelompok bhikkhu lain yang sedang mengadakan perjalanan dengan sebuah kapal, mereka juga dalam perjalanan untuk menghadap Sang Buddha. Ketika mereka sedang berada di tengah lautan, kapalnya tidak dapat bergerak. Lalu undian dilakukan untuk menemukan siapa yang membuat sial. Tiga kali undian menimpa istri kapten.

Kapten kapal berkata dengan sedih, "Banyak orang yang seharusnya tidak meninggal dunia karena wanita yang membuat sial ini; ikat sebuah pot penuh dengan pasir ke leher wanita ini dan lempar dia ke dalam laut sehingga saya tidak akan melihatnya lagi."

Wanita itu dilempar ke dalam laut sesuai perintah kapten dan kapal pun dapat bergerak kembali.

Setibanya di tempat tujuan mereka, para bhikkhu turun dari kapal dan melanjutkan perjalanan mereka menemui Sang Buddha. Mereka berniat bertanya kepada Sang Buddha, perbuatan jahat apa yang menyebabkan wanita malang itu dilempar ke laut.

Kelompok ketiga: Sekelompok bhikkhu yang terdiri dari tujuh bhikkhu dalam perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha. Mereka bertanya di sebuah vihara di mana terdapat tempat yang layak untuk berteduh pada malam hari di sekitar sana. Kepada mereka ditunjukkan sebuah gua, dan di sana mereka bermalam. Tetapi di tengah malam sebuah batu karang besar jatuh dari atas dan menutupi pintu masuk gua.

Pada pagi harinya, bhikkhu-bhikkhu dari vihara di dekat sana datang ke gua, dan melihat apa yang terjadi, mereka memanggil orang-orang dari tujuh desa sekitar. Dengan bantuan penduduk desa, mereka mencoba menggeser batu karang tersebut. Tetapi usaha itu tidak ada gunanya. Dengan demikian, ketujuh bhikkhu terjebak di dalam gua tanpa makanan dan minuman selama tujuh hari.

Pada hari ke tujuh, batu karang itu secara ajaib bergerak sendiri, dan para bhikkhu bisa keluar dari gua, serta melanjutkan perjalanan mereka menghadap Sang Buddha. Mereka juga berniat bertanya kepada Beliau, kejahatan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya sehingga mereka terkurung selama tujuh hari di dalam gua.

Ketiga kelompok yang melakukan perjalanan itu bertemu dalam perjalanan dan mereka bersama-sama menghadap Sang Buddha. Tiap kelompok menceritakan kepada Sang Buddha apa yang telah mereka lihat atau alami dalam perjalanannya.

Sang Buddha menjawab pertanyaan kelompok pertama: "Para bhikkhu, dahulu kala ada seorang petani yang mempunyai seekor lembu jantan. Lembu jantan tersebut sangat malas dan juga sangat keras kepala. Lembu tersebut tidak dapat dibujuk untuk melakukan pekerjaan apapun, dia hanya berbaring mengunyah jerami atau tidur. Petani tersebut tiap kali kehilangan kesabaran disebabkan kemalasan dan keras kepalanya hewan tersebut. Dengan marah dia mengikat tali jerami di sekeliling leher lembu dan membakarnya, lembu jantan itupun mati. Disebabkan oleh kejahatan ini, petani tersebut menderita lama sekali di alam neraka (Niraya) dan untuk memenuhi sisa akibat perbuatan jahatnya, dia mati terbakar dalam tujuh kehidupannya yang terakhir."

Sang Buddha menjawab pertanyaan kelompok kedua: "Para bhikkhu, saat itu terdapat seorang wanita yang mempunyai anjing peliharaan. Dia selalu membawa anjing tersebut bersamanya ke manapun dia pergi. Di kota itu terdapat pemuda-pemuda yang selalu menggoda wanita itu dan anjingnya, sehingga dia sangat marah, dan merasa malu. Akhirnya ia merencanakan untuk membunuh anjingnya. Dia mengisi sebuah pot dengan pasir, mengikatkan di leher anjingnya, melemparkannya ke dalam sungai, dan anjing itupun tenggelam. Akibat dari perbuatan jahat ini, wanita tersebut menderita dalam waktu lama di alam neraka (Niraya), dan untuk memenuhi sisa akibat perbuatan jahatnya, dia telah dilemparkan ke air supaya tenggelam dalam 100 kehidupannya yang terakhir".

Sang Buddha menjawab pada kelompok ketiga: "Para bhikkhu, suatu waktu, tujuh orang gembala melihat seekor iguana masuk ke dalam anak bukit, dan mereka menutup ketujuh jalan keluar dari anak bukit tersebut dengan ranting-ranting dan cabang-cabang pohon. Setelah menutup ketujuh jalan keluar, mereka pergi, dan melupakan iguana yang terperangkap di dalam anak bukit tersebut. Tujuh hari kemudian, mereka teringat apa yang telah mereka lakukan dan cepat-cepat kembali ke tempat perbuatan usil mereka dan mengeluarkan iguana tersebut. Akibat dari perbuatan jahat ini, ketujuh orang itu telah terkurung bersama selama tujuh hari tanpa makanan dan minuman dalam 14 kehidupan mereka yang terakhir."

Kemudian para bhikkhu berkata, "O memang benar! Tidak ada tempat pelarian dari akibat kejahatan bagi orang yang telah melakukan perbuatan jahat, walaupun dia berada di langit, atau di dalam samudra, ataupun di dalam gua".

Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Benar, bhikkhu! Kamu benar, walaupun di langit atau di mana saja, tidak ada tempat yang tidak terjangkau oleh akibat kejahatan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na antalikkhe na samuddamajjhe
na pabbatānaṃ vivaraṃ pavissa
na vijjatī so jagatippadeso
yatthaṭṭhito muñceyya pāpakammā."

Tidak di langit, di tengah samudra,
di celah-celah gunung atau di manapun juga,
dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang
untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya.

Semua bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
---------

Notes :

Tidak ada tempat kita dapat bersembunyi dari akibat perbuatan jahat.

Renungkanlah bait ini ketika kita mendapat musibah, kematian, dll yang sudah terjadi. Tetapi tidak untuk hal-hal yang belum terjadi.

Jangan salah mengerti menganggap bahwa hukum karma adalah fatalitas ataupun pesimis.

Jangan pernah berpikir, ya sudah, apa boleh buat, sudah karmaku, lalu tidak mau berusaha lagi. Ini namanya kurang usaha :)

Dalam landasan untuk mencapai kebuddhaan, usaha itu urutannya di nomer 1, nomer 2 nya barulah kepandaian/kecerdasan.

Jika masih belum terjadi, kita tetap harus berusaha sekeras mungkin, karena usaha itu sendiri adalah menciptakan karma baru. Karma artinya perbuatan. Apa yang kita lakukan di masa lalu (termasuk sedetik lalu, semenit lalu, sejam lalu, kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu dst..s/d kehidupan-kehidupan lalu) akan memberi hasil.

Ada sebagian karma yang berbuah langsung, ada yang menunggu saat dan kondisi yang tepat. Karenanya kita harus berusaha sekuat mungkin dan jangan lupa memupuk banyak kebajikan, karena sesungguhnya masa depan ada di tangan kita sendiri.

Friday, 17 September 2010

Kisah Raja Suppabuddha (Dhammapada 9 : 128)

IX. Papa Vagga - Kejahatan

(128) Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung
atau di manapun juga, dapat ditemukan suatu tempat
bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari kematian.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Raja Suppabuddha adalah ayah dari Devadatta dan ayah mertua dari Pangeran Siddhatta, yang kemudian menjadi Buddha Gotama.

Raja Suppabuddha sangat membenci Sang Buddha karena dua alasan. Pertama, karena Pangeran Siddhattha telah meninggalkan istrinya, Yasodhara, putri Raja Suppabuddha, untuk melepaskan keduniawian.

Dan kedua, karena putranya, Devadatta, yang telah diterima dalam pasamuan Sangha oleh Sang Buddha, menganggap Sang Buddha sebagai musuh utamanya.

Suatu hari ia mengetahui bahwa Sang Buddha akan datang untuk berpindapatta. Raja Suppabuddha minum-minuman yang memabukkan, sehingga dirinya mabuk dan menutup jalan. Ketika Sang Buddha dan para bhikkhu datang, Raja Suppabuddha menolak untuk memberikan jalan masuk, dan mengirim pesan yang berbunyi, "Saya tidak dapat memberikan jalan kepada Samana Gotama, yang jauh lebih muda daripada saya".

Melihat jalan masuk telah ditutup, Sang Buddha dan para bhikkhu pulang kembali. Kemudian Raja Suppabuddha mengirim seseorang untuk mengikuti Sang Buddha secara sembunyi-sembunyi, dan mencari keterangan apa yang dikatakan oleh Sang Buddha serta melaporkan kepadanya.

Setelah Sang Buddha tiba, Beliau berkata kepada Ananda, "Ananda, karena perbuatan jahat Raja Suppabuddha yang menolak memberi jalan kepada seorang Buddhaa, tujuh hari mendatang sejak saat ini dia akan ditelan bumi, di kaki tangga menuju puncak bangunan istananya."

Mata-mata raja mendengar hal tersebut dan melaporkan kepada raja. Raja berkata bahwa dia tidak akan pergi ke dekat tangga tersebut, dan akan membuktikan kata-kata Sang Buddha adalah tidak benar.

Kemudian raja memerintahkan pelayannya untuk memindahkan tangga tersebut, sehingga dia tidak akan menggunakannya. Dia juga menyuruh pelayan yang bertugas memberitahu untuk memegangnya jika dia pergi ke arah kaki tangga.

Ketika Sang Buddha memperoleh keterangan perihal perintah raja kepada anak buahnya tersebut di atas, Beliau berkata, "Para bhikkhu! Walaupun Raja Suppabuddha tinggal di puncak menara, atau di atas langit, atau di dasar laut, atau di dalam goa, kata-kata saya tidak akan keliru. Raja Suppabuddha akan ditelan bumi di tempat yang telah saya katakan pada kalian."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na antalikkhe na samuddamajjhe
na pabbatānaṃ vivaraṃ pavissa
na vijjatī so jagatippadeso
yatthaṭṭhitaṃ na-ppasahetha maccu."

Tidak di langit, di tengah samudra,
di celah-celah gunung atau di manapun juga,
dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang
untuk dapat menyembunyikan diri dari kematian.

Pada hari ketujuh, kira-kira pada waktu makan, kuda kerajaan ketakutan dengan alasan yang tidak diketahui, dan mulai meringkik dengan keras serta menendang-nendang dengan beringas. Mendengar suara ringkikan dari kudanya, Raja merasa dia harus menangani kuda peliharaannya, dan ia melupakan semua pencegahan terhadap bahaya. Dia mulai menuju pintu. Pintu terbuka dengan sendirinya, tangga yang telah dipindahkan sebelumnya juga masih di tempatnya semula, pelayan lupa mencegahnya untuk tidak turun. Kemudian Raja menuruni tangga dan segera dia melangkah di atas bumi. Bumi terbuka dan menelannya serta menyeretnya ke alam neraka Avici (Avici Niraya).
---------

Notes :

Sekadar klarifikasi, kalau-kalau ada yang salah mengerti dan berpikir bahwa Sang Buddha mengutuk/menghukum  Raja Suppabuddha. Sama sekali tidak. Sang Buddha hanya menyatakan apa yang akan terjadi, karena Beliau dapat melihat secara jelas hukum karma.

Mengganggu seorang suci seperti seorang arahat, apalagi seorang Buddha, adalah melakukan karma buruk yang cukup besar.