Showing posts with label 23. Naga Vagga. Show all posts
Showing posts with label 23. Naga Vagga. Show all posts

Tuesday, 11 May 2010

Kisah Menaklukkan Diri Sendiri (Dhammapada 23 : 320-322)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(320) Seperti seekor gajah di medan perang
dapat menahan serangan panah yang dilepaskan dari busur,
begitu pula Tathagata tetap bersabar terhadap cacian;
sesungguhnya, sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah.

(321) Hanya gajah atau kuda terlatih yang dibawa ke hadapan orang banyak. 

Raja hanya menunggangi yang terlatih. 
Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri 
dan dapat bersabar terhadap cacian.

(322) Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih, 

begitu juga kuda-kuda Sindhu dan gajah-gajah perang milik para bangsawan; 
tetapi yang jauh lebih baik dari semua itu 
adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat ayah Magandiya, karena sangat tertarik dengan kepribadian dan penampilan Sang Buddha, telah mempersembahkan anak perempuannya yang sangat cantik untuk dijadikan istri Sang Buddha Gotama. Tetapi Sang Buddha menolak persembahan itu dan berkata bahwa Beliau tidak akan mau menyentuh hal itu yang penuh dengan kotoran, sekalipun dengan kakinya. Ketika mendengar kata-kata ini kedua ayah dan ibu Magandiya melihat kebenaran dalam kata-kata tersebut dan mencapai tingkat kesucian anagami. Tetapi Magandiya menganggap Sang Buddha sebagai musuh dan bertekad untuk membalas dendam kepada Beliau.

Kemudian ia menjadi salah satu dari tiga istri Raja Udena. Ketika Magandiya mendengar kabar bahwa Sang Buddha telah datang ke Kosambi, ia menyewa beberapa penduduk dan pelayan-pelayannya untuk mencaci maki Sang Buddha saat Beliau memasuki kota untuk berpindapatta. Orang-orang sewaan tersebut mengikuti Sang Buddha dan mencaci maki dengan menggunakan kata-kata yang kasar seperti `pencuri, bodoh, unta, keledai, yang pasti ke neraka`, dan sebagainya. Mendengar kata-kata yang kasar tersebut, Y.A.Ananda memohon kepada Sang Buddha untuk meninggalkan kota dan pergi ke tempat lain.

Tetapi Sang Buddha menolak dan berkata, "Di kota lain, kita juga mungkin dicaci maki dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang dicaci maki. Lebih baik menyelesaikan masalah di tempat terjadinya masalah. Tathagata seperti seekor gajah di medan perang; yang menahan panah-panah yang datang dari semua penjuru. Tathagata juga akan menahan dengan sabar caci maki yang datang dari orang-orang yang tidak memiliki moral."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Ahaṃ nāgo va saṃgāme cāpāto patitaṃ saraṃ
ativākyaṃ titikkhissaṃ dussīlo hi bahujjano.

Dantaṃ nayanti samitiṃ dantaṃ rājābhirūhati
danto seṭṭho manussesu yo ‘tivākyaṃ titikkhati.

Varam assatarā dantā ājānīyā ca sindhavā
kuñjarā ca mahānāgā, attadanto tato varaṃ."

Seperti seekor gajah di medan perang dapat menahan serangan panah
yang dilepaskan dari busur,
begitu pula Tathagata tetap bersabar terhadap cacian;
sesungguhnya, sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah.

Hanya gajah atau kuda terlatih yang dibawa ke hadapan orang banyak. Raja hanya menunggangi yang terlatih. Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri dan dapat bersabar terhadap cacian.

Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih, begitu juga kuda-kuda Sindhu
dan gajah-gajah perang milik para bangsawan;
tetapi yang jauh lebih baik dari semua itu
adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, mereka yang telah mencaci maki Sang Buddha menyadari kesalahannya yang datang untuk menghormat Beliau, beberapa di antara mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Monday, 10 May 2010

Kisah Seorang Bhikkhu Mantan Pelatih Gajah (Dhammapada 23 :323)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(323) Tidak dengan mengendarai tunggangan seperti itu
seseorang dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi (nibbana).
Namun orang yang telah dapat melatih, menaklukkan, dan mengendalikan dirinya sendiri
dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi itu (nibbana).
------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu kesempatan, beberapa bhikkhu melihat seorang pelatih gajah dan gajahnya di tepi sungai Aciravati. Saat itu, pelatih tersebut menemui kesulitan untuk mengendalikan gajahnya. Salah satu dari para bhikkhu tersebut, yang merupakan bekas pelatih gajah, berkata pada bhikkhu-bhikkhu yang lain bagaimana cara menanganinya dengan mudah. Pelatih gajah tersebut mendengarnya dan melakukan seperti yang dikatakan oleh bhikkhu tersebut. Dengan cepat gajah tersebut ditaklukkan. Setelah tiba kembali di vihara, para bhikkhu memberitahukan kejadian tersebut kepada Sang Buddha.

Sang Buddha mengundang bhikkhu bekas pelatih gajah tersebut dan berkata, "O bhikkhu yang sia-sia, yang jauh dari Magga (Jalan) dan Phala (hasil). Kau tidak mendapatkan apapun dengan menaklukkan gajah. Tak ada seorangpun yang dapat pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya (yaitu nibbana) dengan menaklukkan gajah; hanya ia yang telah menaklukkan dirinya sendiri yang dapat merealisasinya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Na hi etehi yānehi gaccheyya agataṃ disaṃ
yath` attanā sudantena danto dantena gacchati."

Tidak dengan mengendarai tunggangan seperti itu
seseorang dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi (nibbana).
Namun orang yang telah dapat melatih, menaklukkan, dan mengendalikan dirinya sendiri
dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi itu (nibbana).
--------


Notes:

 
Di sumber lain, dikatakan bikkhu tersebut menyarankan untuk menusuk badan gajah itu dengan tongkat di tempat-tempat tertentu.

Sunday, 9 May 2010

Kisah Seorang Brahmana Tua (Dhammapada 23 : 324)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(324) Pada musim kawin,
gajah ganas bernama Dhanapalaka sukar dikendalikan;
walaupun diikat kuat ia tetap tidak mau makan
karena merindukan hutan gajah asalnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------- 

Suatu ketika, hiduplah di Savatthi seorang brahmana tua yang memiliki uang delapan lakh. Ia memiliki empat putra. Waktu setiap putranya menikah, ia memberi satu lakh kepadanya. Jadi, ia telah memberikan empat lakh. Kemudian istri brahmana tua meninggal dunia. Putra-putranya datang kepadanya dan merawatnya dengan baik; bahkan mereka sangat mencintai dan menyayanginya. Dengan berlalunya waktu, entah bagaimana, mereka membujuknya untuk memberikan empat lakh yang tersisa. Sehingga akhirnya brahmana tua tidak mempunyai uang sama sekali.

Beberapa waktu kemudian, brahmana tua pergi tinggal bersama putra tertuanya. Setelah beberapa hari, menantu perempuannya berkata kepadanya, "Apakah engkau memberi tambahan uang beberapa ratus atau ribu pada putramu yang tertua? Tidakkah engkau mengetahui jalan menuju rumah putra-putramu yang lain?" Mendengar hal itu, brahmana tua menjadi sangat marah dan ia meninggalkan rumah putra tertuanya dan menuju rumah putra keduanya.

Kata-kata yang sama dibuat oleh istri putra keduanya dan orang tua tersebut pergi menuju ke rumah putra ketiganya dan akhirnya ke rumah putra ke empat atau putera termuda. Hal yang sama terjadi di rumah semua putranya. Sehingga, orang tua tersebut menjadi tak berdaya; kemudian, dengan membawa tongkat dan mangkuk, ia pergi kepada Sang Buddha memohon perlindungan dan nasihat.

Di vihara, brahmana tua tersebut menceritakan pada Sang Buddha bagaimana putra-putranya telah memperlakukannya dan meminta pertolongan dari Beliau. Kemudian Sang Buddha memberinya beberapa syair untuk diingat dan menyuruh untuk mengucapkannya di tempat banyak orang berkumpul.

Inti dari syair tersebut adalah "Empat putraku yang bodoh bagaikan raksasa. Mereka memanggilku: "Ayah! Ayah!" Tetapi, kata-kata itu hanya keluar begitu saja dari mulutnya dan bukan dari hatinya. Mereka pembohong dan penuh tipu daya. Mengikuti nasihat istrinya, mereka mengusirku dari rumah mereka. Sehingga, sekarang saya harus mengemis. Putra-putraku itu bahkan tidak melayaniku dengan lebih baik dibandingkan tongkatku ini."

Ketika brahmana tua itu mengucapkan syair-syair itu, banyak orang di keramaian tersebut mendengarnya, pergi dengan gusar menuju putra-putranya dan bahkan beberapa di antara orang-orang itu mengancam akan membunuh mereka.

Putra-putra brahmana tersebut menjadi ketakutan dan berlutut di kaki ayah mereka untuk meminta maaf. Mereka juga berjanji bahwa mulai hari itu mereka akan merawat ayah mereka dengan layak dan akan menghormati, mencintai, dan menghargainya. Kemudian mereka membawa ayah mereka ke rumah mereka; mereka juga memperingatkan istri-istri mereka untuk merawat sang ayah dengan baik. Bila para istri tidak merawatnya, maka mereka akan dipukul sampai mati. Setiap putra memberi sepotong kain dan mengirim satu nampan makanan setiap hari.

Brahmana tersebut menjadi makin sehat daripada sebelumnya dan berat badannya naik. Ia menyadari bahwa ia mendapat siraman manfaat seperti itu atas jasa Sang Buddha. Maka ia pergi menghadap Sang Buddha. Dengan rendah hati memohon Beliau untuk menerima dua nampan makanan dari empat nampan yang biasa ia terima setiap hari dari putra-putranya. Kemudian ia menyuruh putra-putranya untuk mengirim dua nampan makanan kepada Sang Buddha.

Suatu hari, putra tertua brahmana itu mengundang Sang Buddha ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Setelah bersantap, Sang Buddha memberi khotbah tentang manfaat yang diperoleh dengan merawat orang tua. Kemudian, Beliau bercerita kepada mereka tentang kisah seekor gajah Dhanapala yang merawat orang tuanya. Dhanapala ketika ditangkap merindukan orang tuanya yang ditinggal di hutan.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Dhanapālako nāma kuñjaro
kaṭukapabhedano dunnivārayo
baddho kabalaṃ na bhuñjati
sumarati nāgavanassa kuñjaro."

Pada musim kawin, gajah ganas bernama Dhanapalaka sukar dikendalikan;
walaupun diikat kuat ia tetap tidak mau makan
karena merindukan hutan gajah asalnya.

Brahmana tua beserta empat putra dan istri-istrinya mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Saturday, 8 May 2010

Kisah Raja Pasenadi dari Kosala (Dhammapada 23 : 325)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(325) Jika seseorang menjadi malas, rakus,
doyan tidur, yang suka merebahkan diri dan berguling
seperti babi besar gemuk kebanyakan makan,
orang yang bodoh ini akan terus menerus dilahirkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari, Raja Pasenadi dari Kosala pergi ke vihara untuk memberi hormat kepada Sang Buddha setelah raja bersantap dengan banyak. Raja mempunyai kebiasaan makan seperempat sangku (setengah gantang) nasi dan kari daging. Saat di hadapan Sang Buddha, raja merasa sangat mengantuk sehingga ia terus menerus terangguk-angguk menahan kantuk dan hampir tidak dapat mempertahankan dirinya untuk tetap terjaga. Kemudian ia berkata kepada Sang Buddha, "Bhante! Saya merasa sangat tidak nyaman setelah saya makan." Padanya, Sang Buddha menjawab, "O, Raja! Orang serakah banyak makan menderita dengan cara seperti itu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Middhī yadā hoti mahagghaso ca
niddāyitā samparivattasāyī
mahāvarāho va nivāpapuṭṭho
punappunaṃ gabbham upeti mando."

Jika seseorang menjadi malas, rakus,
doyan tidur, yang suka merebahkan diri dan berguling
seperti babi besar gemuk kebanyakan makan,
orang yang bodoh ini akan terus menerus dilahirkan.

Setelah mendengarkan khotbah Dhamma itu, Raja mengerti pesan tersebut, berangsur-angsur mengurangi jumlah makanan yang dimakannya. Hasilnya, ia menjadi jauh lebih bersemangat dan mudah berjaga, oleh karena itu ia juga berbahagia.
---------

Notes :


Kisah ini juga diceritakan dalam kisah ke 204.

Friday, 7 May 2010

Kisah Samanera Sanu (Dhammapada 23 : 326)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(326) Dahulu pikiran ini mengembara,
pergi kepada objek-objek yang disukai, diingini, dan ke mana yang dikehendaki.
Sekarang aku akan mengendalikannya dengan penuh perhatian,
seperti penjinak gajah mengendalikan gajah dengan kaitan besi.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari, Samanera Sanu didesak oleh para bhikkhu yang lebih tua untuk naik ke atas mimbar dan mengulang bagian-bagian dari Dhamma yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha. Ketika ia telah menyelesaikan pengulangannya, ia dengan sungguh-sungguh menyebut, "Semoga jasa-jasa yang telah saya peroleh hari ini dengan mengulang syair-syair mulia ini, dinikmati oleh ibu dan ayah saya".

Saat itu, dewa-dewa dan yakkhini yang pernah menjadi ibu samanera muda ini dalam kehidupan lampaunya turut mendengarkan pengulangannya. Ketika mereka mendengar kata-kata itu, yakkhini tersebut sangat gembira dan dengan cepat berteriak, "Putraku sayang, betapa bahagianya saya dapat ikut menikmati jasamu; kau telah melakukannya dengan baik putraku. Sangat baik! Sangat baik! (Sadhu! Sadhu)." Karena jasa Samanera Sanu, yakkhini sang ibu dalam kehidupan lampaunya itu menjadi sangat dihormati dan diberi tempat yang utama dalam perkumpulan mereka oleh para dewa dan yakkha lainnya.

Saat samanera tersebut tumbuh menjelang dewasa, ia ingin kembali pada kehidupan sebagai umat biasa; ia pergi ke rumahnya dan meminta pakaiannya dari ibunya. Ibunya tidak ingin ia meninggalkan Sangha dan mencoba membujuknya agar tidak melakukan hal itu, tetapi ia tetap teguh dengan keputusannya. Untuk mengulur waktu, ibunya menjanjikan untuk memberinya pakaian setelah bersantap makanan. Saat ibunya sedang sibuk memasak makanannya, yakkhini sang ibu dalam kehidupan lampau berpikir, "Jika putraku, Sanu meninggalkan Sangha, saya akan malu dan menjadi tertawaan di antara para yakkha dan dewa yang lain. Saya harus mencoba dan menghentikannya agar tidak meninggalkan Sangha."

Kemudian samanera muda `dirasuki` oleh yakkhini tersebut. Anak laki-laki itu berguling-guling di lantai, berkomat-kamit tidak keruan dengan air liur berleleran dari mulutnya. Sang ibu merasa ada bahaya; tetangga berdatangan dan mencoba untuk mengusir makhluk halus tersebut. Kemudian, raksasa itu berbicara, "Samanera ini ingin meninggalkan Sangha dan kembali pada kehidupan umat awam; jika ia berbuat demikian maka ia tidak akan dapat lepas dari dukkha." Setelah mengucapkan kata-kata ini, raksasa tersebut meninggalkan tubuh anak laki-laki tersebut dan anak tersebut menjadi normal kembali.

Melihat ibunya menangis dan para tetangga berkumpul di sekitarnya, ia bertanya apa yang telah terjadi. Ibunya menceritakan pada mereka, semua yang telah terjadi pada samanera muda anaknya dan juga menjelaskan pada mereka bahwa untuk kembali pada kehidupan umat awam setelah meninggalkan Sangha adalah sangat bodoh. Sesungguhnya, meskipun hidup, ia seperti orang mati.

Samanera tersebut kemudian menyadari kesalahannya. Dengan membawa tiga jubah dari ibunya, ia kembali ke vihara dan segera diterima sebagai seorang bhikkhu.

Ketika berkata tentang Samanera Sanu, Sang Buddha yang berharap untuk mengajar tentang latihan batin berkata, "Anakku, seseorang yang tidak mengendalikan pikirannya yang mengembara ke mana-mana, tidak dapat menemukan kebahagiaan. Karena itu, kendalikanlah pikiranmu seperti seorang pelatih gajah mengendalikan seekor gajah."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Idaṃ pure cittam acāri cārikaṃ
yenicchakaṃ yatthakāmaṃ yathāsukhaṃ
tad ajj’ ahaṃ niggahessāmi yoniso
hatthippabhinnaṃ viya aṃkusaggaho."

Dahulu pikiran ini mengembara,
pergi kepada objek-objek yang disukai, dingini,
dan ke mana yang dikehendaki.
Sekarang aku akan mengendalikannya
dengan penuh perhatian,
seperti penjinak gajah mengendalikan gajah
dengan kaitan besi.

Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, bhikkhu Sanu memahami `Empat kebenaran Mulia`. kemudian ia mencapai tingkat kesucian arahat.

Thursday, 6 May 2010

Kisah Gajah Bernama Paveyyaka (Dhammapada 23 : 327)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(327) Bergembiralah dalam kewaspadaan
dan jagalah pikiranmu dengan baik;
bebaskanlah dari cara-cara yang salah,
seperti seekor gajah melepaskan dirinya yang terbenam dalam lumpur.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Gajah Paveyyaka ketika berusia masih muda sangat kuat; kemudian tiba saatnya ia menjadi tua dan lemah. Suatu hari, seperti biasanya Paveyyaka tua pergi ke suatu kolam dan ia terjebak dalam lumpur serta tidak dapat mencapai tepi. Ketika Raja Pasenadi dari Kosala diberitahu tentang hal itu, ia mengirim seorang pelatih gajah untuk menolong gajah itu keluar dari lumpur. Pelatih gajah itu pergi ke tempat gajah itu berada. Di sana, ia memerintahkan pemusik untuk membuat irama perang. Mendengar suasana militer, gajah itu merasa seakan-akan ia berada di medan perang. Semangatnya bangkit, ia mengangkat dirinya sendiri dengan seluruh tenaganya, dan segera keluar dari lumpur.

Ketika para bhikkhu menceritakan kepada Sang Buddha tentang hal ini, Beliau berkata, "Para bhikkhu! Sama halnya dengan gajah itu menarik dirinya keluar dari lumpur, demikian pula, seharusnya kamu semua menarik dirimu sendiri keluar dari lumpur kekotoran batin."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

“Appamādaratā hotha, sacittam anurakkhatha,
duggā uddharath` attānaṃ paṃke sanno va kuñjaro.”

Bergembiralah dalam kewaspadaan dan jagalah pikiranmu dengan baik;
bebaskanlah dari cara-cara yang salah, seperti seekor gajah melepaskan dirinya yang terbenam dalam lumpur.

Para bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Tuesday, 4 May 2010

Kisah Sejumlah Bhikkhu (Dhammapada 23 : 328-330)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(328) Apabila dalam pengembaraanmu
engkau dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati
dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya.

(329) Apabila dalam pengembaraanmu 

engkau tak dapat menemukan seorang sahabat yang berkelakukan baik, pandai, dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, 
seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya, 
atau seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.

(330) Lebih baik mengembara seorang diri 

dan tidak bergaul dengan orang bodoh. 
Pergilah seorang diri dan jangan berbuat jahat, 
hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan), 
seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat para bhikkhu dari Kosambi terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengikuti ahli Vinaya, dan kelompok lainnya mengikuti guru Dhamma. Mereka tidak mau memperhatikan meskipun Sang Buddha mendesak mereka untuk berdamai. Sehingga Sang Buddha meninggalkan mereka dan menghabiskan masa vassa seorang diri berada di hutan, dimana gajah Palileyyaka melayani Beliau.

Akhir masa vassa Y.A. Ananda pergi ke dalam hutan disertai dengan lima ratus bhikkhu. Dengan meninggalkan para bhikkhu pada suatu jarak tertentu, Y.A. Ananda sendiri mendekati Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha menyuruh Ananda untuk memanggil para bhikkhu yang lain. Mereka semua datang, memberi hormat kepada Sang Buddha dan berkata, "Bhante! Bhante pasti telah mengalami kesulitan menghabiskan masa vassa seorang diri di hutan ini."

Sang Buddha kemudian menjawab, "Para bhikkhu, jangan berkata demikian, gajah Palileyyaka telah merawatku selama ini. Ia sesungguhnya satu teman yang sangat baik, teman yang sesungguhnya. Jika seseorang mempunyai teman baik seperti ini, ia seharusnya dekat dengannya, tetapi jika seseorang tidak dapat menemukan seseorang sahabat yang baik, lebih baik tinggal sendirian."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Sace labhetha nipakaṃ sahāyaṃ
saddhiṃcaraṃ sādhuvihāridhīraṃ
abhibhuyya sabbāni parissayāni
careyya ten’ attamano satīmā.

No ce labhetha nipakaṃ sahāyaṃ
saddhiṃcaraṃ sādhuvihāridhīraṃ
rājā va raṭṭhaṃ vijitaṃ pahāya
eko care mātaṅg’ araññe va nāgo.

Ekassa caritaṃ seyyo,
n’atthi bāle sahāyatā,
eko care na ca pāpāni kayirā
appossukko mātaṅg’ araññe va nāgo."

Apabila dalam pengembaraanmu engkau dapat menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai, dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati
dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya.

Apabila dalam pengembaraanmu engkau tak dapat menemukan seorang sahabat
yang berkelakukan baik, pandai, dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan seorang diri, seperti seorang raja yang meninggalkan negara
yang telah dikalahkannya, atau seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.

Lebih baik mengembara seorang diri dan tidak bergaul dengan orang bodoh.
Pergilah seorang diri dan jangan berbuat jahat, hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan),
seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan.
----------

Notes :

Bālā = orang bodoh, tidak bijaksana, dungu.

Dalam sutta-sutta ataupun artikel Dhamma, yang disebut dengan ‘orang bodoh’ adalah orang yang tidak bijaksana. Sama sekali bukan orang yang bodoh dalam artian kurang pandai di sekolah, atau kurang pandai matematika dll.

Orang bodoh adalah orang yang tidak bijaksana, yang lebih senang mundur daripada maju dalam kebijaksanaan, dan tidak dapat dinasehati.

Banyak orang yang ketika mendengar ayat ini, lalu bertanya, kalau semua orang maunya bergaul dengan orang yang setara / lebih baik, lalu siapa yang akan menolong yang lebih bodoh? Bukannya ini namanya sombong dan pilih-pilih teman?

Tentu saja kita harus melihat kemampuan diri kita sendiri, jika kita sanggup menasehati dan bersabar, dan yang dinasehati mau berubah, ada keinginan untuk memperbaiki diri, maka adalah hal yang sangat baik untuk menolong orang-orang seperti ini.
Jika kita jauh lebih kuat dibandingkan kebodohan dia, mungkin kita bisa mengangkat dia dari kebodohan itu.
Tetapi jika dengan bergaulnya kita dengan orang bodoh, ternyata kita malah terseret oleh kebodohannya, sebaiknya janganlah bergaul dengan orang bodoh itu.

Ibarat hendak menolong orang yang tenggelam, kalau kemampuan renang kita kurang dan tidak tahu teknik yang tepat untuk menolong, bisa-bisa kita juga ikut tenggelam bersamanya.

Monday, 3 May 2010

Kisah Mara (Dhammapada 23 : 331-333)

XXIII. Naga Vagga - Gajah

(331) Sungguh bahagia mempunyai kawan pada saat kita membutuhkannya;
sungguh bahagia dapat merasa puas dengan apa yang ada;
sungguh bahagia memiliki kebajikan ketika  menjelang kematian;
dan sungguh bahagia dapat mengakhiri penderitaan.

(332) Berlaku baik terhadap ibu, 

berlaku baik terhadap ayah, juga merupakan kebahagiaan. 
Berlaku baik terhadap pertapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini; 
berlaku baik terhadap para Ariya juga merupakan kebahagiaan.

(333) Moral (Sila) akan memberikan kebahagiaan sampai usia tua; 

keyakinan yang telah ditanam kuat akan memberikan kebahagiaan; 
kebijaksanaan yang telah diperoleh akan memberikan kebahagiaan; 
tidak berbuat jahat akan memberikan kebahagiaan.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat, ketika Sang Buddha sedang berdiam di dekat Himalaya. Beliau melihat bahwa banyak orang ditindas oleh beberapa raja yang lalim. Kemudian muncul pikiran dalam batin Beliau: “Apakah tidak mungkin untuk memerintah tanpa membunuh atau menyebabkan pembunuhan, tanpa menaklukkan dengan kekerasan atau menyebabkannya, tanpa kesedihan atau menyebabkan kesedihan, dengan keadilan dan kebenaran?”

Mara mengetahui apa yang Sang Buddha pikirkan dan berpikir, “Gotama berpikir demikian, pasti karena ia menginginkan untuk berdaulat dan memerintah. Dan hal yang disebut kedaulatan ini adalah kesempatan dimana kelalaian dapat timbul. Jika ia berdaulat, aku mungkin akan dapat menangkap kelengahannya! Aku akan pergi dan membangkitkan ambisinya.”

Maka Mara kemudian mendorong Sang Buddha agar memerintah sebagai seorang raja, “Biarlah Sang Sugata memerintah, tanpa membunuh ataupun menyebabkan pembunuhan, tanpa menaklukkan dengan kekerasan maupun menyebabkannya, tanpa menyebabkan kesedihan, dengan keadilan dan kebenaran”.

Sang Buddha berkata, “Mara jahat, apa yang kamu lihat dalam diriku hingga kamu berkata seperti itu?” Mara berkata, “Bhante, Sang Bhagava telah mengembangkan kemampuan Iddhi dengan sempurna. Jika Sang Buddha menginginkan gunung Himalaya berubah menjadi emas, maka gunung itupun akan berubah menjadi emas. Sayapun akan menggunakan kekayaan seperti itu untuk melakukan banyak hal. Demikianlah engkau seharusnya memerintah dengan adil dan bijaksana”

Kepadanya, Sang Buddha menjawab, “Satu gunung emas, bahkan emas paling murnipun, tidak akan cukup bagi seseorang. Mengetahui hal ini, ia seharusnya meninggalkannya. Bagaimana mungkin seseorang yang telah melihat darimana datangnya penderitaan mengabdikan diri kepada kesenangan indria? Biarlah orang yang telah mengetahui dasar keberadaan makhluk di dunia yaitu ‘kemelekatan’, melatih diri untuk mengalahkannya.”

Dengan syair ini Sang Buddha bangkit dan memperingatkan Mara. Kemudian Ia berkata, “Aku akan menasehatimu lagi, Mara jahat. Aku tidak memiliki kesamaan denganmu. Demikianlah nasehatku untukmu”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Atthamhi jātamhi sukhā sahāyā
tuṭṭhī sukhā yā itarītarena
puññaṃ sukhaṃ jīvitasaṃkhayamhi
sabbassa dukkhassa sukhaṃ pahānaṃ.

Sukhā matteyyatā loke atho petteyyatā sukhā
sukhā sāmaññatā loke atho brahmaññatā sukhā.

Sukhaṃ yāvajarā sīlaṃ
sukhā saddhā patiṭṭhitā
sukho paññāya paṭilābho
pāpānaṃ akaraṇaṃ sukhaṃ."

Sungguh bahagia mempunyai kawan pada saat kita membutuhkannya;
sungguh bahagia dapat merasa puas dengan apa yang ada;
sungguh bahagia memiliki kebajikan ketika menjelang kematian;
dan sungguh bahagia dapat mengakhiri penderitaan

Berlaku baik terhadap ibu, berlaku baik terhadap ayah, juga merupakan kebahagiaan.
Berlaku baik terhadap pertapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini;
berlaku baik terhadap para Ariya juga merupakan kebahagiaan.

Moral (Sila) akan memberikan kebahagiaan sampai usia tua;
keyakinan yang telah ditanam kuat akan memberikan kebahagiaan;
kebijaksanaan yang telah diperoleh akan memberikan kebahagiaan;
tidak berbuat jahat akan memberikan kebahagiaan.