Showing posts with label 20. Magga Vagga. Show all posts
Showing posts with label 20. Magga Vagga. Show all posts

Thursday, 10 June 2010

Kisah Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 20 : 273-276)

XX. Magga Vagga - Jalan

(273) Di antara semua jalan, maka `Jalan Mulia Berfaktor Delapan` adalah yang terbaik;
di antara semua kebenaran, maka `Empat Kebenaran Mulia` adalah yang terbaik.
Di antara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik;
dan di antara semua makhluk hidup, maka orang yang `melihat` (Buddha) adalah yang terbaik.

(274) Inilah satu-satunya `Jalan`.
Tidak ada jalan lain yang dapat membawa pada kemurnian pandangan.
Ikutilah jalan ini,
yang dapat mengalahkan Mara (penggoda).

(275) Dengan mengikuti `Jalan` ini,
engkau dapat mengakhiri penderitaan.
Dan jalan ini pula yang Kutunjukkan setelah Aku mengetahui
bagaimana cara mencabut duri-duri (kekotoran batin).

(276) Engkau sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata hanya menunjukkan `Jalan`.
Mereka yang tekun bersemadi dan memasuki
`Jalan` ini akan terbebas dari belenggu Mara.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Lima ratus bhikkhu, setelah mengikuti Sang Buddha ke sebuah desa, pulang ke Vihara Jetavana. Sore harinya mereka berbicara tentang perjalanannya, khususnya keadaan tanah apakah datar atau berbukit, lembek atau berbatu, dan lainnya.

Sang Buddha menghampiri mereka, seraya berkata, "Para bhikkhu, jalan yang kalian bicarakan adalah keadaan di luar diri kalian. Seorang bhikkhu seharusnya hanya terpusat pada `jalan utama` (jalan Ariya) dan berusaha keras berbuat sesuai dengan `Jalan Ariya` yang membimbing kita merealisasi kedamaian abadi (nibbana)."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Maggān’ aṭṭhaṅgiko seṭṭho saccānaṃ caturo padā,
virāgo seṭṭho dhammānaṃ dipadānañ ca cakkhumā.

Es’ eva maggo n’ atth’ añño
dassanassa visuddhiyā,
etaṃ hi tumhe paṭipajjatha,
Mārass’ etaṃ pamohanaṃ

Etaṃ hi tumhe paṭipannā
Dukkhass’ antaṃ karissatha,
akkhāto vo rnayā maggo
aññāya sallasanthanaṃ.

Tumhehi kiccaṃ ātappaṃ, akkhātāro tathāgatā,
paṭipannā pamokkhanti jhāyino Mārabandhanā."

Di antara semua jalan, maka `Jalan Mulia Berfaktor Delapan` adalah yang terbaik;
di antara semua kebenaran, maka `Empat Kebenaran Mulia` adalah yang terbaik.
Di antara semua keadaan, maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik;
dan di antara semua makhluk hidup, maka orang yang 'melihat' (Buddha) adalah yang terbaik.

Inilah satu-satunya `Jalan`.
Tidak ada jalan lain yang dapat membawa pada kemurnian pandangan.
Ikutilah jalan ini,
yang dapat mengalahkan Mara (penggoda).

Dengan mengikuti `Jalan` ini,
engkau dapat mengakhiri penderitaan.
Dan jalan ini pula yang Kutunjukkan setelah Aku mengetahui
bagaimana cara mencabut duri-duri (kekotoran batin).

Engkau sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata hanya menunjukkan `Jalan`.
Mereka yang tekun bersemadi dan memasuki `Jalan` ini
akan terbebas dari belenggu Mara.

Kelima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
----------

Notes:

Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani):
1. Kebenaran Mulia tentang Dukkha (Dukkha Ariya Sacca),
2. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha (Dukkha Samudaya Ariya Sacca),
3. Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Ariya Sacca), dan
4. Kebenaran Mulia tentang Jalan Yang Menuju Terhentinya Dukkha (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca).

Jalan menuju terhentinya Dukkha ini disebut Jalan Mulia Beruas 8 :
Panna/kebijaksanaan :
1. Pengertian Benar (samma-ditthi)
2. Pikiran Benar (samma-sankappa)

Sila :
3. Ucapan Benar (samma-vaca)
4. Perbuatan Benar (samma-kammanta)
5. Pencaharian Benar (samma-ajiva)

Samadhi :
6. Daya-upaya Benar (samma-vayama)
7. Perhatian Benar (samma-sati)
8. Konsentrasi Benar (samma-samadhi)

Wednesday, 9 June 2010

Kisah Yang Berhubungan Dengan Anicca (Dhammapada 20 : 277)

XX. Magga Vagga - Jalan

(277) Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya.
Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini,
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah menerima pelajaran meditasi dari Sang Buddha, lima ratus bhikkhu pergi ke sebuah hutan untuk berlatih meditasi. Tetapi mereka mengalami sedikit kemajuan, sehingga mereka kembali kepada Sang Buddha dan menanyakan pelajaran meditasi lainnya yang akan membuat mereka mencapai hasil yang lebih baik. Setelah mengamati, Sang Buddha mengetahui bahwa pada masa Buddha Kassapa, bhikkhu-bhikkhu itu bermeditasi dengan objek ketidakkekalan.

Kemudian Beliau berkata, "Para bhikkhu, semua keadaan yang berkondisi pasti akan mengalami perubahan dan akan rusak, oleh karena itu tidaklah kekal."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

”Sabbe saṃkhārā aniccā” ti yadā paññāya passati
atha nibbindatī dukkhe, esa maggo visuddhiyā

Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya.
Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini;
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
----------
 

Notes :
 
Anicca, Dukkha, dan Anatta, dikenal sebagai hukum Tilakkhana (Tiga corak/karakteristik).

Anicca artinya tidak kekal, selalu berubah.

‘Sabbe sankhara anicca’ berarti; segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur-unsur akan selalu mengalami perubahan dan tidak kekal. Misalnya, awan, tumbuhan, benda-benda mati, makhluk hidup, dll.
Terutama yang dibahas disini adalah Panca Khanda/Lima Khanda (disebut juga lima agregat atau lima kelompok kehidupan) yaitu : Rupa (badan jasmani), viññana (kesadaran), sañña (pencerapan), sankhara (pikiran/bentuk-bentuk pikiran), dan vedana (perasaan). Tubuh disini termasuk juga tubuh para dewa/brahma/penghuni surga. (Lihat juga notes kisah 150).


Semua ini bersifat selalu berubah, tidak kekal. Semua fenomena/kejadian/keadaaan/kondisi yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu: timbul, berlangsung, dan kemudian berakhir/lenyap/berubah ke bentuk lain.

Dengan mengamati bahwa hal disekeliling kita dan juga panca khanda kita adalah anicca, dan kemudian sering merenungkannya hal ini akan membawa kebijaksanaan. Kita tidak akan terombang-ambing oleh perasaan negatif dan kemelekatan yang tidak perlu.

Misalnya, jika kita tahu dan benar-benar menyelami bahwa ada gravitasi; semua benda dilempar akan jatuh. Maka ketika benda2 itu jatuh, kita tidak menyesali dan mengutuk kejadian itu dan berharap pot kesayangan kita tetap ngambang saja diudara. Karena kita tahu mengharapkan demikian adalah hal yang mustahil.
Demikian pula, jika ada kejadian menyedihkan seperti kematian sanak saudara, kita diingatkan kembali, bahwa ‘sabbe sankhara anicca’, segala sesuatu yg berkondisi adalah tidak kekal adanya. Bahwa memang rupa khanda/jasmani kita tidak kekal, selalu berubah, dari kecil sampai tua, sakit, hingga akhirnya mati. Jika kita sungguh-sungguh mengerti, bukan hanya sekadar tahu, kita dapat melihat peristiwa itu seperti melihat benda jatuh.

Demikian pula nama khanda/batin kita yaitu; kesadaran, pencerapan, perasaan, pikiran dan bentuk-bentuk pikiran kita. Selalu berubah dan tidak kekal; timbul, berlangsung, dan kemudian berakhir/lenyap/berubah ke bentuk lain.


Ketika ada yang menggembirakan ataupun menyedihkan, jika kita mengerti sifat dasar dari 4 hal tadi : tidak kekal dan selalu berubah, maka perasaan kita tidak perlu seperti roller coaster. Ketika ada hal yang amat sangat menyedihkan atau menyebalkan, kita tidak terbawa emosi berlarut-larut. Tidak perlu marah-marah atau histeris seperti pemain sinetron. Atau sampai kalap memukul orang. Capek sendiri nanti. Padahal sebentar lagi perasaan itu akan lewat. Tentunya asalkan jangan disirami bensin lagi dengan mengingat-ingat dan dirasa-rasakan lagi.

Seperti halnya perasaan sedih, marah dll akan timbul dan tenggelam, demikian pula perasaan gembira. Setelah gembira lalu jadi muram, karena ternyata kegembiraan itu cuma bertahan sebentar, dan biasanya kita mengharapkan kegembiraan itu terus menerus bertahan.. terus menerus high. Ketika kegembiraan itu hilang, kita merasa muram dan hampa. Padahal memang tidak bisa high terus. Perasaan selalu berubah, naik turun, timbul dan tenggelam. Orang yang tidak mengerti sifat alami dari Panca Khanda, banyak yg akhirnya lari ke alkohol dan narkotik, karena mengharapkan high terus.

Lalu, apakah dengan merenungkan Anicca dan mempraktekkan hal diatas kita menjadi orang yang pesimis atau membosankan? Tentu saja tidak. Coba lihat His Holiness Dalai Lama, beliau selalu penuh senyum dan tawa, penuh kasih dan kebahagiaan.

Misalnya orang awam tingkat kebahagiannya dari skala 1 s/d 10, dimana 1 = amat sangat sedih, 6 = netral, 10 = amat sangat bahagia.


Kalau dilihat secara grafik, mungkin orang awam grafiknya bisa naik turun dari 1 -10, mudah terbawa emosi, hari ini sedih sekali (seharian) lalu besoknya gembira sekali (walau hanya lima menit), lusanya sedih lagi, kesal lagi... lalu happy lagi. Kena senggol sedikit; marah, kesal.  Disenyumi cewek/cowok cakep rasanya seperti terbang di langit. Naik turun seperti roller coaster.

Tetapi orang yang berlatih dan memahami sifat anicca, grafiknya mungkin hanya berkisar 5 (kalau ada problem) sampai 8 (ketika ada kabar gembira).. atau mungkin malah konstan 8 terus atau 9 terus, terlepas dari apapun situasi yang dihadapi, batinnya tidak terpengaruh. Bukankah lebih baik begitu ?

Roller coaster ini bisa dialami beberapa kali dalam sehari atau bahkan dalam satu jam. Bisa saja pagi hari merasa senang, waktu siang depresi, sore senang lagi. Pada tahap latihan, tentunya kita masih merasa up and down, wajar. Prinsipnya adalah berapa cepat kita bisa mencapai kembali keseimbangan batin. Misal, pada tahap awal kalo merasa down bisa 1 hari atau lebih. Lama-lama ‘down time’ berkurang menjadi beberapa jam saja. Bagus.


Tahap berikut adalah melatih awareness/kesadaran sampai kita bisa menyadari sebelum perasaan itu timbul. ‘Ah, perasaan sedih (marah, kesal, dll) akan timbul. Kenapa perasaan ini timbul? Akhirnya tidak jadi sedih, marah atau kesal. Tapi ini butuh waktu dan proses cukup lama, tergantung seberapa rajin kita ingat dan merenungkannya. Jangan putus asa kalau 2-3 bulan mendatang masih tetap belum bisa :)

Jika kita sebagai seorang Buddhist, kita jadi pesimis, tidak bahagia; berarti ada pemahaman kita yang keliru.

So, mari kita ingat selalu : sabbe sankhara anicca :)

Tuesday, 8 June 2010

Kisah Yang Berhubungan Dengan Dukkha (Dhammapada 20 : 278)

XX. Magga Vagga - Jalan

(278) Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha.
Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini,
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisahnya sama dengan kisah Anicca. Sang Buddha mengetahui bahwa terdapat kelompok 500 bhikkhu yang lain, dahulu telah bermeditasi dengan objek dukkha. Beliau berkata, "Bhikkhu, kumpulan khanda (kelompok kehidupan; jasmani dan batin (perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran dan kesadaran) adalah berat, sulit untuk dipikul, dan tidak memuaskan, maka segala kelompok kehidupan (khandha) adalah dukkha."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

”Sabbe saṃkhārā dukkhā” ti yadā paññāya passati
atha nibbindatī dukkhe, esa maggo visuddhiyā

Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha.
Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini,
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
--------


Notes :

Dukkha (pali) = duhkha (sanskrit).

Tidak ada satu kata dari bahasa Inggris yang dapat mencakup keseluruhan maksud dari kata dukkha. Beberapa penterjemah mencoba menggunakan kata suffering (penderitaan), unsatisfactoriness (ketidakpuasan), stress, dll. Tiap kata ini terkadang cocok dalam suatu konteks yang tertentu, tetapi kadang tidak cocok dalam konteks yang berbeda. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, karena kebanyakan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia diambil dari buku-buku bahasa Inggris maka hal yang sama juga terjadi. Pada umumnya dukkha diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi sesungguhnya kurang tepat karena kata dukkha mencakup hal yang lebih luas daripada satu kata penderitaan saja.

Apa sih sebenarnya arti kata dukkha?

Berdasarkan etimologi (asal usul kata), dalam bukunya The Bhagavad Gita, Winthrop Sargeant mengulas asal kata sukha dan duhkha :


Suku bangsa Arya dijaman kuno dulu yang membawa bahasa Sanskrit ke India, adalah bangsa pengembara, yang mengembangbiakkan kuda dan ternak, yang bepergian dengan kereta yang ditarik kuda ataupun lembu. ‘Su’ dan ‘dus’ adalah awalan kata yang menunjukkan baik, dan buruk. Kata ‘kha’, dalam perkembangan bahasa Sanskrit belakangan diartikan sebagai ‘langit’, ‘ether/udara/yang mengisi ruang’, atau ‘ruang’. Tetapi sebenarnya pada awalnya ‘kha’ berarti ‘lubang’, khususnya lubang poros roda kereta suku bangsa Arya tersebut.  Jadi, sukha, tadinya berarti, ‘memiliki poros roda yang baik’, dan duhkha berarti ‘memiliki poros roda yang buruk’ dimana tentu saja membawa ketidaknyamanan dalam berkendara.

Dalam Sanskrit klasik, kata duhkha sering dibandingkan dengan alat pembuat pot tanah liat (pernah menonton film Ghost-nya Demi Moore?) dimana putaran rodanya  berkerinyit dan tidak berputar dengan halus. 


Tentunya hasil pot nya jadi tidak rata dan jelek.

Lawan kata dari duhkha adalah sukha, yang membuat kita membayangkan alat si pembuat tanah liat berputar dengan halus, rata, konsisten dan tidak berisik.

Di China, penggambaran yang serupa juga ditemukan dalam penjelasan mengenai dukkha, yaitu kereta yang salah satu rodanya sedikit rusak, sehingga sais/penumpangnya terlempar-lempar tiap kali bagian yang rusak itu kena tanah.

Dalam bahasa Indonesia, kita menemui kata ‘suka’ dan ‘duka’ yang tentu saja adalah berasal dari bahasa sanskrit (mengingat eratnya sejarah hubungan antara nusantara dengan India di jaman Hindu Buddha). Namun seiring dengan berjalannya waktu, hilangnya pengaruh Buddhisme di Nusantara, dan jarang digunakan, kata suka dan duka telah bergeser dari aslinya seperti dalam konteks Dukkha dalam Kebenaran Mulia yang pertama.

Secara teori, lawan kata suka adalah duka, tetapi kenyataannya kita lebih sering mengatakan ‘suka’ dan ‘tidak suka’. Dan kita cenderung menggunakan kata duka dalam lingkup yang lebih sempit seperti berduka cita (ketika orang meninggal).

Jadi sesungguhnya, dukkha tidak selalu tepat jika diterjemahkan sebagai ‘penderitaan’. Dukkha mencakup hal yang lebih luas dan tidak melulu penderitaan yang terlalu sempit lingkupnya. Apakah si pembuat pot tanah liat ‘menderita’ jika  alatnya berisik dan hasilnya tidak rata?

Tentunya tidak; hanya tidak memuaskan, tidak sempurna, tidak ideal, terganggu, tidak suka, mungkin kesal karena harus mengulang, tetapi saya rasa tidak menderita seperti pengertian penderitaan pada umumnya. Kamu suka, naik kereta yang rodanya rusak sedikit ? Tentu tidak suka kan? Duka kan? :) Dari cuma awalnya terganggu sedikit, hingga bisa meledak emosinya kalau harus naik kereta itu sampai 12 jam.


Kata ‘penderitaan’ memberi kesan emosi yang negatif, yang pada akhirnya memberi kesan bahwa Buddhisme itu adalah pesimis (terutama bagi orang-orang non-Buddhist atau pemula). Sesungguhnya ajaran Sang  Buddha bukanlah pesimistik ataupun optimistik, tetapi realistik.


Beberapa penterjemah bahasa Inggris sebagian tetap menggunakan kata ‘dukkha’ dan tidak menterjemahkannya untuk menghindari penyempitan arti dari kata dukkha itu sendiri.

Dalam kotbah pertama Sang Buddha, yaitu dalam Dhammacakkappavattana Sutta, Samyutta Nikaya 56.11, Sang Buddha mengatakan,


“O bhikkhu, inilah kebenaran mulia tentang Dukkha : kelahiran adalah dukkha, menjadi tua adalah dukkha, kematian adalah dukkha; kesedihan, ratapan, kesakitan, kepedihan, kekecewaan adalah dukkha; berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah dukkha; berpisah dengan yang disenangi adalah dukkha; tidak mendapat apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya, Panca Khanda adalah dukkha.”

Ingat lho, Sang Buddha TIDAK pernah mengatakan HIDUP INI adalah dukkha, dan juga tidak menyimpulkan bahwa hidup adalah dukkha.


Masih banyak sekali orang yang tergesa-gesa mengambil kesimpulan keliru dengan mengatakan hidup ini adalah dukkha.


Hal ini sama gegabahnya dengan menyatakan semua yang berkaki dua adalah manusia, berdasarkan fakta bahwa manusia kakinya dua.

Dengan memahami adanya dukkha, kita kemudian dapat menuju langkah berikutnya, yaitu mengerti sebab-sebab dukkha, lalu mengetahui bahwa dukkha tersebut dapat dilenyapkan, dan kemudian menerapkan cara melenyapkan dukkha tersebut; yaitu Jalan Utama Beruas 8 :


Panna/kebijaksanaan :
1. Pengertian Benar (samma-ditthi)
2. Pikiran Benar (samma-sankappa)


Sila :
3. Ucapan Benar (samma-vaca)
4. Perbuatan Benar (samma-kammanta)
5. Pencaharian Benar (samma-ajiva)


Samadhi :
6. Daya-upaya Benar (samma-vayama)
7. Perhatian Benar (samma-sati)
8. Konsentrasi Benar (samma-samadhi)

Non-buddhist mungkin akan berpikir : oh agama buddha itu pesimis, sedikit-sedikit bicara dukkha. Apakah betul kita pesimis? Orang pesimis akan berhenti di kesimpulan hidup ini adalah dukkha (padahal kesimpulan yg salah) dan menjadi depresi.


Tetapi seorang buddhist yang benar, mengetahui fakta bahwa ada dukkha adalah baru step 1, baru langkah pertama, ia akan maju menuju langkah-langkah selanjutnya dan melenyapkan dukkha tersebut.

Ibaratnya seperti manusia yang pertama-tama haruslah mengetahui dan mengakui bahwa ada hukum gravitasi sebelum mereka memikirkan dan akhirnya menemukan cara untuk menciptakan pesawat terbang melawan gravitasi, bahkan menciptakan ruang tanpa gravitasi.

Monday, 7 June 2010

Kisah Yang Berhubungan Dengan Ketanpa-intian (Anatta) (Dhammapada 20 : 279)

XX. Magga Vagga - Jalan

(279) Segala sesuatu yang berkondisi adalah tanpa inti.
Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini,
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Kisahnya sama dengan kisah Anicca dan kisah Dukkha. Sang Buddha mengetahui bahwa terdapat 500 bhikkhu lain, dahulu telah bermeditasi dengan obyek Anatta. Beliau berkata, " kumpulan khanda (kelompok kehidupan; jasmani dan batin (perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran dan kesadaran) adalah tanpa inti. Hal tersebut bukan subyek keakuan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

”Sabbe dhammā anattā” ti yadā paññāya passati
atha nibbindatī dukkhe, esa maggo visuddhiyā”

Segala sesuatu yang berkondisi adalah tanpa inti.
Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini,
maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan.
Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
---------

Notes :

 
Anicca, Dukkha, dan Anatta, dikenal sebagai hukum Tilakkhana (Tiga corak/karakteristik).

Di antara Tilakkhana (Tiga corak/karakteristik), anatta mungkin adalah yang paling susah  dijelaskan dan dipahami. Kita sudah sangat terkondisi dengan konsep aku, milikku, perasaanku, dll yang terbentuk sebagai hasil kombinasi ‘kemelekatan terhadap pandangan salah tentang aku’ dan konsep yang diajarkan/ditanamkan kepada kita sejak kita kecil baik dari keluarga, pendidikan maupun lingkungan sosial.

Secara singkat, anatta seringkali diterjemahkan sebagai tanpa aku, tanpa inti, tanpa jiwa yang kekal, ‘lenyapnya’ aku, shunyata. Penggunaan definisi singkat bisa menimbulkan kesalahpahaman, kadang diartikan secara literal yang berkonotasi negatif bahwa secara individual kita tidak ada.

Anatta seharusnya dipahami dari serangkaian Tilakkhana, yaitu sabbe sankhara anicca, sabbe sankhara dukkha, dan sabbe dhammā anattā  - segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi adalah tanpa inti yang abadi/kekal.

Di notes kisah sebelumnya, kita memahami bahwa manusia merupakan kumpulan khanda yang selalu berubah setiap saat, pikiran/perasaan/kesadaran/pencerapan yang timbul tenggelam, selalu berubah, tidak sama.
Jika semuanya selalu berubah silih berganti, bukankah itu hal yang tidak kekal dan tidak dapat disebut inti/jiwa/roh yang kekal? Mari kita stop sejenak, dan pikir, apa dan dimanakah jiwa kita itu? Di dalam hati/jantung, atau di otak, atau di jempol? J Seperti apa bentuknya? Tidak ada, dan kita tak tahu bentuknya. Mengapa? Karena memang tidak ada sesuatu benda seperti misalnya biji di tengah buah-buahan yang bisa kita sebut ‘jiwa’. Jiwa hanyalah istilah untuk memudahkan berkomunikasi.

Demikian pula dari sisi jasmani, penelitian ilmiah menyatakan tubuh manusia terbentuk dari 100 trilyun sel dan setiap detik, tubuh kita melalui proses kematian karena setiap 1 menit, ada jutaan sel yang mati dan diganti.

Orang sering salah mengerti akan konsep anatta, sehingga timbul pertanyaan : kalau tidak ada aku, lalu siapa yang lahir lagi? Siapa yang akan menerima buah karma?

Siapa yang lahir lagi? Dalam konteks kelahiran kembali, kesadaran yang berpindah atau arus kesadaran (samvattanika-viññana) adalah salah satu penyebab munculnya kelahiran baru. Perumpamaan yang dipakai adalah berpindahnya api dari satu lilin ke lilin yang lain. Jika api di lilin A sudah mau padam (misal karena lilinnya habis), lalu dekatkan sumbu lilin B ke api lilin A, maka lilin B akan menyala. Apakah api di lilin A sama atau tidak sama dengan api lilin B? Tidak sama, karena faktor udara, sumbu dan lilinnya pun tidak sama, tetapi merupakan kesinambungan dari lilin A. Jadi dibilang sama juga tidak, dibilang tidak sama juga tidak tepat.

Apakah kamu sama dengan kamu waktu masih SD dulu? Siapa yang belajar berhitung? Dan siapa yang sekarang sudah menuai hasil karena bisa berhitung? Bukankah tetap kamu juga? Semua sudah berubah, tubuh sudah berubah, cara pikir sudah berubah, tetapi secara umum ya tetap kamu juga yang bisa berhitung. Sama halnya dengan karma, ya kamu juga yang akan menerima buahnya.


Lalu, jika demikian, apakah saya saat ini sama dengan saya kemarin atau saya yang besok? Jawabannya adalah tidak, ‘aku’ saat ini bahkan tidak sama dengan ‘aku’ detik yang lalu karena kombinasi kumpulan khanda (maupun khanda itu sendiri) senantiasa berubah.


Jika demikian adanya, dimanakah inti yang kekal? Tidak ada inti yang kekal. Tetapi juga bukan nihilisme.

Ini adalah keunikan ajaran Sang Buddha. Agama lain mengajarkan konsep inti/jiwa yang kekal (yang akan menjalani hukuman di neraka abadi atau menikmati surga abadi) sebagai bagian integral dari doktrin ajaran. Inti yang kekal ini biasanya disebut jiwa, roh, dll yang kekal, yang sifatnya tidak berubah dan tidak terbatas oleh waktu (timeless soul, eternal inner core).


Tetapi Buddhisme menyatakan bahwa sabbe dhamma anatta : tiada inti/jiwa yang kekal.

Kemelekatan terhadap konsep ‘inti diri yang kekal’ adalah salah satu kategori kemelekatan yang dijelaskan dalam Paticca Samuppada (Paticca Samuppada Vibhanga Sutta). Sang Buddha mengajarkan bahwa pandangan salah tentang aku yang kekal menyebabkan adanya pikiran negatif ‘milik saya’, nafsu keinginan, kemelekatan, kebencian dan kekotoran batin yang lain.

Untuk menghindari kebingungan, perlu dipahami bahwa ada dua kategori ‘kebenaran/truth’: kebenaran berdasarkan konvensi, persetujuan atau pandangan umum (sammuti sacca) dan kebenaran yang tertinggi/sesungguhnya berdasarkan realitas (paramattha sacca).

Di tataran ‘konvensi/pemahaman umum’, untuk memudahkan berkomunikasi, kita menyebut ‘aku’, ‘saya’, kita menempelkan label di Nama & Rupa kita. Misalnya, saya sedang makan, saya merasa sedih dll.  Bisa dibayangkan betapa ruwet dan makan waktu kalo kita bilang ‘kumpulan khanda’ lagi makan. Tetapi, sebagai paramattha sacca tidak ada inti/aku/jiwa yang kekal.


Karena sejak bayi kita sudah diajarkan berbicara, ini aku, ini kamu, ini meja, ini mata, ini telinga, ini kucing, ini sendok, konsep ini sudah masuk ke otak kita. Kita tidak lagi mempertanyakannya. Kita lupa bahwa ini hanya konsep, kesepakatan bersama untuk melabel suatu benda untuk memudahkan berkomunikasi. Kita berpikir jiwa kita adalah nyata dan real, dan dari sanalah dukkha timbul, dari pengertian yang salah, kita berpikir ada aku/jiwa/roh yang kekal, yang real. Biasanya, orang-orang mengira jiwa/roh/akunya adalah yang berpikir/yang melakukan pemikiran di otaknya atau yang merasa dihatinya, atau yang mengingat, atau yang menyadari sesuatu. Sebagian besar orang malah tidak pernah memikirkan sebenarnya yang mana sih yang dia anggap ‘aku’? Aku yah aku.. gitu jawabnya.. hehe..


Mereka tidak pernah memperhatikan bahwa perasaan, pencerapan, pemikiran, dan kesadarannya bukanlah sesuatu yang kekal atau jiwa/roh yang kekal. Bahwa perasaan, pemikiran, pencerapan, dan kesadaran yang timbul tidak perlu diidentifikasikan sebagai aku.

Lalu, apa manfaat yang dapat kita petik atas pengertian anatta ini?
Jelas, untuk tingkat tingginya, jika kita dapat menembus anatta, berarti kita telah menembus pandangan salah, dan sudah dijalur yang benar menuju kesucian.

Untuk tingkat sederhana, penerapan sehari-harinya, tidak perlu jauh-jauh bicara kesucian; pemahaman tentang anatta sangat berguna untuk transformasi atau mengubah diri kita ke arah yang jauh lebih positif. Sifat-sifat pemarah, tidak sabaran, penakut, kejam, suka berbohong, malas, iri hati, phobia, sering panik,  dll, masih dapat diubah dan diperbaiki, jika kita berusaha. Ini juga berarti, jika ada trauma masa lalu, entah di masa kecil ataupun di masa remaja / sekolah, kita tidak perlu mengidentifikasi diri dengan masalah itu, tidak perlu membawa masalah itu terus sampai kita dewasa dan tua.
Ini berarti, setiap manusia memiliki potensi untuk berubah ke arah yang lebih positif. Berhasil atau tidaknya tergantung seberapa pengertian dan usaha kita.

Dari kontak antara Rupa (yaitu lewat panca indera; mata, telinga, dll) dengan kesadaran, kita dapat mencerap hal-hal yang kita dengar, lihat, cium, rasa, sentuh. Dari pencerapan ini langsung timbul bentuk-bentuk pikiran karena bercampur dengan hal-hal yang pernah kita alami, lalu timbullah perasaan (suka/tidak suka, sedih/gembira, marah/takut, netral dll).


Dari sini berputar lagi kembali memberi masukan kepada kesadaran. Demikian berulang-ulang. Proses ini sangat cepat dalam hitungan sepersekian detik.
(**perlu diperhatikan, ada banyak ulasan mengenai pancakhanda dan hubungannya satu sama lain, disini saya hanya mengambil sebagian saja**)


Dengan mengerti cara kerja Panca Khanda, kita dapat melihat bahwa apapun pikiran / perasaan / pencerapan / kesadaran yang timbul, sesungguhnya bersifat sementara, tidak ada jiwa/aku yang kekal, dan kita tidak perlu memegangnya erat-erat. Let go. Ya, ada perasaan negatif timbul, sadari itu timbul, dan cukup sampai disana saja, kita tidak perlu membawa dan mengingatnya terus-menerus.

Sesungguhnya, selain sedikit bawaan karma dari kehidupan lalu, kita yang sekarang ini adalah adonan dari berbagai informasi dan input yang kita terima dari 5 panca indera kita sejak kecil hingga sekarang. Dan adonan ini masih dapat terus kita tambah dan modifikasi menuju ke arah yang lebih baik.

Sekadar menggugah pemikiran anda :
Tahukah anda, bahwa banyak kasus orang yang mendapat cangkok jantung dari donor manusia, dapat berubah sedikit ‘kepribadiannya’, dalam artian dia bisa menyukai hal-hal yang tadinya dia tidak sukai, dan sebagian/sedikit ingatan mengenai kehidupan si donor yang telah meninggal, padahal siapa donor/keluarga donornya dirahasiakan oleh pihak rumah sakit sehingga si penerima jantung sama sekali tidak tahu menahu mengenai kehidupan si donor.


Para ilmuwan masih terus menyelidiki, sejauh ini dikatakan bahwa ternyata fungsi jantung bukan hanya untuk memompa darah, tetapi juga mempunyai sel-sel syaraf/neuron, dengan kata lain, jantung memiliki sel-sel otak, dimana menyimpan sedikit memori, karena itulah penerima donor tsb seperti mendapat ‘kepribadian’ baru.

Semoga setelah membaca dan merenungkan notes diatas, kita tidak lagi terjebak dalam konsep pemikiran mengenai Atta dan dapat memahami ANATTA.

Sunday, 6 June 2010

Kisah Tissa Thera, Bhikkhu Yang Malas (Dhammapada 20 : 280)

XX. Magga Vagga - Jalan

(280) Walaupun seseorang masih muda dan kuat,
namun bila ia malas dan tidak mau berjuang semasa harus berjuang,
serta berpikiran lamban; maka orang yang malas dan lamban seperti itu
tidak akan menemukan Jalan yang mengantarnya pada kebijaksanaan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, lima ratus orang pemuda ditahbiskan menjadi bhikkhu, siswa Sang Buddha di Savathi. Setelah menerima pelajaran meditasi dari Sang Buddha, para bhikkhu tersebut, kecuali satu bhikkhu, pergi ke hutan untuk berlatih meditasi. Mereka berlatih dengan tekun dan sungguh-sungguh sehingga dalam waktu singkat mereka semua mencapai tingkat kesucian arahat. Ketika mereka pulang ke vihara untuk memberi hormat kepada Sang Buddha, Beliau sangat gembira dan puas dengan pencapaian mereka. Bhikkhu Tissa, yang tidak pergi ke hutan dan berlatih, tidak berusaha keras dan karenanya ia tidak mencapai apa-apa.

Ketika Tissa tahu bahwa hubungan antara Sang Buddha dan para bhikkhu tersebut sangat baik dan dekat, ia merasa agak dilupakan dan menyesal karena ia telah menyia-nyiakan waktunya selama ini. Sehingga ia memutuskan untuk berlatih meditasi sepanjang malam. Ketika ia sedang berjalan dalam meditasinya di suatu malam, ia tersandung dan mengalami patah tulang di pahanya. Bhikkhu yang lain mendengar teriakannya, segera datang menolongnya.

Saat mendengar peristiwa itu Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, ia yang tidak berusaha keras pada saat harus berusaha, tetapi menyia-nyiakan waktunya, ia tidak akan mencapai jhana dan pandangan terang Sang Jalan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Uṭṭhāna kālamhi anuṭṭhahāno
yuvā balī ālasiyaṃ upeto
saṃsannasaṃkappamano kusīto
paññāya maggaṃ alaso na vindati."

Walaupun seseorang masih muda dan kuat,
namun bila ia malas dan tidak mau berjuang semasa harus berjuang, serta berpikiran lamban;
maka orang yang malas dan lamban seperti itu
tidak akan menemukan Jalan yang mengantarnya pada kebijaksanaan.

Saturday, 5 June 2010

Kisah Babi Peta (Dhammapada 20 : 281)

XX. Magga Vagga - Jalan

(281) Hendaklah ia menjaga ucapan dan mengendalikan pikiran dengan baik
serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani.
Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini,
memenangkan `Jalan` yang telah dibabarkan oleh Para Suci.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, saat Maha Moggalana Thera berjalan menuruni bukit Gijjhakuta bersama Lakkhana Thera, beliau melihat mahluk peta kelaparan yang menyedihkan, dengan kepala bewujud babi dan berbadan manusia. Melihat mahluk peta tersebut, Maha Moggalana Thera tersenyum namun tak berkata sedikitpun. Pada saat tiba di vihara, Maha Moggalana Thera menghadap Sang Buddha, membicarakan tentang mahluk peta berwujud babi yang mulutnya penuh dengan belatung.

Sang Buddha mengatakan bahwa Beliau juga pernah melihat mahluk tersebut saat Beliau baru saja mencapai Ke-Buddha-an, namun Beliau tak mengatakan hal itu, karena orang-orang mungkin tidak akan percaya dan akan menyalahkan Beliau. Kemudian Sang Buddha menceritakan kisah tentang mahluk peta babi tersebut.

Pada masa Buddha Kassapa, mahluk peta babi itu adalah seorang bhikkhu yang sering membabarkan Dhamma. Suatu ketika, ia mengunjungi sebuah vihara yang ditempati oleh dua bhikkhu. Setelah tinggal beberapa waktu bersama kedua bhikkhu tersebut, ia tahu bahwa ia telah mencapai keadaan yang baik karena orang-orang menyukai penjelasan/ceramahnya. Ia merasa akan lebih baik lagi bila ia dapat membuat kedua bhikkhu itu pergi dan vihara itu menjadi miliknya sendiri. Maka ia mencoba untuk mengadu domba mereka. Kedua bhikkhu tersebut bertengkar dan meninggalkan vihara menuju dua arah yang berlawanan. Akibat dari perbuatan buruk itu, bhikkhu tadi terlahir di alam neraka Avici dan ia harus menjalani sisa hidupnya dengan menderita sebagai mahluk peta yang berwujud babi dengan mulut dipenuhi belatung.

Sang Buddha pun melanjutkan, "Seorang bhikkhu haruslah tenang dan terkendali baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Vācānurakkhī manasā susaṃvuto
kāyena ca akusalaṃ kayirā
ete tayo kammapathe visodhaye,
ārādhaye maggam isippaveditaṃ."

Hendaklah ia menjaga ucapan dan mengendalikan pikiran dengan baik
serta tidak melakukan perbuatan jahat melalui jasmani.
Hendaklah ia memurnikan tiga saluran perbuatan ini,
memenangkan `Jalan` yang telah dibabarkan oleh Para Suci.

Friday, 4 June 2010

Kisah Potthila Thera (Dhammapada 20 : 282)

XX. Magga Vagga - Jalan

(282) Sesungguhnya dari meditasi akan timbul kebijaksanaan;
tanpa meditasi kebijaksanaan akan pudar.
Setelah mengetahui kedua jalan bagi perkembangan dan kemerosotan batin,
hendaklah orang melatih diri sehingga kebijaksanaannya berkembang.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Potthila Thera adalah bhikkhu senior yang memahami semua teori Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha dengan baik. Ia sering mengajarkan Dhamma kepada lima ratus bhikkhu dengan bersungguh-sungguh. Pemahamannya itu menjadikan ia sangat sombong. Sang Buddha mengetahui kekurangan itu, dan menginginkan Potthila memperbaiki sikapnya serta mengarahkannya ke jalan yang benar.

Maka kapan pun Potthila datang untuk memberi hormat, Sang Buddha memanggilnya dengan `Potthila yang tak berguna`. Saat Potthila mendengar panggilan itu, ia merenungkan kata-kata Sang Buddha dan menyadari bahwa Sang Buddha menyebutnya demikian karena ia tidak pernah berusaha dengan serius dalam berlatih meditasi dan belum mencapai kesucian ataupun pencapaian jhana.

Lalu, tanpa mengatakan kepada siapapun, Potthila Thera pergi ke suatu tempat yang letaknya 20 yojana dari Vihara Jetavana. Di tempat itu terdapat 30 bhikkhu. Pertama, ia mendatangi bhikkhu yang paling senior dan memohonnya untuk menjadi penasehat, namun bhikkhu tersebut menyuruhnya pergi ke bhikkhu senior yang lain, yang terus menyuruhnya pergi ke bhikkhu yang lainnya lagi. Potthila berpindah dari satu bhikkhu ke bhikkhu yang lain sehingga akhirnya ia menghadap seorang samanera arahat berusia 7 tahun. Samanera muda itu menerimanya sebagai murid dengan catatan bahwa Potthila harus mengikuti semua petunjuknya dengan penuh rasa hormat. Setelah diberi berbagai petunjuk oleh samanera itu, Potthila membuat pikirannya benar-benar teguh pada kondisi alamiah badan jasmani, ia menjadi sangat rajin dan bersungguh-sungguh dalam meditasi.

Sang Buddha melihat Potthila melalui dibbacakkhuNya (kemampuan penglihatan luar biasa),  dan dengan kekuatan batinNya membuat Potthila merasakan kehadiran Beliau serta mendorongnya untuk tetap tabah dan rajin.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yogā ve jāyati bhūrī ayogā bhūrīsaṃkhayo
etaṃ dvedhāpathaṃ ñatvā bhavāya vibhavāya ca
tath’ attānaṃ niveseyya yathā bhūrī pavaḍḍhati."

Sesungguhnya dari meditasi akan timbul kebijaksanaan; tanpa meditasi kebijaksanaan akan pudar.
Setelah mengetahui kedua jalan bagi perkembangan dan kemerosotan batin,
hendaklah orang melatih diri sehingga kebijaksanaannya berkembang.

Potthila Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Thursday, 3 June 2010

Kisah Lima Bhikkhu Tua (Dhammapada 20 : 283-284)

XX. Magga Vagga - Jalan

(283) O, Para bhikkhu, tebanglah hutan nafsu itu,
karena dari nafsu timbul ketakutan.
Setelah menebang hutan dan belukar nafsu, 
jadilah orang yang tidak lagi memiliki nafsu.

(284) Selama nafsu keinginan laki-laki terhadap wanita belum dihancurkan, 

betapapun kecilnya, 
maka selama itu pula seseorang masih terikat pada kehidupan,
bagaikan seekor anak sapi yang masih menyusu pada induknya.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika di Savatthi, terdapat 5 sahabat yang menjadi bhikkhu di usia tua mereka. Telah menjadi kebiasaan bagi 5 bhikkhu tersebut untuk bersama-sama menerima dana makanan tiap hari di rumah lama mereka. Mantan istri salah satu dari mereka, yang bernama Madhurapacika, sangatlah pandai memasak dan ia selalu melayani mereka dengan baik. Karena itu kelima bhikkhu tersebut sering mengujungi rumahnya. Akan tetapi pada suatu hari, Madhurapacika jatuh sakit dan tiba-tiba meninggal dunia. Bhikkhu-bhikkhu tua itu menjadi sangat kehilangan dan bersama-sama mereka menangis, memuji kebaikannya, dan meratapi kepergiannya.

Sang Buddha memanggil para bhikkhu tersebut dan berkata, "Para bhikkhu! Kamu semua merasa sakit dan menderita karena kamu belum terbebas dari keserakahan, kebencian dan kebodohan (lobha, dosa, moha), yang seperti sebuah hutan. Tebanglah hutan itu dan kamu akan terbebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Vanaṃ chindatha, mā rukkhaṃ,
vanato jāyatī bhayaṃ,
chetvā vanaṃ vanathañ ca
nibbanā hotha bhikkhavo.

Yāvaṃ hi vanatho na chijjati
aṇumatto pi narassa nārisu
paṭibaddhamano va tāva so
vaccho khīrapako va mātari."

O, Para bhikkhu, tebanglah hutan nafsu itu,
karena dari nafsu timbul ketakutan.
Setelah menebang hutan dan belukar nafsu,
jadilah orang yang tidak lagi memiliki nafsu.

Selama nafsu keinginan laki-laki terhadap wanita belum dihancurkan,
betapapun kecilnya,
maka selama itu pula seseorang masih terikat pada kehidupan,
bagaikan seekor anak sapi yang masih menyusu pada induknya.

Kelima bhikkhu tua mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Wednesday, 2 June 2010

Kisah Seorang Thera yang Pernah Terlahir sebagai Pandai Emas (Dhammapada 20 : 285)

XX. Magga Vagga - Jalan

(285) Patahkanlah rasa cinta terhadap ‘diri’,
seperti memetik bunga teratai putih di musim gugur.
Kembangkanlah jalan kedamaian Nibbana yang telah diajarkan oleh Sang Sugata
(Beliau yang telah berlalu dengan baik, Buddha).
---------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang pemuda tampan, anak seorang pandai emas, ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sariputta Thera. Sariputta Thera memberikan perwujudan mayat yang menjijikkan sebagai obyek meditasi bagi bhikkhu baru itu. Setelah menerima petunjuk meditasi, ia pergi ke sebuah hutan dan berlatih meditasi di sana; namun dia hanya mencapai sedikit kemajuan. Akhirnya ia kembali kepada Sariputta Thera dua kali untuk memohon petunjuk lebih lanjut. Meskipun demikian, ia masih saja belum mencapai kemajuan. Kemudian Sariputta Thera membawa bhikkhu muda itu menghadap Sang Buddha dan menceritakan semuanya tentang bhikkhu muda itu.

Sang Buddha mengetahui bahwa bhikkhu muda itu adalah anak seorang pandai emas, dan juga ia pernah terlahir di keluarga pandai emas selama 500 kali kehidupannya yang lampau. Kemudian Sang Buddha mengganti obyek meditasinya dari mayat yang menjijikkan menjadi obyek kesenangan. Dengan kekuatan batin Beliau, Sang Buddha menciptakan sekuntum bunga teratai yang sangat indah sebesar roda kereta dan meminta bhikkhu muda itu untuk menancapkannya pada gundukan tanah di luar vihara.

Bhikkhu muda tersebut memusatkan perhatian pada bunga teratai yang besar, indah dan harum, akhirnya dapat menyingkirkan segala rintangan. Ia dipenuhi dengan kepuasan yang menggembirakan (piti), dan selangkah demi selangkah ia mengalami perkembangan hingga mencapai pencerapan batin (jhana) keempat.

Sang Buddha melihatnya dari kuti harum Beliau dan dengan kekuatan batin Beliau membuat bunga itu layu seketika. Melihat bunga itu layu dan berubah warna, bhikkhu tersebut memahami ketidakkekalan alamiah bunga tersebut juga segala sesuatu termasuk semua mahluk. Hal tersebut menyebabkan timbulnya kesadaran terhadap ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tanpa inti dari semua hal yang berkondisi. Saat itu juga, Sang Buddha memancarkan sinar dan menampakkan diri di hadapan bhikkhu tersebut dan memberinya petunjuk agar segera memusnahkan nafsu keinginan (tanha).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Ucchinda sineham attano
kumudaṃ sāradikaṃ va pāṇinā,
santimaggam eva brūhaya
Nibbānaṃ sugatena desitaṃ."

Patahkanlah rasa cinta terhadap ‘diri’,
seperti memetik bunga teratai putih di musim gugur.
Kembangkanlah jalan kedamaian Nibbana
yang telah diajarkan oleh Sang Sugata

Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
---------

Notes :

 
Sugata adalah sebutan lain Sang Buddha.

Ucchinda sineham attano = patahkanlah rasa cinta terhadap ‘diri’ / atta, lihat penjelasan mengenai anatta di kisah 279.

Tuesday, 1 June 2010

Kisah Mahadhana, Seorang Saudagar (Dhammapada 20 : 286)

XX. Magga Vagga - Jalan

(286) Di sini aku akan berdiam pada musim hujan,
di sini aku akan berdiam selama musim gugur dan musim panas.
Demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadari bahaya (kematian).
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, seorang saudagar dari Banasari akan menghadiri festifal di Savatthi dengan membawa 500 kereta yang penuh dengan kain dan barang dagangan lainnya. Ketika tiba di tepi sebuah sungai dekat Savatthi, air sungai tersebut sedang meluap. Ia menunda perjalanannya selama tujuh hari karena hujan yang lebat dan air sungai yang tidak kunjung surut. Karenanya, ia menjadi terlambat mengikuti festival, sehingga tidak berguna lagi baginya untuk menyeberangi sungai itu.

Karena datang dari jauh, dia tidak ingin kembali ke rumah dengan barang dagangan yang masih utuh. Akhirnya ia memutuskan untuk menghabiskan musim hujan, musim dingin, dan musim panas di tempat itu, dan mengajak semua pelayannya untuk turut serta.

Saat Sang Buddha pergi berpindapatta, Beliau mengetahui keputusan itu dan tersenyum. Ananda bertanya, mengapa Sang Buddha tersenyum dan Sang Buddha pun menjawab, "Ananda, tahukah kau pedagang itu? Dia berpikir bahwa dia dapat tinggal di sini dan menjual semua barangnya sepanjang tahun. Dia tidak menyadari bahwa dia akan meninggal dunia di sini dalam waktu tujuh hari. Apa yang harus dilakukan hendaknya dilakukan hari ini. Siapa dapat mengetahui seseorang akan meninggal dunia esok? Kita tidak dapat berkompromi waktu dengan Raja Kematian. Bagi orang yang selalu waspada tiap pagi dan malam, yang tidak terganggu oleh kekotoran batin, dan penuh semangat, walaupun hidup hanya satu malam saja tetapi hidupnya itu adalah yang dijalani dengan baik."

Kemudian Sang Buddha menyuruh Ananda untuk mendatangi saudagar Mahadhana. Ananda menjelaskan kepada Mahadhana bahwa waktu terus berlalu dan bahwa ia harus meninggalkan kelalaian dan menjadi waspada. Memikirkan tentang kematian yang akan menyambutnya, Mahadhana menjadi sadar dan merasa takut. Sehingga, selama tujuh hari ia mengunjungi Sang Buddha dan para bhikkhu untuk berdana makanan. Pada hari ke tujuh Sang Buddha berkhotbah tentang penghargaan dana (anumodana).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Idha vassaṃ vasissāmi idha hemantagimhisu
iti bālo vicinteti antarāyaṃ na bujjhati."

Di sini aku akan berdiam pada musim hujan,
di sini aku akan berdiam selama musim gugur dan musim panas.
Demikianlah pikiran orang bodoh
yang tidak menyadari bahaya (kematian).

Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, saudagar Mahadhana mencapai tingkat kesucian sotapatti. Ia mengantar Sang Buddha sampai jarak tertentu dan kembali ke tempatnya. Saat perjalanan pulang, ia terserang sakit kepala dan akhirnya meninggal dunia. Mahadhana terlahir kembali di alam dewa Tusita.

Monday, 31 May 2010

Kisah Kisagotami (Dhammapada 20 : 287)

XX. Magga Vagga - Jalan

(287) Orang yang pikirannya melekat pada anak-anak dan ternak peliharaannya,
maka kematian akan menyeret dan menghanyutkannya,
seperti banjir besar yang menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Kisagotami menghadap Sang Buddha karena ia dilanda kesedihan mendalam akibat kematian anak tunggalnya. Kepadanya, Sang Buddha mengatakan, "Kisagotami, kamu berpikir bahwa hanya kamu yang kehilangan anak. Kematian menimpa semua makhluk. Sebelum keinginan mereka terpenuhi, kematian telah menjemputnya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Taṃ puttapasusammattaṃ byāsattamanasaṃ naraṃ
suttaṃ gāmaṃ mahogho va maccu ādāya gacchati."

Orang yang pikirannya melekat
pada anak-anak dan ternak peliharaannya,
maka kematian akan menyeret dan menghanyutkannya,
seperti banjir besar yang menghanyutkan sebuah desa yang tertidur.

Kisagotami mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
----------
 

*Kisah ini juga terdapat pada Syair 114

Sunday, 30 May 2010

Kisah Patacara (Dhammapada 20 : 288-289)

XX. Magga Vagga - Jalan

(288) Anak-anak tidak dapat melindungi,
begitu juga ayah maupun sanak saudara.
Bagi orang yang sedang menghadapi kematian,
maka tidak ada sanak saudara yang dapat melindungi dirinya

(289) Setelah mengetahui kenyataan ini, 

maka orang berbudi dan bijaksana 
tak akan menunda waktu 
dalam menempuh jalan menuju Nibbana.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Patacara kehilangan suami dan dua putranya, sekaligus orang tua dan ketiga kakak laki-lakinya dalam waktu bersamaan. Ia menjadi hampir gila. Ketika ia mendekati Sang Buddha, Beliau berkata kepadanya, "Patacara, anak-anak tidak dapat merawatmu, bahkan meskipun mereka masih hidup, mereka tidak hadir untukmu. Orang bijaksana menjalankan moral (sila) dan menghancurkan rintangan pada jalan menuju nibbana."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

"Na santi puttā tāṇāya na pitā na pi bandhavā
antakenādhipannassa n’ atthi ñātīsu tāṇatā.

Etam atthavasaṃ ñatvā paṇḍito sīlasaṃvuto
nibbānagamanaṃ maggaṃ khippam eva visodhaye."

Anak-anak tidak dapat melindungi,
begitu juga ayah maupun sanak saudara.
Bagi orang yang sedang menghadapi kematian,
maka tidak ada sanak saudara
yang dapat melindungi dirinya lagi.

Setelah mengetahui kenyataan ini,
maka orang berbudi dan bijaksana
tak akan menunda waktu
dalam menempuh jalan menuju Nibbana.

Patacara mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah Khotbah Dhamma itu berakhir.

*Kisah ini lebih lengkapnya ada pada kisah ke 113