Showing posts with label 12. Atta Vagga. Show all posts
Showing posts with label 12. Atta Vagga. Show all posts

Thursday, 26 August 2010

Kisah Bodhirajakumara (Dhammapada 12 : 157)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri

(157) Bila orang mencintai dirinya sendiri,
maka ia harus menjaga dirinya dengan baik.
Orang bijaksana selalu waspada selama tiga masa dalam kehidupannya.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika Pangeran Bodhi membangun sebuah istana yang sangat indah untuk tempat tinggalnya. Ketika istana tersebut selesai dibangun, ia mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan.

Untuk acara istimewa ini, ia menghias bangunan dengan memberi pengharum ruangan 4 macam wangi-wangian dan dupa. Juga, kain yang panjang dilembarkan di lantai untuk alas, mulai dari ambang pintu sampai ke dalam ruangan. Karena ia tidak mempunyai anak, pangeran menyatakan harapan yang sungguh-sungguh, berkata dalam hati: "Bila aku dapat  mempunyai anak, Sang Buddha akan menginjak kain ini."

Ketika Sang Buddha tiba, Pangeran Bodhi dengan hormat memohon kepada Beliau sebanyak 3 kali untuk memasuki ruangan. Tetapi Sang Buddha tidak beranjak, hanya melihat pada Ananda. Ananda mengerti dan meminta kepada Pangeran Bodhi untuk memindahkan kain dari ambang pintu. Dan Sang Buddha pun masuk ke dalam istana.

Kemudian pangeran mempersembahkan makanan yang enak dan terpilih kepada Sang Buddha. Selesai makan, pangeran bertanya : " Bhante, mengapa Bhante tidak mau berjalan di atas kain alas?"

Sang Buddha bertanya balik kepada pangeran: "Bukankah pangeran membentangkan kain itu dengan harapan agar dikaruniai anak apabila Buddha berjalan di atas kain itu?"

Pangeran membenarkan pertanyaan itu. Kepadanya Sang Buddha mengatakan bahwa ia dan istrinya tidak akan memperoleh anak akibat perbuatan jahat yang mereka lakukan dimasa lampau. Sang Buddha kemudian menceritakan kisah masa lalu mereka.

Pada salah satu kehidupan mereka yang lampau, pangeran dan istrinya adalah satu-satunya orang yang selamat dari bencana kapal. Mereka terdampar pada pulau yang tidak berpenghuni. Disana mereka hidup dengan memakan telur-telur burung, anak-anak burung, dan burung, tanpa perasaan menyesal satu saat pun. Untuk perbuatan jahat itu, mereka tidak dikaruniai anak. Jika mereka mempunyai rasa sesal atas perbuatan mereka pada salah satu saat, mereka akan mempunyai satu atau dua orang anak pada kehidupan sekarang.

Kembali kepada pangeran, Sang Buddha berkata, "Seseorang yang mencintai dirinya sendiri harus menjaga dirinya sendiri di semua tahap kehidupan, atau sedikitnya dalam satu tahap kehidupannya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Attānañ ce piyaṃ jaññā rakkheyya naṃ surakkhitaṃ
tiṇṇaṃ aññataraṃ yāmaṃ paṭijaggeyya paṇḍito."

Bila orang mencintai dirinya sendiri,
maka ia harus menjaga dirinya dengan baik.
Orang bijaksana selalu waspada
selama tiga masa dalam kehidupannya.

Bodhirajakumara mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
-------

Notes :

Maksud tahap kehidupan di atas adalah masa kanak-kanak, masa muda, dan masa tua. Cara terbaik menjaga diri sendiri adalah dengan mempraktekkan kebajikan.

Wednesday, 25 August 2010

Kisah Upananda Sakyaputta Thera (Dhammapada 12 : 158)

XII. AttaVagga - Diri Sendiri

(158) Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan diri sendiri
dalam hal-hal yang patut, dan selanjutnya melatih orang lain.
Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan dicela
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Upananda adalah seorang pengkhotbah yang sangat pandai. Ia berkhotbah kepada orang lain untuk tidak tamak, dan hanya memiliki sedikit keinginan. Ia pun berbicara dengan fasih tentang manfaat kepuasan, kehematan, dan praktek hidup sederhana. Akan tetapi ia tidak pernah mempraktekkan apa yang diajarkannya kepada orang lain. Ia mengambil untuk dirinya sendiri seluruh jubah dan keperluan-keperluan lain yang diberikan oleh umat.

Suatu ketika Upananda pergi ke sebuah vihara desa sesaat sebelum tiba masa vassa. Beberapa bhikkhu muda terkesan oleh kepandaiannya memberi khotbah, dan meminta kepadanya untuk bervassa di vihara mereka. Ia menanyakan kepada mereka berapa jubah biasanya yang diterima setiap bhikkhu sebagai dana pada saat akhir vassa di vihara mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka biasanya menerima satu jubah untuk tiap bhikkhu. Maka ia tidak jadi menetap di vihara tersebut, tetapi ia meninggalkan sandalnya di vihara tersebut.

Pada vihara berikutnya, ia mengetahui bahwa para bhikkhu menerima dua jubah untuk masing-masing bhikkhu sebagai dana pada akhir masa vassa. Di sana ia meninggalkan tongkatnya. pada vihara berikutnya, para bhikkhu menerima tiga jubah masing-masing bhikkhu sebagai dana pada akhir masa vassa, di sana ia meninggalkan botol airnya. Akhirnya, di vihara dimana masing-masing bhikkhu menerima empat jubah, ia memutuskan untuk tinggal selama masa vassa.

Pada akhir masa vassa, ia menuntut bagian jubahnya di vihara-vihara di mana ia meninggalkan barang-barang pribadinya. Kemudian dia mengumpulkan semua barang-barangnya dalam sebuah kereta dan kembali ke vihara lamanya. Dalam perjalanan ia bertemu dua bhikkhu muda yang sedang berdebat perihal pembagian dua jubah dan sebuah selimut dari beludru yang ada pada mereka. Karena mereka tidak memperoleh kesepakatan bersama, mereka bertanya kepada Upananda bagaimana pemecahan masalah itu. Upananda memberi mereka masing-masing sebuah jubah dan mengambil selimut beludru yang berharga itu karena telah bertindak sebagai penengah mereka.

Dua bhikkhu muda tersebut merasa tidak puas dengan keputusan tersebut tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan perasaan tidak puas dan murung, mereka menemui Sang Buddha dan memberitahukan kejadian tersebut. Kepada mereka Sang Buddha berkata: "Seseorang yang mengajar orang lain, seharusnya mengajar dirinya sendiri terlebih dahulu dan berkelakuan sebagaimana yang ia ajarkan."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Attānam eva paṭhamaṃ
patirūpe nivesaye
ath’aññam anusāseyya
na kilisseyya paṇḍito."

Hendaknya orang terlebih dahulu mengembangkan diri sendiri
dalam hal-hal yang patut,
dan selanjutnya melatih orang lain.
Orang bijaksana yang berbuat demikian tak akan dicela.

Dua bhikkhu muda tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Tuesday, 24 August 2010

Kisah Padhanikatissa Thera (Dhammapada 12 : 159)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri

(159) Sebagaimana ia mengajari orang lain,
demikianlah hendaknya ia berbuat.
Setelah ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
hendaklah ia melatih orang lain.
Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Padhanikatisa Thera, setelah memperoleh cara-cara meditasi dari Sang Buddha, tinggal di hutan bersama 500 bhikkhu lainnya. Di sana, ia memberitahu para bhikkhu agar menjaga perhatian dan tekun berlatih meditasi. Setelah memperingatkan bhikkhu yang lain, ia sendiri berbaring dan tidur. Bhikkhu-bhikkhu muda melatih meditasi seperti yang diberitahukan kepada mereka. Mereka berlatih meditasi selama saat jaga pertama. Ketika tiba saat tidur bagi mereka, Padhanikatissa bangun, dan memberitahu mereka agar kembali berlatih meditasi. Ketika mereka selesai berlatih meditasi saat jaga kedua dan ketiga, Padhanikatissa juga mengatakana hal yang sama kepada mereka.
 
Karena ia selalu bertingkah laku demikian, bhikkhu-bhikkhu muda tidak pernah merasa tenteram, dan mereka juga tidak dapat berkonsentrasi pada saat latihan meditasi atau bahkan dalam melafalkan ajaran.
 
Suatu hari, mereka memutuskan untuk menyelidiki apakah mereka benar-benar rajin dan waspada seperti yang dikesankan oleh dirinya. Ketika mereka mengetahui bahwa guru mereka Padhanikatissa hanya pandai menasehati orang lain tetapi ia sendiri tidur sepanjang hari, mereka mengatakan, "Kita tertipu, guru kita hanya tahu bagaimana mengajari kita, tetapi ia sendiri hanya membuang-buang waktu tanpa melakukan apa pun."
 
Saat itu, bhikkhu-bhikkhu tidak mendapatkan istirahat yang cukup, mereka capai dan letih. Alhasil tidak seorang bhikkhu pun yang memperoleh kemajuan dalam latihan meditasinya.
 
Pada akhir masa vassa, mereka kembali ke Vihara Jetavana dan melaporkan kejadian tersebut kepada Sang Buddha. Kepada mereka Sang Buddha berkata: "Para bhikkhu! Seseorang yang akan mengajar orang lain seharusnya terlebih dahulu mengajar dirinya sendiri dan memperlakukan dirinya dengan tepat."

 Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

 "Attānañ ce tathā kayirā yath’ aññam anusāsati
 sudanto vata dametha, attā hi kira duddamo."
 
Sebagaimana ia mengajari orang lain,
demikianlah hendaknya ia berbuat.
Setelah ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
hendaklah ia melatih orang lain.
Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.

Kelima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Monday, 23 August 2010

Kisah Ibu dari Kumarakassapa (Dhammapada 12 : 160)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri

(160) Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri.
Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
ia akan memperoleh perlindungan
------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, seorang wanita muda yang telah menikah meminta ijin kepada suaminya untuk menjadi seorang bhikkhuni. Karena ketidaktahuannya, ia bergabung dengan bhikkhuni-bhikkhuni yang menjadi pengikut Devadatta. Wanita ini sedang mengandung sebelum ia menjadi bhikkhuni, tetapi ia tidak menyadari kehamilannya pada waktu itu.

Dengan berjalannya waktu, kehamilannya terlihat oleh bhikkhuni-bhikkhuni lain. Mengira ia telah melakukan perbuatan yang melanggar vinaya, mereka membawa permasalahan itu kepada guru mereka, Devadatta.

Devadatta menyuruh wanita itu kembali ke kehidupan berumah tangga. Kemudian wanita muda ini mengatakan kepada bhikkhuni-bhikkhuni lainnya, "Saya tidak berniat menjadi bhikkhuni murid Devadatta, saya datang kemari karena kesalahan. Tolong antarkan saya ke Vihara Jetavana, bawa saya menghadap Sang Buddha." Kemudian ia datang menghadap Sang Buddha.

Sang Buddha mengetahui kalau ia telah mengandung sebelum ia menjadi bhikkhuni, oleh karena itu ia tidak bersalah. Tetapi Sang Buddha tidak ingin menangani masalah tersebut. Sang Buddha mengundang Raja Pasenadi dari Kosala, Anathapindikha hartawan terkenal, Visakha pendiri Vihara Pubbarama, dan banyak orang lainnya. Kemudian Beliau menyuruh Upali untuk menyelesaikan permasalahan tersebut di muka umum.

Visakha membawa wanita muda tersebut ke belakang tirai dan memeriksanya, kemudian melaporkan kepada Upali Thera bahwa wanita tersebut telah hamil sebelum menjadi bhikkhuni. Upali Thera kemudian mengumumkan kepada hadirin bahwa wanita tersebut tidak bersalah dan oleh karena itu ia tidak melanggar peraturan ke-bhikkhuni-an (sila).

Setelah beberapa lama, wanita itu melahirkan seorang putra. Anak tersebut diadopsi oleh Raja Pasenadi dan diberi nama Kumarakassapa. Pada saat anak tersebut berusia tujuh tahun, ketika mengetahui bahwa ibunya adalah seorang bhikkhuni, ia kemudian juga menjadi seorang samanera dibawah bimbingan Sang Buddha.

Setelah dewasa, ia diterima dalam pasamuan bhikkhu, setelah mendapat cara-cara bermeditasi dari Sang Buddha ia pergi ke hutan. Disana, ia melatih meditasi dengan tekun dan sungguh-sungguh dan dalam waktu singkat mencapai tingkat kesucian arahat. Walaupun demikian, ia melanjutkan hidup di hutan selama lebih dari dua belas tahun.

Karena itu, ibunya tidak bertemu dengannya selama 12 tahun, dan sangat rindu untuk melihat anaknya. Suatu hari, ketika melihat anaknya, ibu yang bhikkhuni itu tak dapat menahan dirinya lagi. Dengan penuh emosi ia berlari mendekati anaknya, menangis dan memanggil-manggil nama anaknya.

Melihat ibunya, Kumarakassapa berpikir, jika ia berbicara dengan lembut kapada ibunya, ibunya masih akan memiliki kemelekatan kepadanya, dan masa depan ibunya akan tidak berkembang. Jadi demi masa depan ibunya, agar dapat memperoleh kebebasan (merealisasi nibbana) ia dengan sengaja berbicara keras kepada ibunya : "Bagaimana anda, sebagai anggota Sangha, bahkan tidak dapat memutuskan rasa sayang terhadap seorang anak?"

Ibunya berpikir bahwa anaknya sangat keras kepadanya, dan ia bertanya apa maksudnya. Kumarakassapa mengulangi apa yang ia ucapkan sebelumnya.

Mendengar jawabannya, Ibu Kumarakassapa merenung : "Ya, dua belas tahun aku cucurkan air mata untuk anakku. Dua belas tahun pula aku memendam rindu, ingin melihat senyum dan mendapat sapaan yang hangat dari darah dagingku. Namun, apa yang terjadi sekarang? Bukannya sapaan yang halus dan senyum bahagia karena bertemu dengan ibunya, malahan jawaban ketus yang kuterima. Apa gunanya rasa sayangku kepadanya?"

Kemudian, kemelekatan yang sia-sia kepada anaknya mulai nampak jelas baginya, lalu saat itu juga, ia memutuskan untuk memotong kemelekatan itu. Dengan memotong seluruh kemelekatan ibu dari Kumarakassapa mencapai tingkat kesucian arahat pada hari itu.

Suatu hari, pada saat pertemuan, beberapa bhikkhu berkata pada Sang Buddha : "Bhante, jika Ibu dari Kumarakassapa mengikuti Devadatta, ia dan putranya tidak akan menjadi arahat. Tentunya, Devadatta telah melakukan kesalahan besar terhadap mereka, tetapi Bhante telah menjadi tempat berlindung bagi mereka."

Kepada mereka Sang Buddha berkata : "Para Bhikkhu, dalam perjuangan untuk mencapai alam dewa, atau mencapai tingkat kesucian arahat, kalian tidak bisa tergantung pada orang lain, kalian harus berusaha keras sendiri."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Attā hi attano nātho, ko hi nātho paro siyā;
 attanā hi sudantena nāthaṃ labhati dullabhaṃ."

Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri.
Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari (menjadi arahat).



Sunday, 22 August 2010

Kisah Upasaka Mahakala (Dhammapada 12 : 161)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri

(161) Kejahatan yang dilakukan oleh diri sendiri,
timbul dari diri sendiri serta disebabkan oleh diri sendiri,
akan menghancurkan orang bodoh,
bagaikan intan memecah permata yang keras.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu hari uposatha, Mahakala pergi ke Vihara Jetavana. Hari itu ia melaksanakan delapan peraturan moral (atthasila) dan mendengarkan khotbah Dhamma sepanjang malam. Pada malam itu juga beberapa pencuri menyusup masuk ke dalam sebuah rumah. Pemilik rumah terbangun dan mengejar para pencuri. Pencuri-pencuri itu berlarian ke segala arah. Beberapa pencuri berlari ke arah vihara. Ketika itu hampir subuh, dan Mahakala sedang mencuci muka di tepi kolam dekat vihara. Pencuri-pencuri itu menjatuhkan barang curiannya di depan Mahakala dan terus berlari. Ketika pemilik barang tiba di tempat itu, mereka melihat Mahakala dengan barang curian. Mengira bahwa Mahakala adalah salah seorang pencuri, mereka berteriak kepadanya, mengancamnya dan memukulnya dengan keras. Mahakala meninggal dunia di tempat itu. Pada pagi harinya, ketika beberapa bhikkhu muda dan samanera-samanera dari vihara pergi ke kolam untuk mengambil air, mereka melihat mayat itu dan mengenalinya.
 
Sekembali mereka ke vihara, mereka melaporkan hal yang telah dilihatnya kepada Sang Buddha. "Bhante, seorang upasaka di vihara yang telah mendengarkan khotbah Dhamma sepanjang malam, ditemukan meninggal dunia secara tidak pantas." Kepada mereka Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, jika kalian hanya menilainya dari perbuatan baik yang telah ia lakukan pada kehidupan saat ini, ia sungguh tidak layak meninggal seperti itu. Tetapi kenyataannya, ia hanya menerima akibat perbuatan jahat yang telah ia lakukan pada kehidupan lampaunya. Pada salah satu kehidupan lampaunya, ketika ia sebagai seorang anggota istana sebuah kerajaan, ia jatuh cinta pada istri orang lain dan memukul suami wanita tersebut sehingga suami itu meninggal dunia. Perbuatan jahat pasti akan membuat seseorang menderita, bahkan dapat mengakibatkan kelahiran kembali dalam salah satu dari 4 alam apaya (alam penderitaan; alam asura, alam peta, alam binatang, dan neraka)."
 
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

 "Attanā va kataṃ pāpaṃ
attajaṃ attasambhavaṃ
abhimatthati dummedhaṃ
vajiraṃ v’ amhamayaṃ maṇiṃ."

Kejahatan yang dilakukan oleh diri sendiri,
timbul dari diri sendiri
serta disebabkan oleh diri sendiri,
akan menghancurkan orang bodoh,
bagaikan intan memecah permata yang keras.


Saturday, 21 August 2010

Kisah Devadatta (Dhammapada 12 : 162)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri

(162) Orang yang berkelakuan buruk
adalah seperti tanaman menjalar maluva yang melilit pohon sala.
Ia akan terjerumus sendiri,
seperti apa yang diharapkan musuh terhadap dirinya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari beberapa bhikkhu sedang bercakap-cakap di antara mereka sendiri, kemudian Sang Buddha tiba dan bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka menjawab bahwa mereka sedang berbicara tentang Devadatta dan kemudian mereka melanjutkan, "Bhante, Devadatta adalah sungguh seorang yang tidak mempunyai moralitas, ia juga sangat serakah. Ia berusaha mendapat ketenaran dan peruntungan dengan memperoleh kepercayaan Ajatasattu melalui cara yang tidak jujur. Ia juga berusaha meyakinkan Ajatasattu bahwa dengan menyingkirkan ayahnya, ia akan segera menjadi raja yang berkuasa. Setelah dihasut oleh Devadatta, Ajatasattu membunuh ayahnya, raja yang mulia, Bimbisara. Devadatta juga telah mencoba tiga kali untuk membunuh-Mu, Guru kami yang mulia. Devadatta benar-benar sangat jahat dan tidak dapat diperbaiki."

Setelah mendengarkan para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan pada mereka bahwa Devadatta telah mencoba membunuhnya tidak hanya pada kehidupan sekarang tetapi juga pada kehidupan yang lampau. Sang Buddha kemudian menceritakan cerita tentang pemburu rusa.

"Saat itu, ketika Raja Brahmadatta berkuasa di Baranasi, Sang Bodhisatta hidup sebagai seekor rusa, dan Devadatta saat itu adalah seorang pemburu rusa. Suatu hari, pemburu rusa melihat jejak kaki rusa di bawah sebatang pohon. Kemudian ia memasang bilah-bilah bambu diatas pohon itu sebagai tempat berpijak, dan menunggu dengan tombak yang siap dihunjamkan ke rusa. Rusa tersebut kemudian datang, tetapi ia datang dengan hati-hati. Pemburu rusa melihatnya ragu-ragu, melemparkan beberapa buah-buahan untuk membujuknya. Tetapi hal itu justru membuat rusa waspada; ia memperhatikan dengan lebih seksama dan melihat ada pemburu rusa pada dahan pohon. Rusa itu pura-pura tidak melihat pemburu tersebut dan berbalik dengan lambat. Dari jarak tertentu, rusa berseru: ‘Oh pohon, kamu selalu menjatuhkan buah-buahmu secara vertikal, tetapi hari ini kamu telah menentang hukum alam dan telah menjatuhkan buah-buahmu secara miring. Sejak kamu menentang hukum alam dari pohon, saya akan meninggalkanmu untuk berpindah ke pohon lain.’
 
Melihat rusa tersebut berbalik pergi, pemburu melempar tombaknya ke tanah dan berkata, ‘Ya, kamu sekarang dapat pergi; untuk hari ini, saya telah salah perhitungan.’ Rusa yang sebagai calon Buddha tersebut menjawab, ‘O, pemburu, kamu benar-benar salah perhitungan hari ini, tetapi perbuatan (kamma) burukmu tidak akan keliru, hal itu akan selalu mengikutimu.’
 
Jadi, Devadatta tidak saja mencoba membunuhku sekarang tetapi juga dimasa lalu, tetapi ia tidak pernah berhasil."

Kemudian Sang Buddha melanjutkan, "Para bhikkhu! Seperti tanaman menjalar yang menjerat pohon tempat tinggalnya, demikian juga ia yang tidak mempunyai moral, dikuasai oleh nafsu keinginan, akhirnya akan terlempar ke alam neraka (niraya)."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yassa accantadussīlyaṃ māluvā sālam iv’ otataṃ
 karoti so tath’ attānaṃ yathā naṃ icchatī diso."

Orang yang berkelakuan buruk
adalah seperti tanaman menjalar maluva yang melilit pohon sala.
Ia akan terjerumus sendiri,
seperti apa yang diharapkan musuh terhadap dirinya.
 
Pada akhir khotbah, banyak orang mencapai tingkat kesucian Sotapatti.

Friday, 20 August 2010

Kisah Perpecahan Sangha (Dhammapada 12 : 163)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri 

(163) Sungguh mudah untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tak bermanfaat,
tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal yang baik
dan bermanfaat bagi diri sendiri.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu kesempatan, ketika Sang Buddha sedang memberikan khotbah di Vihara Veluvana, Devadatta datang kepadanya dan menyarankan bahwa Sang Buddha kini telah menjadi tua, seharusnya tugas-tugas kepemimpinan Sangha diserahkan kepada Devadatta. Tetapi Sang Buddha menolak permintaannya, menegurnya, dan menyebutnya "penjilat lidah" (khelasika). Sejak saat itu, Devadatta sangat membenci Sang Buddha. Ia bahkan berusaha membunuh Sang Buddha sebanyak tiga kali, tetapi selalu gagal. Kemudian Devadatta mencoba taktik lain. Kali ini ia datang kehadapan Sang Buddha dan mengajukan lima peraturan untuk para bhikkhu untuk dilakukan sepanjang hidupnya.

Ia mengajukan: 1) Para bhikkhu harus tinggal di hutan. 2) Para bhikkhu harus hidup dengan makanan yang hanya diterima pada saat pindapata. 3) Mereka harus mengenakan jubah yang hanya terbuat dari potongan kain yang diperoleh dari tumpukan sampah. 4) Mereka harus berdiam di bawah pohon dan 5) Mereka tidak boleh memakan ikan atau daging.

Sang Buddha tidak menolak terhadap peraturan tersebut dan tidak keberatan terhadap siapa pun yang sanggup melakukannya, tetapi dengan berbagai pertimbangan yang benar, Beliau tidak menetapkan peraturan itu untuk para bhikkhu secara keseluruhan.

Devadatta menuntut bahwa peraturan yang diajukannya lebih baik daripada peraturan yang telah ada, dan beberapa bhikkhu baru sepakat dengannya.

Suatu hari, Sang Buddha bertanya kepada Devadatta apakah benar bahwa ia berusaha membuat perpecahan dalam Sangha, dan ia mengakui bahwa hal itu benar. Sang Buddha memperingatkannya bahwa perbuatan itu adalah suatu perbuatan buruk yang serius, tetapi Devadatta tidak memperdulikan peringatan itu. Setelah itu Devadatta bertemu dengan Ananda Thera pada saat berpindapatta di Rajagaha, Devadatta berkata kepada Ananda Thera, "Ananda, mulai hari ini, saya akan melakukan kegiatan uposatha, dan menjalankan tugas-tugas Sangha secara terpisah, tidak tergantung kepada Sang Buddha dan pasamuan bhikkhu-bhikkhu." Sekembalinya dari pindapatta, Ananda Thera memberitahu Sang Buddha apa yang telah dikatakan oleh Devadatta.

Mendengar hal itu, Sang Buddha menjelaskan, "Devadatta melakukan kesalahan yang sangat serius, perbuatan itu akan menyebabkan ia terlahir ke alam neraka Avici. Bagi orang yang bersifat baik, sangatlah mudah melakukan perbuatan baik dan sulit berbuat jahat, tetapi orang jahat, sangatlah mudah berbuat jahat dan sulit melakukan perbuatan baik. Memang, dalam hidup ini adalah mudah untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, tetapi sulit untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Sukarāni asādhūni attano ahitāni ca
yaṃ ve hitañ ca sādhuñ ca taṃ ve paramadukkaraṃ."

Sungguh mudah untuk melakukan hal-hal
yang buruk dan tak bermanfaat,
tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal
yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri.

Kemudian pada hari Uposatha, Devadatta diikuti oleh lima ratus bhikkhu-bhikkhu suku Vajji, memisahkan diri dari pasamuan Sangha, dan pergi ke Gayasisa. Akan tetapi ketika dua murid utama, Sariputta dan Maha Moggallana pergi menemui para bhikkhu pengikut Devadatta, dan berbicara kepada mereka. Mereka menyadari kesalahannya, sehingga banyak di antara mereka yang kembali bersama dua murid utama kepada Sang Buddha.
---------

Notes :

* Ada beberapa jenis penggolongan karma. Salah satunya adalah 5 Akusala Garuka Kamma / Karma Berat.

Devadatta telah melakukan Garuka Kamma. Garuka Kamma ini saking beratnya, akan menghasilkan buah karmanya dalam kehidupan ini atau segera di kehidupan berikut.

Melakukan salah satu Garuka kamma ini akan mengakibatkan kelahiran di Avici, neraka yang paling dalam dan paling mengerikan.

5 Garuka Kamma ini adalah :
- memecah belah Sangha
- melukai Buddha
- membunuh Arahat
- membunuh ibu
- membunuh ayah

Di sumber lain, dikatakan, Devadatta pada saat ditelan bumi, ia sempat berteriak menyatakan bahwa ia berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Pada kesempatan lain, Sang Buddha juga mengatakan bahwa sekeluarnya Devadatta dari Avici, beliau akan menjadi Paccekabuddha karena kebajikan-kebajikan lain yang telah dikumpulkannya (sumber text Mahayana mengatakan akan menjadi Buddha).


Thursday, 19 August 2010

Kisah Kala Thera (Dhammapada 12 : 164)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri 

(164) Karena pandangan yang salah orang bodoh
menghina ajaran orang mulia, orang suci dan orang bijak.
Ia akan menerima akibatnya yang buruk,
seperti rumput kastha yang berbuah hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Di Savatthi ada seorang wanita tua yang melayani seorang Thera bernama Kala seperti putranya sendiri. Suatu hari, wanita tua ini mendengar dari tetangganya, mengenai kebajikan  Sang Buddha, ia sangat berharap untuk pergi ke Vihara Jetavana dan mendengarkan khotbah Sang Buddha. Lalu ia menceritakan kepada Kala Thera tentang harapannya tersebut, tetapi Kala Thera menasehatinya untuk tidak melakukan hal itu. Tiga kali wanita tersebut mengatakan kepada Kala Thera mengenai keinginannya tersebut, tetapi Kala Thera selalu mencegahnya.

Namun pada suatu hari, dengan tidak mengindahkan larangannya, wanita itu memutuskan untuk pergi. Setelah meminta putrinya untuk menyediakan kebutuhan Kala Thera, ia meninggalkan rumahnya. Ketika Kala Thera datang seperti biasa untuk berpindapata, ia mengetahui wanita tersebut telah pergi ke Vihara Jetavana. Kemudian ia berpikir, "Kemungkinan wanita di rumah ini telah hilang kepercayaannya kepada saya." Lalu dengan cepat dan tergesa-gesa ia menyusul wanita tersebut ke vihara. Di sana ia menemukan wanita itu sedang mendengarkan khotbah yang diberikan oleh Sang Buddha. Ia mendekati Sang Buddha dengan perasaan hormat dan berkata, "Bhante, wanita ini sangat bodoh, ia tidak akan mengerti Dhamma yang tinggi, tolong ajari dia hanya mengenai pemberian (dana) dan kesusilaan (sila)."

Sang Buddha mengetahui dengan baik bahwa Kala Thera sedang membicarakan kegusarannya dan mempunyai maksud yang tersembunyi. Kemudian Sang Buddha berkata kepada Kala Thera, "Bhikkhu ! Karena kebodohan dan berpandangan salah, kamu merendahkan ajaran-Ku. Kamu membuat hancur dirimu sendiri; sesungguhnya, kamu hanya mencoba untuk menghancurkan dirimu sendiri."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Yo sāsanaṃ arahataṃ ariyānaṃ dhammajīvinaṃ
paṭikkosati dummedho diṭṭhiṃ nissāya pāpikaṃ
phalāni kaṭṭhakasseva attaghaññāya phallati."

Karena pandangan yang salah orang bodoh menghina
ajaran orang mulia, orang suci dan orang bijak.
Ia akan menerima akibatnya yang buruk,
seperti rumput kastha yang berbuah
hanya untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Wanita tua itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma tersebut berakhir.

Wednesday, 18 August 2010

Kisah Upasaka Culakala (Dhammapada 12 : 165)

XII. Atta Vagga- Diri Sendiri 

(165) Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seseorang pun yang dapat menyucikan orang lain.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Culakala adalah seorang upasaka yang sangat mentaati peraturan uposatha pada hari-hari tertentu dan tinggal sepanjang malam di Vihara Jetavana, untuk mendengarkan uraian Dhamma. Keesokan pagi harinya, ketika ia mencuci muka di kolam dekat vihara, beberapa pencuri meninggalkan seberkas barang curian di dekatnya. Pemilik barang melihat Culakala berada dekat barang-barangnya yang dicuri. Mengira Culakala adalah pencurinya, ia memukulnya dengan keras. Untunglah beberapa pelayan wanita yang datang untuk mengambil air dan menyatakan bahwa mereka mengenalinya, bahwa ia bukanlah pencuri. Kemudian Culakala dilepaskan.

Ketika Sang Buddha mendengar hal tersebut, Beliau berkata kepada Culakala, "Kamu dilepaskan tidak hanya karena pelayan-pelayan wanita berkata bahwa kamu bukanlah pencuri, tetapi juga karena kamu tidak mencuri dan oleh sebab itu kamu tidak bersalah. Barang siapa yang berbuat jahat akan ke alam neraka (niraya), tetapi barang siapa yang berbuat baik akan terlahir kembali di alam sorga (dewa) atau merealisir kebebasan mutlak (nibbana)."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Attanā va kataṃ pāpaṃ attanā saṃkilissati
attanā akataṃ pāpaṃ attanā va visujjhati,
suddhī asuddhī paccattaṃ nāñño aññaṃ visodhaye."

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seseorang pun yang dapat menyucikan orang lain.

Upasaka Culakala mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Tuesday, 17 August 2010

Kisah Attadattha Thera (Dhammapada 12 : 166)

XII. Atta Vagga - Diri Sendiri 

(166) Jangan karena demi kesejahteraan orang lain
lalu seseorang melalaikan kesejahteraan sendiri.
Setelah memahami tujuan akhir bagi diri sendiri,
hendaklah ia teguh melaksanakan tugas kewajibannya.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika Sang Buddha mengumumkan bahwa Beliau akan mencapai parinibbana dalam waktu 4 bulan lagi, banyak bhikkhu puthujjana (bhikkhu-bhikkhu yang belum mencapai tingkat kesucian) merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa, lalu mereka berusaha dekat dengan Sang Buddha.

Attadattha, meskipun tidak pergi ke hadapan Sang Buddha, bertekat untuk mencapai tingkat kesucian arahat selama Sang Buddha masih hidup, berusaha keras dalam latihan meditasi. Bhikkhu-bhikkhu lain yang tidak memahaminya, membawanya di hadapan Sang Buddha dan berkata, "Bhante, bhikkhu ini tidak terlihat mencintai dan memuja-Mu seperti yang kami lakukan, ia hanya menyendiri." Attadattha Thera kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa ia sedang berusaha untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha mencapai parinibbana, dan itulah alasannya mengapa ia tidak berada dekat Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian berkata kepada para bhikkhu, "Para bhikkhu, barang siapa yang mencintai dan menghormati Tathagatha seharusnya berkelakuan seperti Attadattha. Kalian tidak menghormat Tathagatha hanya dengan memberikan bunga-bunga, wangi-wangian, dupa, atau datang menjenguk Tathagatha. Kalian memberi penghormatan kepada Tathagatha bila mempraktekkan Dhamma yang telah diajarkan oleh Tathagatha kepada kalian seperti Lokuttara Dhamma."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Attadatthaṃ paratthena bahunā pi na hāpaye,
attadatthaṃ abhiññāya sadatthapasuto siyā."

Jangan karena demi kesejahteraan orang lain
lalu seseorang melalaikan kesejahteraan sendiri.
Setelah memahami tujuan akhir bagi diri sendiri,
hendaklah ia teguh melaksanakan tugas kewajibannya.

Attadattha Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
--------

Notes:

Dalam syair di atas Sang Buddha menyatakan persetujuan Beliau terhadap apa yang dilakukan oleh Attadattha Thera yaitu memilih untuk melatih diri dan sesegera mungkin mencapai arahat selagi Sang Buddha masih hidup, ketimbang hanya menghabiskan waktu di dekat Sang Buddha tanpa tujuan yang berarti.

Mohon jangan disalah-artikan dan ditarik ekstrim menjadi egois dan tidak perlu membantu orang lain. Tentu saja kita tetap harus membantu orang lain, dan juga tidak mengabaikan kemajuan spiritual kita. Hendaknya kita dapat menemukan keseimbangan yang tepat sesuai dengan keadaan masing-masing individu.