Showing posts with label 02. Appamada Vagga. Show all posts
Showing posts with label 02. Appamada Vagga. Show all posts

Saturday, 18 December 2010

Kisah Samavati (Dhammapada 2 : 21-23)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan

(21) Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan;
kelengahan adalah jalan menuju kematian.
Orang yang waspada tidak akan mati,
Tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.

(22) Setelah mengerti hal ini dengan jelas,
orang bijaksana akan bergembira dalam kewaspadaan
dan bergembira dalam praktek para ariya.

(23) Orang bijaksana yang tekun bersamadhi,
hidup bersemangat dan selalu bersungguh-sungguh,
pada akhirnya mencapai nibbana (kebebasan mutlak).
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kerajaan Kosambi waktu itu diperintah oleh Raja Udena dengan permaisurinya Ratu Samavati.

Ratu Samavati mempunyai 500 orang pengiring yang tinggal bersamanya di istana. Ia juga mempunyai pelayan kepercayaan, Khujjuttara, yang setiap harinya bertugas untuk membeli bunga.

Suatu hari terlihat Khujjuttara sedang menanti tukang bunga langganannya, Sumana. Tetapi yang dinantinya tak kunjung datang, sedang hari semakin siang. Bergegas ia ke rumah Sumana dengan maksud untuk membelinya di sana. Setibanya di sana, Sumana kelihatannya sedang repot menjamu tamu-tamunya, yaitu para bhikkhu. Dengan menggerutu terpaksa Khujjuttara menunggu sampai perjamuan itu selesai.

Selesai perjamuan, Khujjuttara melihat seorang bhikkhu yang berwajah cerah dan agung mulai berkotbah. Para bhikkhu lainnya, Sumana, dan kerabatnya, tampak mengelilinginya dan mendengarkan dengan tekun dan penuh perhatian.

"Aduh, bisa-bisa aku kena marah kalau pulang nanti," keluh Khujjuttara. "Apa boleh buat, terpaksa aku harus menunggu lagi", keluhnya. "Ah, dari pada menganggur dan mengantuk, apa salahnya aku juga ikut mendengarkan. Aku ingin tahu, apa yang dikotbahkan, sehingga semuanya mendengarkan dengan khidmad dan tidak mempedulikan kehadiranku!" katanya dalam hati.

Mula-mula Khujjuttara hanya setengah-setengah mendengarkan. Tetapi, makin lama perhatiannya makin tertarik, dan akhirnya malahan mendengarkan dengan tekun dan penuh perhatian.

Tak heran, karena pengkotbah itu adalah Sang Buddha sendiri.

Khujjuttara baru kali itu mempunyai kesempatan untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Walaupun demikian, karena akibat kamma masa lampaunya, mata batinnya mulai terbuka. Apa yang dikotbahkan dapat dipahaminya dengan benar dan sekaligus ia berhasil mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Pulang ke istana, ia telah ditunggu oleh Samavati dengan muka cemberut. "Kemana saja dan apa pula kerjamu, sehingga sesiang ini baru pulang? Dan mana bunga yang seharusnya kau beli?" tegur Samavati.

Setelah meminta maaf, Khujjuttara menceriterakan apa yang barusan dialaminya. Samavati tertarik mendengar pengalaman Khujjuttara dan memintanya agar sore nanti mengulangi kotbah yang tadi didengarnya.

Sore itu, Khujjuttara mengulang khotbah Sang Buddha kepada Samavati dan 500 orang pengiringnya. Sama halnya seperti Khujjuttara, Samavati beserta pengiringnya pada akhir khotbah juga mencapai kesucian sotapatti.

"Oh, Khujjuttara, engkau beruntung sekali bisa mendengarkan khotbah yang seindah itu. Berkat engkau, aku beserta yang lain-lainnya juga ikut menikmati keberuntungan itu!" kata Samavati.

"Atas jasa-jasamu, engkau kuangkat sebagai ibu angkat dan guruku!" lanjutnya. "Mulai hari ini engkau kubebaskan dari segala kewajibanmu yang lain. Sayang, aku tak dapat keluar istana. Maka untuk selanjutnya engkau berkewajiban untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha, dan kemudian mengulangnya untuk didengar oleh semuanya."

Demikianlah, Khujjuttara selalu mengikuti kemana Sang Buddha berkhotbah, dan kemudian mengulangnya di hadapan Samavati beserta para pengiringnya. Dalam waktu singkat, Khujjuttara berhasil memahami Dhamma yang diajarkan Sang Buddha dengan baik.

Lama kelamaan Samavati dan pengiringnya sangat berharap dapat melihat Sang Buddha dan ingin sekali memberi penghormatan kepada Beliau. Tetapi mereka takut jika raja tidak berkenan. Dicarilah akal, bagaimana caranya agar mereka bisa melaksanakan maksudnya. Salah satu pengiring Samavati menemukan cara, dengan membuat lobang-lobang pada dinding-dinding di sekitar istana. Melalui lobang itu mereka dapat melihat keluar dan memberi penghormatan kepada Sang Buddha setiap hari, saat Beliau akan mengunjungi rumah tiga orang hartawan, bernama Ghosaka, Kukkuta, dan Pavariya.

Pada waktu Raja Udena memerintah, ada seorang brahmana mempunyai puteri yang sangat cantik, Magandiya namanya. Karena kecantikan puterinya, ia selalu memilih-milih calon suami anaknya. Dan selama itu dirasanya belum ada yang tepat untuk mendampingi anaknya.

Suatu hari, brahmin itu bertemu muka dengan Sang Buddha. Ia sangat terpesona melihatNya, dan berpikir bahwa inilah satu-satunya orang yang pantas untuk menjadi suami puterinya yang sangat cantik. Dicarinya tahu di mana Sang Buddha berdiam, kemudian bersama dengan isteri dan puterinya, ia ke sana dan meminta kepada Sang Buddha agar mau menerima puterinya sebagai isteri.

Sang Buddha terdiam sejenak. Dengan kekuatan supranatural-Nya diselidikilah brahmin anak beranak itu. Beliau melihat bahwa brahmin itu dengan isterinya mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mencapai kesucian anagami.

Dengan tersenyum, Beliau menjawab, "Setelah melihat Tanha, Arati, dan Raga, putri-putri Mara, Aku tidak lagi mempunyai keinginan seksual; semuanya hanya berisikan kotoran dan air kencing, dan aku tidak ingin menyentuhnya, walaupun dengan ujung kakiku sekali pun."

Mendengar kata-kata Sang Buddha, brahmin itu dan istrinya terkejut. Mereka kemudian merenung, mengapa permintaan baik-baik mereka dijawab seperti itu? Akhirnya mata batin mereka berdua terbuka, dan mereka menjadi paham dengan arti jawaban tadi. Keduanya langsung mencapai tingkat kesucian anagami magga dan phala.

Sepulangnya, mereka berdua segera berunding. Berdua mereka ingin menjauhi kehidupan duniawi dan bergabung dengan murid-murid Sang Buddha. Mereka juga bersetuju untuk menyerahkan perawatan puteri mereka kepada saudara mereka. Kelak, karena ketekunannya mereka berdua berhasil mencapai tingkat kesucian arahat.

Alkisah, puteri Magandiya yang juga mendengar jawaban Sang Buddha seperti tadi merasa sangat terhina dan tersinggung. Apalagi setelah ayah bundanya akhirnya mengikuti Sang Buddha dan menyerahkan perawatan dirinya kepada pamannya.

"Wahai Samana Gotama, setelah aku kau hina, kau rebut pula kedua orang tuaku. Sungguh keterlaluan sikapmu padaku!" demikian kata hati puteri Magandiya. "Awas! Tunggulah pembalasanku! Kemana saja engkau pergi, pasti akan kucari dan kubalas penghinaanmu padaku! Sebelum dendamku terbalas, aku tidak akan berhenti!" ancamnya dalam hati.

Alkisah, beberapa waktu kemudian pamannya menyerahkan Magandiya kepada Raja Udena. Karena Magandiya memang cantik jelita, raja pun menerimanya sebagai salah satu isterinya.

Suatu ketika Magandiya mendengar kedatangan Sang Buddha di Kosambi, dan bagaimana Samavati dan pengiringnya memberi penghormatan kepada Beliau melalui lobang-lobang di sekitar istana.

"Inilah waktunya untuk membalas dendam!" pikirnya. Matanya berbinar-binar kegirangan. Segera Magandiya merencanakan cara untuk membalas dendam kepada Sang Buddha dan mencelakakan Samavati beserta pengiring yang sangat mengagumi Sang Buddha.

Paginya, Magandiya segera menghadap raja. "Baginda, Samavati ingin berkhianat. Ia bersama pengiringnya telah membuat lobang-lobang di dinding istana, agar dapat berhubungan dengan orang luar. Mungkin pula mereka telah mengatur pemberontakan!" katanya memanas-manasi raja.

Raja terkejut mendengar laporan itu. Ia segera turun ke lapangan untuk melihat sendiri kebenarannya. Benar! Banyak lobang dibuat pada dinding istana. Dengan marah, raja segera memanggil Samavati. "Samavati, tak kusangka bahwa engkau sampai hati benar ingin berkhianat kepadaku!"

Samavati melenggak keheranan, "Baginda, mengapa Baginda sampai hati menuduh demikian?"

"Untuk apa kau buat banyak lobang pada dinding istana? Bukankah untuk memudahkan berhubungan dengan orang luar dan mengatur pemberontakan?"

"Ampun Baginda", jawab Samavati. "Tiada setitikpun terbit ingatan untuk memberontak pada diri hamba. Bahkan selama ini hamba sangat berterima kasih dapat hidup tanpa kekurangan suatu apapun di istana ini."

"Lalu, untuk apa kau buat lobang-lobang itu?"

Samavati segera menceritakan semuanya dengan bersungguh-sungguh. Raja dapat diyakinkan, sehingga tidak menarik panjang urusan itu.

Melihat usahanya untuk mengenyahkan Samavati tidak berhasil, Magandiya bertambah marah, tetapi ia tidak putus asa. Ia tetap berusaha mencari jalan untuk membuat raja percaya, bahwa Samavati tidak setia kepada Raja, dan telah berusaha untuk membunuhnya.

Suatu hari, Magandiya mendengar bahwa Raja akan mengunjungi Samavati dalam beberapa hari mendatang, dan akan membawa kecapinya. Magandiya memasukkan seekor ular ke dalam kecapi tersebut dan menutupinya dengan seikat bunga.

Magandiya mengikuti Raja Udena ke tempat tinggal Samavati. Di perjalanan, ia selalu mencoba mengurungkan niat raja, karena dia merasa tidak percaya kepada Samavati dan mengkhawatirkan keselamatan raja. Tetapi raja tidak menghiraukannya. Sampai di kediaman Samavati, tatkala tiada orang, Magandiya mencabut seikat bunga dari lubang kecapinya. Ular itu keluar dan melingkar di atas tempat tidur. Ketika raja hendak mengambil kecapinya, dan melihat ular itu, baru beliau mempercayai kata-kata Magandiya, bahwa Samavati berusaha untuk membunuhnya.

Raja sangat marah. Beliau memerintahkan Samavati untuk berdiri, dengan semua pengiringnya berbaris di belakangnya.

"Pengawal, ambil busur dan anak panahku!" teriak raja. Tetapi Samavati dan pengiringnya tak gentar. Mereka semua tetap berdiri sambil memancarkan cinta kasih kepada Raja.

Raja menarik busurnya dengan anak panah yang telah dilumuri racun. Samavati dibidiknya baik-baik, dan kemudian anak panah dilepaskan.

Dengan suara berdesir anak panah itu melaju secepat kilat mendekati sasarannya, Samavati. Semua yang melihat menahan napasnya.

Ajaib, begitu akan menyentuh Samavati, anak panah itu kelihatan seolah-olah terpental, menyeleweng arahnya, melewati Samavati dan pengiringnya, dan akhirnya menghujam ke dinding di belakangnya.

Raja semakin murka, dikiranya bidikannya melesat. Sekali lagi raja menarik busurnya dan Samavati dibidiknya dengan lebih hati-hati.

Sekali lagi anak panah itu seolah-olah mengenai perisai yang keras, menyeleweng arahnya dan menghujam lagi ke dinding.

Lagi, dan lagi raja berusaha membidik Samavati maupun pengiringnya, tetapi kejadian seperti tadi tetap berulang lagi.

Raja tercenung memikirkan kejadian yang baru dialaminya. Seolah-olah Samavati dan pengiringnya ada yang melindungi. Dan kalau benar demikian, niscaya Samavati tidak bersalah. Maka kemarahannya mereda. Bahkan pada akhirnya, ia memberi ijin kepada Samavati untuk mengundang Sang Buddha dan murid-muridnya ke istana untuk menerima dana makanan, dan untuk menyampaikan khotbah.

Magandiya menyadari bahwa tidak satupun dari rencananya terlaksana. "Kalau Baginda tak mampu membunuh Samavati, maka aku sendiri yang akan turun tangan membunuhnya!" pikirnya. Oleh karenanya ia membuat rencana akhir, rencana yang sempurna. Magandiya mengirimkan suatu pesan kepada pamannya, dengan petunjuk-petunjuk lengkap untuk pergi ke istana Samavati, dan membakar istananya bersamaan dengan semua orang yang ada di dalamnya.

Ketika istana tersebut terbakar, Samavati dan pengiringnya, yang berjumlah 500 orang, tetap bermeditasi. Kemudian, beberapa dari mereka mencapai tingkat kesucian sakadagami, dan yang lain berhasil mencapai tingkat kesucian anagami.

Berita kebakaran tersebut segera menyebar, Raja segera pergi ke tempat kejadian, tetapi beliau terlambat. Beliau mencurigai bahwa hal ini dilakukan oleh Magandiya, tetapi raja tidak menunjukkan kecurigaannya.

Untuk mengetahui hal yang sebenarnya, beliau berkata, "Ketika Samavati masih hidup, saya selalu khawatir kalau-kalau dia akan mencelakakan saya. Sekarang, pikiranku lebih tenang. Siapa yang telah melakukan ini semua? Hal ini pasti hanya dilakukan oleh seseorang yang sangat mencintaiku."

Mendengar kata-kata itu, Magandiya segera mengakui, bahwa dia yang telah memerintahkan pamannya untuk melakukan hal itu semua. Untuk hal itu, Raja sangat puas dan mengatakan bahwa beliau akan memberikan penghargaan pada Magandiya dan seluruh keluarganya. Kemudian, seluruh keluarga Magandiya diundang ke istana untuk menghadiri perjamuan.

Magandiya, pamannya, dan seluruh kerabatnya datang ke istana dengan gembira. Setelah mereka berkumpul semua, raja berdiri dan berteriak, "Hei, para pengawal, tangkap mereka semua!" Setelah semuanya ditangkap, raja segera memerintahkan, "Masukkan mereka semuanya ke dalam istana Magandiya. Jangan sampai ada yang lolos. Kemudian bakar seluruh istana itu, seperti apa yang telah mereka lakukan terhadap Samavati!"

Ketika Sang Buddha mendengar dua kejadian tersebut, Beliau mengatakan bahwa seseorang yang waspada, tidak akan mati; tetapi mereka yang lengah akan merasa mati, meskipun dia masih hidup.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Appamādo amatapadaṃ pamādo maccuno padaṃ,
appamattā na mīyanti ye pamattā yathā matā.

Etaṃ visesato ñatvā appamādamhi paṇḍitā
appamāde pamodanti ariyānaṃ gocare ratā.

Te jhāyino sātatikā niccaṃ daḷhaparakkamā
phusanti dhīrā nibbānaṃ yogakkhemaṃ anuttaraṃ."

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan;
kelengahan adalah jalan menuju kematian.
Orang yang waspada tidak akan mati,
Tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.

Setelah mengerti hal ini dengan jelas,
orang bijaksana akan bergembira dalam kewaspadaan
dan bergembira dalam praktek para ariya.

Orang bijaksana yang tekun bersamadhi,
hidup bersemangat dan selalu bersungguh-sungguh,
pada akhirnya mencapai nibbana (kebebasan mutlak).

Friday, 17 December 2010

Kisah Kumbhaghosaka (Dhammapada 2 : 24)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(24) Orang yang penuh semangat, selalu sadar,
murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri,
hidup sesuai dengan Dhamma, dan selalu waspada,
maka kebahagiaannya akan bertambah.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, ada suatu wabah penyakit menular menyerang kota Rajagaha. Di rumah bendahara kerajaan, para pelayan banyak yang meninggal akibat wabah tersebut. Bendahara dan istrinya juga terkena wabah tersebut. Ketika mereka berdua merasa akan mendekati ajal, mereka memerintahkan anaknya Kumbhaghosaka untuk pergi meninggalkan mereka, pergi dari rumah, dan kembali lagi pada waktu yang lama, agar tidak ketularan. Mereka juga mengatakan kepada Kumbhaghosaka, bahwa mereka telah mengubur harta sebesar 40 crore. Kumbhaghosaka pergi meninggalkan kota, dan tinggal di hutan selama 12 tahun, dan kemudian kembali lagi ke kota asalnya.

Seiring dengan waktu, Kumbhaghosaka tumbuh menjadi seorang pemuda, dan tidak seorangpun di kota yang mengenalinya. Dia pergi ke tempat dimana harta karun tersebut disembunyikan, dan menemukannya masih dalam keadaan utuh. Tetapi dia menyadari, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengenalinya lagi. Jika dia menggali harta tersebut dan menggunakannya, masyarakat mungkin berpikir, seorang lelaki miskin secara tidak sengaja telah menemukan harta karun, dan mereka mungkin akan melaporkannya kepada Raja. Dalam kasus ini, hartanya akan disita dan dia sendiri mungkin akan ditangkap. Maka dia memutuskan untuk sementara waktu ini tidak menggali harta tersebut, dan untuk sementara dia harus mencari pekerjaan untuk membiayai penghidupannya.

Dengan mengenakan pakaian tua, Kumbhaghosaka mencari pekerjaan. Dia mendapatkan pekerjaan untuk membangunkan orang. Bangun awal di pagi hari, dan berkeliling memberitahukan bahwa saat itu adalah saat untuk menyediakan makanan, untuk menyiapkan kereta, ataupun saat untuk menyiapkan kerbau dan lain-lain.

Suatu pagi Raja Bimbisara mendengar suara orang membangunkannya. Raja berkomentar, "Ini adalah suara dari seorang laki-laki yang mempunyai kekayaan besar."
Seorang pelayan mendengar komentar Raja. Ia mengirimkan seorang penyelidik untuk menyelidikinya. Dia melaporkan bahwa pemuda itu hanya orang sewaan. Tetapi kendati demikian, Raja kembali berkomentar sama selama dua hari berturut-turut. Sekali lagi, pelayan raja menyuruh orang lain menyelidikinya, dan hasilnya tetap sama. Pelayan berpikir bahwa ini adalah hal yang aneh, maka dia meminta pada raja, agar memberikan izin kepadanya untuk pergi dan menyelidikinya sendiri.

Dengan menyamar sebagai orang desa, pelayan dan putrinya pergi ke tempat tinggal para buruh. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah pengelana, dan membutuhkan tempat untuk bermalam. Mereka mendapat tempat bermalam di rumah Kumbhaghosaka untuk satu malam. Tetapi mereka akhirnya dapat memperpanjang masa tinggal di sana. Selama periode tersebut, dua kali Raja telah mengumumkan bahwa akan diadakan suatu upacara di tempat tinggal para buruh, dan setiap rumah tangga harus memberikan sumbangan. Kumbhaghosaka tidak mempunyai uang untuk menyumbang. Maka dia terpaksa mengambil beberapa koin (Kahapana) dari harta simpanannya.

Ketika melihat Kumbhaghosaka membawa koin-koin tersebut, pelayan raja berusaha agar Kumbhaghosaka mau menukarkan koin-koin itu dengan uangnya. Usahanya berhasil, dan pelayan itu mengirimkan koin-koin itu kepada raja. Setelah beberapa waktu, pelayan tersebut mengirimkan pesan kepada raja untuk mengirim orang dan memanggil Kumbhaghosaka ke pengadilan. Kumbhaghosaka merasa tidak senang, dengan terpaksa ia pergi bersama orang-orang tersebut. Pelayan dan putrinya juga pergi ke istana.

Di istana, Raja menyuruh Kumbhaghosaka untuk menceritakan kejadian sebenarnya, dan menjamin keselamatannya. Kumbhaghosaka kemudian mengakui bahwa Kahapana itu adalah miliknya, dan juga mengakui bahwa ia adalah putra seorang bendahara di Rajagaha, yang meninggal karena wabah, dua belas tahun yang lalu. Dia kemudian juga menceritaka tentang tempat dimana harta karun tersebut disembunyikan. Akhirnya, semua harta karun tersebut dibawa ke istana; Raja mengangkatnya menjadi seorang bendahara dan memberikan putrinya untuk dijadikan istri.

Setelah itu Raja membawa Kumbhaghosaka mengunjungi Sang Buddha di Vihara Veluvana, dan menceritakan kepada Beliau bagaimana pemuda tersebut – walaupun sesungguhnya kaya raya – mencari nafkah sebagai buruh sewaan, dan bagaimana akhirnya dia diangkat menjadi bendahara.

Mengakhiri pertemuan itu, Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

“Uṭṭhānavato satīmato
sucikammassa nisammakārino
saññatassa dhammajīvino
appamattassa yaso ‘bhivaḍḍhati.”

Orang yang penuh semangat, selalu sadar,
murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri,
hidup sesuai dengan Dhamma, dan selalu waspada,
maka kebahagiaannya akan bertambah.

Thursday, 16 December 2010

Kisah Culapanthaka (Dhammapada 2 : 25)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(25) Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri,
hendaklah orang bijaksana,
membuat pulau bagi dirinya sendiri,
yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bendahara Kerajaan di Rajagaha, mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha.

Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau, pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah mengolok-olok seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat, meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan mengatakan bahwa adiknya tidak berguna.

Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan makan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu, dia merasa sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali hidup sebagai seorang perumah tangga.

Mengetahui keinginan tersebut, Sang Buddha membawanya dan menyuruhnya duduk di depan Gandhakuti. Kemudian Beliau memberikan selembar kain bersih kepada Culapanthaka, dan menyuruhnya untuk duduk menghadap ke timur dan menggosok-gosok kain itu. Pada waktu bersamaan, dia harus mengulang kata "Rajoharanam", yang berarti "membersihkan kekotoran (taking on impurity)". Sang Buddha kemudian pergi ke tempat kediaman Jivaka, menemani para bhikkhu.

Culapanthaka mulai menggosok selembar kain tersebut, sambil mengucapkan "Rajoharanam". Berulang kali kain itu digosok, dan berulang kali pula kata-kata rajoharanam meluncur dari mulutnya. Berulang dan berulang kali.

Karena terus menerus digosok, kain tersebut menjadi kotor. Melihat perubahan yang terjadi pada kain tersebut, Culapanthaka tercenung. Ia segera menyadari ketidakkekalan segala sesuatu yang berkondisi.

Dari rumah Jivaka, Sang Buddha dengan kemampuan iddhi (kesaktian), mengetahui kemajuan Culapanthaka. Beliau dengan kekuatan iddhiNya menemui Culapanthaka, sehingga seolah-olah Beliau tampak duduk di depan Culapanthaka, dan berkata:

"Tidak hanya selembar kain yang dikotori oleh debu; dalam diri seseorang ada debu hawa nafsu (raga), debu keinginan jahat (dosa), dan debu ketidaktahuan (moha), seperti ketidaktahuan akan Empat Kesunyataan Mulia. Hanya dengan melenyapkan hal-hal tersebut, seseorang dapat mencapai tujuannya dan mencapai arahat."

Culapanthaka mendengarkan pesan tersebut dan meneruskan bermeditasi. Dalam waktu yang singkat mata batinnya terbuka, dan ia mencapai tingkat kesucian arahat, bersamaan dengan memiliki "Pandangan Terang Analitis". Maka Culapanthaka tidak lagi menjadi orang dungu.

Di rumah Jivaka, para umat menuang air sebagai tanda telah melakukan perbuatan dana, tetapi Sang Buddha menutup mangkoknya dengan tangan dan berkata bahwa masih ada bhikkhu yang ada di vihara. Semuanya mengatakan bahwa tidak ada bhikkhu yang tertinggal. Sang Buddha menjawab bahwa masih ada satu orang bhikkhu yang tertinggal dan memerintahkan untuk menjemput Culapanthaka di vihara.

Ketika pembawa pesan dari rumah Jivaka tiba di vihara, dia menemukan tidak hanya satu orang, tetapi ada seribu orang bhikkhu yang serupa. Mereka semua diciptakan oleh Culapanthaka, yang sekarang telah memiliki iddhi*. Utusan tersebut kagum, dan dia pulang kembali dan melaporkan hal ini kepada Jivaka.

Utusan itu kembali diutus ke vihara untuk kedua kalinya, dan diperintahkan untuk mengatakan bahwa Sang Buddha mengundang bhikkhu yang bernama Culapnthaka. Tetapi ketika dia menyampaikan pesan tersebut, seribu suara menjawab, "Saya adalah Culapanthaka." Dengan bingung, dia kembali ke rumah Jivaka untuk kedua kalinya.

Untuk ketiga kalinya dia diperintahkan untuk menarik bhikkhu yang dilihatnya pertama kali mengatakan bahwa dia adalah Culapanthaka. Dengan cepat dia memegangnya dan semua bhikkhu yang lain menghilang, dan Culapanthaka menemani utusan tersebut ke rumah Jivaka.

Setelah makan siang, seperti yang diperintahkan oleh Sang Buddha, Culapanthaka menyampaikan khotbah Dhamma, dengan berani dan percaya diri, mengaum bagaikan seekor singa muda**.
Ketika masalah Culapanthaka dibicarakan di antara para bhikkhu, Sang Buddha berkata bahwa seseorang yang rajin dan teguh dalam perjuangan, pasti akan mencapai tingkat kesucian arahat.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Uṭṭhānen’ appamādena saññamena damena ca
dīpaṃ kayirātha medhāvī yaṃ ogho nābhikīrati."

Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin, dan pengendalian diri,
hendaklah orang bijaksana,
membuat pulau bagi dirinya sendiri,
yang tidak dapat ditenggelamkan oleh banjir.
-----------------------

Notes :

*Iddhi / Kesaktian / ABHINNA :

1. Pubbenivasanussati-nana : kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir / kelahiran-kelahiran yang dahulu
2. Dibbacakkhu-nana : Mata batin, kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan kesanggupan melihat muncul lenyapnya makhluk-makhluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan kammanya masing-masing
3. Asavakkhaya-nana : Kemampuan untuk membasmi asava atau kekotoran batin
4. Cetopariya-nana : kemampuan untuk membaca pikiran makhluk-makhluk lain.
5. Dibbasota-nana : Telinga batin, kemampuan untuk mendengar suara-suara dari makhluk-makhluk yang berada di alam-alam kehidupan Apaya, manusia, deva dan brahma, yang dekat maupun yang jauh.
6. Iddhividha-nana : kekuatan magis yang terdiri dari :

• Adhitthana-iddhi : dengan kekuatan kehendak mengubah tubuh sendiri dari satu menjadi banyak, dari banyak menjadi satu
• Vikubbana-iddhi : Kemampuan untuk menyalin rupa, umpamanya menyalin rupa menjadi anak kecil, raksasa, membuat diri menjadi tidak tampak
• Manomaya-iddhi : Kemampuan mencipta dengan mengunakan pikiran, umpamanya menciptakan harimau, singa, pohon, dewi dan lain-lainnya.
• Nanavipphara-iddhi : kekuatan dari pengetahuan menembus ajaran; kekuatan dari benih pencapaian kesucian yang telah dimiliki – yang menyebabkan orang tersebut akan tetap selamat walaupun dalam bahaya.
• Samadhivipphara-iddhi : Konsentrasi, lebih jauh memiliki :

~ Kemampuan menembus dinding, tanah dan gunung
~ Kemampuan menyelam ke dalam bumi bagaikan menyelam ke dalam air
~ Kemampuan berjalan di atas air
~ Kemampuan melawan api
~ Kemampuan terbang di angkasa

Sang Buddha memiliki semua Abhinna diatas dan masih banyak lagi kesaktian Beliau.
Arahat belum tentu memiliki semua kemampuan diatas, tergantung dari karmanya masing-masing.
Juga perlu diperhatikan, bahwa, orang suci kemungkinan besar punya kesaktian sebagai hasil sampingan dari hasil meditasi beliau, tetapi, orang yang sakti belum tentu suci !

** istilah perumpamaan ‘mengaum bagaikan singa’ = lion’s roar = sihanada, ini sering digunakan di kitab Tipitaka. Biasanya digunakan ketika Buddha atau para muridNya menyatakan pencapaian spiritual mereka, misalnya menjadi arahat.
Singa dikenal sebagai raja hutan. Seekor singa mengekspresikan kedaulatannya dengan aumannya; pekikan, gonggongan, dan geraman binatang lain akan dibuat diam oleh auman singa. Ketika singa mengaum di hutan, semua penghuni hutan akan terdiam dan mendengarkan.

Wednesday, 15 December 2010

Kisah Perayaan Balanakkhatta (Dhammapada 2 : 26-27)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(26) Orang dungu yang berpengertian dangkal,
terlena dalam kelengahan,
sebaliknya, orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan
seperti menjaga harta yang paling berharga.

(27) Jangan terlena dalam kelengahan,
jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indria.
Orang yang waspada dan rajin bersamadhi,
akan memperoleh kebahagiaan sejati.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu perayaan Balanakkhatta dirayakan di Savatthi. Selama perayaan ini, beberapa pemuda melumuri tubuhnya dengan abu dan kotoran sapi, berkeliling kota sambil berteriak-teriak. Perbuatan mereka menyusahkan masyarakat. Mereka juga berhenti di setiap pintu dan tidak akan pergi sebelum diberi uang.

Waktu itu, beberapa murid Sang Buddha yang hidup berumah tangga berdiam di Savatti. Melihat kejadian tersebut, mereka mengirimkan utusan untuk menghadap Sang Buddha, meminta Beliau untuk tetap tinggal di vihara dan tidak ke kota selama tujuh hari. Mereka mengirimkan makanan ke vihara, dan mereka sendiri tinggal di dalam rumah.

Pada hari ke delapan, ketika perayaan telah usai, Sang Buddha dan muridnya diundang ke kota untuk makan siang. Mereka membicarakan tindakan para pemuda yang kasar dan memalukan itu selama perayaan berlangsung. Sang Buddha memberikan komentar bahwa hal itu adalah wajar, bahwa kebodohan dan ketidaktahuan akan membuat seseorang melakukan perbuatan yang memalukan.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"pamādam anuyuñjanti
bālā dummedhino janā
appamādañ ca medhāvī
dhanaṃ seṭṭhaṃ va rakkhati

mā pamādam anuyuñjetha
mā kāmaratisanthavaṃ
appamatto hi jhāyanto
pappoti vipulaṃ sukhaṃ”

Orang dungu yang berpengertian dangkal,
terlena dalam kelengahan,
sebaliknya, orang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan,
seperti menjaga harta yang paling berharga.

Jangan terlena dalam kelengahan,
jangan terikat pada kesenangan-kesenangan indria.
Orang yang waspada dan rajin bersamadhi,
akan memperoleh kebahagiaan sejati.
-----------------

Notes :

Karena pandangan salah, terkadang kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang kita anggap 'fun' ternyata adalah perbuatan bodoh, menyebalkan dan mengganggu orang lain.

Tuesday, 14 December 2010

Kisah Mahakassapa Thera (Dhammapada 2 : 28)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(28) Seperti seseorang yang berdiri diatas gunung
mengamati mereka yang berada di bawah,
Orang bijaksana yang telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan
dan bebas dari penderitaan, mendaki menara kebijaksanaan,
mengamati orang-orang yang belum tercerahkan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu ketika Mahakassapa Thera tinggal di gua Pipphali, beliau menghabiskan waktunya untuk mengembangkan aloka kasina, dan melalui kemampuan batin mata dewa, mencoba mengetahui siapa yang waspada, dan siapa yang lengah, juga siapa yang mati dan akan dilahirkan.

Sang Buddha, dari vihara, mengetahui melalui kemampuan batin mata dewa beliau, apa yang dikerjakan oleh Mahakassapa Thera, dan ingin mengingatkan bahwa apa yang dia lakukan hanyalah menghabiskan waktu. Maka Beliau menampakkan diri di depan thera tersebut dan berkata. "Anakku Kassapa, jumlah kelahiran dan kematian makhluk hidup tak terhitung dan tak dapat dihitung. Hal ini bukan tugasmu, hal ini adalah tugas para Buddha."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Pamādaṃ appamādena yadā nudati paṇḍito
paññāpāsādaṃ āruyha asoko sokiniṃ pajaṃ
pabbataṭṭho va bhummaṭṭhe dhīro bāle avekkhati."

Seperti seseorang yang berdiri diatas gunung
mengamati mereka yang berada di bawah,
Orang bijaksana yang telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan
dan bebas dari penderitaan, mendaki menara kebijaksanaan,
mengamati orang-orang yang belum tercerahkan.
----------

Notes :

Seorang Buddha memiliki kemampuan untuk melihat kelahiran dan kematian makhluk hidup berkalpa-kalpa banyaknya, sedangkan kemampuan seorang arahat untuk melihat hal tersebut jauh lebih sedikit dibanding Sang Buddha, dan terbatas (misalnya hanya satu asankheyya kalpa). Karena perbedaan kemampuan inilah maka adalah sia-sia bagi Mahakassapa untuk mencoba melihat hal tersebut karena ia hanya akan dapat melihat sebagian kecil saja.

Monday, 13 December 2010

Kisah Dua Bhikkhu yang Bersahabat (Dhammapada 2 : 29)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(29) Waspada di antara yang lengah,
berjaga di antara yang tertidur,
orang bijaksana akan maju terus,
bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari
meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dua orang bhikkhu, setelah diberi objek meditasi oleh Sang Buddha, pergi ke vihara di hutan.

Salah satu dari mereka lengah, dia menghabiskan waktunya untuk menghangatkan tubuh dekat api dan berbincang-bincang dengan samanera-samanera pada waktu malam jaga pertama*, dan menghabiskan waktunya tanpa melakukan apa-apa.

Bhikkhu yang lain dengan rajin mengerjakan tugasnya sebagai bhikkhu. Dia melakukan meditasi jalan pada waktu malam jaga pertama, beristirahat sewaktu malam jaga kedua, dan bermeditasi lagi pada malam jaga terakhir. Maka, karena rajin dan selalu waspada, bhikkhu kedua ini mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat.

Pada akhir masa vassa**, keduanya pergi untuk menghormat Sang Buddha, dan Beliau menanyakan bagaimana mereka menghabiskan waktu selama bervassa.

Bhikkhu pemalas dan lengah menjawab, bahwa bhikkhu yang lain hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring dan tidur. Sang Buddha kemudian bertanya, "Bagaimana dengan kamu sendiri?" Jawabannya, bahwa dia selalu duduk menghangatkan tubuh dengan api pada waktu malam jaga pertama, dan kemudian duduk tanpa tidur.

Tetapi Sang Buddha mengetahui dengan baik, bagaimana kedua bhikkhu tersebut telah menghabiskan waktu, maka Beliau berkata kepada bhikkhu yang malas, "Meskipun kamu malas dan lengah, kamu mengatakan bahwa kamu rajin dan selalu waspada, tetapi kamu telah mengatakan bahwa bhikkhu yang lain kelihatan malas dan lengah, meskipun dia rajin dan selalu waspada. Kamu seperti seekor kuda yang lemah dan lamban dibandingkan dengan anak-Ku yang seperti kuda yang kuat dan tangkas."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Appamatto pamattesu suttesu bahujāgaro
abalassaṃ va sīghasso hitvā yāti sumedhaso."

Waspada di antara yang lengah,
berjaga di antara yang tertidur,
orang bijaksana akan maju terus,
bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari
meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.
------------------

Notes :

* jaman dahulu, waktu malam hari dibagi menjadi 3 bagian; yaitu
malam jaga pertama (jam 6 – 10 malam),
malam jaga kedua ( jam 10 malam – 2 pagi),
dan malam jaga ketiga (jam 2 – 6 pagi ).

** Vassa : musim hujan.

Pada musim hujan para bhikkhu harus menetap di suatu tempat, dan tidak melakukan perjalanan. Hal ini bermula ketika masyarakat mengkritik para bhikkhu yang mengadakan perjalanan di musim hujan, dimana mereka menginjak tunas-tunas muda dan mengakibatkan binatang-binatang kecil mati. Ketika masalah ini diberitahukan kepada Sang Buddha, maka dibuatlah peraturan Vassa tsb. Masa Vassa ini berlangsung selama 3 bulan, Juli s/d Oktober.
Pada akhir masa Vassa ini, kita merayakan hari Kathina (persembahan jubah kepada anggota Sangha).

Sunday, 12 December 2010

Kisah Magha (Dhammapada 2 : 30)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(30) Dengan kewaspadaan,
Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa.
Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji,
dan kelengahan akan selalu dicela.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali, datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha Sutta (Sutta tentang Pertanyaan Dewa Sakka). Sang Buddha menceritakan tentang Sakka dengan jelas sekali. Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pasti pernah berjumpa dengan Sakka secara langsung. Untuk meyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha.

Sang Buddha menjawab, "Mahali, Tathāgata* mengenal Sakka, Tathāgata juga mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi Sakka." Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali, bahwa Sakka, raja para dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda yang bernama Magha, tinggal di desa Macala.

Pemuda Magha dan tiga puluh dua temannya pergi untuk membangun jalan dan tempat peristirahatan**. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban.

Tujuh kewajiban tersebut adalah:
(1) Dia akan merawat kedua orang tuanya;
(2) Dia akan menghormati orang yang lebih tua;
(3) Dia akan berkata sopan;
(4) Dia akan menghindari membicarakan orang lain;
(5) Dia tidak akan menjadi orang kikir, dia akan menjadi orang yang murah hati;
(6) Dia akan berkata jujur; dan
(7) Dia akan menjaga dirinya untuk tidak mudah marah.

Karena kelakuannya yang baik, dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampau, Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, raja para Dewa.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Appamādena maghavā devānaṃ seṭṭhataṃ gato
appamādaṃ pasaṃsanti pamādo garahito sadā."

Dengan kewaspadaan,
Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa.
Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji,
dan kelengahan akan selalu dicela.
-------------------

Notes :

* Tathāgata (Chinese : 如来 ru lai) ; artinya "Ia yang telah pergi" (Tathā-gata) dan atau "Ia yang telah datang" (Tathā-āgata). Buddha menyebut diriNya Tathagata, dan tidak menggunakan kata ’saya’, ’aku’ dan sejenisnya. Sayangnya, banyak terjemahan teks Buddhist yang memaksakan 'Aku' balik lagi ke dalam ucapan Sang Buddha.

** Ingat kisah tentang Upasaka Dhammika di ayat 16 ? Disana dijelaskan 6 jenis surga / alam dewa, dimana salah satu diantaranya adalah surga Tãvatimsa. Tavatimsa = 33 dewa. Ini dia kisah awalnya kenapa disebut alam 33 dewa, mereka 33 orang bersama-sama melakukan kebajikan besar demi keuntungan orang banyak, dan terlahir di surga berbarengan.

Saturday, 11 December 2010

Kisah Seorang Bhikkhu (Dhammapada 2 : 31)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(31) Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
bergerak cepat bagaikan api,
membakar habis semua rintangan batin, baik yang besar maupun yang kecil.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang bhikkhu, setelah memperoleh obyek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan untuk bermeditasi. Meskipun dia berlatih dengan sungguh-sungguh, dia hanya memperoleh kemajuan yang sangat kecil. Akibatnya, ia frustasi. Dengan berpikir akan memperoleh petunjuk lebih lanjut dari Sang Buddha, dia meninggalkan hutan menuju Vihara Jetavana.

Dalam perjalanannya, dia melewati nyala api yang sangat besar. Dia berlari menuju puncak gunung, dan mengamati api tersebut dari sana. Melihat api yang menyebar, ia termenung. Pikirnya, seperti api yang membakar habis semuanya, begitu juga pandangan terang akan membakar semua belenggu kehidupan, besar dan kecil.

Sementara itu, dari kamar Harum (Gandhakuti), di Vihara Jetavana, Sang Buddha mengetahui apa yang dipikirkan oleh bhikkhu tersebut. Beliau menampakkan diri dan berkata, "Anak-Ku, engkau berada di jalan pikiran yang benar. Pertahankanlah! Semua makhluk harus membakar belenggu kehidupannya dengan pandangan terang."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

“Appamādarato bhikkhu pamāde bhayadassivā
saññojanaṃ aṇuṃthūlaṃ ḍahaṃ aggī va gacchati”

Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
bergerak cepat bagaikan api,
membakar habis semua rintangan batin, baik yang besar maupun yang kecil.

Bhikkhu tersebut berhasil mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma berakhir.

Friday, 10 December 2010

Kisah Nigamavasitissa (Dhammapada 2 : 32)

II. Appamada Vagga - Kewaspadaan 

(32) Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
tak akan terperosok lagi,
Ia sudah dekat nibbana.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nigamavasitissa lahir dan dibesarkan di suatu kota dagang kecil dekat Savatthi. Setelah menjadi seorang bhikkhu, dia hidup dengan sederhana, dan hanya sedikit keinginan.

Untuk berpindapatta, beliau biasanya pergi ke desa tempat saudaranya tinggal dan menerima apa yang disediakan untuknya. Nigamavasitissa menghindari perayaan atau acara-acara besar. Meski ketika Anathapindika dan Raja Pasenadi dari Kosala memberikan dana makanan besar-besaran kepada para bhikkhu, Nigamavasitissa tidak pergi ke sana.

Beberapa orang bhikkhu kemudian membicarakan hal tersebut. Bahwa beliau lebih dekat dengan saudara-saudaranya dan tidak memperdulikan orang lain seperti Anathapindika dan Raja Pasenadi, yang ingin berbuat jasa dengan memberikan dana makanan.

Ketika Sang Buddha menerima laporan ini, Beliau mengundang Nigamavasitissa dan menanyakan hal itu.

Bhikkhu Nigamavasitissa dengan penuh hormat, menjelaskan kepada Sang Buddha, bahwa memang benar ia sering mengunjungi desanya, tetapi hanya pada saat berpindapatta. Ketika dia telah mendapatkan makanan yang cukup, dia tidak akan berjalan lebih jauh lagi, dan dia tidak pernah mempersoalkan apakah makanan itu enak atau tidak.

Sang Buddha tidak menegur setelah mendengar penjelasan bhikkhu Nigamavasitissa, bahkan Beliau menghargai tindakannya dan memujinya di hadapan bhikkhu yang lain.
Beliau menganjurkan kepada murid-muridnya, untuk hidup puas dengan sedikit keinginan, sesuai dengan ajaran Buddha dan para Ariya, dan begitulah semua bhikkhu seharusnya, mencontoh tindakan bhikkhu Tissa.

Berkenan dengan ini, Beliau menceritakan kisah raja burung nuri.

Pada masa dahulu kala, tinggallah raja burung nuri di lobang sebuah pohon besar yang tumbuh di muara sungai Gangga, dengan sejumlah besar pengikutnya. Ketika buah-buahan telah habis dimakan, semua burung nuri pergi meninggalkan lobang tersebut, kecuali sang raja, yang puas pada apa yang masih tersisa di pohon tersebut, baik tunas, daun maupun kulit pohon.

Sakka, mengetahui hal ini, dan ingin menguji ketulusan hati raja nuri tersebut, mengeringkan pohon itu dengan kekuatan supranaturalnya. Kemudian, dengan menyamar sebagai angsa, Sakka dan permaisurinya, Sujata, mengunjungi tempat dimana raja nuri tersebut tinggal dan menanyakan kenapa dia tidak meninggalkan pohon tua tersebut seperti yang telah dilakukan nuri lain; mencari pohon lain yang berbuah lebat.

Raja nuri menjawab, "Karena perasaan terima kasih kepada pohon ini, aku tidak meninggalkannya, dan selama aku masih dapat makanan yang cukup, aku tidak akan meninggalkannya. Akan tidak berterima kasih sekali, jika aku meninggalkan pohon ini, meskipun pohon ini akan mati."

Sakka sangat terkesan dengan jawaban tersebut, dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia mengambil air dari sungai Gangga dan menyiramkannya di pohon tersebut. Segera pohon itu menjadi segar kembali; tumbuh kembali dengan cabang-cabang yang rimbun dan hijau, penuh dengan buah.

Demikianlah, yang bijaksana, meskipun sebagai seekor binatang, tidak rakus, mereka puas dengan apa yang tersedia. Raja nuri yang ada dalam kisah itu adalah Sang Buddha sendiri; Sakka adalah Anuruddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Appamādarato bhikkhu pamāde bhayadassivā
abhabbo parihānāya nibbānass’ eva santike"

Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan,
dan melihat bahaya dalam kelengahan,
tak akan terperosok lagi,
Ia sudah dekat nibbana.

Tissa Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.