Showing posts with label 03. Citta Vagga. Show all posts
Showing posts with label 03. Citta Vagga. Show all posts

Thursday, 9 December 2010

Kisah Meghiya Thera (Dhammapada 3 : 33-34)

III. Citta Vagga - Pikiran

(33) Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap;
pikiran susah dikendalikan dan dikuasai.
Orang bijaksana meluruskannya
bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.

(34) Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air
dan dilemparkan ke atas tanah,
demikian pula pikiran menggelepar
ketika berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Mara
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu waktu Meghiya Thera bertugas sebagai pendamping (upaṭṭhāka / personal attendant) Sang Buddha. Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah menerima dana makanan (pindapatta), Meghiya Thera tertarik pada suatu hutan mangga yang indah dan menyenangkan.
"Hutan ini demikian indah dan tenang, cocok untuk tempat berlatih meditasi", demikian pikirnya. Setibanya di vihara, ia segera menghadap Sang Buddha dan meminta ijin agar diperbolehkan segera pergi ke sana.

Mulanya, Sang Buddha meminta dia agar menundanya untuk beberapa waktu, menunggu kedatangan bikkhu-bhikkhu yang lainnya, karena pada saat itu mereka hanya berdua saja.
Tetapi Meghiya Thera ingin segera pergi, lalu ia mengulangi lagi permohonannya sampai tiga kali. Akhirnya Sang Buddha mengatakan agar melakukan apa yang dia inginkan.

Segera Meghiya Thera pergi ke hutan mangga, duduk dibawah pohon dan berlatih meditasi. Tetapi pikirannya berkeliaran terus, tanpa tujuan, dan sukar berkonsentrasi.

Sore harinya, dia kembali dan melapor kepada Sang Buddha mengapa sepanjang waktu pikirannya dipenuhi nafsu indria, pikiran jahat dan pikiran kejam (kama vitakka, byapada vitakka, dan vihimsa vitakka).

Atas pertanyaan itu Sang Buddha mengatakan bahwa pikiran memang mudah goyah dan tidak tetap, dan orang bijaksana haruslah melatih pikirannya.

Buddha kemudian membabarkan syair berikut ini:

"Phandanaṃ capalaṃ cittaṃ dūrakkhaṃ dunnivārayaṃ
ujuṃ karoti medhāvī usukāro va tejanaṃ.

Vārijo va thale khitto okamokata ubbhato
pariphandat’ idaṃ cittaṃ Māradheyyaṃ pahātave."

Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap;
pikiran susah dikendalikan dan dikuasai.
Orang bijaksana meluruskannya
bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.

Bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air
dan dilemparkan ke atas tanah,
demikian pula pikiran menggelepar
ketika berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Mara


Meghiya Thera mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
------------

Notes:

* Kisah lengkap Meghiya ini terdapat pula dalam kitab Udana IV-1, juga Anguttara Nikaya IX-3.
Dalam Udana IV, Sang Buddha menjelaskan jika pikiran masih kurang matang untuk pembebasan (seperti yang dialami oleh Meghiya Thera sewaktu meditasi di hutan mangga), ada lima kondisi yang mendukung untuk membuatnya matang, secara garis besar yaitu : bergaul dengan teman yang mulia, menjalankan sila, pembicaraan yang baik dan murni, semangat dalam kehidupan suci, dan memiliki kebijaksanaan.

Dalam kitab komentar disebutkan bahwa dalam 500 kelahiran yang lampau berturut-turut Meghiya adalah seorang Raja. Taman kerajaannya terletak dimana hutan mangga itu sekarang berada, dan dia dulu biasa duduk bersama dengan gadis-gadis penarinya tepat di tempat itu di bawah pohon dimana dia duduk untuk bermeditasi. Dengan demikian, ketika dia duduk di tempat itu, dia merasa seolah-olah kebhikkhuannya meninggalkan dia dan pikirannya tertutup oleh fantasi gadis-gadis cantik. Juga, dalam kehidupan-kehidupannya sebagai Raja, di tempat yang sama itulah dia memerintahkan pembunuhan dan pemenjaraan para bandit, maka ketika dia duduk di sana sebagai Meghiya, pikiran-pikiran yang dengki dan kejam muncul dalam dirinya.
Sang Buddha awalnya menolak memberi ijin karena beliau mengetahui bahwa Meghiya belumlah siap untuk menjalankan praktek meditasi sendirian di hutan).

Wednesday, 8 December 2010

Kisah Seorang Bhikkhu (Dhammapada 3 : 35)

III. Citta Vagga - Pikiran

(35) Pikiran sangat sulit dikendalikan, bergerak sangat cepat,
dan senang mengembara sesuka hatinya.
Adalah baik untuk mengendalikan pikiran,
pikiran yang terkendali membawa kebahagiaan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, enam puluh bhikkhu, setelah mendapatkan cara bermeditasi dari Sang Buddha, pergi ke desa Matika, di kaki sebuah gunung. Di sana, Matikamata, ibu dari kepala desa, memberikan dana makanan kepada para bhikkhu; Matikamata juga mendirikan sebuah vihara untuk para bhikkhu bertempat tinggal selama musim hujan.

Suatu hari Matikamata bertanya kepada para bhikkhu perihal cara-cara bermeditasi. Bhikkhu-bhikkhu itu mengajarkan kepadanya bagaimana cara bermeditasi dengan tiga puluh dua unsur bagian tubuh untuk menyadari kerapuhan dan kehancuran tubuh. Matikamata melaksanakannya dengan rajin dan mencapai tiga magga dan phala (tingkat kesucian Anagami) bersamaan dengan pandangan terang analitis dan kemampuan batin luar biasa, sebelum para bhikkhu itu mencapainya.

Dengan kekuatan batin yang baru diperolehnya, ia menyelidiki dengan mata batinnya (dibbacakkhu) dan mengetahui para bhikkhu itu belum mencapai tingkat kesucian satupun juga, tetapi bhikkhu-bhikkhu itu mempunyai cukup potensi untuk mencapai arahat, jika saja mereka mendapatkan makanan yang baik dan cocok dengan selera masing-masing. Matikamata kemudian menyediakan makanan pilihan untuk mereka. Dengan makan makanan yang sesuai dan usaha yang giat, para bhikkhu dapat mengembangkan konsentrasinya dengan benar dan akhirnya mencapai arahat.

Akhir musim hujan, para bhikkhu kembali ke vihara Jetavana, tempat bersemayam Sang Buddha. Mereka melaporkan kepada Sang Buddha bahwa mereka semua dalam keadaan kesehatan yang baik dan menyenangkan, mereka tidak perlu khawatir perihal makanan. Mereka juga menceritakan Matikamata mengetahui pikiran mereka dan menyediakan serta mendanakan makanan yang mereka inginkan .

Seorang bhikkhu, yang mendengar pembicaraan mereka tentang Matikamata, memutuskan untuk pergi ke desa itu. Setelah memperoleh cara-cara meditasi dari Sang Buddha, ia tiba di vihara desa. Di sana, ia menemukan bahwa segala yang diharapkannya sudah dikirim oleh Matikamata, umat yang dermawan.

Ketika bhikkhu itu mengharap Matikamata datang, ia datang ke vihara, dengan membawa makanan pilihan. Sesudah makan, bhikkhu itu bertanya kepada Matikamata apakah ia bisa membaca pikiran orang lain. Matikamata mengelak pertanyaan itu dan menjawab, ”Orang yang dapat membaca pikiran orang lain akan berlaku begini dan begitu”.
Bhikkhu itu berpikir, "Jika saya, berkelakuan seperti perumah tangga yang terikat pikiran tidak suci, maka ia pasti akan mengetahuinya". Bhikkhu itu menjadi takut terhadap umat dermawan tersebut dan memutuskan kembali ke Vihara Jetavana.
Ia menyampaikan kepada Sang Buddha bahwa ia tidak dapat tinggal di desa Matika, karena ia khawatir bahwa umat dermawan yang setia itu mungkin melihat ketidak-sucian pikirannya.
Sang Buddha kemudian berkata kepada bhikkhu itu untuk memperhatikan hanya pada satu hal, yaitu mengawasi pikiran. Beliau juga berkata kepada bhikkhu itu untuk kembali ke vihara desa Matika, tidak memikirkan sesuatu yang lain, tetapi hanya pada objek meditasinya.

Bhikkhu tersebut kembali ke desa Matika. Umat dermawan itu memberikan dana makanan yang baik kepadanya seperti yang dilakukannya kepada para bhikkhu lain, sehingga bhikkhu itu dapat melaksanakan meditasi tanpa rasa khawatir. Dalam jangka waktu yang pendek, bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian arahat.

Berkenaan dengan bhikkhu itu, Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Dunniggahassa lahuno yatthakāmanipātino
cittassa damatho sādhu, cittaṃ dantaṃ sukhāvahaṃ"

Pikiran sangat sulit dikendalikan, bergerak sangat cepat,
dan senang mengembara sesuka hatinya.
Adalah baik untuk mengendalikan pikiran,
pikiran yang terkendali membawa kebahagiaan.

Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, banyak yang mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Tuesday, 7 December 2010

Kisah Seorang Bhikkhu yang Tidak Puas (Dhammapada 3 : 36)

III. Citta Vagga - Pikiran

(36) Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus,
pikiran bergerak sesuka hatinya.
Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya,
pikiran yang terjaga membawa kebahagiaan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang pemuda anak seorang bendaharawan bertanya kepada seorang bhikkhu yang menghampiri rumahnya untuk berpindapatta, apakah yang harus dilakukan untuk membebaskan diri dari penderitaan dalam kehidupan ini.

Bhikkhu itu menyarankan untuk memisahkan hartanya menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk mata pencahariannya, satu bagian untuk menyokong keluarga, dan satu bagian lagi untuk berdana.

Ia melakukan semua petunjuk itu, kemudian pemuda itu menanyakan lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Disarankan lebih lanjut; pertama, berlindung kepada Tiratana (Buddha, Dhamma, Sangha) dan melaksanakan lima sila*; kedua, melaksanakan sepuluh sila; dan ketiga, meninggalkan kehidupan duniawi dan memasuki Pasamuan Sangha. Pemuda itu menyanggupi semua saran dan menjadi seorang bhikkhu.

Sebagai seorang bhikkhu, ia mendapat pelajaran Abhidhamma dari seorang guru dan Vinaya dari guru lainnya. Selama mendapat pelajaran, ia merasa bahwa Dhamma itu terlalu berat untuk dipelajari, dan peraturan Vinaya terlalu keras dan terlalu banyak, sehingga tidak banyak kebebasan, bahkan untuk menjulurkan tangan sekalipun.

Bhikkhu itu berpikir bahwa mungkin lebih baik untuk kembali pada kehidupan berumah tangga. Karena alasan ragu-ragu dan tidak puas, ia menjadi tidak bahagia dan menyia-nyiakan kewajibannya. Dia juga menjadi kurus dan kering.

Ketika Sang Buddha datang dan mengetahui masalahnya, Beliau berkata, "Jika saja kamu dapat mengawasi pikiranmu, tidak akan ada lagi hal-hal lain yang perlu diawasi; jadi jagalah pikiranmu sendiri."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Sududdasaṃ sunipuṇaṃ
yatthakāmanipātinaṃ
cittaṃ rakkhetha medhāvī
cittaṃ guttaṃ sukhāvahaṃ."

Pikiran sangat sulit untuk dilihat, amat lembut dan halus,
pikiran bergerak sesuka hatinya.
Orang bijaksana selalu menjaga pikirannya,
pikiran yang terjaga membawa kebahagiaan.

Bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
---------

Notes:

* Pancasila :
1. melatih diri untuk tidak membunuh
2. melatih diri untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan / mencuri
3. melatih diri untuk tidak melakukan hubungan seksual yang tidak benar
4. melatih diri untuk tidak berkata tidak benar
5. melatih diri untuk tidak makan/minum yg melemahkan kesadaran

Intinya secara umum, manfaat kelima sila tersebut diatas adalah untuk mencegah kita berbuat karma buruk, menghindari merugikan orang/makhluk lain dan diri sendiri.

Sila pertama termasuk tidak menyebabkan/menyuruh orang lain membunuh, juga menyakiti/melukai makhluk lain.

Hubungan seksual yang tidak benar adalah melakukan hubungan seksual dengan orang yang masih dibawah perlindungan orang lain seperti ibunya, ayahnya, saudara laki-laki/perempuan, keluarganya, suami/isterinya, atau yg sudah bertunangan, dan yang dalam hukuman/penjara.
Jika masih tinggal bersama keluarga dan atau masih belum mandiri secara finansial, ini termasuk masih dalam perlindungan keluarganya, walaupun misalnya diatas 21 thn sudah dianggap dewasa. Di negara barat para remaja melakukan seks bebas, akibatnya banyak kehamilan remaja dan penyakit kelamin, ini merepotkan semua orang, dari pemerintah yang harus memberikan tunjangan sosial dll sampai kepada seluruh rakyat yang turut membayar pajak. Nampaknya di Indonesia seks bebas di kalangan remaja juga mulai meningkat, dan jika hamil lalu digugurkan. Menggugurkan kandungan termasuk pelanggaran sila pertama.

Berkata tidak benar, selain berbohong, fitnah dll, juga termasuk berkata kasar dan tidak sopan. Terutama sekali dengan pengaruh TV, film, dan bacaan, kita belajar kata-kata kasar, berpikir bahwa ini adalah bahasa gaul jaman sekarang lalu menerapkannya dalam hidup sehari-hari dan akhirnya karena terbiasa, menganggap itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan.

Untuk sila kelima, intinya adalah untuk tidak makan/minum hal-hal yang dapat melemahkan kesadaran dan merusak kesehatan. Termasuk narkoba. Merokok termasuk menimbulkan ketagihan dan merusak kesehatan diri sendiri dan orang-orang disekitar.
Nampaknya memang sila kelima ini paling tidak kelihatan konsekuensinya kalau tidak dilaksanakan, tetapi sekalinya terjerumus, kita bisa langsung melanggar lima sila sekaligus ! Misalnya mabuk, tidak jarang ada orang mabuk yang memaki, berbohong, menodong, lalu memperkosa dan membunuh korbannya sekaligus, nah, ibarat kata pepatah, sekali dayung 5 sila terlanggar semua !

Tidak ada hukum yang wajib / keharusan dalam agama Buddha. Sang Buddha hanya menunjukkan jalan dan memberi tahu kalau melakukan A, maka akibatnya adalah ini dan itu (dengan kemampuan batin beliau yang luar biasa, beliau tahu secara jelas cara kerja hukum karma). Jadi Beliau hanya membabarkan fakta yang ada.

Dengan melaksanakan Panca-sila, batin menjadi lebih tenang, menunjang latihan meditasi, menghindari kelahiran di alam rendah, meraih kelahiran di alam bahagia, dan membuka jalan menuju Nibbana.

Di level manapun kita berada dalam pelaksanaan sila, mari kita maju terus dan mencoba menyempurnakan sila kita! Sadhu sadhu sadhu.

Monday, 6 December 2010

Kisah Sangharakkhita Thera (Dhammapada 3 : 37)

III. Citta Vagga - Pikiran

(37) Pikiran itu selalu mengembara jauh,
tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati.
Mereka yang dapat mengendalikannya,
akan bebas dari jeratan Mara.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari, tinggallah di Savatti, seorang bhikkhu senior yang bernama Sangharakkhita. Ketika saudara perempuannya melahirkan anak laki-laki, dia memberi nama anaknya sesuai nama Sangharakkhita, belakangan anak itu dikenal dengan nama Sangharakkhita Bhagineyya. Keponakan Sangharakkhita, setelah tiba waktunya, juga memasuki pasamuan sangha.

Ketika bhikkhu muda tsb tinggal di suatu vihara desa, ia diberi dua buah jubah, dan ia bermaksud memberikan satu jubah kepada pamannya, Sangharakkhita Thera. Setelah masa vassa berakhir, bhikkhu muda itu pergi ke pamannya untuk memberi hormat kepadanya dan memberikan jubah. Tetapi pamannya menolak untuk menerima jubah itu, dan berkata bahwa ia sudah mempunyai cukup. Walaupun bhikkhu muda mengulangi lagi permintaannya, pamannya tetap tidak mau. Bhikkhu muda itu menjadi berkecil hati dan berpikir karena pamannya begitu tidak sudi berbagi dengannya, akan lebih baik baginya untuk meninggalkan pasamuan Sangha dan hidup sebagai seorang perumah tangga.

Sejak saat itu, pikirannya mengembara dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Ia berpikir bahwa setelah meninggalkan pasamuan Sangha, ia akan menjual jubahnya dan membeli seekor kambing betina; kambing betina itu akan segera melahirkan anak dan ia akan mempunyai uang cukup untuk menikah; istrinya akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia akan membawa istri dan anaknya dengan sebuah kereta kecil untuk mengunjungi pamannya di vihara. Dalam perjalanan, ia berkata bahwa ia akan menggendong anaknya. Tetapi istrinya berkata kepadanya agar ia mengendarai kereta saja dan jangan sibuk mengurusi anak. Ia kemudian akan bersikeras dan merebut anak dari istrinya; sewaktu terjadi perebutan, anak itu akan terjatuh dan terlindas roda kereta. Dia akan menjadi sangat marah dan akan memukul istrinya dengan cemeti.

Pada saat itu ia sedang mengipasi pamannya dengan kipas daun palem dan dengan tidak sengaja memukul kepala pamannya dengan kipasnya. Sangharakkhita tua mengetahui pikiran bhikkhu muda itu dan berkata, "Kamu tidak sanggup menghajar istrimu; mengapa kamu menghajar seorang bhikkhu tua?" Sangharakkhita muda sangat terkejut dan malu atas kata-kata bhikkhu tua itu. Ia juga menjadi sangat ketakutan dan kemudian melarikan diri. Bhikkhu-bhikkhu muda dan para samanera di vihara itu mengejarnya dan akhirnya membawanya kehadapan Sang Buddha.

Setelah diceritakan kejadiannya, Sang Buddha berkata bahwa pikiran memiliki kemampuan untuk memikirkan suatu objek walaupun obyek itu amat jauh, dan seseorang seharusnya berusaha keras untuk bebas dari belenggu lobha, dosa, dan moha (keserakahan, kebencian, dan kebodohan/kegelapan batin).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Dūrangamaṃ ekacaraṃ asarīraṃ guhāsayaṃ
ye cittaṃ saññamessanti mokkhanti mārabandhanā"

Pikiran itu selalu mengembara jauh,
tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati.
Mereka yang dapat mengendalikannya,
akan bebas dari jeratan Mara.

Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Sunday, 5 December 2010

Kisah Cittahattha Thera (Dhammapada 3 : 38-39)

III. Citta Vagga - Pikiran

(38) Orang yang pikirannya tidak teguh,
yang tidak mengenal Dhamma,
yang keyakinannya selalu goyah,
orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya.

(39) Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian,
yang telah melampaui baik dan buruk,
di dalam diri orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang laki-laki yang berasal dari Savatthi, ketika mengetahui lembu jantannya hilang, mencarinya ke dalam hutan. Yang dicari tidak juga diketemukan. Akhirnya ia merasa lelah dan sangat lapar. Ia singgah ke sebuah vihara desa, dengan harapan di situ ia akan mendapatkan sisa dari makanan pagi.

Pada saat makan, terpikir olehnya bahwa ia bekerja sangat keras setiap hari tetapi tidak mendapatkan cukup makanan. Para bhikkhu itu kelihatannya tak pernah bekerja, tetapi selalu mendapat makanan yang cukup. Bahkan berlebih. Maka muncul sebuah ide yang baik untuk menjadi seorang bhikkhu

Kemudian ia meminta para bhikkhu untuk menerimanya menjadi anggota Sangha. Saat di vihara laki-laki itu melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang bhikkhu, dan karena disana terdapat banyak makanan, dalam waktu singkat ia menjadi gemuk.

Setelah beberapa lama, ia bosan berpindapatta dan kembali pada kehidupan berumah tangga.
Beberapa waktu kemudian, ia merasa bahwa kehidupannya di rumah terlalu sibuk dan ia kembali ke vihara dan meminta diizinkan menjadi bhikkhu untuk kedua kalinya.
Untuk kedua kalinya, ia meninggalkan pasamuan Sangha dan kembali menjadi perumah tangga. Lagi, ia pergi ke vihara untuk ketiga kalinya dan kemudian lepas jubah lagi.

Proses ini terjadi enam kali, dan karena ia melakukan hanya menuruti kemauannya saja, maka ia dikenal sebagai Cittahattha Thera.

Pada saat pulang balik antara rumahnya dan vihara, istrinya hamil. Sebenarnya ia belum siap menjadi bhikkhu, ia memasuki pasamuan bhikkhu hanya karena kesenangannya saja. Jadi, ia tidak pernah berbahagia, baik sebagai perumah tangga, maupun sebagai seorang bhikkhu.

Suatu hari, saat hari terakhir tinggal di rumah, ia masuk ke kamar tidur pada saat istrinya sedang tidur. Istrinya hampir telanjang, memakai pakaian yang sebagian terjulai jatuh. Istrinya juga mengorok dengan suara keras melalui hidung dan dari mulutnya keluar ludah. Jadi dengan mulut yang terbuka dan perut yang gembung, ia terlihat hanya seperti mayat. Melihat keadaan istrinya, ia tiba-tiba menyadari ketidakkekalan dan ketidakindahan tubuh jasmani, dan ia merenungkan : "Saya telah menjadi seorang bhikkhu beberapa kali dan hanya karena wanita ini saya tidak berhasil untuk terus menjadi seorang bhikkhu....."

Kemudian ia mengambil jubah kuningnya, pergi meninggalkan rumahnya dan menuju vihara untuk ke tujuh kalinya. Dalam perjalanan ia mengulangi kata-kata "tidak kekal" dan "penderitaan" (anicca dan dukkha) dan dapat meresapi artinya, ia mencapai tingkat kesucian sotapatti dalam perjalanan ke vihara.

Setelah tiba di vihara ia berkata kepada para bhikkhu agar diizinkan diterima dalam pasamuan Sangha. Para bhikkhu menolak dan berkata, "Kami tidak dapat mengizinkanmu lagi menjadi seorang bhikkhu. Kamu berulangkali mencukur rambut kepalamu sehingga kepalamu seperti sebuah batu yang diasah."

Masih ia memohon dengan amat sangat agar diizinkan diterima dalam pasamuan Sangha sekali lagi saja dan akhirnya mereka mengabulkannya. Dalam beberapa hari, bhikkhu Cittahattha mencapai tingkat kesucian arahat bersamaan dengan pandangan terang analitis.

Bhikkhu lain kagum melihat dia sekarang dapat tetap tinggal dalam jangka waktu lama di vihara. Mereka bertanya apa sebabnya? Terhadap hal itu, beliau menjawab, "Saya pulang ke rumah ketika saya masih memiliki kemelekatan dalam diri saya, tetapi kemelekatan itu sekarang telah terpotong."

Bhikkhu-bhikkhu yang tidak percaya kepadanya, menghadap Sang Buddha dan melaporkan hal itu. Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Bhikkhu Cittahattha telah berbicara benar, ia berpindah-pindah antara rumah dan vihara, karena waktu itu pikirannya tidak mantap dan tidak mengerti Dhamma. Tetapi pada saat ini, Cittahattha telah menjadi seorang arahat, ia telah mengatasi kebaikan dan kejahatan."

Kemudian sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Anavaṭṭhitacittassa saddhammaṃ avijānato
pariplavapasādassa paññā na paripūrati

Anavassutacittassa ananvāhatacetaso
puññapāpapahīnassa n’atthi jāgarato bhayam."

Orang yang pikirannya tidak teguh,
yang tidak mengenal ajaran yang benar,
yang keyakinannya selalu goyah,
orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya.

Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian,
yang telah melampaui keadaan baik dan buruk,
di dalam diri orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan.

Saturday, 4 December 2010

Kisah Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 3 : 40)

III. Citta Vagga - Pikiran

(40) Setelah mengetahui bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan,
hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota,
dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan.
Ia harus menjaga apa yang telah dicapainya, dan hidup tanpa kemelekatan lagi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lima ratus bhikkhu yang berasal dari Savatthi, setelah memperoleh cara-cara bermeditasi dari Sang Buddha, menempuh perjalanan sejauh seratus yojana* dari Savatthi dan tiba pada sebuah hutan yang besar, suatu tempat yang cocok untuk melaksanakan meditasi.

Banyak makhluk halus yang berdiam di pohon-pohon di hutan itu, mereka berpikir, tidak pantas mereka berdiam di pohon sementara para bhikkhu tinggal di bawah pohon. Mereka kemudian turun dari pohon, dengan perkiraan bahwa para bhikkhu hanya singgah disana untuk satu malam saja. Tetapi, sampai dini hari, para bhikkhu itu belum pergi juga. "Celaka, jangan-jangan para bhikkhu itu akan tinggal di sini sampai akhir masa vassa. Maka aku dan keluargaku terpaksa harus tinggal di tanah untuk waktu yang lama." pikir makhluk-makhluk halus. Mereka segera berunding dan memutuskan untuk menakut-nakuti para bhikkhu tersebut agar segera pergi dengan membuat suara-suara dan hal-hal aneh yang menakutkan. Mereka menampakkan tubuh tanpa kepala, kepala tanpa tubuh, kerangka-kerangka yang berjalan mondar-mandir, dan sebagainya.

Bhikkhu-bhikkhu sangat terganggu dengan tingkah laku mereka dan akhirnya meninggalkan tempat itu, kembali menghadap Sang Buddha, serta menceritakan segala yang terjadi.

Setelah mendengarkan laporan mereka, Sang Buddha mengatakan bahwa hal itu terjadi karena mereka pergi tanpa membawa senjata apa-apa. Mereka harus kembali ke hutan itu dengan membawa ‘senjata’ yang cocok (yaitu cinta kasih). Kemudian Sang Buddha mengajarkan "Metta Sutta" (Sutta Pengembangan Cinta Kasih) kepada mereka, diawali dengan syair berikut:

Karaniyamattha kusalena
Yantam santam padam abhisamecca
Sakko uju ca suhuju ca
Suvaco c'assa mudu anatimani (dst...)

Hal-hal inilah yang perlu dilakukan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan dan bermanfaat, dan bertujuan mencapai ketenangan sempurna (Nibbana) ;
Ia harus tepat guna, jujur, sungguh jujur, rendah hati, lemah lembut, tiada sombong, dst.

Bhikkhu-bhikkhu diharapkan untuk mengulang kembali sutta itu pada saat mereka tiba di pinggir hutan dan berada di vihara.

Para bhikkhu pergi kembali ke hutan dan melakukan pesan Sang Buddha. Makhluk halus penunggu pohon mendapat pancaran cinta kasih dari bhikkhu-bhikkhu.
Mengetahui bahwa para bhikkhu sebenarnya tidak ingin mengganggu mereka, para makhluk halus membalas dengan menerima kedatangan mereka dan tidak mengganggu lagi. Di hutan itu tidak ada lagi suara-suara dan penampakan yang aneh.

Dalam suasana damai bhikkhu-bhikkhu bermeditasi dengan objek tubuh jasmani, mereka akhirnya menyadari bahwa tubuh ini rapuh dan tidak kekal keberadaannya.

Dari Vihara Jetavana, Sang Buddha, dengan kekuatan batinnya, mengetahui kemajuan batin bhikkhu-bhikkhu itu dan mengirimkan cahaya agar membuat mereka merasakan kehadiran beliau. Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seperti apa yang kalian telah sadari, tubuh ini sungguh-sungguh tidak kekal dan rapuh seperti sebuah tempayan tanah." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Kumbhūpamaṃ kāyam imaṃ viditvā
nagarūpamaṃ cittam idaṃ ṭhapetvā
yodhetha māraṃ paññāvudhena
jitañ ca rakkhe anivesano siyā”

Setelah mengetahui bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan,
hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota,
dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan.
Ia harus menjaga apa yang telah dicapainya, dan hidup tanpa kemelekatan lagi.

Lima ratus bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
---------

Notes :

* yojana : satuan panjang jaman dulu di India, kira-kira 13-16 km

Friday, 3 December 2010

Kisah Putigattatissa Thera (Dhammapada 3 : 41)

III. Citta Vagga - Pikiran

(41) Tak berapa lama lagi, tubuh ini
akan terbujur di atas tanah,
tercampakkan tanpa kesadaran,
bagaikan sebatang kayu yang tidak berguna.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu waktu Sang Buddha memberikan ceramah di hadapan sekumpulan bhikhu, bhikkhuni, dan umat awam. Pada hari itu seorang perumah tangga dari Savatthi juga turut mendengarkan, dan menyadari bahwa kehidupan berumah tangga adalah tidak memuaskan dan akhirnya ia bergabung dalam pasamuan Sangha.

Ketika melatih diri dalam sila, samadhi dan panna/kebijaksanaan, bhikkhu itu terserang penyakit. Bisul-bisul kecil nampak di seluruh tubuh dan bisul itu berkembang menjadi luka yang besar, ketika luka ini pecah, jubah atas dan bawahnya menjadi lengket, dicemari nanah dan darah, seluruh tubuhnya berbau busuk. Karena hal itu, beliau dikenal dengan sebutan Putigattatissa, Tissa yang tubuhnya berbau. Tulangnya pun menjadi rapuh dan mudah patah. Tubuhnya membusuk dan semua saudara dan murid-muridnya pun meninggalkan dia.

Seperti biasanya, Sang Buddha memandang alam semesta dengan penglihatan batin sempurna, Tissa Thera nampak dalam penglihatannya. Beliau melihat keadaan Tissa Thera yang menyedihkan dan telah ditinggalkan oleh murid-muridnya karena tubuhnya berbau. Lebih jauh, Sang Buddha juga mengetahui bahwa Tissa dapat segera mencapai tingkat kesucian arahat.

Sang Buddha menuju perapian di kediaman Tissa Thera. Disana Beliau memasak air mendidih, kemudian menghampiri Tissa Thera yang sedang berbaring, memegang tepi dipan, bermaksud memindahkan Tissa Thera.
Pada saat itu barulah murid-murid Tissa Thera datang mengelilingi gurunya. Sesuai petunjuk Sang Buddha, mereka mengangkat Tissa Thera mendekati perapian. Di tempat tersebut Tissa Thera dibasuh dan dimandikan, sementara jubah atas dan bawahnya dicuci dan dikeringkan.

Sesudah mandi, tubuh dan pikiran Tissa Thera menjadi segar. Segera batinnya berkembang mencapai satu titik konsentrasi. Berdiri di kepala dipan, Sang Buddha berkata kepadanya bahwa jika kesadaran telah meninggalkan tubuh, akan seperti sebatang kayu tak berguna terbujur di atas tanah.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

“aciraṃ vat’ ayaṃ kāyo paṭhaviṃ adhisessati
chuddho apetaviññāṇo niratthaṃ va kaliṅgaraṃ”

Tak berapa lama lagi, tubuh ini
akan terbujur di atas tanah,
tercampakkan tanpa kesadaran,
bagaikan sebatang kayu yang tidak berguna

Tissa Thera mencapai tingkat kesucian arahat bersamaan dengan pencapaian pandangan terang analitis setelah khotbah Dhamma itu berakhir, kemudian beliau meninggal dunia. Sang Buddha kemudian menyuruh murid-murid Tissa Thera untuk segera mengkremasikan tubuh gurunya.

Ketika bhikkhu-bhikkhu lain menanyakan kepada Sang Buddha, kemanakah Tissa Thera terlahir kembali, Sang Buddha menjawab bahwa Tissa Thera tidak dilahirkan lagi, ia telah meninggal setelah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Atas pertanyaan mengapa Tissa Thera menderita penyakit seperti itu, padahal ia memiliki potensi mencapai Arahat sebelum meninggal, Sang Buddha menerangkan bahwa ini adalah hasil dari kamma yang telah dilakukan Tissa Thera.

Pada masa Buddha Kassapa, Putigattatissa adalah seorang pemburu unggas. Ia menangkap banyak burung dan menjualnya kepada orang-orang berada. Ia mematahkan sayap burung-burung itu untuk mencegah mereka terbang. Ia juga mematahkan tulang-tulang mereka, untuk dijual keesokan harinya. Dan ketika tangkapannya berlimpah, ia juga memasaknya untuk dimakan. Inilah kejahatan yang telah dilakukannya.

Suatu hari ketika ia telah selesai memasak kari dengan hasil tangkapannya, seorang arahat yang sedang berpindapatta berhenti di depan rumahnya. Sang pemburu merasa gembira melihatnya, dan berpikir “Aku sudah sering makan daging burung-burung ini. Di dalam rumah masih ada banyak kari, dan seorang bhikkhu telah sedang berpindapatta telah datang di pintu rumahku”. Lalu ia mengambil patta/mangkuk dari tangan arahat itu, masuk ke dalam, mengisi mangkuk dengan makanannya, kemudian mengembalikannya kepada sang arahat, sambil berkata, “Bhante, semoga saya dapat menikmati rasa dhamma seperti engkau yang beruntung telah dapat merasakannya. Semoga saya juga bisa mencapai nibbana.” Sang Arahat mengucapkan semoga keinginanmu tercapai, memberi sedikit kotbah singkat, dan pergi.

Atas perbuatan baik ini, ia dapat mencapai tingkat kesucian arahat sebelum ia meninggal.

Thursday, 2 December 2010

Kisah Nanda, Seorang Penggembala (Dhammapada 3 : 42)

III. Citta Vagga - Pikiran

(42) Kejahatan apapun yang dilakukan seorang musuh terhadap lawannya
atau orang yang membenci terhadap orang yang dibencinya
orang yang pikirannya diarahkan secara keliru,
akan lebih melukai dirinya sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nanda adalah seorang penggembala yang bertugas mengurus sapi-sapi milik Anathapindika. Meskipun ia hanya seorang penggembala, tetapi ia cukup berpunya. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, ia pergi ke rumah Anathapindika dan di sana ia kadang-kadang bertemu Sang Buddha dan mendengarkan khotbah-Nya. Nanda memohon Sang Buddha untuk berkunjung ke rumahnya. Tetapi Sang Buddha menolaknya dengan alasan bahwa saatnya belum tepat.

Setelah beberapa waktu, ketika mengadakan perjalanan dengan pengikutNya, Sang Buddha akhirnya pergi mengunjungi Nanda. Beliau mengetahui bahwa saatnya sudah masak bagi Nanda untuk mendapatkan ajaran sebagaimana mestinya.

Nanda dengan hormat menerima Sang Buddha dan para pengikutNya. Ia menjamu para tamu dengan susu, hasil olahan susu, dan pilihan menu makanan lainnya selama tujuh hari. Pada hari terakhir, setelah mendengarkan khotbah yang diberikan Sang Buddha, Nanda mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian Sang Buddha mohon diri pada hari itu. Nanda membawakan mangkuk Sang Buddha, mengikuti Sang Buddha sampai dengan jarak tertentu, lalu menghormat Sang Buddha dan pulang kembali ke rumah.

Pada saat itu, seorang pemburu yang merupakan musuh lama Nanda, memanahnya. Bhikkhu-bhikkhu, yang mengikuti Sang Buddha, melihat Nanda mati terjatuh. Mereka melaporkan hal itu kepada Sang Buddha: "Bhante, karena kedatangan Bhante, Nanda yang telah memberikan banyak persembahan dan menyertai Bhante pulang telah dibunuh pada saat ia pulang kembali ke rumahnya."

Kepada mereka Sang Buddha menjelaskan, "Para bhikkhu, apakah Tathagatha datang kemari atau tidak, ia tidak dapat melarikan diri dari kematian, akibat dari kamma lampaunya. Seperti halnya pikiran yang diarahkan secara keliru akan menjadikan seseorang jauh lebih berat terluka daripada luka yang dibuat oleh musuh ataupun pencuri. Pikiran yang diarahkan secara benar, adalah satu-satunya jaminan bagi seseorang untuk menjauhkan diri dari bahaya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Diso disaṃ yan taṃ kayirā verī vā pana verinaṃ
micchāpaṇihitaṃ cittaṃ pāpiyo naṃ tatoṇ kare."

Kejahatan apapun yang dilakukan seorang musuh terhadap lawannya
atau orang yang membenci terhadap orang yang dibencinya
orang yang pikirannya diarahkan secara keliru,
akan lebih melukai dirinya sendiri.

Wednesday, 1 December 2010

Kisah Soreyya (Dhammapada 3 : 43)

III. Citta Vagga - Pikiran

(43) Sebaik apapun kebajikan yg dilakukan
oleh ayah, ibu, dan sanak keluarga,
Pikiran yang baik dan diarahkan secara benar
akan memberikan kebajikan yang lebih besar lagi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari Soreyya, anak dari orang kaya di kota Soreyya, beserta seorang teman dan beberapa pembantu pergi dengan sebuah kereta yang mewah untuk membersihkan diri (mandi). Pada saat itu, Mahakaccayana Thera sedang mengatur jubahnya di pinggir luar kota, karena ia akan memasuki kota Soreyya untuk berpindapatta. Pemuda Soreyya melihat sinar keemasan* dari Mahakaccayana Thera, berpikir: "Andaikan thera itu adalah istriku, atau apabila warna kulit istriku seperti itu." Karena muncul keinginan seperti itu, kelaminnya berubah, dan ia menjadi seorang wanita. Dengan sangat malu, ia turun dari kereta dan berlari, mengambil jalan menuju ke arah Takkasilā. Pembantunya kehilangan dia, mencarinya, tetapi tidak dapat menemukannya.

Soreyya, sekarang seorang wanita, memberikan cincinnya kepada beberapa orang yang menuju Takkasilā, agar ia diizinkan ikut dalam kereta mereka. Setelah tiba di Takkasilā, teman-teman seperjalanan Soreyya berkata kepada seorang pemuda kaya di Takkasilā, tentang perempuan yang datang bersama mereka. Pemuda kaya itu melihat Soreyya yang begitu cantik dan umur yang sesuai dengannya, menikahi Soreyya.
Perkawinan itu membuahkan dua anak laki-laki, dan ada juga dua anak laki-laki dari perkawinan Soreyya pada waktu masih sebagai pria.

Suatu hari, seorang anak saudagar kaya dari kota Soreyya datang di Takkasilā dengan limaratus kereta. Soreyya wanita mengenalinya sebagai seseorang kawan lama, mengundangnya. Laki-laki dari kota Soreyya itu merasa heran atas undangan tersebut, karena ia tidak mengenali wanita yang mengundangnya itu. Ia berkata pada Soreyya bahwa ia tidak mengenalnya, dan bertanya apakah Soreyya mengenal dirinya?
Soreyya menjawab bahwa ia kenal laki-laki itu dan juga menanyakan kesehatan keluarga Soreyya dan beberapa orang-orang di kota Soreyya.
Laki-laki dari kota Soreyya menceritakan tentang anak saudagar kaya yang hilang secara misterius ketika pergi ke luar kota untuk mandi. Soreyya mengungkapkan identitas dirinya dan menceritakan apa yang telah terjadi, tentang pikiran salahnya kepada Mahakaccaya Thera, tentang perubahan kelamin, dan perkawinannya dengan orang kaya di Takkasilā.

Laki-laki dari kota Soreyya menyarankan untuk meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera kemudian diundang ke rumah Soreyya untuk menerima dana makanan. Sesudah bersantap Soreyya wanita dibawa menghadap Mahakaccayana Thera, dan laki-laki dari kota Soreyya mengatakan kepada Mahakaccayana Thera bahwa perempuan ini pada sebelumnya adalah seorang pemuda anak saudagar kaya di kota Soreyya. Ia kemudian menjelaskan kepada Mahakaccayana Thera bagaimana Soreyya tiba-tiba berubah menjadi perempuan karena berpikiran jelek terhadap Thera yang dihormati. Soreyya wanita kemudian dengan hormat meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana Thera berkata, "Bangunlah, saya memaafkanmu." Segera setelah kata-kata itu diucapkan, perempuan tersebut berubah kelamin menjadi seorang laki-laki lagi.
Soreyya kemudian merenungkan bagaimana dalam satu kelahiran dan satu tubuh, ia telah mengalami perubahan kelamin, dan bagaimana anak-anak telah dilahirkannya, dst.
dengan satu keberadaan diri dan dengan satu keberadaan tubuh jasmani ia berubah kelamin, bagaimana anak-anak telah dilahirkannya. Merasa letih dan muak terhadap segala hal itu, ia memutuskan untuk meninggalkan hidup berumah tangga, dan memasuki Pasamuan Sangha dibawah bimbingan Mahakaccayana Thera.

Setelah itu ia sering ditanyai, "Siapa yang lebih kamu cintai, dua anak laki-laki yang kau miliki sebagai laki-laki, atau dua anak lain pada saat kamu sebagai wanita?" Terhadap hal itu ia menjawab bahwa cinta kepada mereka yang ia lahirkan dari rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan kepadanya, ia merasa sangat terganggu dan malu. Kemudian ia menyendiri dan dengan rajin, merenungkan penghancuran dan proses pembusukan tubuh jasmani.

Tidak terlalu lama kemudian, ia mencapai kesucian arahat, bersamaan dengan pandangan terang analitis. Ketika pertanyaan lama ditanyakan kepadanya, ia menjawab bahwa ia telah tidak mempunyai lagi rasa sayang pada orang-orang tertentu. Bhikkhu-bhikkhu yang lain mendengarnya berpikir bahwa ia pasti berkata tidak benar.

Pada saat dilapori dua jawaban berbeda Soreyya itu, Sang Buddha berkata, "Anakku tidaklah berbohong, ia mengatakan yang sebenarnya. Jawabannya sekarang lain karena ia sekarang telah mencapai tingkat kesucian arahat, sehingga ia tidak lagi ada rasa sayang atas orang-orang tertentu. Dengan pikiran yang terarah benar, anakku telah memberikan dirinya sendiri sesuatu yang amat baik, yang bahkan tidak dapat diberikan oleh ayah maupun ibu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

“na taṃ mātā pitā kayirā aññe vāpi ca ñātakā
sammāpaṇihitaṃ cittaṃ seyyaso naṃ tato kare”

Sebaik apapun kebajikan yg dilakukan
oleh ayah, ibu, dan sanak keluarga,
Pikiran yang baik dan diarahkan secara benar
akan memberikan kebajikan yang lebih besar lagi.

Banyak bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
-----------

Notes :
* Pada masa Buddha Kassapa, Mahakaccayana Thera adalah seorang perumah tangga di Benares. Ia mendanakan sebuah bata emas seharga ratusan ribu untuk pembangunan cetiya relik Buddha, dan kemudian bertekad semoga dalam kehidupannya yang akan datang, tubuhnya akan berwarna emas. (ThagA.i.483f.; AA.i.117f)