XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(334) Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar.
Ia melompat dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain,
bagaikan kera yang mencari buah-buahan di dalam hutan.
(335) Dalam dunia ini,
siapapun yang dikuasai oleh nafsu keinginan rendah dan beracun,
penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat karena disirami dengan baik.
(336) Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan
yang beracun dan sukar dikalahkan itu,
maka kesedihan akan berlalu dari dalam dirinya,
seperti air yang jatuh dari daun teratai.
(337) Kuberitahukan hal ini kepadamu:
Semoga engkau sekalian yang telah datang berkumpul di sini
memperoleh kesejahteraan!
Bongkarlah nafsu keinginanmu,
seperti orang mencabut akar rumput Birana yang harum.
Jangan biarkan Mara menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang yang tumbuh di tepi.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat terpelajar dalam Kitab Pitaka. Karena sangat terpelajarnya, ia memperoleh kemasyhuran dan keberuntungan. Ia juga menjadi sangat sombong dan memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila para bhikkhu lain menunjukkan padanya apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu saja menjawab dengan pedas, "Berapa banyak yang kau tahu?" menyiratkan bahwa ia tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu lain. Dengan demikian, lama kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya dan hanya bhikkhu-bhikkhu yang tidak baik berada di sekelilingnya.
Pada suatu hari Uposatha, ketika para bhikkhu mengulang `Peraturan Pokok` bagi para bhikkhu (=Patimokkha), Kapila berkata, "Tidak ada apa yang dikatakan sebagai Sutta, Abidhamma, atau Vinaya. Tidak ada bedanya apakah kamu mempunyai kesempatan untuk mendengar Patimokkha atau tidak," dan lain-lainnya. Kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang sedang berkumpul. Demikian, Kapila merupakan rintangan bagi pengembangan dan pertumbuhan Ajaran (Sasana).
Karena perbuatan jahat ini, Kapila harus menderita di alam neraka (niraya) antara masa Buddha Kasapa dan Buddha Gotama. Setelah itu ia dilahirkan kembali sebagai seekor ikan di Sungai Aciravati. Ikan tersebut, seperti disebutkan di atas, mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah, tetapi mulutnya berbau tidak enak yang sangat menusuk hidung.
Suatu hari, ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan karena sangat indah, mereka membawanya kepada Raja. Kemudian Raja membawa ikan tersebut kepada Sang Buddha. Ketika ikan itu membuka mulutnya, bau yang tidak enak dan sangat menusuk menyebar ke sekeliling. Raja bertanya kepada Sang Buddha, mengapa ikan seindah itu mempunyai bau yang sedemikian tidak enak dan menusuk hidung.
Kepada Raja dan para pengiringnya, Sang Buddha menjelaskan, "O Raja! Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar, yang mengajarkan Dhamma pada lainnya. Karena perbuatan baik itu, ketika ia dilahirkan kembali pada kehidupan yang lain, meskipun sebagai seekor ikan, ia memiliki tubuh keemasan. Tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan memandang rendah orang lain; ia juga mengabaikan Peraturan Ke-bhikkhu-an (Vinaya), dan mencaci maki para bhikkhu yang lain. Karena perbuatan buruk ini, ia dilahirkan di alam neraka (niraya), dan sekarang, ia menjadi seekor ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk."
Sang Buddha kemudian beralih kepada ikan itu dan bertanya apakah ia mengetahui ke mana ia akan dilahirkan kembali pada kehidupan yang akan datang. Ikan tersebut menjawab bahwa ia akan masuk kembali ke alam neraka (niraya) dan ia dipenuhi dengan perasaan sangat sedih. Sebagai mana diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di alam neraka (niraya), untuk menerima akibat perbuatan buruk lain.
Semua yang hadir mendengarkan kisah ikan tersebut menjadi terkejut. Pada mereka, Sang Buddha memberikan khotbah tentang manfaat mengkombinasikan antara belajar dengan praktek.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Manujassa pamattacārino
taṇhā vaḍḍhati māluvā viya
so palavatī hurāhuraṃ
phalam icchaṃ va vanasmi vānaro.
Yaṃ esā sahatī jammī taṇhā loke visattikā
sokā tassa pavaḍḍhanti abhivaṭṭhaṃ va bīraṇaṃ.
Yo c’etaṃ sahatī jammīṃ taṇhāṃ loke duraccayaṃ
sokā tamhā papatanti udabindu va pokkharā.
Taṃ vo vādami bhaddaṃ vo yāvant’ ettha samāgatā
taṇhāya mūlaṃ khanatha usīrattho va bīraṇaṃ
mā vo naḷaṃ va soto va Māro bhañji punappunaṃ."
Bila seseorang hidup lengah, maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar.
Ia melompat dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain,
bagaikan kera yang senang mencari buah-buahan di dalam hutan.
Dalam dunia ini, siapapun yang dikuasai oleh nafsu keinginan rendah dan beracun,
penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat karena disirami dengan baik.
Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan yang beracun dan sukar dikalahkan itu,
maka kesedihan akan berlalu dari dalam dirinya, seperti air yang jatuh dari daun teratai.
Kuberitahukan hal ini kepadamu: Semoga engkau sekalian yang telah datang
berkumpul di sini memperoleh kesejahteraan!
Bongkarlah nafsu keinginanmu, seperti orang mencabut akar rumput Birana yang harum.
Jangan biarkan Mara menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang yang tumbuh di tepi.
----------
Notes :
Sebagian orang berpikir, hewan tak bisa bicara. Betul, mereka tidak bisa bicara bahasa Indonesia, atau bahasa Inggris, atau bahasa Pali. Tetapi mereka punya bahasa sendiri.
Para ilmuwan menyelidiki dan mengetahui bahwa binatang memiliki bahasa mereka sendiri. Misalnya, penyelidikan terhadap monyet, ayam, dan prairie dog (sejenis tupai), dll. Monyet mengeluarkan suara-suara dengan nada yg berbeda untuk menyampaikan informasi, misalnya bunyi peringatan untuk macan tutul, ular, elang, berbeda-beda, jika ada macan tutul atau ular, mereka lari ke atas pohon, dan jika ada elang, mereka bersembunyi di semak-semak. Dan, kalau ada monyet muda yang salah memberi peringatan, maka monyet itu akan dihukum oleh ibunya!
Ayam juga memiliki suara peringatan yang berbeda-beda jika ada elang, rubah, makanan, dll. Jika ada peringatan, mereka segera bersembunyi, jika ada makanan, mereka segera ikut datang makan. Biasanya ayam jantannya yang memberi peringatan dan menjaga ayam-ayam betina, walau ada juga ayam jantan yang kurang jantan dan malah bersembunyi di belakang ayam betina.
Ada kisah nyata tentang babi yang pintar. Tanggal 4 Agustus 1998, di Pennsylvania, USA, JoAnn Altsman terkena serangan jantung ketika dirumah sendirian. Lulu, babi peliharaannya, menangis dan segera lari keluar rumah, ketika ada mobil lewat, dia segera jalan ke tengah jalan untuk menghentikan mobil-mobil itu. Tentu saja banyak yang tidak mau berhenti dan hanya menghindarinya. Ada pula yang berhenti tapi tidak mau keluar dari mobil karena kuatir makhluk apa itu si Lulu? Lulu hitam dan besar, padahal babi pada umumnya berwarna merah muda. Beberapa kali Lulu bolak-balik ke dalam rumah untuk mengecek keadaan JoAnn, lalu keluar lagi mencoba menghentikan mobil yang lewat. 45 menit kemudian akhirnya ada yang berhenti dan keluar dari mobilnya. Lulu segera membimbingnya masuk ke rumah. Disana orang itu menemukan JoAnn terkapar di lantai, lalu segera ia memanggil ambulan. Lulu bahkan mau ikut dalam ambulan itu! Aduh pintar sekali bukan si Lulu? Padahal JoAnn juga ada anjing, dan si anjing itu cuma menggonggong saja dalam rumah.
So, yeah, hewan dapat berkomunikasi dan mereka juga memiliki perasaan dan pikiran, walaupun tidak secanggih manusia.
Berdasarkan pengetahuan modern saat ini yang meneliti hewan berkomunikasi, saya rasa tidak aneh jika ikan bisa bicara dengan Sang Buddha. Tidak dijelaskan secara detail, apakah dia bicara dengan bahasa apa, ataukah Sang Buddha yang menterjemahkan, ataukah karena kekuatan Sang Buddha maka dapat yang lain dapat turut mendengar dan mengerti, atau bagaimana. Ketika Sang Buddha turun dari Surga Tavatimsa setelah mengajarkan Abhidhamma disana, manusia yang ada di tempat itu dapat melihat para dewa-dewa yang mengiringi Sang Buddha. Jadi memang dengan bantuan kekuatan batin Sang Buddha, Beliau dapat membantu orang lain untuk melihat hal yang biasanya tidak terlihat. Jadi dalam hal ini bisa juga Sang Buddha yang membantu semua orang yang hadir untuk dapat mengerti si ikan.
Selain itu, Sang Buddha dikenal memiliki kemampuan dapat menyampaikan apa yg ingin dikemukakan secara langsung, tanpa halangan bahasa, langsung dari pikiran ke pikiran.
Hal ini tidak aneh, jika seseorang sudah cukup tinggi meditasinya, mereka dapat membaca pikiran. Dahulu pernah seorang teman menanyakan persoalan kepada Bhante Vin Vijano almarhum. Saat itu terjadi kesulitan komunikasi karena bahasa Indonesia teman saya kurang bagus, dan bahasa Indonesia Bhante Vin lebih kurang lagi (bhante Vin orang Thailand), akhirnya bhante menatap tajam kening teman tersebut untuk mencari tahu yang sebenarnya.
Teman saya berkata, (dia sensitif dan kadang bisa melihat makhluk halus) seperti ada sesuatu yang menjalar masuk ke otaknya sambil berusaha menggambarkannya dengan menggerak-gerakkan kelima jari tangannya seperti laba-laba yang merayap.
Showing posts with label 24. Tanha Vagga. Show all posts
Showing posts with label 24. Tanha Vagga. Show all posts
Sunday, 2 May 2010
Saturday, 1 May 2010
Kisah Seekor Induk Babi Muda (Dhammapada 24 : 338-343)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(338) Sebatang pohon yang telah ditebang
masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi
apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan.
Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan,
maka penderitaan akan tumbuh berulang kali.
(339) Orang yang berpandangan salah,
yang dalam dirinya 36 arus nafsu mengalir deras
menuju obyek yang menyenangkan,
akan terseret oleh pikiran yang penuh nafsu itu.
(340) Arus nafsu keinginan mengalir menuju ke segala arah,
tanaman menjalar nafsu keinginan bertunas dan tumbuh merambat.
Melihat tanaman menjalar itu,
potonglah akar-akarnya dengan pisau kebijaksanaan.
(341) Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar objek-objek indria,
dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indria.
Karena mengejar kenikmatan-kenikmatan indria dan melekat padanya,
mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan.
(342) Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan,
maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang lama.
(343) Makhluk-makhluk yang terikat oleh nafsu-nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena itu seorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan diri,
hendaknya ia membuang segala nafsu-nafsu keinginannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu kesempatan, ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di Rajagaha, ia melihat seekor induk babi muda yang kotor dan Beliau tersenyum. Ketika ditanya oleh Ananda, Sang Buddha menjawab, "Ananda, babi ini dulunya adalah seekor ayam betina dimasa Buddha Kakusandha. Karena ia tinggal di dekat ruang makan di suatu vihara, ia biasa mendengar pengulangan teks suci dan khotbah Dhamma. Ketika ia mati, ia dilahirkan kembali sebagai seorang putri.
Suatu ketika, saat pergi ke kakus, sang Putri melihat belatung dan ia menjadi sadar akan sifat yang menjijikkan dari tubuh. Ketika ia meninggal dunia, ia dilahirkan kembali di alam Brahma sebagai brahma puthujjana; tetapi kemudian karena beberapa perbuatan buruknya, ia dilahirkan kembali sebagai babi betina. Ananda ! Lihat, karena perbuatan baik dan perbuatan buruk tidak ada akhir dari lingkaran kehidupan."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Yathāpi mūle anupaddave daḷhe
chinno pi rukkho punar eva rūhati
evam pi taṇhānusaye anūhate
nibbattati dukkham idaṃ punappunaṃ
Yassa chattiṃsatī sotā manāpassavanā bhusā
vāhā vahanti duddiṭṭhaṃ saṃkappā rāganissitā
savanti sabbadā sotā, latā ubbhijja tiṭṭhati
tañ ca disvā lataṃ jātaṃ mūlaṃ paññāya chindatha
saritāni sinehitāni ca
somanassāni bhavanti jantuno
te sātasitā sukhesino
te ve jātijarūpagā narā
tasiṇāya purakkhatā pajā
parisappanti saso va bādhito
saññojanasaṅgasattakā
dukkham upenti punappunaṃ cirāya
tasiṇāya purakkhatā pajā
parisappanti saso va bādhito
tasmā tasiṇaṃ vinodaye
bhikkhu ākaṃkha virāgam attano.”
Sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi
apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan.
Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan,
maka penderitaan akan tumbuh berulang kali.
Orang yang berpandangan salah, yang dalam dirinya 36* arus nafsu mengalir deras menuju obyek yang menyenangkan, akan terseret oleh pikiran yang penuh nafsu itu.
Arus nafsu keinginan mengalir menuju ke segala arah, tanaman menjalar nafsu keinginan bertunas dan tumbuh merambat.
Melihat tanaman menjalar itu, potonglah akar-akarnya dengan pisau kebijaksanaan.
Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar objek-objek indria,
dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indria.
Karena mengejar kenikmatan-kenikmatan indria dan melekat padanya,
mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan.
Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan,
maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang lama.
Makhluk-makhluk yang terikat oleh nafsu-nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena itu seorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan diri,
hendaknya ia membuang segala nafsu-nafsu keinginannya.
---------
Notes :
Yang dimaksud dengan 36 jenis arus nafsu adalah sebagai berikut.
Tanha/craving/nafsu keinginan ada 3 :
- kāma-taṇhā : nafsu keinginan akan nafsu indria
- bhava-taṇhā : keinginan untuk “menjadi” atau “ada”
- vibhava-taṇhā : keinginan untuk “tidak menjadi” atau "tidak ada" atau
Ada 6 landasan (ayatana) internal : yaitu melalui :
mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran.
Ada 6 landasan (ayatana) external : yaitu melalui :
bentuk/forms, suara/bunyi, bebauan, rasa, sentuhan, dan ide/bentuk-bentuk pikiran.
3 jenis tanha yang melalui 6 landasan internal diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
3 jenis tanha yang melalui 6 landasan external diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
Sehingga total ada 36 jenis arus nafsu.
(338) Sebatang pohon yang telah ditebang
masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi
apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan.
Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan,
maka penderitaan akan tumbuh berulang kali.
(339) Orang yang berpandangan salah,
yang dalam dirinya 36 arus nafsu mengalir deras
menuju obyek yang menyenangkan,
akan terseret oleh pikiran yang penuh nafsu itu.
(340) Arus nafsu keinginan mengalir menuju ke segala arah,
tanaman menjalar nafsu keinginan bertunas dan tumbuh merambat.
Melihat tanaman menjalar itu,
potonglah akar-akarnya dengan pisau kebijaksanaan.
(341) Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar objek-objek indria,
dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indria.
Karena mengejar kenikmatan-kenikmatan indria dan melekat padanya,
mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan.
(342) Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan,
maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang lama.
(343) Makhluk-makhluk yang terikat oleh nafsu-nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena itu seorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan diri,
hendaknya ia membuang segala nafsu-nafsu keinginannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu kesempatan, ketika Sang Buddha sedang berpindapatta di Rajagaha, ia melihat seekor induk babi muda yang kotor dan Beliau tersenyum. Ketika ditanya oleh Ananda, Sang Buddha menjawab, "Ananda, babi ini dulunya adalah seekor ayam betina dimasa Buddha Kakusandha. Karena ia tinggal di dekat ruang makan di suatu vihara, ia biasa mendengar pengulangan teks suci dan khotbah Dhamma. Ketika ia mati, ia dilahirkan kembali sebagai seorang putri.
Suatu ketika, saat pergi ke kakus, sang Putri melihat belatung dan ia menjadi sadar akan sifat yang menjijikkan dari tubuh. Ketika ia meninggal dunia, ia dilahirkan kembali di alam Brahma sebagai brahma puthujjana; tetapi kemudian karena beberapa perbuatan buruknya, ia dilahirkan kembali sebagai babi betina. Ananda ! Lihat, karena perbuatan baik dan perbuatan buruk tidak ada akhir dari lingkaran kehidupan."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Yathāpi mūle anupaddave daḷhe
chinno pi rukkho punar eva rūhati
evam pi taṇhānusaye anūhate
nibbattati dukkham idaṃ punappunaṃ
Yassa chattiṃsatī sotā manāpassavanā bhusā
vāhā vahanti duddiṭṭhaṃ saṃkappā rāganissitā
savanti sabbadā sotā, latā ubbhijja tiṭṭhati
tañ ca disvā lataṃ jātaṃ mūlaṃ paññāya chindatha
saritāni sinehitāni ca
somanassāni bhavanti jantuno
te sātasitā sukhesino
te ve jātijarūpagā narā
tasiṇāya purakkhatā pajā
parisappanti saso va bādhito
saññojanasaṅgasattakā
dukkham upenti punappunaṃ cirāya
tasiṇāya purakkhatā pajā
parisappanti saso va bādhito
tasmā tasiṇaṃ vinodaye
bhikkhu ākaṃkha virāgam attano.”
Sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi
apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan.
Begitu pula selama akar nafsu keinginan tidak dihancurkan,
maka penderitaan akan tumbuh berulang kali.
Orang yang berpandangan salah, yang dalam dirinya 36* arus nafsu mengalir deras menuju obyek yang menyenangkan, akan terseret oleh pikiran yang penuh nafsu itu.
Arus nafsu keinginan mengalir menuju ke segala arah, tanaman menjalar nafsu keinginan bertunas dan tumbuh merambat.
Melihat tanaman menjalar itu, potonglah akar-akarnya dengan pisau kebijaksanaan.
Dalam diri makhluk-makhluk timbul rasa senang mengejar objek-objek indria,
dan mereka menjadi terikat pada keinginan-keinginan indria.
Karena mengejar kenikmatan-kenikmatan indria dan melekat padanya,
mereka menjadi korban kelahiran dan kelapukan.
Makhluk-makhluk yang terikat pada nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena terikat erat oleh belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan,
maka mereka mengalami penderitaan untuk waktu yang lama.
Makhluk-makhluk yang terikat oleh nafsu-nafsu keinginan,
berlarian kian kemari seperti seekor kelinci yang terjebak.
Karena itu seorang bhikkhu yang menginginkan kebebasan diri,
hendaknya ia membuang segala nafsu-nafsu keinginannya.
---------
Notes :
Yang dimaksud dengan 36 jenis arus nafsu adalah sebagai berikut.
Tanha/craving/nafsu keinginan ada 3 :
- kāma-taṇhā : nafsu keinginan akan nafsu indria
- bhava-taṇhā : keinginan untuk “menjadi” atau “ada”
- vibhava-taṇhā : keinginan untuk “tidak menjadi” atau "tidak ada" atau
Ada 6 landasan (ayatana) internal : yaitu melalui :
mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran.
Ada 6 landasan (ayatana) external : yaitu melalui :
bentuk/forms, suara/bunyi, bebauan, rasa, sentuhan, dan ide/bentuk-bentuk pikiran.
3 jenis tanha yang melalui 6 landasan internal diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
3 jenis tanha yang melalui 6 landasan external diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
Sehingga total ada 36 jenis arus nafsu.
Labels:
24. Tanha Vagga
Friday, 30 April 2010
Kisah Seorang Mantan Bhikkhu (Dhammapada 24 : 344)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(344) Setelah bebas dari hutan keinginan (kehidupan rumah tangga),
ia menemukan hutan kesucian (kehidupan pertapa).
Tapi, walaupun telah bebas dari keinginan (akan kehidupan rumah tangga) ia kembali ke rumah lagi.
Lihatlah orang seperti itu! Setelah bebas ia kembali pada ikatan itu lagi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebagai seorang murid Y.A.Mahakassapa, bhikkhu ini telah mencapai empat tingkat pencerapan mental (jhana). Suatu hari ketika ia pergi untuk menerima dana makanan di rumah pamannya, ia melihat seorang wanita dan merasa keinginan yang sangat kuat untuk memilikinya. Kemudian ia meninggalkan Pasamuan Bhikkhu (Sangha).
Sebagai seorang umat awam, ia mengalami kegagalan karena ia tidak bekerja keras. Pamannya mengusir mantan bhikkhu itu dari rumahnya. Kemudian ia berkawan dengan beberapa pencuri. Dalam salah satu aksinya, mereka semua ditangkap oleh yang berwajib dan dibawa ke makam untuk di hukum mati.
Y.A. Mahakassapa, melihat mantan muridnya ketika sedang dibawa keluar, dan berkata padanya, "Muridku, jagalah pikiranmu teguh pada satu objek meditasi." Seperti diperintahkan, ia berkonsentrasi dan membiarkan dirinya masuk ke dalam keadaan pencerapan mental yang dalam. Di makam, saat para algojo sedang membuat persiapan untuk membunuhnya, mantan bhikkhu tersebut sangat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan atau kegelisahan. Para algojo serta para penonton terpesona dan sangat terkesan dengan keberanian dan ketenangan orang itu. Kemudian mereka melaporkan tentang orang itu kepada Raja dan kepada Sang Buddha.
Raja memberi perintah untuk melepaskan orang itu. Sang Buddha ketika mendengar tentang kejadian tersebut mengirimkan sinar Beliau dan muncul di hadapan pencuri itu sehingga ia seperti berhadapan langsung dengan Sang Buddha.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Yo nibbanatho vanādhimutto
vanamutto vanam eva dhāvati
taṃ puggalam eva passatha:
mutto bandhanam eva dhāvati."
Setelah bebas dari hutan keinginan (kehidupan rumah tangga),
ia menemukan hutan kesucian (kehidupan pertapa).
Tapi, walaupun telah bebas dari keinginan (akan kehidupan rumah tangga)
ia kembali ke rumah lagi.
Lihatlah orang seperti itu! Setelah bebas ia kembali pada ikatan itu lagi.
Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, pencuri yang teguh menjaga pikirannya pada timbul dan tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi menyadari sifat ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan tanpa inti dari segala sesuatu yang berkondisi. Ia mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian ia pergi menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana, dan ia sekali lagi diterima masuk ke dalam Pasamuan Bhikkhu (Sangha) oleh Sang Buddha, dan ia dengan cepat mencapai tingkat kesucian arahat.
(344) Setelah bebas dari hutan keinginan (kehidupan rumah tangga),
ia menemukan hutan kesucian (kehidupan pertapa).
Tapi, walaupun telah bebas dari keinginan (akan kehidupan rumah tangga) ia kembali ke rumah lagi.
Lihatlah orang seperti itu! Setelah bebas ia kembali pada ikatan itu lagi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebagai seorang murid Y.A.Mahakassapa, bhikkhu ini telah mencapai empat tingkat pencerapan mental (jhana). Suatu hari ketika ia pergi untuk menerima dana makanan di rumah pamannya, ia melihat seorang wanita dan merasa keinginan yang sangat kuat untuk memilikinya. Kemudian ia meninggalkan Pasamuan Bhikkhu (Sangha).
Sebagai seorang umat awam, ia mengalami kegagalan karena ia tidak bekerja keras. Pamannya mengusir mantan bhikkhu itu dari rumahnya. Kemudian ia berkawan dengan beberapa pencuri. Dalam salah satu aksinya, mereka semua ditangkap oleh yang berwajib dan dibawa ke makam untuk di hukum mati.
Y.A. Mahakassapa, melihat mantan muridnya ketika sedang dibawa keluar, dan berkata padanya, "Muridku, jagalah pikiranmu teguh pada satu objek meditasi." Seperti diperintahkan, ia berkonsentrasi dan membiarkan dirinya masuk ke dalam keadaan pencerapan mental yang dalam. Di makam, saat para algojo sedang membuat persiapan untuk membunuhnya, mantan bhikkhu tersebut sangat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan atau kegelisahan. Para algojo serta para penonton terpesona dan sangat terkesan dengan keberanian dan ketenangan orang itu. Kemudian mereka melaporkan tentang orang itu kepada Raja dan kepada Sang Buddha.
Raja memberi perintah untuk melepaskan orang itu. Sang Buddha ketika mendengar tentang kejadian tersebut mengirimkan sinar Beliau dan muncul di hadapan pencuri itu sehingga ia seperti berhadapan langsung dengan Sang Buddha.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Yo nibbanatho vanādhimutto
vanamutto vanam eva dhāvati
taṃ puggalam eva passatha:
mutto bandhanam eva dhāvati."
Setelah bebas dari hutan keinginan (kehidupan rumah tangga),
ia menemukan hutan kesucian (kehidupan pertapa).
Tapi, walaupun telah bebas dari keinginan (akan kehidupan rumah tangga)
ia kembali ke rumah lagi.
Lihatlah orang seperti itu! Setelah bebas ia kembali pada ikatan itu lagi.
Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, pencuri yang teguh menjaga pikirannya pada timbul dan tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi menyadari sifat ketidak-kekalan, ketidak-puasan, dan tanpa inti dari segala sesuatu yang berkondisi. Ia mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian ia pergi menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana, dan ia sekali lagi diterima masuk ke dalam Pasamuan Bhikkhu (Sangha) oleh Sang Buddha, dan ia dengan cepat mencapai tingkat kesucian arahat.
Labels:
24. Tanha Vagga
Thursday, 29 April 2010
Kisah Hukuman Penjara (Dhammapada 24 : 345-346)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(345) Orang bijaksana menyatakan
bahwa belenggu yang terbuat dari besi, kayu, ataupun rami tidaklah begitu kuat.
Tetapi ikatan terhadap anak-anak, istri, dan harta benda,
sesungguhnya merupakan belenggu yang jauh lebih kuat.
(346) Orang bijaksana menyatakan
bahwa belenggu seperti itu amat kuat,
dapat melemparkan orang ke bawah, halus dan sukar untuk dilepaskan.
walaupun demikian, para bijaksana akan dapat memutuskan belenggu itu,
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan,
serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari, tiga puluh bhikkhu datang ke Savatthi untuk berpindapatta. Ketika mereka sedang mengumpulkan dana makanan, mereka melihat beberapa tawanan sedang diangkut dengan kaki dan tangan terikat rantai. Ketika tiba kembali di vihara, setelah mengingat apa yang telah dilihat dipagi hari, mereka bertanya kepada Sang Buddha apakan ada ikatan lain yang lebih kuat dari pada itu.
Kepada mereka Sang Buddha menjawab. "Para bhikkhu! Ikatan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan nafsu keinginan akan makanan dan pakaian, akan kekayaan, serta akan keluarga. Nafsu keinginan ribuan, ratusan ribu lebih kuat daripada rantai itu, borgol, dan kurungan. Itulah sebabnya mengapa orang bijaksana memotong nafsu dan meninggalkan keduniawian, serta memasuki pasamuan para bhikkhu.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Na taṃ daḷhaṃ bandhanam āhu dhīrā
yad āyasaṃ dārujaṃ pabbajañ ca
sārattarattā maṇikuṇḍalesu
puttesu dāresu ca yā apekhā,
Etaṃ daḷhaṃ bandhanam āhu dhīrā
ohārinaṃ sithilaṃ duppamuñcaṃ
etam pi chetvāna paribbajanti
anapekhino kāmasukhaṃ pahāya."
Orang bijaksana menyatakan bahwa belenggu yang terbuat dari besi, kayu, ataupun rami
tidaklah begitu kuat.
Tetapi ikatan terhadap anak-anak, istri, dan harta benda,
sesungguhnya merupakan belenggu yang jauh lebih kuat.
Orang bijaksana menyatakan bahwa belenggu seperti itu amat kuat,
dapat melemparkan orang ke bawah (ke alam rendah), halus dan sukar untuk dilepaskan.
walaupun demikian, para bijaksana akan dapat memutuskan belenggu itu,
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan,
serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
(345) Orang bijaksana menyatakan
bahwa belenggu yang terbuat dari besi, kayu, ataupun rami tidaklah begitu kuat.
Tetapi ikatan terhadap anak-anak, istri, dan harta benda,
sesungguhnya merupakan belenggu yang jauh lebih kuat.
(346) Orang bijaksana menyatakan
bahwa belenggu seperti itu amat kuat,
dapat melemparkan orang ke bawah, halus dan sukar untuk dilepaskan.
walaupun demikian, para bijaksana akan dapat memutuskan belenggu itu,
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan,
serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu hari, tiga puluh bhikkhu datang ke Savatthi untuk berpindapatta. Ketika mereka sedang mengumpulkan dana makanan, mereka melihat beberapa tawanan sedang diangkut dengan kaki dan tangan terikat rantai. Ketika tiba kembali di vihara, setelah mengingat apa yang telah dilihat dipagi hari, mereka bertanya kepada Sang Buddha apakan ada ikatan lain yang lebih kuat dari pada itu.
Kepada mereka Sang Buddha menjawab. "Para bhikkhu! Ikatan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan nafsu keinginan akan makanan dan pakaian, akan kekayaan, serta akan keluarga. Nafsu keinginan ribuan, ratusan ribu lebih kuat daripada rantai itu, borgol, dan kurungan. Itulah sebabnya mengapa orang bijaksana memotong nafsu dan meninggalkan keduniawian, serta memasuki pasamuan para bhikkhu.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Na taṃ daḷhaṃ bandhanam āhu dhīrā
yad āyasaṃ dārujaṃ pabbajañ ca
sārattarattā maṇikuṇḍalesu
puttesu dāresu ca yā apekhā,
Etaṃ daḷhaṃ bandhanam āhu dhīrā
ohārinaṃ sithilaṃ duppamuñcaṃ
etam pi chetvāna paribbajanti
anapekhino kāmasukhaṃ pahāya."
Orang bijaksana menyatakan bahwa belenggu yang terbuat dari besi, kayu, ataupun rami
tidaklah begitu kuat.
Tetapi ikatan terhadap anak-anak, istri, dan harta benda,
sesungguhnya merupakan belenggu yang jauh lebih kuat.
Orang bijaksana menyatakan bahwa belenggu seperti itu amat kuat,
dapat melemparkan orang ke bawah (ke alam rendah), halus dan sukar untuk dilepaskan.
walaupun demikian, para bijaksana akan dapat memutuskan belenggu itu,
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan,
serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
Labels:
24. Tanha Vagga
Wednesday, 28 April 2010
Kisah Khema Theri (Dhammapada 24 : 347)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(347) Mereka yang bergembira dengan nafsu indria,
akan jatuh ke dalam arus (kehidupan),
seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri.
Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu,
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan,
serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Ratu Khema merupakan istri utama dari Raja Bimbisara. Ia sangat cantik dan sangat bangga akan kecantikannya. Raja menginginkannya untuk pergi ke Vihara Veluvana dan memberi hormat kepada Sang Buddha. Namun ia pernah mendengar bahwa Sang Buddha selalu berbicara meremehkan kecantikan, dan karenanya ia mencoba untuk menghindari berjumpa dengan Sang Buddha. Raja mengerti sikapnya terhadap Sang Buddha, ia juga tahu betapa bangganya ratu pada kecantikannya. Kemudian raja memerintahkan grup musiknya untuk menyanyikan lagu pujian tentang Vihara Veluvana, tentang tempatnya yang menyenangkan dan suasananya yang damai, dan sebagainya. Mendengar hal itu, Ratu Khema menjadi tertarik dan memutuskan untuk pergi ke Vihara Veluvana.
Ketika Ratu Khema tiba di vihara, Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada para pendengar. Dengan kemampuan batin luar biasa Beliau, Sang Buddha membuat penampakan seorang gadis muda yang sangat cantik muncul, duduk tidak jauh dari Beliau, dan sedang mengipasi Sang Buddha. Ketika Ratu Khema datang di ruang pertemuan, hanya ia sendiri yang melihat gadis cantik tersebut. Membandingkan kecantikannya yang luar biasa dari gadis tersebut dengan kecantikannya, Khema menyadari bahwa kecantikannya jauh lebih rendah dibandingkan dengan gadis tersebut. Ketika Ratu memperhatikan dengan seksama gadis tersebut, tiba-tiba kecantikan gadis itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Akhirnya Ratu melihat seorang wanita tua jompo, yang kemudian berubah menjadi mayat, tubuhnya yang berbau busuk diserang belatung. Segera pada saat itu, ratu Khema menyadari ketidak-kekalan dan ketidak-berhargaan kecantikannya.
Sang Buddha mengetahui keadaan pikiran Ratu Khema, kemudian Beliau berkata, "O Khema! Lihatlah baik-baik pada tubuh lapuk ini yang terbalut di sekitar kerangka tulang, dan merupakan sasaran penyakit dan kelapukan. Lihatlah baik-baik tubuh ini yang dihargai sedemikian tinggi oleh orang bodoh. Lihatlah pada ketidak-berhargaan kecantikan gadis muda ini." Setelah mendengar hal itu, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Ye rāgarattānupatanti sotaṃ
sayaṃkataṃ makkaṭako va jālaṃ
etam pi chetvāna vajanti dhīrā
anapekhino sabbadukkhaṃ pahāya."
Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan),
seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri.
Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meniggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan, serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha berkata kepada Raja, “Oh Raja, Khema harus meninggalkan keduniawian, atau memasuki Nibbana”. Raja menjawab, “Bhante, terimalah ia dalam Sangha; sedangkan Nibbana, jangan!”.
Khema kemudian masuk dalam pasamuan bhikkhuni serta menjadi Siswa Utama wanita Sang Buddha.
--------
Notes :
* Bhikkhu Siswa Utama adalah Moggalana & Sariputta, dan bhikkhuni siswa utama adalah Khema & Uppalavana.
Diatas, dikatakan jika telah mencapai arahat, harus meninggalkan kehidupan duniawi atau merealisasi Nibbana (maksudnya meninggal dunia). Hal ini dikarenakan tidak mungkin lagi seorang arahat menjalani kehidupan duniawi. Sudah tidak cocok lagi, cara pandang, sikap dll. Coba perhatikan cerita-cerita lainnya, semua yang mencapai arahat kalau tidak menjadi bhikkhu/ni, maka ia akan meninggal tidak lama kemudian. Misalnya menteri Santati (kisah no. 142), Bahiya (kisah no.101), Brahmana dan isterinya (dua orang) di kisah no.225, dan juga Raja Suddhodana ayah pangeran Siddhartha yang meninggal segera setelah mencapai arahat (ThigA.141). Tidak ada yang hidup terus sebagai umat perumah tangga. Yang tercatat masih tetap hidup berumah tangga, maksimum hanya anagami.
Biasanya kalau bukan anggota Sangha tetapi mencapai arahat setelah mendengar khotbah Sang Buddha, mereka segera masuk dalam persamuan Sangha. Contohnya Jambuka (kisah 70), Uggasena (kisah 348), Khema (kisah 347), Samanera dari Kosambi (kisah 96), Aggidatta dan semua pengikutnya (kisah 188-192)
Dalam hal ini karena Khema adalah seorang ratu dan masih memiliki suami, tentunya dia tidak leluasa memutuskan sendiri, hingga Buddha menanyakannya kepada Raja.
Pada masa Buddha Padumuttara, Khema adalah seorang budak. Ia menjual rambutnya untuk memberi dana makanan kepada Buddha Padumuttara, dan melihat murid utama wanita Sujata, ia bertekad untuk menjadi murid utama wanita Buddha yang akan datang. Sejak saat itu ia bekerja keras untuk memenuhi tekad itu.
Pada masa Buddha Kassapa, ia bernama Samani, putri tertua dari Kiki, Raja Benares. Bersama dengan saudari-saudarinya ia menjalani hidup selibat selama 20 ribu tahun dan membangun vihara untuk Buddha. Ia mempelajari Mahanidana Sutta setelah mendengar Buddha membabarkannya.
Pada masa Buddha Vipassi ia menjadi seorang bhikkhuni pembabar Dhamma yang terkenal. Dan pada masa Buddha Kakusandha dan Konagamana, ia juga membangun vihara untuk Buddha dan para bhikkhu.
Demikian sejarah kehidupan-kehidupan Ratu Khema di masa lalu, beliau telah banyak memupuk kebajikan dan juga terpelajar dalam Dhamma, karena inilah maka hanya dengan satu khotbah bahkan masih dalam status umat awam, beliau dapat mencapai tingkat kesucian arahat.
Raja Bimbisara adalah Raja di kerajaan Magadha, memiliki beberapa orang ratu/istri yaitu
- Ratu Khema, tidak disebutkan ia memiliki anak.
- Padumavati dari Ujjeni, dengannya mempunyai putra bernama Abhayakumara
- Ratu Kosaladevi / Ratu Vaidehi, saudari Raja Pasenadi dari Kosala.
Dengan ratu Vaidehi, Raja Bimbisara memiliki anak, yaitu Ajatasattu. Ketika Ajatasattu dewasa, ia dihasut oleh Devadatta untuk menggulingkan Raja Bimbisara. Raja Bimbisara ditangkap, disiksa dan akhirnya mati. Dengan latar belakang kejadian ini, Ratu Vaidehi memohon Sang Buddha untuk mengutus murid Beliau untuk mengajarkan Dharma. Ketika Sang Buddha datang menampakkan diri, Ratu Vaidehi bertanya, dimanakah terdapat alam yang tiada kejahatan dan bagaimana dapat ke sana. Kemudian Sang Buddha menjelaskan panjang lebar metode meditasi yang digunakan. Kejadian ini terdapat di dalam Amitayur Dhyana Sutra. Di sutra ini dijelaskan bagaimana meditasi untuk lahir di alam Buddha Amitabha). (Sutra ini termasuk aliran Mahayana)
Selain itu Raja Bimbisara juga memiliki anak bersama pelacur Ambapali dari Vesali, anaknya bernama Vimala Kondanna yang menjadi bhikkhu setelah kunjungan Buddha ke Vesali dan mencapai kearahatan segera sesudahnya. Mendengar khotbah Vimala Kondanna, Ambapali memasuki sangha bhikkhuni dan kemudian mencapai arahat juga.
(347) Mereka yang bergembira dengan nafsu indria,
akan jatuh ke dalam arus (kehidupan),
seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri.
Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu,
mereka meninggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan,
serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Ratu Khema merupakan istri utama dari Raja Bimbisara. Ia sangat cantik dan sangat bangga akan kecantikannya. Raja menginginkannya untuk pergi ke Vihara Veluvana dan memberi hormat kepada Sang Buddha. Namun ia pernah mendengar bahwa Sang Buddha selalu berbicara meremehkan kecantikan, dan karenanya ia mencoba untuk menghindari berjumpa dengan Sang Buddha. Raja mengerti sikapnya terhadap Sang Buddha, ia juga tahu betapa bangganya ratu pada kecantikannya. Kemudian raja memerintahkan grup musiknya untuk menyanyikan lagu pujian tentang Vihara Veluvana, tentang tempatnya yang menyenangkan dan suasananya yang damai, dan sebagainya. Mendengar hal itu, Ratu Khema menjadi tertarik dan memutuskan untuk pergi ke Vihara Veluvana.
Ketika Ratu Khema tiba di vihara, Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada para pendengar. Dengan kemampuan batin luar biasa Beliau, Sang Buddha membuat penampakan seorang gadis muda yang sangat cantik muncul, duduk tidak jauh dari Beliau, dan sedang mengipasi Sang Buddha. Ketika Ratu Khema datang di ruang pertemuan, hanya ia sendiri yang melihat gadis cantik tersebut. Membandingkan kecantikannya yang luar biasa dari gadis tersebut dengan kecantikannya, Khema menyadari bahwa kecantikannya jauh lebih rendah dibandingkan dengan gadis tersebut. Ketika Ratu memperhatikan dengan seksama gadis tersebut, tiba-tiba kecantikan gadis itu mulai memudar sedikit demi sedikit. Akhirnya Ratu melihat seorang wanita tua jompo, yang kemudian berubah menjadi mayat, tubuhnya yang berbau busuk diserang belatung. Segera pada saat itu, ratu Khema menyadari ketidak-kekalan dan ketidak-berhargaan kecantikannya.
Sang Buddha mengetahui keadaan pikiran Ratu Khema, kemudian Beliau berkata, "O Khema! Lihatlah baik-baik pada tubuh lapuk ini yang terbalut di sekitar kerangka tulang, dan merupakan sasaran penyakit dan kelapukan. Lihatlah baik-baik tubuh ini yang dihargai sedemikian tinggi oleh orang bodoh. Lihatlah pada ketidak-berhargaan kecantikan gadis muda ini." Setelah mendengar hal itu, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Ye rāgarattānupatanti sotaṃ
sayaṃkataṃ makkaṭako va jālaṃ
etam pi chetvāna vajanti dhīrā
anapekhino sabbadukkhaṃ pahāya."
Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan),
seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri.
Tapi para bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meniggalkan kehidupan duniawi, tanpa ikatan, serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Ratu Khema mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha berkata kepada Raja, “Oh Raja, Khema harus meninggalkan keduniawian, atau memasuki Nibbana”. Raja menjawab, “Bhante, terimalah ia dalam Sangha; sedangkan Nibbana, jangan!”.
Khema kemudian masuk dalam pasamuan bhikkhuni serta menjadi Siswa Utama wanita Sang Buddha.
--------
Notes :
* Bhikkhu Siswa Utama adalah Moggalana & Sariputta, dan bhikkhuni siswa utama adalah Khema & Uppalavana.
Diatas, dikatakan jika telah mencapai arahat, harus meninggalkan kehidupan duniawi atau merealisasi Nibbana (maksudnya meninggal dunia). Hal ini dikarenakan tidak mungkin lagi seorang arahat menjalani kehidupan duniawi. Sudah tidak cocok lagi, cara pandang, sikap dll. Coba perhatikan cerita-cerita lainnya, semua yang mencapai arahat kalau tidak menjadi bhikkhu/ni, maka ia akan meninggal tidak lama kemudian. Misalnya menteri Santati (kisah no. 142), Bahiya (kisah no.101), Brahmana dan isterinya (dua orang) di kisah no.225, dan juga Raja Suddhodana ayah pangeran Siddhartha yang meninggal segera setelah mencapai arahat (ThigA.141). Tidak ada yang hidup terus sebagai umat perumah tangga. Yang tercatat masih tetap hidup berumah tangga, maksimum hanya anagami.
Biasanya kalau bukan anggota Sangha tetapi mencapai arahat setelah mendengar khotbah Sang Buddha, mereka segera masuk dalam persamuan Sangha. Contohnya Jambuka (kisah 70), Uggasena (kisah 348), Khema (kisah 347), Samanera dari Kosambi (kisah 96), Aggidatta dan semua pengikutnya (kisah 188-192)
Dalam hal ini karena Khema adalah seorang ratu dan masih memiliki suami, tentunya dia tidak leluasa memutuskan sendiri, hingga Buddha menanyakannya kepada Raja.
Pada masa Buddha Padumuttara, Khema adalah seorang budak. Ia menjual rambutnya untuk memberi dana makanan kepada Buddha Padumuttara, dan melihat murid utama wanita Sujata, ia bertekad untuk menjadi murid utama wanita Buddha yang akan datang. Sejak saat itu ia bekerja keras untuk memenuhi tekad itu.
Pada masa Buddha Kassapa, ia bernama Samani, putri tertua dari Kiki, Raja Benares. Bersama dengan saudari-saudarinya ia menjalani hidup selibat selama 20 ribu tahun dan membangun vihara untuk Buddha. Ia mempelajari Mahanidana Sutta setelah mendengar Buddha membabarkannya.
Pada masa Buddha Vipassi ia menjadi seorang bhikkhuni pembabar Dhamma yang terkenal. Dan pada masa Buddha Kakusandha dan Konagamana, ia juga membangun vihara untuk Buddha dan para bhikkhu.
Demikian sejarah kehidupan-kehidupan Ratu Khema di masa lalu, beliau telah banyak memupuk kebajikan dan juga terpelajar dalam Dhamma, karena inilah maka hanya dengan satu khotbah bahkan masih dalam status umat awam, beliau dapat mencapai tingkat kesucian arahat.
Raja Bimbisara adalah Raja di kerajaan Magadha, memiliki beberapa orang ratu/istri yaitu
- Ratu Khema, tidak disebutkan ia memiliki anak.
- Padumavati dari Ujjeni, dengannya mempunyai putra bernama Abhayakumara
- Ratu Kosaladevi / Ratu Vaidehi, saudari Raja Pasenadi dari Kosala.
Dengan ratu Vaidehi, Raja Bimbisara memiliki anak, yaitu Ajatasattu. Ketika Ajatasattu dewasa, ia dihasut oleh Devadatta untuk menggulingkan Raja Bimbisara. Raja Bimbisara ditangkap, disiksa dan akhirnya mati. Dengan latar belakang kejadian ini, Ratu Vaidehi memohon Sang Buddha untuk mengutus murid Beliau untuk mengajarkan Dharma. Ketika Sang Buddha datang menampakkan diri, Ratu Vaidehi bertanya, dimanakah terdapat alam yang tiada kejahatan dan bagaimana dapat ke sana. Kemudian Sang Buddha menjelaskan panjang lebar metode meditasi yang digunakan. Kejadian ini terdapat di dalam Amitayur Dhyana Sutra. Di sutra ini dijelaskan bagaimana meditasi untuk lahir di alam Buddha Amitabha). (Sutra ini termasuk aliran Mahayana)
Selain itu Raja Bimbisara juga memiliki anak bersama pelacur Ambapali dari Vesali, anaknya bernama Vimala Kondanna yang menjadi bhikkhu setelah kunjungan Buddha ke Vesali dan mencapai kearahatan segera sesudahnya. Mendengar khotbah Vimala Kondanna, Ambapali memasuki sangha bhikkhuni dan kemudian mencapai arahat juga.
Labels:
24. Tanha Vagga
Tuesday, 27 April 2010
Kisah Uggasena (Dhammapada 24 : 348)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(348) Tinggalkan apa yang telah lalu,
yang akan datang maupun sekarang
(kemelekatan terhadap lima kelompok kehidupan)
dan capailah "Pantai Seberang" (nibbana).
Dengan pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu,
maka engkau tak akan mengalami kelahiran dan kelapukan lagi.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu saat rombongan pemain drama keliling yang terdiri atas lima ratus penari dan beberapa pemain akrobat datang ke Rajagaha. Mereka mengadakan pertunjukan di dalam lingkungan istana raja Bimbisara selama tujuh hari. Di sana seorang penari muda yang merupakan putri seorang pemain akrobat bernyanyi dan menari di atas sebuah galah bambu yang panjang.
Uggasena, putra yang masih muda dari seorang hartawan, jatuh cinta dengan penari itu. Orang tuanya tidak dapat mencegah keinginan putranya untuk menikah dengan gadis tersebut. Ia menikahi penari muda itu dan mengikuti rombongan tersebut. Karena Uggasena bukan seorang penari juga bukan pemain akrobat maka ia tidak begitu berguna bagi rombongan tersebut. Sehingga saat rombongan itu pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia hanya membantu mengangkut kotak-kotak, mengemudikan kereta, dan lain-lainnya.
Pada suatu saat seorang anak laki-laki lahir dari pasangan Uggasena dan istrinya, sang penari. Kepada anak laki-lakinya, penari tersebut sering menyanyikan sebuah lagu seperti ini : "O kamu, putera seorang lelaki yang menjaga kereta-kereta; lelaki yang mengangkut kotak-kotak dan buntelan-buntelan! O kamu, putera seorang yang bodoh, yang tidak dapat melakukan apapun!" Uggasena mendengar lagu itu, ia mengetahui bahwa istrinya membicarakan tentang dirinya dan hal ini membuat ia sangat terluka dan tertekan. Maka ia pergi menemui ayah mertuanya, seorang pemain akrobat, dan meminta agar diajari bermain akrobat. Setelah setahun berlatih, Uggasena menjadi pemain akrobat yang trampil.
Kemudian, Uggasena kembali ke Rajagaha, dan diumumkan bahwa Uggasena akan memperlihatkan ketrampilannya di muka umum tujuh hari yang akan datang. Pada hari ketujuh, sebatang galah yang panjang dipasang, dan Uggasena berdiri di atasnya. Setelah diberi aba-aba, ia pun berjungkir balik tujuh kali di atas galah itu.
Saat itu Sang Buddha melihat Uggasena dalam batin Beliau dan mengetahui bahwa telah tiba saatnya bagi Uggasena untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha memasuki kota Rajagaha, beliau meniatkan agar para penonton mengalihkan perhatiannya kepada Beliau dan bukan bertepuk tangan untuk Uggasena atas prestasi akrobatiknya. Ketika Uggasena melihat bahwa ia sedang diabaikan dan tidak diacuhkan, ia hanya duduk di atas galah, merasa sangat tidak puas dan tertekan.
Sang Buddha menyapa Uggasena, "Uggasena, orang bijaksana seharusnya melepaskan semua kemelekatan pada kelompok-kelompok kehidupan (khandha), dan berjuang untuk mencapai kebebasan dari lingkaran tumimbal lahir."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Muñca pure muñca pacchato
majjhe muñca bhavassa pāragū,
sabbattha vimuttamānaso
na punañ jātijaraṃ upehisi."
Tinggalkan apa yang telah lalu, yang akan datang maupun sekarang
(kemelekatan terhadap lima kelompok kehidupan)
dan capailah "Pantai Seberang" (nibbana).
Dengan pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu,
maka engkau tak akan mengalami kelahiran dan kelapukan lagi.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Uggasena yang masih berada di atas galah, mencapai tingkat kesucian arahat. Ia turun dan segera diterima dalam pasamuan bhikkhu oleh Sang Buddha.
(348) Tinggalkan apa yang telah lalu,
yang akan datang maupun sekarang
(kemelekatan terhadap lima kelompok kehidupan)
dan capailah "Pantai Seberang" (nibbana).
Dengan pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu,
maka engkau tak akan mengalami kelahiran dan kelapukan lagi.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu saat rombongan pemain drama keliling yang terdiri atas lima ratus penari dan beberapa pemain akrobat datang ke Rajagaha. Mereka mengadakan pertunjukan di dalam lingkungan istana raja Bimbisara selama tujuh hari. Di sana seorang penari muda yang merupakan putri seorang pemain akrobat bernyanyi dan menari di atas sebuah galah bambu yang panjang.
Uggasena, putra yang masih muda dari seorang hartawan, jatuh cinta dengan penari itu. Orang tuanya tidak dapat mencegah keinginan putranya untuk menikah dengan gadis tersebut. Ia menikahi penari muda itu dan mengikuti rombongan tersebut. Karena Uggasena bukan seorang penari juga bukan pemain akrobat maka ia tidak begitu berguna bagi rombongan tersebut. Sehingga saat rombongan itu pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia hanya membantu mengangkut kotak-kotak, mengemudikan kereta, dan lain-lainnya.
Pada suatu saat seorang anak laki-laki lahir dari pasangan Uggasena dan istrinya, sang penari. Kepada anak laki-lakinya, penari tersebut sering menyanyikan sebuah lagu seperti ini : "O kamu, putera seorang lelaki yang menjaga kereta-kereta; lelaki yang mengangkut kotak-kotak dan buntelan-buntelan! O kamu, putera seorang yang bodoh, yang tidak dapat melakukan apapun!" Uggasena mendengar lagu itu, ia mengetahui bahwa istrinya membicarakan tentang dirinya dan hal ini membuat ia sangat terluka dan tertekan. Maka ia pergi menemui ayah mertuanya, seorang pemain akrobat, dan meminta agar diajari bermain akrobat. Setelah setahun berlatih, Uggasena menjadi pemain akrobat yang trampil.
Kemudian, Uggasena kembali ke Rajagaha, dan diumumkan bahwa Uggasena akan memperlihatkan ketrampilannya di muka umum tujuh hari yang akan datang. Pada hari ketujuh, sebatang galah yang panjang dipasang, dan Uggasena berdiri di atasnya. Setelah diberi aba-aba, ia pun berjungkir balik tujuh kali di atas galah itu.
Saat itu Sang Buddha melihat Uggasena dalam batin Beliau dan mengetahui bahwa telah tiba saatnya bagi Uggasena untuk mencapai tingkat kesucian arahat. Kemudian Sang Buddha memasuki kota Rajagaha, beliau meniatkan agar para penonton mengalihkan perhatiannya kepada Beliau dan bukan bertepuk tangan untuk Uggasena atas prestasi akrobatiknya. Ketika Uggasena melihat bahwa ia sedang diabaikan dan tidak diacuhkan, ia hanya duduk di atas galah, merasa sangat tidak puas dan tertekan.
Sang Buddha menyapa Uggasena, "Uggasena, orang bijaksana seharusnya melepaskan semua kemelekatan pada kelompok-kelompok kehidupan (khandha), dan berjuang untuk mencapai kebebasan dari lingkaran tumimbal lahir."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Muñca pure muñca pacchato
majjhe muñca bhavassa pāragū,
sabbattha vimuttamānaso
na punañ jātijaraṃ upehisi."
Tinggalkan apa yang telah lalu, yang akan datang maupun sekarang
(kemelekatan terhadap lima kelompok kehidupan)
dan capailah "Pantai Seberang" (nibbana).
Dengan pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu,
maka engkau tak akan mengalami kelahiran dan kelapukan lagi.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Uggasena yang masih berada di atas galah, mencapai tingkat kesucian arahat. Ia turun dan segera diterima dalam pasamuan bhikkhu oleh Sang Buddha.
Labels:
24. Tanha Vagga
Monday, 26 April 2010
Kisah Culadhanuggaha, Pemanah yang Trampil (Dhammapada 24 : 349-350)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(349) Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu,
dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja,
maka nafsu keinginannya akan terus bertambah.
Sesungguhnya orang seperti itu memperkuat ikatan belenggunya sendiri .
(350) Orang yang bergembira dalam menenangkan pikirannya, dan selalu sadar
tekun merenungkan hal-hal yang menjijikkan (sebagai objek perenungan dalam samadhi)
maka ia akan mengakhiri nafsu-nafsu keinginannya
dan menghancurkan belenggu Mara.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika seorang bhikkhu muda menerima dana makanan pada salah satu tempat berteduh yang khusus dibuat untuk para bhikkhu di dalam kota. Setelah makan ia merasa ingin minum. Ia pergi ke suatu rumah dan meminta air minum, seorang gadis keluar untuk memberinya air minum. Begitu melihat bhikkhu muda tersebut, gadis itu jatuh cinta kepadanya. “Bhante,” kata gadis itu, “jika lain kali membutuhkan air minum, datanglah kemari, jangan pergi ke tempat lain.”.
Setelah itu, setiap kali bhikkhu itu tidak mendapat air minum, ia pergi ke rumah gadis itu. Gadis itu akan mengambil mangkuknya dan memberinya air minum. Sejalan dengan waktu lama kelamaan gadis itu juga memberinya bubur nasi. Dan suatu hari gadis itu menyediakan tempat duduk untuk bhikkhu itu dan memberinya nasi. Kemudian gadis itu duduk di sebelah bhikkhu itu dan mulai mengajak berbicara, ia berkata, “Bhante, sangat sepi sekali di rumah ini; kami jarang sekali melihat orang, bahkan melihat pengembara”.
Setelah mendengarkan obrolan gadis itu selama beberapa hari, bhikkhu muda itu menjadi tidak puas akan kehidupannya sebagai bhikkhu. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain mengunjunginya, dan menanyakan keadaannya, ia mengatakan bahwa ia tidak puas. Maka merekapun membawanya kepada Sang Buddha dan melaporkan masalahnya.
Sang Buddha memanggil bhikkhu muda tersebut, dan berkata padanya, "Anak-Ku, dengarkan Aku. Gadis muda ini akan menyebabkan keruntuhanmu seperti yang telah dia lakukan padamu dalam kehidupanmu yang lampau.
Dalam salah satu kehidupanmu yang lampau, kamu adalah seorang pemanah yang sangat trampil dan ia adalah istrimu. Pada suatu kesempatan, ketika kamu berdua sedang dalam perjalanan, kamu bertemu dengan sekelompok bandit. Istrimu jatuh cinta dengan pemimpin kelompok itu. Ketika kamu dan pemimpin kelompok itu sedang terlibat dalam satu perkelahian, kamu berteriak pada istrimu agar memberikan pedangmu. Tetapi istrimu memberikan pedang itu pada pemimpin kelompok yang segera membunuhmu. Jadi, ia adalah penyebab kematianmu. Sekarang juga, ia akan menjadi penyebab kehancuranmu jika kamu mengikutinya dan meninggalkan pasamuan bhikkhu demi dirinya."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Vitakkapamathitassa jantuno
tibbarāgassa subbhānupassino
bhiyyo taṇhā pavaḍḍhati
esa kho daḷhaṃ karoti bandhanaṃ.
Vitakkūpasame ca yo rato
asubhaṃ bhāvayatī sadā sato
esa kho vyantikāhiti
esa-ccheecchati mārabandhanaṃ."
Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu,
dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja,
maka nafsu keinginannya akan terus bertambah.
Sesungguhnya orang seperti itu memperkuat ikatan belenggunya sendiri .
Orang yang bergembira dalam menenangkan pikirannya, dan selalu sadar
tekun merenungkan hal-hal yang menjijikkan (sebagai objek perenungan dalam samadhi)
maka ia akan mengakhiri nafsu-nafsu keinginannya
dan menghancurkan belenggu Mara.
Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
--------
Notes :
Kisah di masa lalu : Pemanah Muda Yang Bijaksana – Culla Dhanuggaha
Dalam kehidupan sebelumnya, bhikkhu diatas adalah seorang awam bernama Culla Dhanuggaha. Ia belajar seni dan kerajinan di Takkasila dibawah bimbingan guru terkenal. Gurunya sangat puas dengan kemajuan yang diperoleh oleh Dhanuggaha, ia menikahkan puterinya dengan Dhanuggaha. Si pemanah muda kemudian membawa isterinya menuju ke Benares.
Di dekat jalan masuk menuju hutan, ia bertemu dengan sekelompok penyamun, dan membunuh 50 penyamun dengan 50 anak panahnya. Ketika semua anak panahnya telah habis, ia menangkap pemimpin kelompok itu dan melemparnya ke tanah. “Istriku, ambilkan pedangku!” teriaknya. Tetapi, ketika istrinya melihat penyamun itu, timbul keinginan untuk memiliki penyamun itu, istrinya memberikan pegangan pedang itu ke tangan si penyamun. Penyamun itu segera membunuh si pemanah muda. Kemudian ia pergi membawa wanita itu bersamanya.
Dalam perjalanan, si penyamun berpikir, “Andai perempuan ini bertemu dengan laki-laki lain, ia akan membunuhku juga seperti yang dilakukannya terhadap suaminya itu. Apa gunanya perempuan seperti ini.” Ketika melihat sebuah sungai, si penyamun meninggalkan wanita itu di tepi sungai, mengambil semua perhiasan wanita itu, dan berkata, “Tunggu disini, sampai aku membawa perhiasanmu menyeberangi sungai.” Dan si penyamun itupun pergi menyeberang meninggalkan wanita itu disana.
Ketika wanita itu menyadari bahwa si penyamun telah meninggalkannya, ia berkata “Brahmana, engkau telah mengambil perhiasanku dan menyeberang ke sana. Kembalilah cepat, segera; sekarang bawalah aku juga ke seberang.” Penyamun itu menjawab, “Perempuan, kamu telah menukar suami yang telah kamu kenal lama dengan aku, suami yang engkau tidak kenal; engkau telah menukar suami yang telah kau ujicoba dengan suami yang belum kau ujicoba. Oh perempuan, kamu akan menukar aku dengan laki-laki lain. Karenanya aku akan pergi jauh-jauh darimu.”
Dewa Sakka, mengetahui kejadian itu, dan berkeingingan memberi pelajaran, menuju ke sungai itu bersama kusir dan pemusik pengiringnya. Sakka mengubah bentuk menjadi serigala, kusirnya menjadi ikan, dan pemusiknya menjadi burung. Serigala itu menggigit daging di mulutnya berdiri di depan perempuan itu. Kemudian ikan jelmaan si kusir meloncat di udara keluar dari air, dan serigala itu meloncat kemuka mencoba menerkam ikan itu, sambil menjatuhkan potongan daging di mulutnya. Burung jelmaan si pemusik menyambar potongan daging dan terbang ke udara. Sementara si ikan selamat kembali ke dalam air. Serigala itu kehilangan keduanya, ikan dan potongan daging.
Perempuan itu tertawa keras melihat kejadian itu, menertawakan si serigala yang kini kehilangan ikan dan daging. Serigala itu kemudian berkata, “Sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kebodohan diri sendiri. Kamu telah kehilangan suami dan juga kekasih. Aku yakin engkaupun merana.”
Wanita itu berkata, “Engkau berkata benar, mulai sekarang aku akan mematuhi suami”.
Serigala itu mengucapkan syair, “Ia yang mencuri pot tanah liat juga akan mencuri pot dari tembaga. Kamu telah melakukan kejahatan, kamu akan melakukannya lagi”.
Setelah menceritakan Culla Dhanuggaha Jataka ini, Sang Buddha berkata kepada bhikkhu muda tersebut, “Pada waktu itu, engkaulah Dhanuggaha si pemanah muda, isteri Dhanuggaha adalah si gadis muda itu, dan Dewa Sakka itu adalah aku.
(349) Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu,
dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja,
maka nafsu keinginannya akan terus bertambah.
Sesungguhnya orang seperti itu memperkuat ikatan belenggunya sendiri .
(350) Orang yang bergembira dalam menenangkan pikirannya, dan selalu sadar
tekun merenungkan hal-hal yang menjijikkan (sebagai objek perenungan dalam samadhi)
maka ia akan mengakhiri nafsu-nafsu keinginannya
dan menghancurkan belenggu Mara.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika seorang bhikkhu muda menerima dana makanan pada salah satu tempat berteduh yang khusus dibuat untuk para bhikkhu di dalam kota. Setelah makan ia merasa ingin minum. Ia pergi ke suatu rumah dan meminta air minum, seorang gadis keluar untuk memberinya air minum. Begitu melihat bhikkhu muda tersebut, gadis itu jatuh cinta kepadanya. “Bhante,” kata gadis itu, “jika lain kali membutuhkan air minum, datanglah kemari, jangan pergi ke tempat lain.”.
Setelah itu, setiap kali bhikkhu itu tidak mendapat air minum, ia pergi ke rumah gadis itu. Gadis itu akan mengambil mangkuknya dan memberinya air minum. Sejalan dengan waktu lama kelamaan gadis itu juga memberinya bubur nasi. Dan suatu hari gadis itu menyediakan tempat duduk untuk bhikkhu itu dan memberinya nasi. Kemudian gadis itu duduk di sebelah bhikkhu itu dan mulai mengajak berbicara, ia berkata, “Bhante, sangat sepi sekali di rumah ini; kami jarang sekali melihat orang, bahkan melihat pengembara”.
Setelah mendengarkan obrolan gadis itu selama beberapa hari, bhikkhu muda itu menjadi tidak puas akan kehidupannya sebagai bhikkhu. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain mengunjunginya, dan menanyakan keadaannya, ia mengatakan bahwa ia tidak puas. Maka merekapun membawanya kepada Sang Buddha dan melaporkan masalahnya.
Sang Buddha memanggil bhikkhu muda tersebut, dan berkata padanya, "Anak-Ku, dengarkan Aku. Gadis muda ini akan menyebabkan keruntuhanmu seperti yang telah dia lakukan padamu dalam kehidupanmu yang lampau.
Dalam salah satu kehidupanmu yang lampau, kamu adalah seorang pemanah yang sangat trampil dan ia adalah istrimu. Pada suatu kesempatan, ketika kamu berdua sedang dalam perjalanan, kamu bertemu dengan sekelompok bandit. Istrimu jatuh cinta dengan pemimpin kelompok itu. Ketika kamu dan pemimpin kelompok itu sedang terlibat dalam satu perkelahian, kamu berteriak pada istrimu agar memberikan pedangmu. Tetapi istrimu memberikan pedang itu pada pemimpin kelompok yang segera membunuhmu. Jadi, ia adalah penyebab kematianmu. Sekarang juga, ia akan menjadi penyebab kehancuranmu jika kamu mengikutinya dan meninggalkan pasamuan bhikkhu demi dirinya."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Vitakkapamathitassa jantuno
tibbarāgassa subbhānupassino
bhiyyo taṇhā pavaḍḍhati
esa kho daḷhaṃ karoti bandhanaṃ.
Vitakkūpasame ca yo rato
asubhaṃ bhāvayatī sadā sato
esa kho vyantikāhiti
esa-ccheecchati mārabandhanaṃ."
Orang yang pikirannya kacau, penuh dengan nafsu,
dan hanya melihat pada hal-hal yang menyenangkan saja,
maka nafsu keinginannya akan terus bertambah.
Sesungguhnya orang seperti itu memperkuat ikatan belenggunya sendiri .
Orang yang bergembira dalam menenangkan pikirannya, dan selalu sadar
tekun merenungkan hal-hal yang menjijikkan (sebagai objek perenungan dalam samadhi)
maka ia akan mengakhiri nafsu-nafsu keinginannya
dan menghancurkan belenggu Mara.
Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
--------
Notes :
Kisah di masa lalu : Pemanah Muda Yang Bijaksana – Culla Dhanuggaha
Dalam kehidupan sebelumnya, bhikkhu diatas adalah seorang awam bernama Culla Dhanuggaha. Ia belajar seni dan kerajinan di Takkasila dibawah bimbingan guru terkenal. Gurunya sangat puas dengan kemajuan yang diperoleh oleh Dhanuggaha, ia menikahkan puterinya dengan Dhanuggaha. Si pemanah muda kemudian membawa isterinya menuju ke Benares.
Di dekat jalan masuk menuju hutan, ia bertemu dengan sekelompok penyamun, dan membunuh 50 penyamun dengan 50 anak panahnya. Ketika semua anak panahnya telah habis, ia menangkap pemimpin kelompok itu dan melemparnya ke tanah. “Istriku, ambilkan pedangku!” teriaknya. Tetapi, ketika istrinya melihat penyamun itu, timbul keinginan untuk memiliki penyamun itu, istrinya memberikan pegangan pedang itu ke tangan si penyamun. Penyamun itu segera membunuh si pemanah muda. Kemudian ia pergi membawa wanita itu bersamanya.
Dalam perjalanan, si penyamun berpikir, “Andai perempuan ini bertemu dengan laki-laki lain, ia akan membunuhku juga seperti yang dilakukannya terhadap suaminya itu. Apa gunanya perempuan seperti ini.” Ketika melihat sebuah sungai, si penyamun meninggalkan wanita itu di tepi sungai, mengambil semua perhiasan wanita itu, dan berkata, “Tunggu disini, sampai aku membawa perhiasanmu menyeberangi sungai.” Dan si penyamun itupun pergi menyeberang meninggalkan wanita itu disana.
Ketika wanita itu menyadari bahwa si penyamun telah meninggalkannya, ia berkata “Brahmana, engkau telah mengambil perhiasanku dan menyeberang ke sana. Kembalilah cepat, segera; sekarang bawalah aku juga ke seberang.” Penyamun itu menjawab, “Perempuan, kamu telah menukar suami yang telah kamu kenal lama dengan aku, suami yang engkau tidak kenal; engkau telah menukar suami yang telah kau ujicoba dengan suami yang belum kau ujicoba. Oh perempuan, kamu akan menukar aku dengan laki-laki lain. Karenanya aku akan pergi jauh-jauh darimu.”
Dewa Sakka, mengetahui kejadian itu, dan berkeingingan memberi pelajaran, menuju ke sungai itu bersama kusir dan pemusik pengiringnya. Sakka mengubah bentuk menjadi serigala, kusirnya menjadi ikan, dan pemusiknya menjadi burung. Serigala itu menggigit daging di mulutnya berdiri di depan perempuan itu. Kemudian ikan jelmaan si kusir meloncat di udara keluar dari air, dan serigala itu meloncat kemuka mencoba menerkam ikan itu, sambil menjatuhkan potongan daging di mulutnya. Burung jelmaan si pemusik menyambar potongan daging dan terbang ke udara. Sementara si ikan selamat kembali ke dalam air. Serigala itu kehilangan keduanya, ikan dan potongan daging.
Perempuan itu tertawa keras melihat kejadian itu, menertawakan si serigala yang kini kehilangan ikan dan daging. Serigala itu kemudian berkata, “Sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kebodohan diri sendiri. Kamu telah kehilangan suami dan juga kekasih. Aku yakin engkaupun merana.”
Wanita itu berkata, “Engkau berkata benar, mulai sekarang aku akan mematuhi suami”.
Serigala itu mengucapkan syair, “Ia yang mencuri pot tanah liat juga akan mencuri pot dari tembaga. Kamu telah melakukan kejahatan, kamu akan melakukannya lagi”.
Setelah menceritakan Culla Dhanuggaha Jataka ini, Sang Buddha berkata kepada bhikkhu muda tersebut, “Pada waktu itu, engkaulah Dhanuggaha si pemanah muda, isteri Dhanuggaha adalah si gadis muda itu, dan Dewa Sakka itu adalah aku.
Labels:
24. Tanha Vagga
Sunday, 25 April 2010
Kisah Mara (Dhammapada 24: 351-352)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(351) Orang yang telah mencapai tujuan akhir,
tidak lagi mempunyai rasa takut, noda batin serta nafsu keinginan,
sesungguhnyalah ia telah mematahkan ruji-ruji kehidupan.
Bagi orang suci seperti itu, tubuhnya merupakan tubuh yang terakhir.
(352) Orang yang telah bebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan,
pandai dalam menganalisa serta memahami `Ajaran` beserta pasangan-pasangannya,
maka ia patut disebut seorang `Pemilik Tubuh Terakhir` (arahat),
orang yang memiliki `Kebijaksanaan Agung`, seorang manusia agung.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Pada suatu waktu, sejumlah besar bhikkhu tiba di Vihara Jetavana. Untuk memberi tempat menginap bagi para bhikkhu tamu, Samanera Rahula harus pergi dan tidur dekat pintu, tepat di luar kamar Sang Buddha. Mara ingin mengganggu Sang Buddha melalui putranya, ia mengubah badan menjadi gajah, dan membelit kepala samanera itu dengan belalainya serta membuat suara keras dengan harapan untuk menakut-nakutinya. Tetapi Rahula tidak bergerak. Sang Buddha dari kamar-Nya mengetahui apa yang sedang terjadi dan berkata, "O, Mara licik! Bahkan seratus sepertimu tidak akan mampu menakut-nakuti anakKu. AnakKu tidak takut, ia bebas dari nafsu, ia waspada, dan ia bijaksana."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Niṭṭhaṅgato asantāsī vītataṇho anaṅgaṇo
acchidda bhavasallāni antimo ‘yaṃ samussayo.
Vītataṇho anādāno niruttipadakovido
akkharānaṃ sannipātaṃ jaññā pubbāparāni ca
sa ve antimasārīro mahāpañño mahāpuriso ti vuccati."
Orang yang telah mencapai tujuan akhir,
tidak lagi mempunyai rasa takut,
noda batin serta nafsu keinginan,
sesungguhnyalah ia telah mematahkan ruji-ruji kehidupan.
Bagi orang suci seperti itu,
tubuhnya merupakan tubuh yang terakhir.
Orang yang telah bebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan,
pandai dalam menganalisa serta memahami `Ajaran` beserta pasangan-pasangannya,
maka ia patut disebut seorang `Pemilik Tubuh Terakhir` (arahat),
orang yang memiliki `Kebijaksanaan Agung`, seorang manusia agung.
Mendengar kata-kata di atas, Mara menyadari bahwa Sang Buddha mengetahui tipu muslihatnya dan segera menghilang.
(351) Orang yang telah mencapai tujuan akhir,
tidak lagi mempunyai rasa takut, noda batin serta nafsu keinginan,
sesungguhnyalah ia telah mematahkan ruji-ruji kehidupan.
Bagi orang suci seperti itu, tubuhnya merupakan tubuh yang terakhir.
(352) Orang yang telah bebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan,
pandai dalam menganalisa serta memahami `Ajaran` beserta pasangan-pasangannya,
maka ia patut disebut seorang `Pemilik Tubuh Terakhir` (arahat),
orang yang memiliki `Kebijaksanaan Agung`, seorang manusia agung.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Pada suatu waktu, sejumlah besar bhikkhu tiba di Vihara Jetavana. Untuk memberi tempat menginap bagi para bhikkhu tamu, Samanera Rahula harus pergi dan tidur dekat pintu, tepat di luar kamar Sang Buddha. Mara ingin mengganggu Sang Buddha melalui putranya, ia mengubah badan menjadi gajah, dan membelit kepala samanera itu dengan belalainya serta membuat suara keras dengan harapan untuk menakut-nakutinya. Tetapi Rahula tidak bergerak. Sang Buddha dari kamar-Nya mengetahui apa yang sedang terjadi dan berkata, "O, Mara licik! Bahkan seratus sepertimu tidak akan mampu menakut-nakuti anakKu. AnakKu tidak takut, ia bebas dari nafsu, ia waspada, dan ia bijaksana."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Niṭṭhaṅgato asantāsī vītataṇho anaṅgaṇo
acchidda bhavasallāni antimo ‘yaṃ samussayo.
Vītataṇho anādāno niruttipadakovido
akkharānaṃ sannipātaṃ jaññā pubbāparāni ca
sa ve antimasārīro mahāpañño mahāpuriso ti vuccati."
Orang yang telah mencapai tujuan akhir,
tidak lagi mempunyai rasa takut,
noda batin serta nafsu keinginan,
sesungguhnyalah ia telah mematahkan ruji-ruji kehidupan.
Bagi orang suci seperti itu,
tubuhnya merupakan tubuh yang terakhir.
Orang yang telah bebas dari nafsu keinginan dan kemelekatan,
pandai dalam menganalisa serta memahami `Ajaran` beserta pasangan-pasangannya,
maka ia patut disebut seorang `Pemilik Tubuh Terakhir` (arahat),
orang yang memiliki `Kebijaksanaan Agung`, seorang manusia agung.
Mendengar kata-kata di atas, Mara menyadari bahwa Sang Buddha mengetahui tipu muslihatnya dan segera menghilang.
Labels:
24. Tanha Vagga
Saturday, 24 April 2010
Kisah Upaka (Dhammapada 24 :353)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(353) Aku telah mengalahkan semuanya.
Aku telah mengetahui semuanya.
Aku telah bebas dari semuanya.
Aku telah meninggalkan semuanya.
Setelah menghancurkan nafsu keinginan,
Aku benar-benar bebas.
Setelah menyadari segala sesuatu melalui usaha sendiri,
maka siapakah yang patut Kusebut Guru?
---------------------------------------------------------------------------------------------
Sang Buddha membabarkan syair 353 Kitab Suci Dhammapada, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Upaka, petapa bukan Buddhis, ketika Sang Buddha sedang berjalan menuju Taman Rusa (Migadaya) tempat Kelompok Lima Bhikkhu (Panca Vaggi) sedang berdiam. Sang Buddha menuju ke sana untuk membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta pada Panca Vaggi itu, mitra lamanya, yaitu Kondana, Bhaddiya, Vappa, Assaji, dan Mahanama.
Ketika Upaka melihat Sang Buddha Gotama, ia sangat terkesan dengan pancaran sinar wajah Sang Buddha dan berkata kepada Beliau, "Kawan, Anda terlihat tenang dan murni; bolehkah saya tahu siapa guru Anda?" Kepadanya, Sang Buddha menjawab bahwa Beliau tidak mempunyai guru.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Sabbābhibhū sabbavidū ‘ham asmi
sabbesu dhammesu anūpalitto
sabbañjaho taṇhakkhaye vimutto
sayaṃ abhiññāya kam uddiseyyaṃ."
Aku telah mengalahkan semuanya, Aku telah mengetahui semuanya.
Aku telah bebas dari semuanya, Aku telah meninggalkan semuanya.
Setelah menghancurkan nafsu keinginan, Aku benar-benar bebas.
Setelah menyadari segala sesuatu melalui usaha sendiri, maka siapakah yang patut Ku-sebut Guru?
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Upaka tidak memperlihatkan penerimaan ataupun penolakan, tetapi hanya menggeleng beberapa kali dan pergi.
----------
Notes :
Upaka menanyakan kepada Buddha mengenai pencapaianNya, ketika Sang Buddha mengatakan apa yang telah dicapaiNya, Upaka menayakan apakah Beliau adalah “Anantajina” (jina = penakluk, ananta = tidak terbatas), dan Sang Buddha mengiyakan. Upaka menggelengkan kepala, berkata “Mungkin demikian” dan kemudian meneruskan perjalannya.
Dikatakan (DA.ii.471) bahwa Sang Buddha berjalan kaki dari pohon Bodhi ke Isipatana – alih-alih terbang melalui udara seperti kebiasaan para Buddha sebelumnya ketika hendak memutar roda dhamma pertama kali – karena Beliau ingin bertemu Upaka.
Setelah pertemuan ini Upaka menuju Vankahara untuk bertapa disana, tetapi kemudian jatuh cinta kepada Capa, puteri seorang pemburu yang menjadi pendukungnya. Upaka tidak mau makan selama 7 hari dan akhirnya pemburu itu mengawinkan Upaka dengan Capa. Karena Upaka tidak memiliki keterampilan, ia hanya membantu-bantu si pemburu menjualkan hasil buruan, karenanya sering dihina oleh Capa. Ketika anak mereka menangis, Capa akan menyanyi, “Oh anak Upaka, anak penjual hasil buruan, jangan menangis”. Upaka kesal sekali dan berkata bahwa ia punya teman yang sangat hebat yang bernama Anantajina, tetapi Capa tidak berhenti menghinanya. Akhirnya Upaka pun pergi meninggalkan Capa dan anaknya, mencari ‘Anantajina’ pergi ke Savatthi.
Sang Buddha mengetahui Upaka datang mencarinya, berpesan kepada orang-orang, jika ada orang yang mencari Anantajina, supaya dibawa kepadaNya. Setelah mendengar cerita Upaka, Sang Buddha kemudian menahbiskannya sebagai bhikkhu dan mengajarkan Upaka meditasi. Upaka kemudian berhasil mencapai tingkat kesucian Anagami dan kemudian terlahir di surga Aviha. Menurut kitab komentar Majjhima (i.389) Upaka menjadi arahat segera setelah terlahir di Aviha.
Belakangan, Capa juga kemudian menjadi bhikkhuni, dan mencapai Arahat.
(353) Aku telah mengalahkan semuanya.
Aku telah mengetahui semuanya.
Aku telah bebas dari semuanya.
Aku telah meninggalkan semuanya.
Setelah menghancurkan nafsu keinginan,
Aku benar-benar bebas.
Setelah menyadari segala sesuatu melalui usaha sendiri,
maka siapakah yang patut Kusebut Guru?
---------------------------------------------------------------------------------------------
Sang Buddha membabarkan syair 353 Kitab Suci Dhammapada, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Upaka, petapa bukan Buddhis, ketika Sang Buddha sedang berjalan menuju Taman Rusa (Migadaya) tempat Kelompok Lima Bhikkhu (Panca Vaggi) sedang berdiam. Sang Buddha menuju ke sana untuk membabarkan Dhammacakkappavattana Sutta pada Panca Vaggi itu, mitra lamanya, yaitu Kondana, Bhaddiya, Vappa, Assaji, dan Mahanama.
Ketika Upaka melihat Sang Buddha Gotama, ia sangat terkesan dengan pancaran sinar wajah Sang Buddha dan berkata kepada Beliau, "Kawan, Anda terlihat tenang dan murni; bolehkah saya tahu siapa guru Anda?" Kepadanya, Sang Buddha menjawab bahwa Beliau tidak mempunyai guru.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Sabbābhibhū sabbavidū ‘ham asmi
sabbesu dhammesu anūpalitto
sabbañjaho taṇhakkhaye vimutto
sayaṃ abhiññāya kam uddiseyyaṃ."
Aku telah mengalahkan semuanya, Aku telah mengetahui semuanya.
Aku telah bebas dari semuanya, Aku telah meninggalkan semuanya.
Setelah menghancurkan nafsu keinginan, Aku benar-benar bebas.
Setelah menyadari segala sesuatu melalui usaha sendiri, maka siapakah yang patut Ku-sebut Guru?
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Upaka tidak memperlihatkan penerimaan ataupun penolakan, tetapi hanya menggeleng beberapa kali dan pergi.
----------
Notes :
Upaka menanyakan kepada Buddha mengenai pencapaianNya, ketika Sang Buddha mengatakan apa yang telah dicapaiNya, Upaka menayakan apakah Beliau adalah “Anantajina” (jina = penakluk, ananta = tidak terbatas), dan Sang Buddha mengiyakan. Upaka menggelengkan kepala, berkata “Mungkin demikian” dan kemudian meneruskan perjalannya.
Dikatakan (DA.ii.471) bahwa Sang Buddha berjalan kaki dari pohon Bodhi ke Isipatana – alih-alih terbang melalui udara seperti kebiasaan para Buddha sebelumnya ketika hendak memutar roda dhamma pertama kali – karena Beliau ingin bertemu Upaka.
Setelah pertemuan ini Upaka menuju Vankahara untuk bertapa disana, tetapi kemudian jatuh cinta kepada Capa, puteri seorang pemburu yang menjadi pendukungnya. Upaka tidak mau makan selama 7 hari dan akhirnya pemburu itu mengawinkan Upaka dengan Capa. Karena Upaka tidak memiliki keterampilan, ia hanya membantu-bantu si pemburu menjualkan hasil buruan, karenanya sering dihina oleh Capa. Ketika anak mereka menangis, Capa akan menyanyi, “Oh anak Upaka, anak penjual hasil buruan, jangan menangis”. Upaka kesal sekali dan berkata bahwa ia punya teman yang sangat hebat yang bernama Anantajina, tetapi Capa tidak berhenti menghinanya. Akhirnya Upaka pun pergi meninggalkan Capa dan anaknya, mencari ‘Anantajina’ pergi ke Savatthi.
Sang Buddha mengetahui Upaka datang mencarinya, berpesan kepada orang-orang, jika ada orang yang mencari Anantajina, supaya dibawa kepadaNya. Setelah mendengar cerita Upaka, Sang Buddha kemudian menahbiskannya sebagai bhikkhu dan mengajarkan Upaka meditasi. Upaka kemudian berhasil mencapai tingkat kesucian Anagami dan kemudian terlahir di surga Aviha. Menurut kitab komentar Majjhima (i.389) Upaka menjadi arahat segera setelah terlahir di Aviha.
Belakangan, Capa juga kemudian menjadi bhikkhuni, dan mencapai Arahat.
Labels:
24. Tanha Vagga
Friday, 23 April 2010
Kisah Pertanyaan Yang Diajukan Sakka (Dhammapada 24 : 354)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(354) Pemberian `Kebenaran` (Dhamma) mengalahkan semua pemberian lainnya;
rasa `Kebenaran` (Dhamma) mengalahkan semua rasa lainnya;
kegembiraan dalam `Kebenaran` (Dhamma) mengalahkan semua kegembiraan lainnya.
Orang yang telah menghancurkan nafsu keinginan akan mengalahkan semua penderitaan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam suatu pertemuan para dewa si surga Tavatimsa, empat pertanyaan diajukan, tetapi para dewa gagal memperoleh jawaban yang benar. Akhirnya, Sakka membawa para dewa tersebut menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Setelah menjelaskan kesulitan mereka, Sakka mengajukan empat pertanyaan berikut :
a. Di antara semua pemberian, manakah yang terbaik ?
b. Di antara semua rasa, manakah yang terbaik ?
c. Di antara semua kegembiraan, manakah yang terbaik ?
d. Mengapa penghancuran nafsu dikatakan yang paling unggul ?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, "O Sakka, Dhamma adalah termulia dari semua pemberian, terbaik dari semua rasa, dan terbaik dari semua kegembiraan. Penghancuran nafsu untuk mencapai tingkat kesucian arahat, oleh karena itu terunggul dari segala penaklukan."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Sabbadānaṃ dhammadānaṃ jināti
sabbaṃ rasaṃ dhammaraso jināti
sabbaṃ ratiṃ dhammarati jināti
taṇhakkhayo sabbadukkhaṃ jināti."
Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua pemberian lainnya;
rasa Kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua rasa lainnya;
kegembiraan dalam Kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua kegembiraan lainnya.
Orang yang telah menghancurkan nafsu keinginan akan mengalahkan semua penderitaan.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Sakka berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, jika pemberian Dhamma mengungguli semua pemberian, mengapa kami tidak diundang untuk berbagi jasa ketika pemberian Dhamma dilakukan? Bhante, saya mohon, mulai sekarang, kami diberi pembagian jasa atas perbuatan baik yang telah dilakukan." Kemudian Sang Buddha meminta semua bhikkhu untuk berkumpul dan menasehati mereka untuk membagi jasa kepada semua makhluk atas semua perbuatan baik mereka.
Sejak saat itu, menjadi suatu kebiasaan untuk mengundang semua makhluk dari tiga puluh satu alam kehidupan (bhumi) untuk datang, dan berbagi jasa kapanpun suatu perbuatan baik dilakukan.
---------
Notes :
Mengapa pemberian Dhamma adalah yang terbaik dari pemberian lainnya? Ini seperti peribahasa, “Berikan seseorang ikan, engkau memberinya makan untuk sehari. Ajari dia memancing, engkau memberinya makan selama hidupnya.”
Memberikan kail kepada orang yang kelaparan, dibanding hanya memberinya ikan (apalagi kalau cuma sekali), akan sangat bermanfaat dalam waktu yang lama. Karena dengan memiliki ketrampilan dan alat untuk mencari makan, untuk selanjutnya dia tidak akan kelaparan.
Demikian pula, memberi Dhamma adalah yang terbaik, karena dengan mendapat Dhamma dan melaksanakannya, ini seperti efek beruntun, seseorang akan dapat melakukan banyak kebajikan, dapat mengurus/menjaga dirinya sendiri, menghindari semua bahaya dan kejahatan dan pada akhirnya kelak akan mencapai Nibbana.
Demikian pula sebaliknya, mengajarkan hal yang salah juga memiliki efek beruntun yang panjang, yang berlawanan dengan mengajarkan kebenaran.
Bagaimana membagi jasa kebaikan?
Secara sederhana bisa dilakukan dengan mengucapkan (bersuara) secara bersungguh-sungguh:
- “saya membagi jasa kebajikan ini kepada ...... “ atau kepada semua makhluk
- atau bisa juga membacakan paritta Ettavata :
“Ettāvatā ca amhehi sambhataṃ puñña sampadaṃ,
Sabbe sattā anumodantu sabba sampatti siddhiyā”
(Sebanyak kebajikan yang telah dicapai dan dikumpulkan,
Semoga semua makhluk turut menikmatinya, semoga menyebabkan kebahagiaan)
Bagaimana makhluk lain mendapat bagian dari kebajikan itu?
Dengan bermudita citta, turut berbahagia dan senang atas kebajikan yang dilakukan itu, dan bisa sambil mengucapkan “Sadhu Sadhu Sadhu”
(sadhu = well done, good, yes, alright = sungguh baik, demikianlah, ya, baik sekali).
(354) Pemberian `Kebenaran` (Dhamma) mengalahkan semua pemberian lainnya;
rasa `Kebenaran` (Dhamma) mengalahkan semua rasa lainnya;
kegembiraan dalam `Kebenaran` (Dhamma) mengalahkan semua kegembiraan lainnya.
Orang yang telah menghancurkan nafsu keinginan akan mengalahkan semua penderitaan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam suatu pertemuan para dewa si surga Tavatimsa, empat pertanyaan diajukan, tetapi para dewa gagal memperoleh jawaban yang benar. Akhirnya, Sakka membawa para dewa tersebut menghadap Sang Buddha di Vihara Jetavana. Setelah menjelaskan kesulitan mereka, Sakka mengajukan empat pertanyaan berikut :
a. Di antara semua pemberian, manakah yang terbaik ?
b. Di antara semua rasa, manakah yang terbaik ?
c. Di antara semua kegembiraan, manakah yang terbaik ?
d. Mengapa penghancuran nafsu dikatakan yang paling unggul ?
Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, "O Sakka, Dhamma adalah termulia dari semua pemberian, terbaik dari semua rasa, dan terbaik dari semua kegembiraan. Penghancuran nafsu untuk mencapai tingkat kesucian arahat, oleh karena itu terunggul dari segala penaklukan."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Sabbadānaṃ dhammadānaṃ jināti
sabbaṃ rasaṃ dhammaraso jināti
sabbaṃ ratiṃ dhammarati jināti
taṇhakkhayo sabbadukkhaṃ jināti."
Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua pemberian lainnya;
rasa Kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua rasa lainnya;
kegembiraan dalam Kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua kegembiraan lainnya.
Orang yang telah menghancurkan nafsu keinginan akan mengalahkan semua penderitaan.
Pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, Sakka berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, jika pemberian Dhamma mengungguli semua pemberian, mengapa kami tidak diundang untuk berbagi jasa ketika pemberian Dhamma dilakukan? Bhante, saya mohon, mulai sekarang, kami diberi pembagian jasa atas perbuatan baik yang telah dilakukan." Kemudian Sang Buddha meminta semua bhikkhu untuk berkumpul dan menasehati mereka untuk membagi jasa kepada semua makhluk atas semua perbuatan baik mereka.
Sejak saat itu, menjadi suatu kebiasaan untuk mengundang semua makhluk dari tiga puluh satu alam kehidupan (bhumi) untuk datang, dan berbagi jasa kapanpun suatu perbuatan baik dilakukan.
---------
Notes :
Mengapa pemberian Dhamma adalah yang terbaik dari pemberian lainnya? Ini seperti peribahasa, “Berikan seseorang ikan, engkau memberinya makan untuk sehari. Ajari dia memancing, engkau memberinya makan selama hidupnya.”
Memberikan kail kepada orang yang kelaparan, dibanding hanya memberinya ikan (apalagi kalau cuma sekali), akan sangat bermanfaat dalam waktu yang lama. Karena dengan memiliki ketrampilan dan alat untuk mencari makan, untuk selanjutnya dia tidak akan kelaparan.
Demikian pula, memberi Dhamma adalah yang terbaik, karena dengan mendapat Dhamma dan melaksanakannya, ini seperti efek beruntun, seseorang akan dapat melakukan banyak kebajikan, dapat mengurus/menjaga dirinya sendiri, menghindari semua bahaya dan kejahatan dan pada akhirnya kelak akan mencapai Nibbana.
Demikian pula sebaliknya, mengajarkan hal yang salah juga memiliki efek beruntun yang panjang, yang berlawanan dengan mengajarkan kebenaran.
Bagaimana membagi jasa kebaikan?
Secara sederhana bisa dilakukan dengan mengucapkan (bersuara) secara bersungguh-sungguh:
- “saya membagi jasa kebajikan ini kepada ...... “ atau kepada semua makhluk
- atau bisa juga membacakan paritta Ettavata :
“Ettāvatā ca amhehi sambhataṃ puñña sampadaṃ,
Sabbe sattā anumodantu sabba sampatti siddhiyā”
(Sebanyak kebajikan yang telah dicapai dan dikumpulkan,
Semoga semua makhluk turut menikmatinya, semoga menyebabkan kebahagiaan)
Bagaimana makhluk lain mendapat bagian dari kebajikan itu?
Dengan bermudita citta, turut berbahagia dan senang atas kebajikan yang dilakukan itu, dan bisa sambil mengucapkan “Sadhu Sadhu Sadhu”
(sadhu = well done, good, yes, alright = sungguh baik, demikianlah, ya, baik sekali).
Labels:
24. Tanha Vagga
Thursday, 22 April 2010
Kisah Orang Kaya Yang Tidak Memiliki Anak (Dhammapada 24 : 355)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(355) Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh,
tetapi tidak menghancurkan mereka yang mencari `Pantai Seberang` (nibbana).
Karena nafsu keinginan mendapatkan kekayaan,
orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, Raja Pasenadi dari Kosala datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha. Ia menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa ia terlambat datang karena pada pagi hari itu seorang kaya telah meninggal dunia di Savatthi tanpa meninggalkan ahli waris. Hal ini menjadikannya harus mengambil alih semua kekayaan orang itu. Kekayaannya berjumlah 8 juta keping emas, belum termasuk uang perak, dan membutuhkan waktu 7 hari untuk mengangkutnya ke gudang harta Raja. Kemudian Raja menceritakan perihal orang itu, yang meskipun sangat kaya namun sangat kikir. Saat orang itu masih hidup, ia tidak pernah memberikan apapun sebagai wujud kemurahan hati. Ia menolak untuk membelanjakan uangnya bahkan untuk dirinya sendiri, dan karenanya, makan sangat hemat serta mengenakan pakaian dari kain yang kasar dan murah. Mendengar hal ini Sang Buddha menceritakan kepada raja serta para pengiringnya tentang orang itu pada saat kehidupannya yang lampau. Dalam kehidupannya itu ia juga seorang kaya.
Suatu hari ketika seorang Paccekabuddha datang dan berdiri untuk berpindapatta di depan rumahnya. Ia berkata pada istrinya untuk mempersembahkan sesuatu kepada Paccekabuddha. Istrinya berpikir sangat jarang suaminya memberi ijin untuk memberikan sesuatu pada orang lain. Maka istrinya mengisi penuh mangkok Beliau dengan makanan. Orang kaya tersebut sekali lagi bertemu dengan Paccekabuddha tersebut dalam perjalanan pulang ke rumah dan ia melihat pada mangkok makanannya. Mengetahui bahwa istrinya telah mempersembahkan makanan yang baik dalam jumlah banyak, ia berpikir, "Oh, bhikkhu ini hanya akan tidur nyenyak setelah makan enak. Akan lebih baik bila pelayan-pelayanku yang diberi makanan sebaik itu. Paling tidak, mereka akan memberiku pelayanan yang lebih baik." Dengan kata lain, ia menyesal bahwa ia telah menyuruh istrinya untuk mempersembahkan dana makanan pada Paccekabuddha.
Orang ini mempunyai seorang kakak yang juga kaya. Kakaknya hanya mempunyai satu orang anak lelaki. Karena iri hati atas kekayaan kakaknya, ia telah membunuh keponakannya yang masih muda dan karenanya ia mewarisi secara tidak sah kekayaan kakaknya setelah meninggal dunia.
Karena orang tersebut telah mempersembahkan dana makanan pada Paccekabuddha, ia menjadi orang kaya dalam kehidupannya sekarang. Karena ia menyesal telah mendanakan makanan pada Paccekabuddha maka ia tidak punya keinginan untuk membelanjakan apapun bahkan untuk dirinya sendiri. Karena ia telah membunuh keponakannya sendiri untuk mendapatkan kekayaan kakaknya, ia telah menderita dalam alam neraka (niraya) selama tujuh kali kehidupan dan tanpa anak. Perbuatan buruknya telah berakhir sehingga ia terlahir kembali ke alam manusia, tetapi di sini ia juga tidak melakukan perbuatan baik.
Raja kemudian berkata, "Bhante, meskipun ia telah hidup di sini dalam masa kehidupan seorang Buddha, ia tidak pernah mempersembahkan apapun kepada Sang Buddha maupun murid-muridNya. Sesungguhnya, ia telah kehilangan kesempatan yang sangat baik, ia sangat bodoh."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Hananti bhogā dummedhaṃ no ce pāragavesino
bhogataṇhāya dummedho hanti aññe va attanaṃ."
Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh,
tetapi tidak menghancurkan mereka yang mencari `Pantai Seberang` (nibbana).
Karena nafsu keinginan mendapatkan kekayaan,
orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.
(355) Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh,
tetapi tidak menghancurkan mereka yang mencari `Pantai Seberang` (nibbana).
Karena nafsu keinginan mendapatkan kekayaan,
orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika, Raja Pasenadi dari Kosala datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha. Ia menjelaskan kepada Sang Buddha bahwa ia terlambat datang karena pada pagi hari itu seorang kaya telah meninggal dunia di Savatthi tanpa meninggalkan ahli waris. Hal ini menjadikannya harus mengambil alih semua kekayaan orang itu. Kekayaannya berjumlah 8 juta keping emas, belum termasuk uang perak, dan membutuhkan waktu 7 hari untuk mengangkutnya ke gudang harta Raja. Kemudian Raja menceritakan perihal orang itu, yang meskipun sangat kaya namun sangat kikir. Saat orang itu masih hidup, ia tidak pernah memberikan apapun sebagai wujud kemurahan hati. Ia menolak untuk membelanjakan uangnya bahkan untuk dirinya sendiri, dan karenanya, makan sangat hemat serta mengenakan pakaian dari kain yang kasar dan murah. Mendengar hal ini Sang Buddha menceritakan kepada raja serta para pengiringnya tentang orang itu pada saat kehidupannya yang lampau. Dalam kehidupannya itu ia juga seorang kaya.
Suatu hari ketika seorang Paccekabuddha datang dan berdiri untuk berpindapatta di depan rumahnya. Ia berkata pada istrinya untuk mempersembahkan sesuatu kepada Paccekabuddha. Istrinya berpikir sangat jarang suaminya memberi ijin untuk memberikan sesuatu pada orang lain. Maka istrinya mengisi penuh mangkok Beliau dengan makanan. Orang kaya tersebut sekali lagi bertemu dengan Paccekabuddha tersebut dalam perjalanan pulang ke rumah dan ia melihat pada mangkok makanannya. Mengetahui bahwa istrinya telah mempersembahkan makanan yang baik dalam jumlah banyak, ia berpikir, "Oh, bhikkhu ini hanya akan tidur nyenyak setelah makan enak. Akan lebih baik bila pelayan-pelayanku yang diberi makanan sebaik itu. Paling tidak, mereka akan memberiku pelayanan yang lebih baik." Dengan kata lain, ia menyesal bahwa ia telah menyuruh istrinya untuk mempersembahkan dana makanan pada Paccekabuddha.
Orang ini mempunyai seorang kakak yang juga kaya. Kakaknya hanya mempunyai satu orang anak lelaki. Karena iri hati atas kekayaan kakaknya, ia telah membunuh keponakannya yang masih muda dan karenanya ia mewarisi secara tidak sah kekayaan kakaknya setelah meninggal dunia.
Karena orang tersebut telah mempersembahkan dana makanan pada Paccekabuddha, ia menjadi orang kaya dalam kehidupannya sekarang. Karena ia menyesal telah mendanakan makanan pada Paccekabuddha maka ia tidak punya keinginan untuk membelanjakan apapun bahkan untuk dirinya sendiri. Karena ia telah membunuh keponakannya sendiri untuk mendapatkan kekayaan kakaknya, ia telah menderita dalam alam neraka (niraya) selama tujuh kali kehidupan dan tanpa anak. Perbuatan buruknya telah berakhir sehingga ia terlahir kembali ke alam manusia, tetapi di sini ia juga tidak melakukan perbuatan baik.
Raja kemudian berkata, "Bhante, meskipun ia telah hidup di sini dalam masa kehidupan seorang Buddha, ia tidak pernah mempersembahkan apapun kepada Sang Buddha maupun murid-muridNya. Sesungguhnya, ia telah kehilangan kesempatan yang sangat baik, ia sangat bodoh."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :
"Hananti bhogā dummedhaṃ no ce pāragavesino
bhogataṇhāya dummedho hanti aññe va attanaṃ."
Kekayaan dapat menghancurkan orang bodoh,
tetapi tidak menghancurkan mereka yang mencari `Pantai Seberang` (nibbana).
Karena nafsu keinginan mendapatkan kekayaan,
orang bodoh menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain.
Labels:
24. Tanha Vagga
Wednesday, 21 April 2010
Kisah Deva Ankura (Dhammapada 24 : 356-359)
XXIV. Tanha Vagga - Nafsu Keinginan
(356) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
nafsu indria merusak manusia.
Karena itu dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu indria
akan menghasilkan pahala yang besar.
(357) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
kebencian merusak manusia.
karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari kebencian
akan menghasilkan pahala yang besar.
(358) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
ketidak-tahuan merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari ketidak-tahuan
akan menghasilkan pahala yang besar.
(359) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
iri hati merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari iri hati
akan menghasilkan pahala yang besar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika Sang Buddha berkunjung ke alam dewa Tavatimsa, Sang Buddha membabarkan syair tersebut (356-359), berkenaan dengan dewa Ankura.
Pada suatu waktu, ketika Anuruddha Thera berpindapatta di suatu desa, Indaka (yang waktu itu masih sebagai manusia) memberinya sesendok makanan. Sebaliknya, dewa Ankura yang sewaktu menjadi manusia telah memberikan dana banyak sekali, keagungan dan kemegahannya kurang dari Indaka.
Kemudian Ankura menanyakan kepada Sang Buddha, apa sebab perbedaan dalam hasil perbuatan baik tersebut. Kepadanya Sang Buddha menjawab, “O dewa, ketika memberikan dana kamu seharusnya memilih kepada siapa kamu memberi, karena perbuatan dana seperti halnya menanam bibit. Bibit yang ditanam di tanah yang subur akan tumbuh menjadi pohon atau tanaman yang kuat dan hebat, serta akan menghasilkan banyak buah; tetapi kamu telah menebarkan bibitmu di tanah yang tandus, sehingga kamu memperoleh sangat sedikit."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Tiṇadosāni khettāni, rāgadosā ayaṃ pajā
tasmā hi vītarāgesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ
tiṇadosāni khettāni, dosadosā ayaṃ pajā
tasmā hi vītadosesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ
tiṇadosāni khettāni, mohadosā ayaṃ pajā
tasmā hi vītamohesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ
tiṇadosāni khettāni, icchādosā ayaṃ pajā
tasmā hi vīgaticchesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ.”
Rumput liar merusak sawah dan ladang; nafsu indria merusak manusia.
Karena itu dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu indria
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merusak sawah dan ladang; kebencian merusak manusia.
karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari kebencian
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merusak sawah dan ladang; ketidak-tahuan merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari ketidak-tahuan
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merusak sawah dan ladang; iri hati merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari iri hati
akan menghasilkan pahala yang besar.
----------
Notes :
Indaka hanya memberi sesendok makanan kepada Anuruddha Thera, tetapi Indaka memberikannya kepada seorang Arahat, yang telah bebas dari kekotoran batin dll, yang merupakan ladang yang subur.
Kemegahan dan keagungan para dewa ini beragam, tergantung dari besarnya kebajikan yang mereka lakukan. Makin besar keagungannya, makin terang sinar tubuhnya, dan kedudukannya pun lebih tinggi.
Biasanya, mereka duduk berdasarkan derajat keagungannya, yang paling agung duduk paling depan, dan mereka harus mundur jika ada dewa yang lebih agung darinya. Dalam kisah diatas, dikatakan Ankura pada awalnya duduk di depan dekat Sang Buddha, namun setelah dewa-dewa lain berdatangan, dewa Ankura akhirnya duduk 12 liga jauhnya dari Sang Buddha, sementara Indaka duduk di dekat Sang Buddha.
(356) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
nafsu indria merusak manusia.
Karena itu dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu indria
akan menghasilkan pahala yang besar.
(357) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
kebencian merusak manusia.
karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari kebencian
akan menghasilkan pahala yang besar.
(358) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
ketidak-tahuan merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari ketidak-tahuan
akan menghasilkan pahala yang besar.
(359) Rumput liar merusak sawah dan ladang;
iri hati merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari iri hati
akan menghasilkan pahala yang besar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika Sang Buddha berkunjung ke alam dewa Tavatimsa, Sang Buddha membabarkan syair tersebut (356-359), berkenaan dengan dewa Ankura.
Pada suatu waktu, ketika Anuruddha Thera berpindapatta di suatu desa, Indaka (yang waktu itu masih sebagai manusia) memberinya sesendok makanan. Sebaliknya, dewa Ankura yang sewaktu menjadi manusia telah memberikan dana banyak sekali, keagungan dan kemegahannya kurang dari Indaka.
Kemudian Ankura menanyakan kepada Sang Buddha, apa sebab perbedaan dalam hasil perbuatan baik tersebut. Kepadanya Sang Buddha menjawab, “O dewa, ketika memberikan dana kamu seharusnya memilih kepada siapa kamu memberi, karena perbuatan dana seperti halnya menanam bibit. Bibit yang ditanam di tanah yang subur akan tumbuh menjadi pohon atau tanaman yang kuat dan hebat, serta akan menghasilkan banyak buah; tetapi kamu telah menebarkan bibitmu di tanah yang tandus, sehingga kamu memperoleh sangat sedikit."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :
"Tiṇadosāni khettāni, rāgadosā ayaṃ pajā
tasmā hi vītarāgesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ
tiṇadosāni khettāni, dosadosā ayaṃ pajā
tasmā hi vītadosesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ
tiṇadosāni khettāni, mohadosā ayaṃ pajā
tasmā hi vītamohesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ
tiṇadosāni khettāni, icchādosā ayaṃ pajā
tasmā hi vīgaticchesu dinnaṃ hoti mahapphalaṃ.”
Rumput liar merusak sawah dan ladang; nafsu indria merusak manusia.
Karena itu dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari nafsu indria
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merusak sawah dan ladang; kebencian merusak manusia.
karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari kebencian
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merusak sawah dan ladang; ketidak-tahuan merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari ketidak-tahuan
akan menghasilkan pahala yang besar.
Rumput liar merusak sawah dan ladang; iri hati merusak manusia.
Karena itu, dana yang dipersembahkan kepada mereka yang telah bebas dari iri hati
akan menghasilkan pahala yang besar.
----------
Notes :
Indaka hanya memberi sesendok makanan kepada Anuruddha Thera, tetapi Indaka memberikannya kepada seorang Arahat, yang telah bebas dari kekotoran batin dll, yang merupakan ladang yang subur.
Kemegahan dan keagungan para dewa ini beragam, tergantung dari besarnya kebajikan yang mereka lakukan. Makin besar keagungannya, makin terang sinar tubuhnya, dan kedudukannya pun lebih tinggi.
Biasanya, mereka duduk berdasarkan derajat keagungannya, yang paling agung duduk paling depan, dan mereka harus mundur jika ada dewa yang lebih agung darinya. Dalam kisah diatas, dikatakan Ankura pada awalnya duduk di depan dekat Sang Buddha, namun setelah dewa-dewa lain berdatangan, dewa Ankura akhirnya duduk 12 liga jauhnya dari Sang Buddha, sementara Indaka duduk di dekat Sang Buddha.
Labels:
24. Tanha Vagga
Subscribe to:
Posts (Atom)