Showing posts with label 05. Bala Vagga. Show all posts
Showing posts with label 05. Bala Vagga. Show all posts

Thursday, 18 November 2010

Kisah Seorang Pemuda (Dhammapada 5 : 60)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(60) Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh
yang tak mengenal Ajaran Benar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari Raja Pasenadi dari Kosala sedang berjalan-jalan di kota. Secara tidak sengaja beliau melihat seorang wanita muda berdiri dekat jendela rumahnya dan beliau langsung jatuh cinta. Raja mencoba untuk menemukan berbagai cara dan kesempatan untuk mendapatkannya. Setelah mengetahui bahwa wanita muda itu telah menikah, raja memanggil suami wanita muda tersebut dan dijadikan pelayan di istana.

Suatu ketika raja memerintahkan suami wanita muda itu untuk melakukan suatu pekerjaan yang sangat sulit. Pemuda itu diperintahkan untuk pergi ke suatu tempat, satu yojana (dua belas mil) jauhnya dari Savatthi, serta membawa pulang beberapa bunga teratai Kumuda dan sedikit tanah merah yang dikenal dengan nama Arunavati, tanahnya Naga, dan kembali ke Savatthi pada sore yang sama, pada waktu raja mandi.

Tujuan raja adalah untuk membunuh suami wanita muda tersebut jika ia gagal kembali pada waktu yang telah ditentukan, dan mengambil wanita muda itu sebagai istrinya.

Pemuda itu mengambil ransum makanan dari istrinya dengan tergesa-gesa, dan segera berangkat untuk melaksanakan perintah raja. Di perjalanan, pemuda itu membagi bekal makanannya kepada seorang pengembara.

Dia juga melemparkan sedikit nasi ke dalam air dan berteriak: "O, makhluk-makhluk penjaga dan naga-naga penghuni sungai ini! Raja Pasenadi telah menyuruhku untuk mengambil beberapa bunga teratai Kumuda dan tanah merah Arunavati untuk beliau. Hari ini aku telah membagi makananku dengan seorang pengembara; aku juga memberi makanan buat ikan-ikan di sungai; sekarang aku juga membagi manfaat perbuatan baikku yang telah aku lakukan hari ini denganmu. Berilah aku bunga teratai Kumuda dan tanah merah Arunavati".

Raja Naga mendengarnya. Dengan menyamar sebagai orang tua memberikan bunga teratai dan tanah merah yang diharapkan.

Sore hari Raja Pasenadi yang cemas seandainya pemuda tersebut datang kembali tepat pada waktunya telah memerintahkan untuk menutup gerbang kota lebih awal. Setelah mengetahui bahwa pintu gerbang kota telah ditutup maka pemuda tadi meletakkan tanah merah pada dinding kota dan menempelinya dengan bunga teratai.

Kemudian dia menyatakan dengan keras: "O, para warga kota! Jadilah saksiku! Hari ini aku telah memenuhi tugasku tepat pada waktunya seperti yang telah diperintahkan oleh raja. Raja Pasenadi, tanpa ada keadilan, merencanakan untuk membunuhku".

Setelah itu pemuda tadi menuju Vihara Jetavana untul mencari perlindungan dan menghibur dirinya di tempat yang penuh kedamaian tersebut.

Di lain pihak Raja Pasenadi yang digoda oleh nafsu seksualnya, tidak dapat tidur, dan terus memikirkan bagaimana menyingkirkan suami wanita muda itu dan memperistrinya. Tengah malam beliau mendengar suara-suara aneh; yang sesungguhnya merupakan suara-suara yang menyayat hati dari empat makhluk menderita di alam Lohakumbhi Niraya. Sang Raja sangat ketakutan mendengar suara-suara yang mengerikan tersebut. Keesokan paginya Raja Pasenadi mengunjungi Sang Buddha, seperti yang disarankan oleh Ratu Mallika.

Kemudian Sang Buddha menjelaskan tentang empat suara yang didengar raja pada malam hari, Beliau mengatakan bahwa suara-suara itu merupakan suara-suara empat makhluk, yang merupakan putra dari seorang hartawan yang hidup pada masa Buddha Kassapa, dan sekarang mereka menderita di Lohakumbhi Niraya sebab mereka telah melakukan perzinahan dengan istri-istri orang lain.

Raja akhirnya menyadari perbuatan buruk dan akibat yang akan diperoleh. Raja berjanji tidak akan menginginkan istri orang lain lagi.

"Kejadian itu sama dengan nafsu keinginanku untuk memiliki istri orang lain yang membuatku tersiksa dan tidak dapat tidur", pikir beliau.

Kemudian Raja Pasenadi mengatakan kepada Sang Buddha, "Bhante, sekarang saya menyadari bagaimana lamanya malam untuk seseorang yang tidak dapat tidur".

Pemuda tadi juga mengatakan, "Bhante, saya telah melakukan perjalanan penuh satu yojana kemarin, saya juga mengetahui bagaimana panjangnya satu yojana bagi seseorang yang lelah".

Sang Buddha kemudian membabarkan syair 60 dengan menggabungkan kedua pernyataan di atas seperti berikut ini:

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh
yang tak mengenal Ajaran Benar.

Pemuda tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.***

Wednesday, 17 November 2010

Kisah Murid Yang Tinggal Bersama Mahakassapa Thera (Dhammapada 5 : 61)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(61) Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat
yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya,
maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri.
Janganlah bergaul dengan orang bodoh.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika Mahakassapa Thera bersemayam dekat Rajagaha, beliau tinggal bersama dua orang bhikkhu muda. Salah satu bhikkhu tersebut sangat hormat, patuh, dan taat kepada Mahakassapa Thera. Tetapi bhikkhu yang satu lagi tidak seperti itu. Ketika Mahakassapa Thera mencela kekurang-taatan melaksanakan tugas-tugas murid yang belakangan, murid tersebut sangat kecewa.

Pada suatu kesempatan, ia pergi ke salah satu rumah umat awam siswa Mahakassapa Thera, dan membohongi mereka bahwa Sang Thera sedang sakit. Ia mendapatkan makanan pilihan dari mereka untuk Mahakassapa Thera. Tetapi ia makan makanan tersebut di perjalanan. Ketika Sang Thera menasehati tentang kelakuannya itu, bhikkhu tersebut menjadi sangat marah.

Keesokan harinya ketika Mahakassapa Thera pergi keluar untuk berpindapatta, bhikkhu muda yang bodoh ini tidak ikut. Ia memecahkan tempat air dan kuali, serta membakar vihara.

Seorang bhikkhu dari Rajagaha menceriterakan peristiwa itu kepada Sang Buddha, Sang Buddha mengatakan lebih baik Mahakassapa Thera tinggal sendirian daripada tinggal bersama orang bodoh.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 61 berikut:

“Carañ ce nādhigaccheyya seyyaṃ sadisam attano
Ekacariyaṃ daḷhaṃ kayirā n’atthi bāle sahāyatā”

Apabila dalam pengembaraan seseorang tak menemukan sahabat yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya, maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri. Janganlah bergaul dengan orang bodoh.

Bhikkhu dari Rajagaha tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.***
---------
Notes :
Bālā = orang bodoh, tidak bijaksana, dungu.

Dalam sutta-sutta ataupun artikel Dhamma, yang disebut dengan ‘orang bodoh’ adalah orang yang tidak bijaksana. Sama sekali bukan orang yang bodoh dalam artian sempit yang kurang pandai di sekolah, atau kurang pandai matematika dll.

Orang bodoh adalah orang yang tidak bijaksana, yang lebih senang mundur daripada maju dalam kebijaksanaan, dan tidak dapat dinasehati.

Banyak orang yang ketika mendengar ayat ini, lalu bertanya, kalau semua orang maunya bergaul dengan orang yang setara / lebih baik, lalu siapa yang akan menolong yang lebih bodoh? Bukannya ini namanya sombong dan pilih-pilih teman ? 

Tentu saja kita harus melihat kemampuan diri kita sendiri, jika kita sanggup menasehati dan bersabar, dan yang dinasehati mau berubah, ada keinginan untuk memperbaiki diri, maka adalah hal yang sangat baik untuk menolong orang-orang seperti ini.

Jika kita jauh lebih kuat dibandingkan kebodohan dia, mungkin kita bisa mengangkat dia dari kebodohan itu.
Tetapi jika dengan bergaulnya kita dengan orang bodoh, ternyata kita malah terseret oleh kebodohannya, sebaiknya janganlah bergaul dengan orang bodoh itu.

Ibarat hendak menolong orang yang tenggelam, kalau kemampuan renang kita kurang dan tidak tahu teknik yang tepat untuk menolong, bisa-bisa kita juga ikut tenggelam bersamanya.

Tuesday, 16 November 2010

Kisah Ananda, Seorang Hartawan (Dhammapada 5 : 62)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(62) "Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,"
demikianlah pikiran orang bodoh.
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya,
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tinggallah seorang hartawan yang sangat kaya bernama Ananda di Savatthi. Meskipun dia memiliki delapan puluh crore, dia enggan sekali berdana. Kepada anaknya Mulasiri, dia sering mengatakan, "Jangan berpikir bahwa kekayaan yang kita miliki saat ini banyak sekali. Jangan berikan apapun dari harta milikmu, karena kau harus menambah hartamu. Jika tidak, kekayaanmu semakin berkurang."

Orang kaya ini memiliki lima guci berisi emas yang dikubur di dalam rumahnya, dan ia meninggal dunia tanpa memberitahukan tempat penyimpanan guci itu kepada putranya.

Ananda, orang kaya yang telah meninggal tadi, dilahirkan di sebuah perkampungan pengemis, tidak jauh dari Savatthi. Dimulai sejak ibunya mengandung, penghasilan para pengemis menurun. Penduduk perkampungan itu berpikir bahwa ada seseorang yang tidak beruntung dan menyebabkan kesialan di antara mereka. Dengan membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok dan melakukan proses eliminasi, mereka sampai pada kesimpulan bahwa pengemis wanita yang sedang mengandung itu yang mendatangkan kesialan bagi mereka. Maka ia pun diusir keluar dari desa.

Ketika anaknya lahir, anaknya sangat jelek dan menjijikan. Jika wanita itu pergi mengemis sendirian ia akan memperoleh hasil seperti biasa, tetapi jika ia pergi bersama putranya, ia tidak mendapatkan apa-apa. Maka, ketika putranya dapat pergi meminta-minta sendiri, ibunya memberikan piring mengemis di tangannya dan kemudian meninggalkannya. Ketika pengemis muda itu berkelana ke Savatthi, ia teringat rumahnya dan kehidupannya yang lampau. Ia lalu mengunjungi rumah tersebut. Anak-anak dari putranya, Mulasiri, melihatnya. Mereka sangat ketakutan melihat penampilannya yang buruk dan mulai menangis. Pelayan-pelayan kemudian memukulinya dan mendorongnya keluar rumah.

Sang Buddha yang sedang berpindapatta melihat peristiwa itu dan meminta Y.A. Ananda untuk mengundang Mulasiri. Ketika Mulasiri datang, Sang Buddha memberitahukan bahwa pengemis muda tadi adalah ayahnya sendiri pada kehidupan yang lampau. Tetapi Mulasiri tidak mempercayainya. Maka Sang Buddha menyuruh pengemis muda itu untuk menunjukkan dimana ia mengubur lima guci emasnya. Akhirnya Mulasiri menerima kenyataan yang ada, dan sejak itu ia menjadi umat awam pengikut Sang Buddha.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Puttā m’ atthi dhanaṃ m’atthi
iti bālo vihaññati
attā hi attano n’atthi
kuto puttā kuto dhanaṃ."

"Anak-anak ini milikku, kekayaan ini milikku,"
demikianlah pikiran orang bodoh.
Apabila dirinya sendiri sebenarnya bukan merupakan miliknya,
bagaimana mungkin anak dan kekayaan itu menjadi miliknya?

Monday, 15 November 2010

Kisah Dua Orang Pencopet (Dhammapada 5 : 63)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(63) Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya,
maka ia dapat dikatakan bijaksana;
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika dua orang pencopet bersama-sama dengan sekelompok umat awam pergi ke Vihara Jetavana. Di sana Sang Buddha sedang memberikan khotbah. Satu di antara mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Tetapi pencopet satunya lagi tidak memperhatikan khotbah yang disampaikan, karena ia hanya bertujuan untuk mencuri ; dan ia berhasil mengambil sedikit uang dari salah seorang umat.

Setelah khotbah berakhir mereka pulang dan memasak makan siangnya di rumah pencopet kedua yang tadi berhasil mencuri uang. Istri dari pencopet kedua mengejek pencopet pertama: "Kamu amat bijaksana ya, bahkan sampai tidak punya apapun untuk dimasak di rumahmu."

Mendengar pernyataan tersebut, pencopet pertama berpikir, "Orang ini sangat bodoh, dia berpikir bahwa dia sangat pintar." Kemudian bersama-sama dengan sanak keluarganya, ia menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yo bālo maññatī bālyaṃ paṇḍito vāpi tena so,
bālo ca paṇḍitamānī sa ve bālo ti vuccati."

Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya,
maka ia dapat dikatakan bijaksana;
tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana,
sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.

Semua sanak saudara pencopet pertama tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Sunday, 14 November 2010

Kisah Udayi Thera (Dhammapada 5 : 64)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(64) Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana,
tetap tidak akan mengerti Dhamma,
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Udayi Thera sering pergi ke tempat ceramah dan duduk di atas tempat duduk, dimana para thera terpelajar duduk pada waktu menyampaikan khotbah*. Pada suatu kesempatan, beberapa bhikkhu tamu menyangka bahwa ia adalah seorang thera yang terpelajar, dan mereka mengajukan beberapa pertanyaan tentang lima kelompok unsur khanda. Udayi Thera tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebab beliau tidak mengerti sama sekali tentang Dhamma. Para bhikkhu tamu sangat terkejut menemukan seseorang yang tinggal dalam satu vihara dengan Sang Buddha hanya mengetahui sedikit saja tentang khanda dan ayatana (dasar indria dan objek indria).

Kepada bhikkhu tamu itu Sang Buddha menerangkan keadaan Udayi Thera dalam syair berikut ini:

"Yāvajīvam pi ce bālo paṇḍitaṃ payirupāsati
na so dhammaṃ vijānāti dabbī sūparasaṃ yathā."

Orang bodoh, walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana,
tetap tidak mengerti Dhamma,
bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.
--------

Notes :
* Sekadar info tatakrama di vihara:
Di dalam vihara; di ruang bhaktisala atau dharmasala, di depan altar biasanya terdapat kursi penceramah, yang digunakan oleh bhikkhu untuk berceramah. Sebelum duduk di kursi/tempat duduk itu untuk berceramah, bhikkhu tersebut akan memberikan penghormatan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha.
Tempat duduk ini tidak pantas diduduki sembarangan dan oleh sembarang orang, sangat tidak sopan. Ibaratnya seperti singgasana raja/ratu yang tidak boleh sembarangan orang duduk.

Saturday, 13 November 2010

Kisah Tiga Puluh Bhikkhu Dari Paveyyaka (Dhammapada 5 : 65)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(65) Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu ketika, tiga puluh orang pemuda dari Paveyyaka bersenang-senang dengan seorang pelacur di hutan. Ketika mereka lengah, pelacur itu mencuri beberapa perhiasan dan melarikan diri.

Pemuda-pemuda tersebut mencari pelacur tersebut di hutan, mereka bertemu dengan Sang Buddha dalam perjalanan. Sang Buddha menyampaikan suatu khotbah kepada para pemuda tersebut dan mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti dan semuanya menjadi anggota Sangha dan ikut Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Ketika tinggal di vihara, mereka berlatih dengan sungguh-sungguh hidup sederhana atau melaksanakan latihan keras (dhutanga). Tak lama kemudian, ketika Sang Buddha menyampaikan "Anamatagga Sutta" (Khotbah tentang keberadaan Hidup yang Tak Terhitung), seluruh bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat.

Ketika bhikkhu-bhikkhu yang lain memberikan komentar bahwa bhikkhu-bhikkhu dari Paveyyaka sangat cepat mencapai tingkat kesucian Arahat, Sang Buddha menjawab dalam syair berikut ini:

"Muhuttam api ce viññū paṇḍitaṃ payirupāsati
khippaṃ dhammaṃ vijānāti jivhā sūparasaṃ yathā."

Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana,
namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma,
bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.

Friday, 12 November 2010

Kisah Suppabuddha, Si Penderita Kusta (Dhammapada 5 : 66)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(66) Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya,
memperlakukan diri sendiri seperti musuh;
ia melakukan perbuatan jahat
yang akan menghasilkan buah yang pahit.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suppabuddha, penderita kusta, suatu ketika duduk di bagian belakang kumpulan orang dan mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah yang disampaikan oleh Sang Buddha, mencapai tingkat kesucian sotapatti. Ketika kerumunan orang tersebut sudah membubarkan diri, ia mengikuti Sang Buddha ke vihara. Ia berharap dapat memberitahukan kepada Sang Buddha tentang pencapaiannya.

Sakka, raja para dewa, berkeinginan untuk menguji keyakinan orang kusta tersebut kepada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha, menampakkan dirinya dan berkata: "Kamu hanya seorang miskin, hidup dari meminta-minta, tanpa seorang pun tempat bersandar. Saya dapat memberi kamu kekayaan yang sangat besar jika kamu mengingkari Buddha, Dhamma, dan Sangha dan katakan bahwa kamu tidak membutuhkan mereka"

Suppabuddha menjawab, "Tentu saja saya bukan orang miskin, tanpa seorang pun tempat bersandar. Saya orang kaya; saya memiliki tujuh ciri yang dimiliki oleh para ariya; saya mempunyai keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), rasa malu berbuat jahat (hiri), rasa takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa), pengetahuan (suta), murah hati (caga), dan kebijaksanaan (panna)."

Kemudian Sakka menghadap Sang Buddha mendahului Suppabuddha. Sang Buddha menjawab bahwa tidaklah mudah meskipun seratus atau seribu Sakka untuk membujuk Suppabuddha meninggalkan Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Setelah Suppabuddha sampai di vihara, ia melapor kepada Sang Buddha bahwa ia telah mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Dalam perjalanan pulangnya dari Vihara Jetavana, Suppabuddha mati berlumuran darah diseruduk seekor sapi yang sedang marah, yang sesungguhnya adalah seorang yakkhini* yang bersalin rupa menjadi seekor sapi. Yakkhini ini tidak lain adalah pelacur yang dibunuh oleh Suppabuddha pada kehidupannya yang lampau dan bersumpah untuk membalas dendam.

Ketika berita kematian Suppabuddha sampai di Vihara Jetavana, para bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, dimana Suppabuddha dilahirkan kembali, dan Sang Buddha menjawab bahwa Suppabuddha dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa. Sang Buddha juga menerangkan kepada para bhikkhu bahwa Suppabuddha dilahirkan sebagai seorang kusta karena pada salah satu kelahirannya yang lampau, ia pernah meludahi seorang Pacekabuddha**.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Caranti bālā dummedhā amitteneva attanā
karontā pāpakaṃ kammaṃ yaṃ hoti kaṭukapphalaṃ."

Orang bodoh yang dangkal pengetahuannya,
memperlakukan diri sendiri seperti musuh;
ia melakukan perbuatan jahat
yang akan menghasilkan buah yang pahit.
---------

Notes :
* Yakkhini atau yakkhi = yakkha perempuan.
Yakkha (Pali) = yaksha (Sanskrit), 夜叉 yè chā (Chinese), Yasha (Japanese), ba-lu (Burmese), gnod sbyin (Tibetan).

Yakkha termasuk dalam kategori alam dewa Catummaharajika / alam 4 Raja Dewa (catur = 4, maharaja = raja besar)

Yakkha bermacam-macam tabiatnya, ada yang berperangai buruk dan jahat dan suka mengganggu manusia, ada pula yang berperangai baik dan suka menolong manusia, bahkan mengabulkan permintaan. Untuk paritta perlindungan terhadap yakkha jahat kalau pergi ke hutan-hutan, bacalah Atanatiya Sutta / Atanatiya Paritta.
Tidak semua yakkha merupakan pengikut Sang Buddha. Yakkha juga memiliki kemampuan gaib, seperti menyalin rupa, dll. Yakkha juga memiliki berbagai tingkat, ada yakkha penasehat raja, dll. Mereka menguasai/menjaga/tinggal di danau, sungai, pohon, dll.

Yakkha-yakkha ini dipimpin oleh salah satu dari 4 Raja Dewa dari alam Catummaharajika, yaitu Raja Vessavana (Vaisravana/Kuvera).

Cãtummahãrãjika Bhumi (alam 4 raja dewa (四天王 Sì Tiānwáng)) adalah alam dewa tingkat paling rendah dari 6 alam dewa yang ada. 4 Raja Dewa terdiri dari :
- Dhatarattha : raja dewa yang memimpin bagian/arah timur, memimpin para gandhabba (dewa musisi).
- Virulhaka : raja dewa yang memimpin bagian/arah selatan, memimpin para kumbhanda (penjaga hutan, gunung, dan harta karun yang tersembunyi).
- Virupakkha : raja dewa yang memimpin bagian/arah barat, memimpin para naga.
- Vessavana/Kuvera : raja dewa yang memimpin bagian/arah utara, memimpin para yakkha.

Catummaharajika-bhumi juga sering dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan tempat tinggalnya, yaitu :
• Bhumamattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di atas tanah (di bumi, gunung, sungai, laut, rumah, vihara, dll)
• Rukakkhattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di atas pohon
• Akasattha Devata yaitu para dewa yg berdiam di angkasa

Raja Bimbisara dari kerajaan Magadha, setelah kematiannya dilahirkan kembali menjadi Yakkha, bernama Janavasabha, dibawah pimpinan Raja Vessavana.

** disadur bebas dari Kutthi Sutta Udana 5.3 / PTS Ud 48 :
Salah satu bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha, apa sebabnya Suppabuddha si penderita kusta menjadi seseorang yang miskin dan amat malang? Sang Buddha berkata,
"Dulu kala, bhikkhu, di tempat ini di Rajagaha, Suppabuddha adalah anak dari seorang rentenir/kreditor kaya. Ketika sedang menuju taman hiburan, ia melihat Tagarasikhi, seorang Paccekabuddha, sedang berpindapatta di dalam kota. Ketika melihatnya, ia berpikir, ‘Siapa sih si penderita kusta itu, berkeliaran mencari mangsa?’, sambil meludah dan secara tidak hormat mengarahkan bagian kiri badannya kepada Paccekabuddha tsb, ia lalu pergi. (tanda penghormatan dalam kebudayaan India adalah dengan menjaga bagian kanan tubuh ke arah obyek atau subyek yang kita hormati; seperti waktu kita pradaksina mengelilingi stupa dll, kita memutarinya searah jarum jam).

Sebagai hasil dari perbuatan tersebut ia direbus dalam neraka beratus ribu tahun lamanya, dan setelah itu dilahirkan kembali di sini di Rajagaha sebagai orang miskin, menderita lepra, dan amat malang. Tetapi ketika mendengar Dhamma & Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagatha, ia memperoleh keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), rasa malu berbuat jahat (hiri), rasa takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa), pengetahuan (suta), murah hati (caga), dan kebijaksanaan (panna). Sekarang, setelah kematiannya, ia telah lahir kembali di alam dewa Tavatimsa. Disana, keindahan dan cahaya tubuhnya mengalahkan dewa-dewa lainnya.

Thursday, 11 November 2010

Kisah Seorang Petani (Dhammapada 5 : 67)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(67) Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya
dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu hari beberapa pencuri setelah mencuri benda-benda berharga dan sejumlah uang dari rumah orang kaya, melarikan diri ke suatu ladang. Di sana mereka membagi hasil curian dan kemudian berpisah. Tetapi sebuah bungkusan yang berisi uang yang berjumlah banyak terjatuh dari salah seorang pencuri, dan tertinggal di belakang tanpa ada yang memperhatikan.

Keesokan paginya Sang Buddha yang sedang mengamati dunia dengan kemampuan dibbacakkhuNya (penglihatan supranatural), melihat bahwa seorang petani yang sedang bekerja dekat ladang tersebut, dapat mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Segera Sang Buddha pergi ke sana, ditemani oleh Y.A. Ananda. Petani tersebut ketika melihat Sang Buddha memberi hormat, kemudian melanjutkan kembali membajak sawah.

Sang Buddha melihat bungkusan uang tersebut dan berkata, "Ananda, lihatlah seekor ular yang sangat berbisa." Ananda menjawab, "Ya, Bhante, itu benar-benar seekor ular yang sangat berbisa!" Kemudian Sang Buddha dan Ananda melanjutkan perjalanannya.

Petani itu, mendengar percakapan mereka, lalu pergi mencari apakah benar ada seekor ular, dan menemukan bungkusan uang itu. Ia mengambil bungkusan itu dan menyembunyikannya di suatu tempat.

Pemilik barang yang dicuri tersebut mengikuti jejak para pencuri dan sampai di ladang itu. Menelusuri jejak kaki petani tersebut, ia menemukan bungkusan uang tadi. Mereka memukuli petani itu dan membawanya menghadap raja, yang kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh petani itu.

Ketika dibawa ke pemakaman, tempat ia akan dibunuh, petani itu mengulang-ulang percakapan itu: "Ananda, lihatlah ada seekor ular yang sangat berbisa. Bhante, saya melihat ular; sungguh-sungguh seekor ular yang sangat berbisa!"

Ketika pegawai-pegawau raja mendengar percakapan antara Sang Buddha dan Ananda diulang-ulang sepanjang perjalanan, mereka kebingungan, dan membawanya menghadap Raja. Raja menyangka bahwa petani itu meminta Sang Buddha untuk dijadikan saksi; akhirnya petani tersebut dibawa kehadapan Sang Buddha.

Setelah mendengar semua yang terjadi pagi hari itu dari Sang Buddha, raja mengatakan, "Jika saja ia tidak berhasil meminta Sang Buddha menjadi saksi atas ketidakbersalahannya, orang ini telah mati dibunuh."

Kepadanya, Sang Buddha menjawab, "Orang bijaksana seharusnya tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal setelah melakukannya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na taṃ kammaṃ kataṃ sādhu yaṃ katvā anutappati
yassa assumukho rodaṃ vipākaṃ paṭisevati."

Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya
dengan ratap tangis dan wajah yang berlinang air mata.

Petani tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Wednesday, 10 November 2010

Kisah Sumana, Penjual Bunga (Dhammapada 5 : 68)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(68) Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
tidak membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu adalah baik.
Orang itu akan menerima buah perbuatannya
dengan hati gembira dan puas.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Seorang penjual bunga, bernama Sumana, harus mengirimkan bunga melati kepada Raja Bimbisara dari Rajagaha setiap pagi. Suatu hari, ketika ia akan pergi ke istana, ia melihat Sang Buddha, dengan pancaran sinar aura sangat terang, datang ke kota untuk berpindapatta dengan diikuti oleh beberapa bhikkhu.

Melihat Sang Buddha yang sangat agung, penjual bunga Sumana sangat ingin mendanakan bunganya kepada Sang Buddha. Saat itu juga, ia memutuskan bahwa meskipun raja akan mengusirnya dari kota atau membunuhnya, ia tidak akan memberikan bunganya kepada raja pada hari itu.

Kemudian ia melemparkan bunganya ke samping, ke belakang, ke atas dan di atas kepala Sang Buddha. Bunga-bunga itu menggantung di udara; yang di atas kepala Sang Buddha membentuk tudung dari bunga-bunga, yang di belakang dan di sisi-sisi Beliau membentuk seperti dinding. Bunga-bunga ini terus mengikuti Sang Buddha kemana saja Beliau berjalan, dan ikut berhenti ketika Beliau berhenti.

Ketika Sang Buddha berjalan, dikelilingi oleh dinding bunga, dan dipayungi tudung bunga, dengan sinar enam warna yang memancar dari tubuhnya, diikuti oleh kelompok besar, ribuan orang dari dalam maupun dari luar kota Rajagaha. Mereka keluar dari rumahnya dan memberi hormat kepada Sang Buddha. Bagi Sumana sendiri, seluruh tubuhnya diliputi dengan kegiuran batin (piti).

Istri Sumana kemudian menghadap raja dan berkata bahwa ia tidak ikut campur dalam kesalahan suaminya, karena suaminya tidak mengirim bunga kepada raja hari ini. Raja yang telah mencapai tingkat kesucian sotapatti, merasa sangat berbahagia. Ia keluar istana untuk melihat pemandangan yang menakjubkan itu dan memberikan hormat kepada Sang Buddha.

Raja juga mengambil kesempatan untuk memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan murid-muridnya. Setelah makan siang, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana dan raja mengikutinya sampai beberapa jauh.

Dalam perjalanan pulang, Raja memanggil Sumana dan memberikan penghargaan kepadanya yang berupa delapan ekor kuda, delapan orang budak laki-laki, delapan orang budak wanita, delapan orang anak gadis, dan uang delapan ribu.

Di Vihara Jetavana, Y.A. Ananda bertanya kepada Sang Buddha apa manfaat yang akan diperoleh Sumana dari perbuatan baik yang telah dilakukannya pada pagi hari itu. Sang Buddha menjawab bahwa Sumana, yang telah memberikan dana kepada Sang Buddha tanpa memikirkan hidupnya, tidak akan dilahirkan di empat alam yang menyedihkan (Apaya) untuk beratus-ratus ribu kehidupan yang akan datang. Dan ia akan menjadi seorang Pacceka Buddha. Setelah itu, Sang Buddha memasuki Gandhakuti, dan bunga-bunga itu jatuh dengan sendirinya.

Malam harinya, pada akhir khotbah rutin, Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Tañ-ca kammaṃ kataṃ sādhu yaṃ katvā nānutappati
yassa patīto sumano vipākaṃ paṭisevati."

Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
tidak membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu adalah baik
Orang itu akan menerima buah perbuatannya
dengan hati gembira dan puas.

Tuesday, 9 November 2010

Kisah Uppalavanna Theri (Dhammapada 5 : 69)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(69) Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak,
maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu;
tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak,
maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan.
--------------------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang putri hartawan di Savatthi yang sangat cantik, dengan wajah yang sangat lembut dan manis, seperti bunga teratai biru. Ia diberi nama "Uppalavanna", teratai biru. Kecantikannya tersohor sampai ke mana-mana, dan banyak pemuda yang ingin melamarnya; pangeran, orang kaya dan yang lainnya.

Tetapi ia memutuskan bahwa lebih baik dia menjadi seorang bhikkhuni, murid wanita Sang Buddha yang hidup tidak berkeluarga.

Suatu hari setelah menyalakan sebuah lampu, dia memusatkan pikirannya pada nyala lampu, dan bermeditasi dengan objek api, beliau segera mencapai pandangan terang dan akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat.

Beberapa waktu kemudian, ia pindah ke hutan Andhavana (hutan Gelap) dan hidup dalam kesunyian. Ketika Uppalavanna Theri sedang keluar untuk menerima dana makanan, Nanda, putra dari pamannya, datang mengunjungi vihara tempat ia tinggal dan bersembunyi di bawah tempat duduk Uppalavanna Theri. Nanda telah jatuh cinta kepada Uppalavanna Theri sebelum ia menjadi seorang bhikkhuni; dia datang dengan maksud buruk untuk mendapatkan Uppalavana Thera dengan paksa. Ketika Uppalavanna Theri datang, ia melihat Nanda dan berkata, "Kamu bodoh! Jangan berbuat jahat, jangan memaksa". Tetapi Nanda tidak mau berhenti. Setelah memuaskan nafsunya, Nanda meninggalkan Uppalavanna Theri. Segera setelah ia melangkahkan kakinya menginjak tanah, tanah itu langsung membelah dan ia ditelan bumi, akibat dari perbuatannya mengganggu seorang arahat.

Mendengar hal itu Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Madhūva maññatī bālo
yāva pāpaṃ na paccati
yadā ca paccatī pāpaṃ
atha bālo dukkhaṃ nigacchati."

Selama buah dari suatu perbuatan jahat belum masak,
maka orang bodoh akan menganggapnya manis seperti madu;
tetapi apabila buah perbuatan itu telah masak,
maka ia akan merasakan pahitnya penderitaan.

Beberapa orang mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Sang Buddha selanjutnya mengundang Raja Pasenadi dari Kosala dan berkata kepada beliau tentang bahayanya seorang bhikkhuni tinggal di hutan menghadapi orang-orang tidak bertanggung jawab yang dibutakan oleh nafsu seksualnya. Sang Raja berjanji hanya akan membangun vihara-vihara untuk para bhikkhuni di kota-kota atau dekat dengan kota.

Monday, 8 November 2010

Kisah Jambuka Thera (Dhammapada 5 : 70)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(70) Biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya
dengan ujung rumput kusa, namun demikian ia tidak berharga
seperenambelas bagian dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Jambuka adalah putra seorang hartawan di Savatthi. Berkaitan dengan perbuatan buruk yang dilakukannya di masa lampau, ia dilahirkan dengan kelakuan yang sangat aneh.

Ketika masih anak-anak, ia tidur di lantai tanpa alas kasur, dan memakan kotorannya sendiri sebagai ganti nasi. Ketika ia beranjak dewasa, orang tuanya mengirim kepada Ajivaka, pertapa telanjang. Ketika pertapa itu mengetahui kebiasaan makannya yang aneh, mereka mengusir Jambuka. Pada malam hari ia makan kotoran manusia dan pada siang hari berdiri dengan satu kaki, dan membiarkan mulutnya terbuka. Ia selalu mengatakan bahwa ia membiarkan mulutnya terbuka sebab ia hanya hidup dari udara dan berdiri dengan satu kaki sebab akan terlalu berat berat bagi bumi untuk menerima beban tubuhnya. "Saya tidak pernah duduk, saya tidak pernah tidur," ia membual, dan oleh karena itu ia dikenal dengan nama Jambuka, yang artinya serigala.

Banyak orang mempercayainya dan beberapa datang kepadanya sambil membawa dana makanan. Jambuka akan menolak dan berkata, "Saya tidak makan apapun kecuali udara." Ketika dipaksa, dia akan mengambil sedikit makanan itu dengan menggunakan ujung rumput kusa, dan berkata: "Sekarang pergilah, sedikit makanan tadi akan memberikan cukup banyak kebajikan bagi anda."

Dengan cara ini, Jambuka hidup selama lima puluh lima tahun, telanjang dan hanya makan kotoran.

Suatu hari Sang Buddha melihat bahwa Jambuka akan mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat. Maka pada sore harinya Sang Buddha pergi ke tempat Jambuka tinggal dan menanyakan dimanakah Ia dapat bermalam. Jambuka menunjukkan sebuah gua yang ada di gunung, tidak jauh dari lempengan batu tempat dimana ia tinggal.

Sewaktu malam jaga pertama*, kedua, dan ketiga, dewa-dewa Catumaharajika, Sakka, dan Mahabrahma datang memberikan penghormatan secara bergantian kepada Sang Buddha. Pada ketiga kesempatan tersebut, hutan itu terang benderang dan Jambuka menyaksikan ketiga cahaya tersebut. Pagi harinya, ia pergi menuju tempat Sang Buddha dan bertanya tentang cahaya tersebut.

Ketika diberitahu bahwa dewa-dewa, Sakka dan Mahabrahma datang memberikan hormat pada Sang Buddha, Jambuka sangat terkesan, dan berkata kepada Sang Buddha: "Engkau pasti, sungguh-sungguh merupakan orang besar bagi para dewa, Sakka, dan Mahabrahma, sehingga mereka datang dan memberikan hormat kepadamu. Sedangkan aku, meskipun telah berlatih hidup sederhana selama 55 tahun, hidup dari udara dan berdiri dengan satu kaki, tidak satu dewa pun, tidak juga Sakka, Mahabrahma pernah datang mengunjungiku."

Sang Buddha berkata kepadanya, "O, Jambuka! Kamu dapat menipu orang lain, tetapi kamu tidak dapat menipuku. Saya tahu bahwa selama 55 tahun kamu makan kotoran dan tidur di tanah."

Lebih jauh Sang Buddha menerangkan kepadanya bagaimana dalam kehidupannya yang lampau pada masa Buddha Kassapa, Jambuka telah menghalangi seorang thera untuk berkunjung ke rumah umat awam yang ingin berdana makanan dan bagaimana ia telah membuang makanan untuk thera tersebut yang dititipkan kepadanya. Karena kejahatannya itulah Jambuka sekarang makan kotoran dan tidur di tanah. Mendengar penjelasan tersebut, Jambuka sangat terkejut dan menyesal telah berbuat jahat dan telah menipu orang lain.

Ia berlutut di hadapan Sang Buddha, dan Sang Buddha memberinya selembar kain untuk dikenakan. Sang Buddha kemudian memberikan khotbah; dan pada akhir khotbah, Jambuka mencapai tingkat kesucian arahat serta menjadi murid Sang Buddha.

Murid Jambuka dari Anga dan Magadha datang dan mereka sangat terkejut melihat Jambuka bersama Sang Buddha. Jambuka menjelaskan kepada mereka bahwa ia telah menjadi anggota Sangha dan menjadi murid Sang Buddha. Kepada mereka Sang Buddha berkata, meskipun guru mereka telah hidup sederhana dengan makan makanan yang sangat sedikit sekali, tetapi hal itu tidak ada manfaatnya, bahkan tidak bernilai 1/16 bagian dari latihan dan pencapainnya yang sekarang.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Māse mase kusaggena bālo bhuñjetha bhojanaṃ
na so saṃkhātadhammānaṃ kalaṃ nāgghati soḷasiṃ."

Biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya dengan ujung rumput kusa,
namun demikian ia tidak berharga seperenambelas dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik.
----------

Notes :
* jaman dahulu, waktu malam hari dibagi menjadi 3 bagian; yaitu malam jaga pertama (jam 6 – 10 malam), malam jaga kedua ( jam 10 malam – 2 pagi) , dan malam jaga ketiga (jam 2 - 6 pagi ).

Sunday, 7 November 2010

Kisah Ahipeta (Dhammapada 5 : 71)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(71) Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
Demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.
------------------------------------------------------------------------------------------------

Murid utama Sang Buddha, Maha Moggallana Thera sedang dalam perjalanan untuk menerima dana makanan bersama Lakkhana Thera di Rajagaha. Ketika melihat sesuatu, beliau tersenyum, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Setelah tiba di vihara, Maha Moggallana Thera memberitahu Lakkhana Thera, bahwa beliau tersenyum karena melihat makhluk peta (hantu kelaparan) dengan kepala manusia dan bertubuh ular.

Sang Buddha kemudian berkata bahwa beliau sendiri telah melihat makhluk peta tersebut pada saat Beliau mencapai Penerangan sempurna. Sang Buddha juga menerangkan bahwa di waktu yang lampau, ada seorang Paccekabuddha yang dihormati oleh banyak orang. Orang-orang pergi ke mengunjungi pondok kediaman beliau harus melalui sebuah ladang. Pemilik ladang tersebut khawatir ladangnya akan rusak disebabkan oleh banyak orang lalu lalang pergi ke pondok, membakar pondok itu. Akibatnya Paccekabuddha itu harus berpindah ke tempat lain. Murid-murid Paccekabuddha menjadi sangat marah kepada pemilik ladang tersebut, mereka memukuli dan membunuhnya.

Pemilik ladang itu dilahirkan kembali di neraka Avici. Kelahirannya saat sekarang ini sebagai makhluk setan, merupakan akibat dari perbuatan buruk yang telah ia lakukan pada masa lampau.

Pada akhir penjelasannya, Sang Buddha berkata, "Sebuah perbuatan buruk tidak langsung berbuah, tetapi akan selalu mengikuti si pembuat kejahatan. Tidak ada yang dapat melarikan diri dari akibat perbuatan jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na hi pāpaṃ kataṃ kammaṃ
sajju khīraṃ va mucchati
ḍahantaṃ bālam anveti
bhasmācchanno va pāvako."

Suatu perbuatan jahat yang telah dilakukan tidak segera menghasilkan buah,
seperti air susu yang tidak langsung menjadi dadih;
Demikianlah perbuatan jahat mengikuti orang bodoh,
seperti api membara yang tertutup abu.

Saturday, 6 November 2010

Kisah Satthikutapeta (Dhammapada 5 : 72)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(72) Keahlian bagi orang yang bodoh, dapat mencelakai dirinya sendiri
menghancurkan perbuatan baik dan kebijaksanaannya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Murid utama Maha Moggallana melihat makhluk peta (hantu kelaparan) yang sangat besar, ketika sedang menerima dana makanan bersama Lakkhana Thera.

Berkenaan dengan hal ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa makhluk itu bernama Satthikuta, pada salah satu kehidupannya yang lampau, adalah seorang yang sangat pandai melempar batu. Pada suatu hari, dia minta izin dari gurunya untuk menguji ketrampilannya. Gurunya berkata agar tidak melempar seekor sapi, atau manusia, yang akan menyebabkan dia harus membayar kerugian kepada pemiliknya atau sanak keluarganya. Ia disarankan untuk mencari sasaran yang tidak ada pemiliknya atau tidak ada walinya.

Ketika melihat seorang Paccekabuddha, orang bodoh itu berpikir, bahwa Paccekabuddha, tidak mempunyai sanak saudara maupun wali, adalah sasaran yang tepat. Maka dia melempar sebuah batu kepada Paccekabuddha yang sedang berpindapatta. Batu itu masuk ke dalam satu telinga Paccekabuddha dan keluar pada telinga satunya. Paccekabuddha itu meninggal dunia begitu sampai di vihara. Pelempar batu itu mati dibunuh oleh pengikut-pengikut Paccekabuddha, dan ia dilahirkan kembali di neraka Avici.

Setelah itu, dia dilahirkan kembali sebagai makhluk peta, dan sejak itu dia mengalami akibat dari perbuatan buruk yang telah dilakukan, sebagai makhluk peta dengan kepala yang sangat besar dan terus menerus dipukul palu yang membara.

Pada akhir penjelasan, Sang Buddha berkata, "Bagi orang bodoh, ketrampilan atau pengetahuan tidak ada gunanya; hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yāvad eva anatthāya ñattaṃ bālassa jāyati
hanti bālassa sukkaṃsaṃ muddham assa vipātayaṃ."

Keahlian bagi orang yang bodoh, dapat mencelakai dirinya sendiri
menghancurkan perbuatan baik dan kebijaksanaannya (membelah kepalanya sendiri).

Friday, 5 November 2010

Kisah Citta, Seorang Perumah Tangga (Dhammapada 5 : 73-74)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(73) Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin didahulukan di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan penghormatan dari perumahtangga.

(74) "Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini dilakukan olehku,
dan mematuhiku dalam semua hal, besar atau kecil"
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Citta, seorang perumah tangga, suatu hari berjumpa dengan Mahanama Thera, salah seorang dari lima bhikkhu pertama (pancavaggiya), yang sedang berpindapatta, dan mengundang thera tersebut ke rumahnya.

Di sana, ia mendanakan makanan kepada thera tersebut dan setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Mahanama Thera, Citta mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian, Citta membangun sebuah vihara di kebun mangganya. Di sana, ia memenuhi kebutuhan semua bhikkhu yang datang ke viharanya dan bhikkhu Sudhamma tinggal di tempat itu.

Suatu hari, dua orang murid utama Sang Buddha, Y.A. Sariputta dan Y.A. Maha Moggallana, datang ke vihara tersebut. Setelah mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Y.A. Sariputta, Citta mencapai tingkat kesucian anagami.

Kemudian, ia mengundang dua murid utama sang Buddha tersebut ke rumahnya untuk menerima dana makan esok hari. Ia juga mengundang bhikkhu Sudhamma, tetapi beliau menolak dengan marah dan berkata, "Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut."

Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, "Aku tidak ingin tinggal di viharamu lagi!" dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, "Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu." Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta belum mau memaafkannya. maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, "Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, "ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku," dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

"Asataṃ bhāvanam iccheyya
Purekkhārañ ca bhikkhusu
āvāsesu ca issariyaṃ
pūjā parakulesu ca.

“Mam’ eva kata maññantu gihī pabbajitā ubho
Mam’ evātivasā assu kiccākiccesu kismici”
iti bālassa saṃkappo, icchā māno ca vaḍḍhati."

Seorang bhikkhu yang bodoh,
menginginkan ketenaran yang keliru,
ingin didahulukan di antara para bhikkhu,
ingin berkuasa dalam vihara-vihara,
dan penghormatan dari perumahtangga.

"Biarlah umat awam dan para bhikkhu berpikir bahwa hal ini dilakukan olehku,
dan mematuhiku dalam semua hal, besar atau kecil"
demikianlah ambisi bhikkhu yang bodoh itu,
keinginan serta kesombongannya pun terus bertambah.

Setelah khotbah dhamma itu berakhir, Sudhamma pergi ke rumah Citta, dan pada saat itu mereka dapat berdamai. Dalam waktu tidak beberapa lama, Sudhamma mencapai tingkat kesucian arahat.
----------

Notes :

* Biasanya, sebelum mengundang bhikkhu lain, Citta akan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan bhikkhu Sudhamma, kali ini tidak, bahkan bhikkhu Sudhamma diundang setelah mengundang kedua siswa utama tsb.

**Citta belum mau memaafkan karena Citta merasa bahwa bhikkhu Sudhamma masih belum menyadari penuh apa kesalahannya.

Tetapi, dalam komentar yang lain, penjelasannya sedikit berbeda: bhikkhu Sudhamma sudah mendekati tempat tinggal Citta, ia merasa sangat malu dan akhirnya berbalik pulang tanpa menemui Citta. Bhikkhu-bhikkhu yang lain bertanya kepadanya apakah ia telah meminta maaf, setelah mengetahui bahwa ternyata ia belum meminta maaf, melaporkannya kepada Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha menyarankan agar seorang bikkhu lain menemani bikkhu Sudhamma meminta maaf. Akhirnya bhikkhu Sudhamma meminta maaf kepada Citta dan Citta memaafkannya. (Cv 1:18-24).

Thursday, 4 November 2010

Kisah Samanera Tissa Yang Berdiam Di Hutan (Dhammapada 5 : 75)

V. Bala Vagga - Orang Bodoh

(75) Ada jalan menuju pada keuntungan duniawi, dan
ada jalan lain yang menuju ke Nibbana.
Setelah menyadari hal ini dengan jelas,
hendaklah seseorang bhikkhu siswa Sang Buddha
tidak bergembira dalam hal-hal duniawi,
tetapi mengembangkan pembebasan diri.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tissa adalah seorang putra hartawan dari Savatthi. Ayahnya biasa memberi dana makanan kepada Murid Utama Sang Buddha, Sariputta Thera di rumahnya. Karenanya sejak kecil Tissa sudah sering berjumpa YA Sariputta dalam banyak kesempatan.

Pada umur 7 tahun ia menjadi seorang samanera dibawah bimbingan Sariputta Thera. Ketika ia tinggal di Vihara Jetavana, banyak teman dan saudara-saudaranya yang mengunjunginya, membawa pemberian/hadiah dan dana. Samanera berpikir bahwa kunjungan ini sangat menjemukan, sehingga setelah mempelajari salah satu objek meditasi dari Sang Buddha, ia pergi ke menuju vihara di hutan. Setiap kali penduduk mendanakan sesuatu, Tissa hanya berkata "Semoga kamu berbahagia, bebas dari penderitaan," (Sukhita hotha, dukkha muccatha), dan kemudian ia berlalu.

Ketika tinggal di vihara hutan, ia tekun dan rajin berlatih meditasi, dan pada akhir bulan ketiga ia mencapai tingkat kesucian arahat.

Setelah selesai masa vassa, Y.A. Sariputta ditemani oleh Y.A. Maha Moggallana dan beberapa orang bhikkhu senior datang mengunjungi Samanera Tissa, dengan seizin Sang Buddha.

Seluruh penduduk desa keluar untuk menyambut Y.A. Sariputta bersama rombongan 4.000 bhikkhu. Mereka juga memohon agar Y.A. Sariputta berkenan menyampaikan khotbah, tetapi sang murid utama meminta muridnya, Samanera Tissa, untuk menyampaikan khotbah kepada penduduk desa.

Para penduduk desa, berkata bahwa guru mereka, Samanera Tissa, hanya dapat berkata, "Semoga anda berbahagia, bebas dari penderitaan," dan mohon kepada Y.A. Sariputta untuk menugaskan bhikkhu yang lain.

Tetapi Y.A. Sariputta tetap meminta Samanera Tissa untuk memberikan khotbah dhamma, dan berkata kepada Tissa, "Tissa, berbicaralah kepada mereka tentang dhamma, dan tunjukkanlah kepada mereka bagaimana mencapai kebahagiaan dan bagaimana bebas dari penderitaan."

Demikianlah, mematuhi gurunya, Samanera Tissa pergi menuju tempat ceramah untuk berkhotbah. Ia menjelaskan kepada para penduduk desa, arti kelompok kehidupan (khandha), landasan indria dan objek indria (ayatana), faktor-faktor menuju penerangan/Pencerahan sempurna (Bodhipakkhiya Dhamma), jalan menuju kesucian arahat dan nibbana, dan sebagainya. Dan akhirnya ia mengakhirinya dengan "Mereka yang mencapai tingkat kesucian arahat terbebas dari semua penderitaan dan mencapai kedamaian sempurna; sementara yang lainnya masih berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir (samsara)."

Y.A. Sariputta memuji Tissa telah menyampaikan khotbah Dhamma dengan baik.
Fajar mulai menyingsing ketika ia menyelesaikan uraiannya, dan seluruh penduduk desa sangat terkesan. Beberapa dari mereka terkejut karena Samanera Tissa memahami Dhamma dengan baik, tetapi mereka juga merasa tidak puas, karena sebelumnya ia hanya sedikit mengajarkan Dhamma kepada mereka; sedangkan yang lain merasa bahagia mengetahui samanera tersebut sangat terpelajar dan merasa bahwa mereka sangat beruntung Samanera Tissa berada di antara mereka.

Sang Buddha, dengan kemampuan batin luar biasa-Nya, melihat dari Vihara Jetavana bahwa timbul dua kelompok penduduk desa, kemudian Beliau menampakkan diri, untuk menjernihkan kesalah-pahaman yang ada. Sang Buddha tiba di pagi hari ketika para penduduk desa sedang menyiapkan dana makanan untuk para bhikkhu. Maka, mereka mempunyai kesempatan untuk berdana makanan kepada Sang Buddha. Setelah bersantap, Sang Buddha berkata kepada para penduduk desa, "O umat awam, kamu semua sangat beruntung memiliki Samanera Tissa di antara kalian. Karena dengan kehadirannya di sini, aku, murid-murid utama-Ku, bhikkhu-bhikkhu senior dan banyak bhikkhu lainnya saat ini hadir mengunjungi kalian." Kata-kata ini menyadarkan para penduduk desa bagaimana beruntungnya mereka bersama Samanera Tissa dan mereka sangat puas.

Sang Buddha kemudian menyampaikan khotbah kepada para penduduk desa dan para bhikkhu, dan kemudian beberapa dari mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Selesai menyampaikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana. Sore harinya, para bhikkhu memuji Samanera Tissa dihadapan Sang Buddha, "Bhante, Samanera Tissa telah melakukan sesuatu yang tidak mudah, meskipun ia telah memperoleh pemberian dan dana dari orang-orang Savatthi, tetapi meninggalkannya dan pergi hidup sederhana di dalam hutan."

Kepada mereka Sang Buddha menjelaskan, "Para bhikkhu, seorang bhikkhu, baik di kota ataupun di desa, seharusnya ia tidak hidup disana hanya karena demi pemberian dan dana semata. Jika seorang bhikkhu meninggalkan semua keuntungan keduniawian dan rajin melaksanakan Dhamma, maka ia pasti akan mencapai tingkat kesucian arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Aññā hi lābhūpanisā aññā nibbānagāminī,
evam etaṃ abhiññāya bhikkhu Buddhassa sāvako
sakkāraṃ nābhinandeyya vivekam anubrūhaye."

Ada jalan menuju pada keuntungan duniawi,
dan ada jalan lain yang menuju ke Nibbana.
Setelah menyadari hal ini dengan jelas,
hendaklah seseorang bhikkhu siswa Sang Buddha
tidak bergembira dalam hal-hal duniawi,
tetapi mengembangkan pembebasan diri.