Showing posts with label 13. Loka Vagga. Show all posts
Showing posts with label 13. Loka Vagga. Show all posts

Monday, 16 August 2010

Kisah Seorang Bhikkhu Muda (Dhammapada 13 : 167)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(167) Janganlah mengejar sesuatu yang rendah,
janganlah hidup dalam kelengahan.
Janganlah menganut pandangan-pandangan salah,
dan janganlah menjadi pendukung keduniawian.
-------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat seorang bhikkhu muda menemani seorangan bhikkhu tua menuju ke rumah Visakha. Setelah menerima dana makanan, bhikkhu tua pergi ke tempat lain, meninggalkan bhikkhu muda di rumah Visakha. Cucu perempuan Visakha sedang menyaring air untuk bhikkhu muda. Ketika ia melihat bayangannya sendiri pada panci besar ia tersenyum. Melihat ia tersenyum, bhikkhu muda menatapnya dan balas tersenyum. Ketika ia melihat bhikkhu muda itu menatapnya dan tersenyum padanya, ia menjadi marah, dan berteriak, "Kamu, kepala gundul! Mengapa kau tersenyum padaku?"

Sang bhikkhu muda menjawab, "Dirimu adalah kepala gundul; ayah dan ibumu juga berkepala gundul!" Kemudian, mereka bertengkar dan sang gadis dengan bercucuran air mata pergi kepada neneknya.

Visakha datang dan berkata kepada bhikkhu muda, "Tolong janganlah marah kepada cucu saya. Bukankah seorang bhikkhu memang berkepala gundul, kuku tangan dan kakinya dipotong, dan memakai jubah yang terbuat dari potongan-potangan kain, bepergian untuk menerima dana makanan dengan sebuah mangkuk yang bundar. Apakah yang telah dikatakan oleh gadis muda ini benar?"

Sang Bhikku muda menjawab, "Itu memang benar, tapi mengapa ia harus memaki saya karena hal tersebut ?" Pada saat itu bhikkhu yang lebih tua datang kembali, tetapi mereka berdua, Visakha dan bhikkhu tua gagal mendamaikan bhikkhu muda dan sang gadis.

Tidak lama kemudian, Sang Buddha tiba dan mengetahui tentang pertengkaran tadi. Sang Buddha tahu bahwa sudah saatnya bagi bhikkhu muda untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Dalam usaha untuk membuat bhikkhu muda lebih mendengarkan kata-kataNya, Beliau nampaknya berpihak kepadanya dan berkata kepada Visakha, "Visakha ada alasan apa bagi cucumu untuk menegur putraku sebagai seorang berkepala gundul hanya karena ia memiliki kepala yang gundul ? Bagaimanapun, ia menggunduli kepalanya untuk mengikutiKu, bukan ?"

Mendengar kata-kata ini bhikkhu muda berlutut, memberi hormat kepada Sang Buddha, dan berkata, "Bhante, hanya Bhante yang mengerti saya; bukanlah guru saya ataupun dermawan kaya dari vihara ini yang mengerti saya." Sang Buddha tahu bahwa sang bhikkhu kemudian mau menerima dan Beliau berkata, "Tersenyum dengan hawa nafsu adalah tercela, adalah tidak benar dan tidak pantas memiliki pikiran-pikiran rendah."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut :

"Hīnaṃ dhammaṃ na seveyya pamādena na saṃvase
micchādiṭṭhiṃ na seveyya na siyā lokavaḍḍhano."

Janganlah mengejar sesuatu yang rendah,
janganlah hidup dalam kelengahan.
Janganlah menganut pandangan-pandangan salah,
dan janganlah menjadi pendukung keduniawian.

Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
---------

Notes :

Just in case ada yang bingung, kenapa kok dari senyum aja bisa jadi ribut, berikut ini kemungkinannya.

Si cucu tersenyum sendiri karena melihat bayangannya (biasanya cewek memang suka senyum-senyum sendiri kalau lagi berkaca dan mematut-matut diri, sementara kalau cowok jika berkaca dengan pakaian baru/jas biasanya akan berdiri tegap-tegap sambil berkaca :), dan si bhikkhu muda lalu menanggapi dengan senyuman balik yang dianggap cucu Visakha sebagai kekurangajaran, sehingga mereka akhirnya bertengkar.

Dari cerita yang hanya sepotong diatas, dan menilik komentar Sang Buddha, kita hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi; kemungkinan si bhikkhu muda ‘memandangi’ dan bukan cuma ‘melihat’ cucu Visakha, dan mungkin ia membalas senyuman cucu Visakha dengan cara yang tidak sopan misalnya senyum genit dan atau senyum dengan pikiran yang tidak murni.

Kemungkinan kedua adalah si cucu Visakha ini yang dimaksud Sang Buddha ketika mengatakan ‘senyum dengan ‘nafsu’ adalah tercela’, karena jika si cucu Visakha ini ‘mengaca’ dengan pikiran narsis, ini juga termasuk nafsu yang halus. Tetapi jika si cucu tersenyum karena melihat bayangannya yang kelihatan lucu (coba deh berkaca di panci atau disendok), tentunya ini tidak berlaku.

Sunday, 15 August 2010

Kisah Raja Suddhodana (Dhammapada 13 : 168-169)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(168) Bangun! Jangan lengah!
Tempuhlah kehidupan benar.
Barang siapa menempuh kehidupan benar,
maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.

(169) Hendaklah seseorang hidup sesuai dengan Dhamma
dan tak menempuh cara-cara jahat.
Barang siapa hidup sesuai Dhamma,
maka ia akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika Sang Buddha kembali mengunjungi Kapilavatthu untuk pertama kalinya Beliau tinggal di Vihara Nigrodharama. Di sana Beliau menjelaskan Dhamma kepada sanak saudaranya. Raja Suddhodana berpikir bahwa Buddha Gotama, yang adalah anaknya sendiri, tidak akan pergi ke tempat lain, tetapi pasti akan datang di istananya untuk menerima dana makanan pada hari berikutnya; tetapi ia tidak dengan resmi mengundang Sang Buddha datang untuk menerima dana makanan. Bagaimanapun, pada hari berikutnya, ia menyediakan dana makanan untuk dua puluh ribu bhikkhu. Pada pagi hari itu Sang Buddha berjalan untuk menerima dana makanan bersama dengan rombongan para bhikkhu, seperti kebiasaan semua Buddha.

Yasodhara, istri Pangeran Siddhattha sebelum beliau meninggalkan hidup keduniawian, melihat Sang Buddha berjalan untuk menerima dana makanan dari jendela istana. Dia memberitahukan ayah mertuanya, Raja Suddhodana, dan sang raja tergesa-gesa menghampiri Sang Buddha. Raja berkata kepada Sang Buddha bahwa untuk seorang kasta Khattiya (Kshatria), berkeliling meminta makanan dari pintu ke pintu adalah memalukan. Kemudian Sang Buddha menjawab bahwa itu merupakan kebiasaan semua Buddha untuk berkeliling menerima dana makanan dari rumah ke rumah, dan oleh karena itu adalah benar dan layak bagi Beliau untuk tetap menjaga tradisi itu.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Uttiṭṭhe na-ppamajjeyya dhammaṃ sucaritaṃ care,
dhammacārī sukhaṃ seti asmiṃ loke paramhi ca.

Dhammaṃ care sucaritaṃ na naṃ duccaritaṃ care,
dhammacārī sukhaṃ seti asmiṃ loke paramhi ca”

Bangun! Jangan lengah!
Tempuhlah kehidupan benar.
Barang siapa menempuh kehidupan benar,
maka ia akan hidup bahagia
di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.

Hendaklah seseorang hidup sesuai dengan Dhamma
dan tak menempuh cara-cara jahat.
Barang siapa hidup sesuai Dhamma,
maka ia akan hidup bahagia di dunia ini
maupun di dunia selanjutnya.

Raja Suddhodana mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.


Saturday, 14 August 2010

Kisah Lima Ratus Bhikkhu (Dhammapada 13 : 170)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(170) Barangsiapa dapat memandang dunia ini seperti melihat busa
atau seperti ia melihat fatamorgana,
maka Raja Kematian tidak dapat menemukan dirinya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada suatu saat, lima ratus bhikkhu, setelah memperoleh petunjuk meditasi dari Sang Buddha, pergi masuk ke hutan untuk melatih meditasi. Tetapi mereka mendapat kemajuan yang sangat sedikit, sehingga mereka kembali kepada Sang Buddha untuk menanyakan objek meditasi yang lebih cocok. Dalam perjalanan menghadap Sang Buddha, mereka melihat fatamorgana, kemudian bermeditasi tentang hal itu. Segera setelah mereka memasuki halaman vihara, terjadi angin besar, hujan besar turun, gelembung-gelembung terbentuk di permukaan tanah dan segera menghilang. Melihat gelembung-gelembung tadi, para bhikkhu merenung, "Tubuh kami ini tidak kekal seperti gelembung-gelembung tadi", dan menyadari ketidakkekalan dari kumpulan-kumpulan itu (khandha).

Sang Buddha melihat mereka dari kamarNya yang harum dan terus menerus memancarkan cahaya, serta menerangi batin mereka.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yathā bubbulakaṃ passe yathā passe marīcikaṃ
evaṃ lokaṃ avekkhantaṃ maccurājā na passati."

Barangsiapa dapat memandang dunia ini
seperti melihat busa atau seperti ia melihat fatamorgana,
maka Raja Kematian tidak dapat menemukan dirinya.

Lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Friday, 13 August 2010

Kisah Pangeran Abhaya (Dhammapada 13 : 171)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(171) Marilah, lihat dunia ini, seperti kereta kerajaan yang penuh hiasan,
yang membuat orang bodoh terlelap di dalamnya.
Tetapi bagi orang yang mengetahui,
maka tak ada lagi ikatan dalam dirinya.
--------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu, Pangeran Abhaya pulang kembali dengan kemenangan setelah berhasil memberantas sebuah pemberontakan di perbatasan negara. Raja Bimbisara sangat senang kepadanya sehingga selama tujuh hari, Abhaya yang telah memberikan kejayaan dan kemuliaan negara mendapat sambutan dan hiburan, bersama seorang gadis penari untuk menghiburnya. Pada hari terakhir, ketika si penari sedang menghibur pangeran dan teman-temannya di taman, penari itu terkena stroke yang hebat, dia terjatuh dan meninggal dunia seketika. Pangeran terkejut dan amat sangat sedih. Dengan sedih, pangeran pergi menemui Sang Buddha untuk mencari pelipur lara. Kepadanya Sang Buddha berkata, "O Pangeran, air mata yang engkau cucurkan melalui kelahiran yang berulang-ulang tidak dapat diukur. Kumpulan-kumpulan di dunia ini (khandha) adalah tempat dimana orang bodoh terlelap di dalamnya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Etha passath’ imaṃ lokaṃ cittaṃ rājarathūpamaṃ
yattha bālā visīdanti, n’ atthi saṅgo vijānataṃ."

Marilah, lihatlah dunia ini (panca khanda),
yang seperti kereta kerajaan yang penuh hiasan,
yang membuat orang bodoh terlelap di dalamnya.
Tetapi bagi orang yang mengetahui,
maka tak ada lagi ikatan dalam dirinya.
----------

Notes :

Kisah diatas mirip dengan kisah Menteri Santati di kisah nomer 142.

Thursday, 12 August 2010

Kisah Sammajjana Thera (Dhammapada 13 : 172)

XIII. Loka Vagga– Dunia

(172) Barang siapa yang sebelumnya pernah lengah,
tetapi kemudian tidak lengah,
maka ia akan menerangi dunia ini
bagaikan bulan yang terbebas dari awan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Sammajjana Thera menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menyapu halaman vihara. Pada waktu itu, Revata Thera juga tinggal di vihara, tetapi tidak seperti Sammajjana, Revata Thera mempergunakan sebagian besar waktunya untuk bermeditasi atau pemusatan batin secara mendalam. Melihat kebiasaan Revata Thera, Sammajjana Thera berpikir bahwa Thera-Thera yang lain hanya bermalas-malasan saja menghabiskan waktunya.

Suatu hari Sammajjana pergi menemui Revata Thera dan berkata, "Kamu sangat malas, hidup dari pemberian makanan yang diberikan dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati, tidakkah kamu berpikir kamu sewaktu-waktu harus membersihkan lantai, halaman, atau tempat-tempat lain?"

Revata Thera menjawab, "Teman, seorang bhikkhu tidak seharusnya menghabiskan seluruh waktunya untuk menyapu. Ia harus menyapu pagi-pagi sekali, kemudian pergi untuk menerima dana makanan. Setelah makan, sambil merenungkan kondisi tubuhnya ia harus berusaha untuk menyadari kesunyataan tentang kumpulan-kumpulan kehidupan (khandha), atau lainnya, mengulang pelajaran sampai malam tiba. Kemudian ia dapat melakukan lagi pekerjaan menyapu jika ia menginginkannya."

Sammajjana Thera dengan tekun mengikuti saran yang diberikan oleh Revata Thera dan tidak lama kemudian Sammajjana mencapai tingkat kesucian arahat.

Bhikkhu-bhikkhu lain mengetahui sampah yang tertimbun di halaman. Mereka bertanya kepada Sammajjana, mengapa ia tidak menyapu seperti biasanya, Sammajjana menjawab, "Ketika saya tidak sadar, saya setiap saat menyapu, tetapi sekarang saya tidak lagi lengah." Ketika para bhikkhu mendengar jawaban tersebut, mereka menjadi sangsi, sehingga mereka pergi menghadap Sang Buddha, dan berkata, "Bhante, Sammajjana Thera secara tidak benar mengatakan dirinya sendiri telah menjadi seorang arahat, ia mengatakan yang tidak benar." Kepada mereka, Sang Buddha menjawab, "Sammajjana telah benar-benar mencapai tingkat kesucian arahat, ia mengatakan hal yang sebenarnya."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yo ca pubbe pamajjitvā pacchā so na-ppamajjati
so ‘maṃ lokaṃ pabhāseti abbhā mutto va candimā."

Barang siapa yang sebelumnya pernah lengah,
tetapi kemudian tidak lengah,
maka ia akan menerangi dunia ini
bagaikan bulan yang terbebas dari awan.

Wednesday, 11 August 2010

Kisah Angulimala Thera (Dhammapada 13 : 173)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(173) Barang siapa meninggalkan perbuatan jahat
yang pernah dilakukan dengan jalan berbuat kebajikan,
maka ia akan menerangi dunia ini
bagai bulan yang bebas dari awan.
-------------------------------------------------------------------------------------------

Angulimala adalah putra seorang kepala pendeta di istana Raja Pasenadi dari Kosala. Nama aslinya adalah Ahimsaka. Ketika dia sudah cukup umur, ia dikirim ke Taxila, sebuah universitas besar yang terkenal. Ahimsaka sangat pandai dan juga patuh kepada gurunya. Oleh karena itu ia di senangi oleh guru maupun isteri gurunya. Murid-murid yang lain menjadi iri hati kepadanya. Mereka pergi kepada gurunya dan dengan berbohong melaporkan bahwa Ahimsaka terlibat hubungan gelap dengan isteri gurunya. Mulanya, sang guru tidak mempercayai mereka, tetapi setelah di sampaikan beberapa kali dia mempercayai mereka. Dia bersumpah untuk membalas dendam kepada Ahimsaka. Jika ia membunuh Ahimsaka, akan merusak reputasinya,  karenanya ia memikirkan sebuah rencana yang lebih buruk daripada pembunuhan. Ia mengatakan kepada Ahimsaka untuk membunuh seribu orang laki-laki maupun perempuan dan dia berjanji untuk memberikan kepada Ahimsaka pengetahuan yang tak ternilai. Anak itu ingin memiliki pengetahuan ini, tetapi sangat segan untuk membunuh. Terpaksa dia menyetujui dan melaksanakan apa yang dikatakan gurunya.

Ahimsaka lalu membunuh banyak orang, dan agar ia tidak lalai menghitung, ia merangkai jari dari setiap orang yang dibunuhnya, dan mengalungkan kalung jari itu di lehernya. Oleh karena itu dia terkenal dengan nama Angulimala (anguli = jari, mala = kalung), dan menjadi pengacau daerah itu. Raja mendengar perihal perbuatan Angulimala, dan ia membuat persiapan untuk menangkapnya. Mantani, ibu dari Angulimala, mendengar maksud raja. Karena cinta pada anaknya, ia memasuki hutan, dan berusaha untuk menyelamatkan anaknya. Pada waktu itu, kalung jari di leher Angulimala telah mencapai sembilan ratus sembilan puluh sembilan jari, dan tinggal satu jari akan menjadi seribu.

Pagi-pagi sekali pada hari itu, Sang Buddha melihat Angulimala dalam penglihatan-Nya, dan berpikir bahwa jika Beliau tidak menghalangi Angulimala, yang sedang menunggu orang terakhir untuk memperoleh seribu jari, akan melihat ibunya dan bisa membunuhnya. Karena itu, Angulimala akan menderita di alam neraka (niraya) yang tiada akhirnya. Dengan perasaan cinta kasih, Sang Buddha menuju hutan di mana Angulimala berada.

Angulimala, setelah lama tidak tidur siang dan malam, sangat letih dan lelah. Pada saat yang sama, dia sangat tidak sabar untuk membunuh orang terakhir agar jumlah seribu jari terpenuhi, dan menyempurnakan tugasnya. Dia memutuskan untuk membunuh orang pertama yang dijumpainya hari itu. Ketika sedang menunggu, tiba-tiba dia melihat Sang Buddha dan mengejar-Nya dengan pedang terhunus. Tetapi Sang Buddha tidak dapat dikejar sehingga dirinya sangat lelah.

Sambil melihat Sang Buddha, dia berteriak, "O bhikkhu, berhenti, berhenti!" , dan Sang Buddha menjawab, "Aku telah berhenti, kamulah yang belum berhenti".

Angulimala tidak mengerti arti kata-kata Sang Buddha, sehingga dia bertanya, "O bhikkhu! Mengapa engkau berkata bahwa engkau telah berhenti dan saya belum berhenti?"

Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya, "Aku berkata bahwa aku telah berhenti, karena aku telah berhenti membunuh semua makhluk, aku telah berhenti menyiksa semua makhluk, dan karena aku telah mengembangkan diriku dalam cinta kasih yang universal, kesabaran, dan pengetahuan yang tanpa cela. Tetapi, kamu belum berhenti membunuh atau menyiksa makhluk lain dan kamu belum mengembangkan dirimu dalam cinta kasih yang universal dan kesabaran. Karena itu, kamulah yang belum berhenti".

Begitu mendengar kata-kata ini dari mulut Sang Buddha, Angulimala berpikir, "Ini adalah kata-kata orang yang bijaksana. Bhikkhu ini amat sangat bijaksana dan amat sangat berani, dia pasti adalah pemimpin para bhikkhu. Tentu, dia pasti adalah Sang Buddha sendiri! Dia pasti datang kemari khusus untuk membuat saya menjadi sadar".

Dengan berpikir demikian, dia melemparkan senjatanya dan memohon kepada Sang Buddha untuk diterima menjadi bhikkhu. Kemudian di tempat itu juga, Sang Buddha menerimanya menjadi seorang bhikkhu.

Ibu Angulimala mencari anaknya di dalam hutan dengan menyebut-nyebut namanya, tetapi gagal menemukannya. Ia kembali ke rumah. Ketika raja dan para prajuritnya datang untuk menangkap Angulimala, mereka menemukannya di vihara Sang Buddha. Mengetahui bahwa Angulimala telah menghentikan perbuatan jahatnya dan menjadi seorang bhikkhu, raja dan para prajuritnya kembali pulang. Selama tinggal di vihara, Angulimala dengan rajin dan tekun melatih meditasi, dalam waktu yang singkat dia mencapai tingkat kesucian arahat.

Pada suatu hari ketika Angulimala sedang berjalan untuk menerima dana makanan, dia melewati suatu tempat di mana terjadi pertengkaran antara sekumpulan orang. Ketika mereka saling melemparkan batu-batu, beberapa batu mengenai kepala Angulimala dan ia terluka berat.

Dia berjalan pulang menemui Sang Buddha, dan Sang Buddha berkata kepadanya, "Angulimala anakKu! Kamu telah melepaskan perbuatan jahat. Bersabarlah. Saat ini kamu sedang menerima akibat perbuatan-perbuatan jahat yang telah kamu lakukan. Perbuatan-perbuatan jahat itu bisa menyebabkan penderitaan yang tak terkira lamanya dalam alam neraka (niraya)".

Segera setelah itu, Angulimala meninggal dunia dengan tenang, dia telah merealisasi "Kebebasan Akhir" (parinibbana).

Para bhikkhu yang lain bertanya kepada Sang Buddha dimanakah Angulimala akan bertumimbal lahir, Sang Buddha menjawab, "Anak-Ku telah merealisasi kebebasan akhir (parinibbana)".

Mereka hampir tidak mempercayainya. Sehingga mereka bertanya lagi kepada Sang Buddha apakah mungkin seseorang yang sudah begitu banyak membunuh manusia dapat mencapai parinibbana.

Terhadap pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, "Para bhikkhu, Angulimala telah banyak melakukan perbuatan jahat karena dia tidak memiliki teman-teman yang baik. Tetapi kemudian, dia menemukan teman-teman yang baik dan dengan bantuan mereka serta nasehat yang baik dia telah dengan mantap dan penuh perhatian melaksanakan Dhamma. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan jahatnya telah disingkirkan oleh kebaikan (arahatta magga)".

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Yassa pāpaṃ kataṃ kammaṃkusalena pithīyati
so `maṃ lokaṃ pabhāseti abbhā mutto va candimā."

Barang siapa meninggalkan perbuatan jahat yang pernah dilakukan
dengan jalan berbuat kebajikan,
maka ia akan menerangi dunia ini
bagai bulan yang bebas dari awan.
-----------

Notes :

Suatu waktu Angulimala berkata kepada Sang Buddha: "Bhante, ketika pagi hari menjelang, saya mengenakan jubah dan, setelah mengambil mangkuk dan jubah luar, saya pergi ke Savatthi untuk pindapata. Ketika saya berjalan dari rumah ke rumah untuk pindapata, saya melihat seorang wanita dalam kesulitan untuk melahirkan anak. Ketika melihat hal itu, saya berpikir: 'Betapa menderita makhluk ini; makhluk hidup benar-benar menderita!'

 'Jika begitu, Angulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada wanita itu: "Saudari, sejak dilahirkan tak pernah aku membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau dan bayi dalam kandunganmu selamat.'

'Bhante, tidaklah saya berbohong secara sadar dengan berkata begitu? Sudah banyak makhluk hidup saya bunuh dengan sengaja.'

'Jika demikian Angulimala, pergilah ke Savatthi dan katakan kepada wanita itu: "Saudari, sejak aku dilahirkan sebagai seorang ariya, tak pernah aku dengan sengaja membunuh makhluk hidup. Dengan kebenaran ini, semoga engkau dan bayi dalam kandunganmu selamat.

Maka pergilah Angulimala ke sana dan mengucapkan pernyataan kebenaran (sacca-kiriya) tsb, dan wanita itu beserta bayinya selamat dan sehat. Syair ini dikenal sebagai Angulimala Paritta.

Di sini ‘Lahir sebagai ariya’ maksudnya adalah sejak menjadi bhikkhu. Pada waktu itu Angulimala merasakan penyesalan yang amat sangat dalam atas perbuatan jahatnya sebelum menjadi bhikkhu, sedemikian besarnya hingga malah mengganggu dan merupakan penghalang baginya untuk bermeditasi dengan baik. Ia juga selalu terbayang-bayang hutan tempat ia membunuh banyak orang.

Nampaknya, Sang Buddha menggunakan kesempatan ini untuk mengajar Angulimala dan menenangkan hati Angulimala.

Setelah keberhasilannya menolong wanita itu dengan mengucapkan pernyataan kebenaran tsb, Angulimala dapat memfokuskan pikirannya untuk bermeditasi. Dan tak lama kemudian berhasil mencapai tingkat kesucian Arahat.

Tuesday, 10 August 2010

Kisah Gadis Penenun (Dhammapada 13 : 174)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(174) Dunia ini terselubung kegelapan,
dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas.
Bagaikan burung-burung kena jerat,
hanya sedikit yang dapat melepaskan diri;
demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga.
--------------------------------------------------------------------------------------------------

Pada akhir upacara pemberian dana makanan di Alavi, Sang Buddha memberikan khotbah tentang ketidakkekalan dari kumpulan-kumpulan kehidupan (khandha). Hal-hal utama yang ditekankan oleh Sang Buddha pada hari itu dapat dijelaskan seperti di bawah ini:

"Hidupku adalah tidak pasti; bagiku, hanya kematianlah satu-satunya yang pasti.
Aku pasti mati; hidupku berakhir dengan kematian.
Hidup tidaklah pasti; kematian adalah pasti."

Sang Buddha juga menasehati orang-orang yang mendengarkan Beliau agar selalu sadar dan berusaha untuk memahami kesunyataan tentang kelompok kehidupan (khandha). Beliau juga berkata, "Seperti seseorang yang bersenjatakan tongkat atau tombak telah bersiap untuk bertemu dengan musuh (misal seekor ular berbisa), demikian pula halnya seseorang yang selalu sadar terhadap kematian akan menghadapi kematian dengan penuh kesadaran. Kemudian ia akan meninggalkan dunia ini untuk mencapai tujuan kebahagiaan (sugati)."

Banyak orang yang tidak memperhatikan nasehat di atas dengan serius, tetapi seorang gadis penenun muda berusia enam belas tahun mengerti pesan Sang Buddha. Setelah memberikan khotbah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Selang tiga tahun kemudian, ketika Sang Buddha melihat dunia dengan mata batinNya (dibbacakkhu), Beliau melihat si gadis penenun muda tadi dan mengetahui bahwa sudah saatnya bagi gadis itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti. Sehingga Sang Buddha datang ke negara Alavi untuk menjelaskan Dhamma untuk kedua kalinya. Ketika sang gadis mendengar bahwa Sang Buddha telah tiba beserta lima ratus bhikkhu, dia ingin pergi dan mendengarkan khotbah yang akan diberikan oleh Sang Buddha. Tetapi, ayahnya juga meminta kepadanya untuk menggulung beberapa gulungan benang yang dibutuhkan dengan segera, sehingga dia dengan segera menggulung beberapa gulungan dan membawanya kepada ayahnya. Dalam perjalanan menuju ke tempat ayahnya berada, dia berhenti sebentar di bagian belakang orang-orang yang telah tiba untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha.

Ketika itu Sang Buddha mengetahui bahwa gadis penenun muda akan datang untuk mendengarkan khotbah-Nya; Beliau juga mengetahui bahwa sang gadis akan meninggal pada saat dia pergi ke tempat penenunan. Oleh karena itu, sangatlah penting baginya untuk mendengarkan Dhamma dalam perjalanan menuju ke tempat penenunan dan bukan pada saat dia kembali. Jadi, ketika gadis penenun muda itu muncul dalam kumpulan orang-orang, Sang Buddha melihatnya. Ketika dia melihat Sang Buddha menatapnya, dia menjatuhkan keranjangnya dan dengan penuh hormat mendekati Sang Buddha. Kemudian, Sang Buddha memberikan empat pertanyaan kepadanya dan dia menjawab semua pertanyaan tersebut. Pertanyaan dan jawaban diberikan seperti di bawah ini:

Pertanyaan 1, Dari mana asalmu?  Jawaban 1, Saya tidak tahu.
Pertanyaan 2, Kemana kamu akan pergi? Jawaban 2, Saya tidak tahu.
Pertanyaan 3, Tidakkah kau tahu? Jawaban 3, Ya, saya tahu.
Pertanyaan 4, Tahukah kamu? Jawaban 4, Saya tidak tahu, Bhante.

Mendengar jawaban itu, orang-orang berpikir bahwa gadis penenun muda sangat tidak hormat. Kemudian, Sang Buddha meminta untuk menjelaskan apa maksud jawabannya, dan diapun menjelaskan.

"Bhante! Karena Engkau tahu bahwa saya datang dari rumah saya; saya mengartikan pertanyaan pertama Anda, Anda bermaksud untuk menanyakan dari kehidupan yang lampau manakah saya datang, karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu."

Maksud pertanyaan kedua, pada kehidupan yang akan datang manakah akan saya tempuh setelah ini; oleh karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu."

Maksud pertanyaan ketiga, apakah saya tidak tahu bahwa suatu hari saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, "Ya, saya tahu."

Maksud pertanyaan terakhir apakah saya tahu kapan saya akan meninggal dunia; oleh karena itu jawaban saya, "Saya tidak tahu."

Sang Buddha sangat puas dengan penjelasannya dan berkata kepada orang-orang hadir, "Banyak dari kalian yang mungkin tidak mengerti dengan jelas maksud dari jawaban yang diberikan oleh gadis penenun. Mereka yang bodoh berada dalam kegelapan, seperti orang buta."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Andhabhūto ayaṃ loko tanuk’ ettha vipassati,
sakunto jālamutto va appo saggāya gacchati."

Dunia ini terselubung kegelapan, dan hanya sedikit orang yang dapat melihat dengan jelas.
Bagaikan burung-burung kena jerat, hanya sedikit yang dapat melepaskan diri;
demikian pula hanya sedikit orang yang dapat pergi ke alam surga.

Gadis penenun muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

Kemudian, dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat penenunan. Ketika dia sampai di sana, ayahnya sedang tertidur di atas kursi peralatan tenun. Saat ayahnya terbangun dengan tiba-tiba, dia dengan tidak sengaja menarik gulungan dan ujungnya menusuk tepat di dada sang gadis. Gadis penenun muda meninggal dunia di tempat itu juga, dan ayahnya sangat sedih. Dengan berlinang air mata ayah gadis itu pergi menghadap Sang Buddha dan memohon agar Sang Buddha menerimanya sebagai bhikkhu. Ia kemudian menjadi bhikkhu dan tak lama kemudian mencapai tingkat kesucian arahat.

Monday, 9 August 2010

Kisah Tiga Puluh Bhikkhu (Dhammapada 13 : 175)

XIII. LokaVagga – Dunia

(175) Kawanan angsa terbang di lintasan matahari,
orang-orang yang memiliki kekuatan gaib terbang di udara.
Orang bijaksana berjalan menuju kesucian
setelah menaklukkan Mara beserta bala tentaranya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu saat tiga puluh bhikkhu datang untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Ketika mereka masuk, Y.A. Ananda, yang berada di samping Sang Buddha, meninggalkan ruangan dan menunggu di luar. Setelah beberapa waktu, Ananda Thera masuk, tetapi dia tidak menemukan seorang bhikkhu pun. Sehingga, dia bertanya kepada Sang Buddha kemana para bhikkhu itu telah pergi. Kemudian Sang Buddha menjawab, "Ananda, kesemua bhikkhu itu, setelah mendengar khotbah saya, telah mencapai tingkat kesucian arahat, dan dengan kemampuan iddhi, mereka meninggalkan ruang ini dengan terbang di udara."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Haṃsādiccapathe yanti ākāse yanti iddhiyā
nīyanti dhīrā lokaṃhā jetvā Māraṃ savāhanaṃ."

Kawanan angsa terbang di lintasan matahari,
orang-orang yang memiliki kekuatan gaib terbang di udara.
Orang bijaksana berjalan menuju kesucian
setelah menaklukkan Mara beserta bala tentaranya.

Sunday, 8 August 2010

Kisah Cincamanavika (Dhammapada 13 : 176)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(176) Orang yang melanggar Dhamma,
yang berkata tidak benar,
yang tidak memperdulikan dunia mendatang,
maka tak ada kejahatan yang tidak dilakukannya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------

Pada saat Sang Buddha mengajarkan Dhamma, banyak orang datang berduyun-duyun kepada-Nya. Pertapa keyakinan lain mengetahui bahwa para pengikut mereka menjadi berkurang. Mereka menjadi sangat marah, sehingga mereka membuat sebuah rencana untuk  merusak nama baik Sang Buddha. Mereka memanggil Cincamanavika yang sangat cantik, murid kesayangan mereka, dan berkata kepadanya, "Jika dalam hatimu terdapat keyakinan pada kami, tolonglah kami. Buatlah Samana Gotama menjadi malu." Cincamanavika menyetujui untuk melaksanakan.

Pada malam itu, dia mengambil beberapa bunga dan pergi ke arah Vihara Jetavana. Ketika orang-orang bertanya padanya kemana dia akan pergi, dia menjawab, "Apa gunanya kalian tahu kemana saya akan pergi?"

Dia lalu bermalam di tempat para pertapa lain yang berada dekat Vihara Jetavana, dan dia akan kembali pagi-pagi sekali agar kelihatan bahwa dia telah bermalam di Vihara Jetavana. Ketika ditanya, dia akan menjawab, "Saya menghabiskan malam hari dengan Samana Gotama di Gandha Kuti (Kuti/tempat tinggal/kamar/ruang Sang Buddha disebut Gandha Kuti. Gandha = harum) di Vihara Jetavana."

Setelah lewat tiga atau empat bulan, dia membungkus perutnya dengan kain agar dia kelihatan hamil. Setelah delapan atau sembilan bulan, dia membungkus perutnya dengan memasukkan papan kayu tipis ke dalamnya; ia juga memukuli paha dan kakinya agar kelihatan bengkak; ia juga pura-pura merasa lelah dan lesu. Dengan demikian, ia menggambarkan seorang wanita hamil yang sungguh-sungguh dalam kehamilan besar. Kemudian, pada malamnya, ia pergi ke Vihara Jetavana untuk menghadap Sang Buddha.

Sang Buddha sedang menjelaskan Dhamma kepada sekumpulan bhikkhu dan umat awam. Melihat Beliau mengajar di atas mimbar, ia menuduh Sang Buddha demikian: " O..., kamu Samana besar! Kamu hanya berkhotbah kepada orang lain. Saya sekarang hamil karena kamu, dan kamu tidak melakukan apa-apa untuk persalinan saya. Kamu hanya tahu bagaimana menyenangkan dirimu sendiri!"

Sang Buddha menghentikan khotbahnya untuk sementara dan berkata kepadanya, "Saudari, hanya kamu dan saya yang tahu, apakah kamu berkata yang sebenarnya atau tidak," dan Cincamanavika menjawab, "Ya, kamu benar, bagaimana orang lain tahu apa yang hanya kamu dan saya ketahui?"

Pada saat itu juga, Sakka, raja para dewa, mengetahui masalah yang terjadi di Vihara Jetavana, sehingga ia mengirim empat orang dewanya yang bersalin rupa menjadi tikus-tikus kecil. Keempat ekor tikus tersebut pergi ke bawah pakaian Cincamanavika dan menggigit putus benang yang mengikat erat papan kayu di sekeliling perutnya. Pada saat benang tersebut putus, papan kayu terjatuh, memotong bagian depan kakinya. Akhirnya, tipu muslihat Cincamanavika terbongkar, dan banyak orang yang berkerumun berteriak dengan marah, "Oh kamu perempuan jahat! Seorang pembohong dan penipu! Beraninya kamu menuduh Guru Agung kami!" Beberapa dari mereka meludahinya dan menggiringnya keluar. Ia lari secepat yang ia bisa, dan ketika ia telah pergi agak jauh, bumi terbelah dan retak, ia tertelan masuk ke dalam bumi.

Pada hari berikutnya, ketika para bhikkhu sedang membicarakan tentang Cincamanavika, Sang Buddha mendekati mereka dan berkata, "Para bhikkhu, seseorang yang tidak takut untuk berkata bohong, dan seseorang yang tidak perduli apa yang akan terjadi pada kehidupan yang akan datang, tidak akan ragu-ragu untuk berbuat jahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Ekaṃ dhammaṃ atītassa musāvādissa jantuno
vitiṇṇaparalokassa n’ atthi pāpaṃ akāriyaṃ."

Orang yang melanggar Dhamma
yang berkata tidak benar,
yang tidak memperdulikan dunia mendatang,
maka tak ada kejahatan yang tidak dilakukannya.

Saturday, 7 August 2010

Kisah Pemberian Dana Yang Tiada Taranya (Dhammapada 13 : 177)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(177) Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa.
Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati.
Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi,
dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Suatu waktu Raja Pasenadi dari Kosala, memberi dana makanan kepada Sang Buddha dan bhikkhu-bhikkhu lainnya dengan skala besar. Para pengikut raja, ingin bersaing dengannya, juga mengadakan upacara pemberian dana dengan skala yang lebih besar dari raja. Jadi, Raja dan para pengikutnya saling bersaing dalam pemberian dana. Akhirnya, Ratu Mallika memikirkan sebuah rencana. Untuk melaksanakan rencana ini, ia meminta raja membangun sebuah paviliun besar. Berikutnya, ia meminta lima ratus buah payung putih dan lima ratus gajah terlatih; kelimaratus gajah itu memegang lima ratus payung putih dan memayungi lima ratus bhikkhu.

Di tengah paviliun, mereka membuat sepuluh perahu yang telah diisi dengan wewangian dan dupa. Di sana juga terdapat dua ratus lima puluh orang puteri keraton, yang mengipasi kelima ratus orang bhikkhu tersebut. Karena para pengikut raja tidak memiliki puteri-puteri keraton, payung-payung putih, ataupun gajah-gajah, mereka tidak dapat bersaing dengan raja.

Ketika semua persiapan telah selesai dilaksanakan, dana makanan diberikan. Setelah bersantap, raja mempersembahkan seluruh benda yang berada di paviliun, yang seharga empat belas crore.

Pada saat itu, dua menteri raja hadir. Salah seorang yang bernama Junha sangat senang dan memuji kemurahan hati raja atas pemberian dana kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Ia juga mengatakan bahwa pemberian yang sebesar itu hanya dapat dilakukan oleh seorang raja. Ia sangat senang karena raja akan membagi kebaikan atas perbuatan baiknya kepada semua mahluk. Dengan kata lain, menteri Junha bergembira atas kemurahan hati raja yang tiada taranya. Di lain pihak, menteri Kala berpikir bahwa raja hanya menghambur-hamburkan uang, dengan memberikan empat belas crore dalam sehari, dan karena setelah itu para bhikkhu akan kembali ke Vihara dan tidur.

Setelah bersantap, Sang Buddha menatap kepada orang-orang yang hadir dan mengetahui bagaimana perasaan menteri Kala. Kemudian, Beliau berpikir bahwa jika Ia menyampaikan khotbah panjang sebagai penghargaan atas dana tersebut, Kala akan bertambah kecewa, dan akibatnya akan lebih menderita dalam kehidupannya yang akan datang. Jadi, dengan perasaan welas asih terhadap Kala, Sang Buddha hanya menyampaikan khotbah singkat dan kembali ke Vihara Jetavana. Raja mengharapkan penghargaan dan khotbah panjang, oleh karena itu ia menjadi sangat sedih karena Sang Buddha hanya memberikan khotbah singkat. Raja berpikir apakah ia telah gagal melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, dan akhirnya ia pergi ke vihara.

Ketika melihat raja, Sang Buddha berkata, "Raja yang agung! Anda seharusnya bergembira karena berhasil mempersembahkan dana yang tiada taranya (asadisadana). Sebuah kesempatan yang jarang sekali datangnya; dan datang hanya sekali selama kemunculan setiap Buddha. Tetapi menteri Kala merasa bahwa hal itu hanyalah sebuah pemborosan, dan sama sekali tidak berharga. Jadi, jika saya memberikan khotbah panjang, ia akan makin menjadi kecewa dan tidak senang, dan akibatnya, ia akan sangat menderita pada kehidupannya yang sekarang maupun pada kehidupan-kehidupan berikutnya. Itulah mengapa Saya berkhotbah sangat singkat sekali.

Kemudian Sang Buddha menambahkan,"Raja yang agung! Orang bodoh tidak bergembira atas kemurahan hati yang telah diberikan oleh orang lain dan akan pergi ke alam yang rendah. Orang bijaksana bergembira atas kemurahan hati orang lain, dan melalui penghargaan (mudita citta)  mereka berbagi karma baik yang dilakukan orang lain dan akan pergi ke tempat kediaman para dewa."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Na ve kadariyā devalokaṃ vajanti
bālā have na-ppasaṃsanti dānaṃ,
dhīro ca dānaṃ anumodamāno
ten’ eva so hoti sukhī parattha."

Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa.
Orang bodoh tidak memuji kemurahan hati.
Akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi,
dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.

Friday, 6 August 2010

Kisah Kala, Putra Anathapindika (Dhammapada 13 : 178)

XIII. Loka Vagga – Dunia

(178) Ada yang lebih baik daripada kekuasaan mutlak atas bumi,
daripada pergi ke surga, atau daripada memerintah seluruh dunia,
yakni hasil kemuliaan dari seorang suci
yang telah memenangkan arus (sotapatti-phala).
------------------------------------------------------------------------------------------------

Kala, putra Anathapindika, selalu menghindar ketika Sang Buddha dan para bhikkhu rombonganNya datang berkunjung ke rumahnya.

Anathapindika khawatir jika putranya tetap bersikap seperti itu, ia akan terlahir kembali di salah satu alam yang rendah (apaya). Ia membujuk putranya dengan menjanjikan sejumlah uang. Anathapindika berjanji untuk memberikan 100 keping uang jika putranya berkenan pergi ke vihara dan berdiam di sana selama sehari pada saat hari uposatha. Putranya pergi ke vihara dan pulang kembali pada esok harinya, tanpa mendengarkan khotbah-khotbah. Ayahnya memberikan nasi kepadanya, tetapi daripada mengambil makanannya, ia terlebih dahulu menuntut untuk diberi uang.

Pada hari berikutnya, sang ayah berkata pada putranya, "Putraku, jika kamu mempelajari sebait syair dari Sang Buddha, saya akan memberimu 1000 keping pada saat kau kembali." Kemudian Kala pergi ke vihara, dan mengatakan kepada Sang Buddha bahwa ia ingin mempelajari sesuatu. Sang Buddha memberikannya sebuah syair pendek untuk dihapal luar kepala; sekaligus membuat si pemuda tidak bisa menghapalnya. Jadi, si pemuda harus mengulangi satu syair berulang ulang kali. Karena ia harus mengulanginya berulang kali, pada akhirnya ia mengerti penuh tentang Dhamma dan mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Pagi-pagi sekali pada hari berikutnya, ia mengikuti Sang Buddha dan para bhikkhu menuju ke rumah orang tuanya. Tetapi pada hari itu, ia dengan diam-diam berharap, "Saya berharap ayahku tidak memberikan 1000 keping itu di depan Sang Buddha nanti. Saya tidak berharap Sang Buddha mengetahui bahwa saya berdiam di vihara hanya demi uang."

Ayahnya memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu, dan juga kepadanya. Kemudian, ayahnya membawa 1000 keping uang, dan menyuruh Kala untuk mengambil uang tersebut tetapi diluar dugaannya, Kala menolak. Ayahnya memaksa Kala untuk menerima uang itu, tetapi Kala tetap menolak. Kemudian, Anathapindika berkata kepada Sang Buddha, "Bhante, putra saya benar-benar berubah; sekarang ia berkelakuan sangat menyenangkan." Kemudian ia menceritakan kepada Sang Buddha bagaimana ia membujuk putranya dengan uang agar putranya berkenan pergi ke vihara dan berdiam di sana pada saat hari uposatha, serta untuk mepelajari beberapa syair Dhamma.

Sang Buddha menjawab, "Anathapindika! Hari ini, putramu telah mencapai tingkat kesucian sotapatti, yang lebih baik daripada kekayaan kerajaan duniawi atau alam para dewa maupun alam para brahma."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

"Pathavyā ekarajjena saggassa gamanena vā
Sabbalokādhipaccena sotāpattiphalaṃ varaṃ."

Ada yang lebih baik
daripada kekuasaan mutlak atas bumi,
daripada pergi ke surga,
atau daripada memerintah seluruh dunia,
yakni hasil kemuliaan dari seorang suci
yang telah memenangkan arus (sotapatti-phala).
---------

Notes :

Mengapa mencapai tingkat kesucian sotapatti lebih baik daripada kekuasaan mutlak atas bumi, terlahir di alam surga, dll?
Menguasai ataupun memerintah seluruh muka bumi hanyalah kekuasaan sementara saja dalam kehidupan orang tersebut, dapat hilang setelah habisnya karma baik yang menyebabkan kekuasaan tersebut.

Terlahir di alam surga, walaupun sangat menyenangkan kehidupan disana, tetapi hal tersebut  juga tidak kekal. Sebagian besar manusia mengira hidup di alam surga adalah kekal, karena memang jika dibandingkan dengan lamanya kehidupan manusia, hidup di surga terlihat lama sekali sehingga disalahpahami dianggap kekal. Sang Buddha dengan pengetahuanNya yang luar biasa telah menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kehidupan di surga tidak kekal. Setelah karma baik yang menyebabkan kelahiran di alam surga habis, maka ia akan terlahir kembali di alam lain sesuai dengan karmanya. Bisa saja ia terlahir di alam manusia kembali, di alam rendah seperti alam neraka, alam peta, ataupun sebagai hewan.

Sedangkan, mencapai tingkat kesucian sotapatti berarti telah memasuki arus menuju Nibbana. Maksimal 7 kali kelahiran lagi maka orang yang bersangkutan akan mencapai tingkat kesucian arahat dan dapat merealisasi Nibbana.